Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Will You Marry Me


__ADS_3

Di kediaman Mona dan Sandi, kedua nya duduk di sofa ruang keluarga. Sandi sibuk membaca buku yang ia ambil dari ruang kerja nya. Mona mengupas buah apel untuk suami nya.


"Papa tahu nggak?"


"Nggak dong Ma."


"Iiis, anak kita itu Pa sudah punya pacar."


Sandi mengalihkan pandangan nya ke sang istri. "Maksud Mama, Radit punya kekasih?" Mona mengangguk. "Iya Pa, anak kita punya pacar. Kemarin waktu Mama datang ke apartemen Radit, anak itu ngaku kalau sudah punya pacar."


"Siapa pacar nya Ma? Apa anak dari teman perusahaan Papa, kira-kira Papa kenal nggak sama orang nya?" Sandi semakin penasaran.


Mona meletakan buah di piring, raut wajah nya berubah menjadi sedikit kesal. "Itu dia.. Mama saja nggak tahu siapa pacar nya. Radit bilang, kalau proyek baru nya sudah selesai. Dia janji mau bawa pacar nya itu kesini, untuk di kenalin sama kita, Pa. Mama sebal deh.."


"Ooh.. Gitu ya, jadi anak kita masih merahasiakan pacar nya. Ya sudah Ma, biarkan saja. Anak kita sudah besar, umur nya juga sudah matang. Kita percayakan saja soal asmara nya pada anak kita. Papa yakin Radit tahu cara memilih wanita di jaman sekarang." Jawab Sandi dengan tenang. Ia selalu bisa menenangkan hati Mona.


"Tapi Mama begitu penasaran Pa. Pokok nya Mama mau selidiki sendiri siapa pacar nya Radit." Seringai di wajah Mona membuat Sandi geleng-geleng kepala.


"Mama tuh ya kebiasaan.. Papa tahu nih, pasti Mama mau nyelidiki lewat Riyan kan? Karena Riyan pasti tahu."


"He he he.. Papa kok tahu sih." Mona mengulum senyum.


"Sudah Ma jangan aneh-aneh. Biar tunggu Radit saja yang mengenalkan nya pada kita Ma." Kalau sudah Sandi yang bicara seperti itu. Mona hanya bisa mengangguk. "Iya deh iya.." Jawab Mona sedikit cemberut.


Malam ini Nania dan Radit pergi ke suatu tempat. Riyan sudah mengirimkan lokasi yang akan menjadi tempat dinner mereka berdua.


"Radit, kita mau makan malam dimana?"


"Nanti kamu juga tahu sayang." Jawab nya sambil fokus menyetir.


Tidak lama mobil mewah Radit berhenti di sebuah restoran besar. Ia turun dan membukakan pintu untuk Nania.


"Ayo sayang.."


Kedua nya masuk ke dalam restoran. "Kenapa restoran nya sepi sekali Radit." Pria itu tidak menggubris nya. Radit menggandeng tangan Nania sampai di meja makan yang telah Riyan siapkan.


"Duduk sayang." Nania pun patuh dan duduk. Banyak lilin yang menghiasi restoran itu, cahaya di dalam ruangan karena bias lilin membuat wajah Nania kelihatan semakin cantik.


Mereka makan dengan tenang, seorang pemain biola datang menghampiri nya. "Selamat malam Tuan dan Nyonya.. Izinkan saya memainkan biola ini untuk menemani makan malam." Nania tersenyum dan menatap Radit penuh cinta.


Biola itu kemudian mengeluarkan suara indah nya, hati Nania bergetar kuat di hadapan Radit. Netra nya hampir berkaca-kaca karena terharu.


Radit bangkit dari kursi nya, ia menghampiri Nania. "Nana sayang, mau berdansa sama aku?" Pinta nya. "Ta-tapi aku nggak terlalu bisa Radit."


"Tidak masalah sayang, mari berdansa denganku." Nania menggapai tangan Radit.


Sepasang kaki telah berdiri saling menghadap. Tangan Radit memegangi pinggul ramping milik Nania, dan kedua tangan gadis itu sudah merangkul leher Radit.

__ADS_1


Kedua nya berdansa dengan iringan musik biola yang indah. Kening Radit bersatu dengan lawan nya. Ia tersenyum hangat pada Nania.


Selain pasangan yang sedang menikmati dansa nya, Riyan dan Delisha sedang mengunjungi toko buku. "Sayang, kamu mau cari buku apa?" Tanya Riyan.


"Aku sedang ingin cari buku novel untuk aku baca, Kak." Delisha mencari-cari judul novel dari deretan buku yang tersusun rapih.


"Sekarang baca novel sudah bisa online Babby.."


"Tapi aku lebih suka baca dari buku nya. Kalau membaca lewat ponsel sangat melelahkan, karena radiasi nya membuat mataku lebih cepat mengantuk. Tapi setiap orang kan punya selera nya masing-masing sayang." Jawab Delisha.


"Tadi kamu bilang apa?"


"Aku mau lihat kesana dulu ya, Kak." Delisha berjalan ke rak buku yang di sebelah nya.


"Ya ampun.. Bukan nya tadi dia bilang sayang? Terus kenapa pura-pura nggak tahu. Apa begini pacaran sama anak gadis? Gengsi nya tinggi." Seru Riyan lalu mengekor di belakang Delisha.


"Sayang, kamu ingat pembicaraan kita tadi pagi kan,, kamu sudah pikirkan mau panggil aku dengan sebutan apa?"


"Aku sudah memikirkan nya kok Mas."


Riyan mengulum senyum manis nya. "Jadi kamu mau panggil dengan sebutan Mas?" Delisha mengangguk.


"Okay, aku suka kok."


Dinner Radit dan Nania sudah selesai. Mereka keluar menuju mobil yang terparkir di depan restoran.


Ia menekan tombol yang terdapat di bagian bawah, dan bagasi mobil terbuka. Manik mata Nania berbinar terang. Ia terkesima dengan pemandangan di dalam bagasi mobil Radit.


Datanglah Radit menyusul nya yang masih mematung di tempat. Di dalam bagasi mobil sudah tersusun tulisan 'Will You Marry Me?' dengan hiasan bunga mawar putih dan merah. Juga dengan balon berwarna silk merah jambu.


"Apa ada jaket nya?"


"R-radit.. Ini.. Ini.."


"Nana sayang, will you marry me?" Tangan nya sudah menangkup kedua pipi Nania.


Air mata Nania tidak dapat di bendung lagi, gadis itu meneteskan air mata nya. "Sayang... Jangan menangis."


"A-aku hanya tidak menyangka saja, kamu.."


"Ssstt..."


Radit memeluk Nania sejenak, ia ingin membiarkan Nania merasa nyaman dulu. Setelah di rasa nyaman, pria itu melepaskan pelukan nya.


"Nana.. Aku merasa ini momen yang tepat. Sebelum nya aku belum pernah menyatakan cinta yang layak padamu, dengan memberi kejutan dan tempat yang membuatmu merasa bahagia..


Bukan karena tempat yang romantis dan kejutan yang tidak di sangka. Tapi tujuanku hanya satu.. Yaitu ingin memilikimu seutuh nya.." Mata Radit menatap nya penuh cinta dan harapan.

__ADS_1


Masih di genggam nya tangan Nania. "Nana sayang.. Mungkin aku bukan orang pertama yang menyatakan cinta untukmu, tapi aku ingin menjadi yang terakhir dalam kisah cintamu..


Aku ingin sisa waktu di dunia ini bersamamu, menemanimu sampai akhir hayat. Berkelana dan mengejar impian bersamamu.. Melewati ruang waktu dengan kisah kita berdua.. Nana percayalah, aku tidak akan pernah menyakitimu. Aku ingin hidup bersamamu, will you marry me?"


Doorrr... Bagai di tembak sampai ke relung hati. Nania malam ini merasa menjadi wanita yang paling bahagia..


Radit sudah mengeluarkan sebuah kotak berisi cincin diamond yang sangat indah. Ia buka dan menunggu sang pemilik menerima nya.


Nania hanya bisa mengangguk, lidah nya kelu tidak dapat berkata-kata lagi selain, "Yes, i will to marry you".


Pria itu segera melingkarkan cincin diamond di jemari indah Nania. Air mata Nania menetes kembali, ia memeluk Radit dengan erat.


"Aku.. Aku merasa ini mimpi.. Hiks.."


"No sayang, ini nyata. Aku bersamamu, Nana."


"Terima kasih Radit.. Karena kamu sudah memilihku.." Nania semakin mengeratkan pelukan nya. "Kamu yang membuat hidupku lebih berarti sayang."


Sepasang mata yang melihat kedua insan itu bersama dalam momen yang membahagiakan, mengepal erat tangan nya. Fiona yang tengah melewati restoran itu berhenti kala melihat Radit dan Nania.


"Ternyata wanita itu cukup licik, hingga bisa mendapatkan Radit.. Kamu lihat saja, aku tidak akan membiarkanmu memiliki Radit!!" Fiona begitu marah.


"Jalan Pak!"


Sang supir yang mengendarai mobil Fiona pun melajukan kembali mobil nya.


Riyan mengajak Delisha membeli jajanan sebelum mengantarkan nya pulang. "Baby, kamu mau beli makanan apa lagi?"


"Sudah Mas, ini sudah banyak, he he."


Delisha membeli jajanan dimsum, hot dog, minuman boba, dan martabak telur. Riyan di buat gemas dengan hobi kekasih nya yang doyan makan tapi badan nya tetap mungil.


"Kamu yakin akan makan semua ini?"


"Iya Mas.. Mas nggak percaya? Aku sama Nania sudah biasa makan sebanyak ini." Ucap nya dengan gembira.


"He he, aku percaya kok. Ya sudah kalau nggak ada yang mau kamu beli lagi, kita pulang ya,,"


"Iya Mas" Delisha ingin memasang sabuk pengaman di mobil Riyan, tapi entah kenapa seatbelt nya tidak bisa di tarik. "Mas, ini kenapa macet ya seatbelt nya?" Riyan melirik ke samping. "Benarkah? Biar aku lihat."


Pria yang belum memakai seatbelt memajukan tubuh nya ke Delisha. Gadis itu semakin menahan nafas ketika Riyan berusaha menarik seatbelt nya. "Kenapa bisa macet seperti ini?" Gumam nya.


Akhir nya sabuk pengaman itu bisa di tarik dan terpasang melindungi Delisha. Netra Riyan terpikat dengan kecantikan Delisha yang tidak pernah make up tapi sangat cantik alami. Badan nya tidak ada tanda-tanda untuk mundur kembali ke tempat nya.


"M-mas kenapa?"


"Sayang, kamu cantik banget.."

__ADS_1


Wajah Delisha langsung merona ketika Riyan bilang diri nya cantik. Tanpa aba-aba pria itu mencium bibir Delisha dengan lembut.


__ADS_2