Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Sakit Maag


__ADS_3

Malam ini di sebuah kamar, Delisha tersenyum-senyum sendiri sambil memeluk bantal dan memegang ponsel.


"Besok aku akan di jemput lagi sama Kak Riyan, aaaaa Nania aku ingin sekali cerita denganmu. Aku telepon saja deh."


Ia langsung mencari kontak sahabat nya lalu menelpon. "Halo.. Kamu sudah tidur ya?"


Nania yang sedang duduk bersandar di kasur mengangkat panggilan dari Delisha. "Aku baru ingin tidur, katakan ada apa kamu menelponku jam segini?" Tanya nya dengan nada curiga.


"He he, a-aku ingin cerita. Kalau Kak Riyan akan mengantarkan aku berangkat dan pulang kerja selama satu minggu." Ia mengatakan itu dengan sumringah dan gembira.


"Benarkah? Kenapa bisa seperti itu, apa kalian ada sesuatu?" Nania masih bingung.


"Motorku di sita sama Tuan Radit karena aku meminjamkan nya pada Kak Riyan. Jadi sekarang dia yang akan bertanggung jawab selama motorku di sita." Delisha mengatakan itu dengan nada cemberut.


"Hah, di-di sita? Aku baru tahu soal ini. Ya sudah jangan sedih, nanti motormu akan kembali. Satu lagi, jangan sampai terlena dengan pria yang akan mengantar jemput kamu. Aku tidur dulu, daah.."


"Eh, tapi____"


Tut.. Panggilan di matikan oleh Nania, gadis itu semakin bingung dengan apa yang baru saja di katakan Delisha pada nya.


"Hiiss, main di matikan saja. Aku kan belum selesai bicara. Awas saja nanti!" Kesal Delisha, tapi selanjut nya ia tersenyum malu lagi.


Nania melamunkan apa yang menganggu di pikiran nya, ia belum bisa memejamkan mata nya. "Ada apa dengan Tuan Radit, apa dia masih marah padaku?"


"Apa karena aku pulang nya terlalu larut?"


Gadis itu bertanya-tanya pada diri nya. Keesokan hari nya Nania sudah berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan.


Setelah makanan untuk sarapan itu jadi, Nania segera masuk ke kamar dan bersiap untuk berganti pakaian kerja. Ia keluar dengan setelan kerja nya celana bahan warna putih dan juga baju kemeja berwarna kuning muda.


"Tuan, mari sarapan dulu."


Ia melihat Radit yang sudah siap dengan setelan kerja nya, namun pria itu tidak menjawab ajakan Nania.


Pria itu langsung keluar begitu saja tanpa mengatakan apapun, "Ada apa dengan nya? Seperti nya dia marah." Nania masih mematung di tempat.


Tidak mau ambil pusing, akhir nya Nania memasukan menu sarapan nya ke dalam kotak bekal, ia membawa nya ke kantor. "Sayang sekali jika tidak di makan, kalau begini pasti nanti habis di kantor. Aku akan makan di sana saja."


Nania menenteng sebuah tas bekal dan keluar dari apartemen, "Dia berangkat sendiri, aneh sekali. Kemarin menyuruhku untuk berangkat bersama, tapi sekarang dia pergi sendiri, huh dasar pria aneh!" Ia mengoceh sambil berjalan ke halte bus.


Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan nya. "Naniaa..." Panggil Devan.


"Kamu.."


"Ayo naik, biar aku antar kamu." Ajak nya, tanpa pikir panjang akhir nya Nania menyetujui ajakan Devan, ia langsung naik ke dalam mobil mewah itu.


Di belakang tak jauh dari jarak mobil Devan, sebuah mobil sport tengah melihat Nania masuk ke dalam mobil itu, Radit mengepalkan tangan nya di stir mobil, ia lalu berangkat ke kantor dengan raut wajah yang masam.


"Itu apa?"

__ADS_1


"Ah, ini bekal sarapan yang tidak sempat di makan tadi, jadi aku bawa saja ke kantor. He he..."


Devan melirik ke arah Nania, pagi ini ia sangat beruntung bisa bertemu dengan Nania lagi, pria itu mengemudikan mobil nya sambil sesekali mencuri pandangan ke gadis di sebelah nya.


"Aku jadi penasaran, seperti apa masakan kamu."


"Hm, kalau kamu mau.. Ini untuk mu saja, tapi aku tidak yakin jika kamu akan suka." Jawab nya meyodorkan bekal makanan yang ia genggam.


"Benarkah? Aku akan memakan nya nanti, terima kasih." Devan sangat senang menerima bekal dari Nania. "Sama-sama." Balas nya tersenyum.


"Oh iya, aku belum punya nomormu."


"Benar juga, baiklah nanti aku akan menghubungimu." Jawab Nania dan pria itu tersenyum. "Aku tunggu."


Dalam meeting pagi ini, Radit terlihat tegas dan dingin sekali, bahkan ia hanya bicara seperlu nya saja dengan Nania.


"Mengenai proyek baru kali ini, saya akan melakukan sebuah penelitian di villa Profesor Zhang langsung. Apa ada pertanyaan?" Tukas Radit begitu serius.


"Untuk pembuatan produk parfume kita kali ini, apa akan laris di pasaran nanti Tuan? Karena banyak sekali parfume dari pesaing yang sudah mengeluarkan nya lebih dulu." Tanya salah satu kolega di ruang rapat itu.


"Saya dengar Profesor Zhang ini ahli dalam pembuatan bibit parfume yang jarang orang ketahui. Ia meramu bibit parfume yang langka. Saya yakin ini adalah produk yang belum ada di pasaran."


"Baik Tuan."


"Saya rasa cukup, kita meeting lagi lusa dengan tim penelitian dan pengembangan, untuk pembahasan kedua. Siapkan semua yang di butuhkan!"


"Baik Tuan."


"Tiga hari lagi, kita akan pergi ke Villa Profesor Zhang, siapkan bahan untuk perencanaan selama di sana, beri tahu Riyan untuk menyiapkan nya juga!" Ujar Radit dengan tegas.


Aura dingin terus memancar dari pria itu, membuat Nania semakin bergidik ngeri. "Baik Tuan."


Radit masuk ke dalam ruangan nya, sedangkan Nania masih memperhatikan pria yang baru saja masuk ke dalam.


"Hari ini dia begitu dingin dan menyeramkan. Tapi kenapa wajah tampan nya itu tidak bisa berkurang, padahal ia sangat menyebalkan." Gumam Nania di meja kerja nya.


Riyan datang membawa sebuah kopi yang ia beli di sebuah coffee shop. "Nania.. Ini untukmu." Ia menaruh gelas kopi itu di meja.


"Terima kasih.."


Nania mengambil dan meminum nya sedikit. "Riyan, apa benar motor Delisha sedang di sita sama Tuan Radit?"


Uhukk..Uhukkk.. Riyan yang sedang meminum kopi jadi tersedak, "Hati-hati.." Ucap Nania. "Ja-jadi sahabatmu itu sudah cerita padamu ya." Jawab Riyan.


Nania mengangguk, "Itu hanya kesalah pahaman saja Nan, motor sahabatmu akan segera kembali. Kamu tenang saja ya." Ia mengatakan nya sambil gugup.


Gadis di hadapan nya menelisik Riyan dengan tatapan curiga, "Benarkah?" Pria itu mengangguk.


"Kalau gitu aku ke ruanganku dulu."

__ADS_1


Siang hari nya Nania masuk ke dalam ruangan Radit. "Permisi Tuan, ini laporan hasil meeting tadi." Ia memberikan sebuah binder hitam pada nya.


"Tuan, anda pucat sekali. Apa Tuan baik-baik saja?"


Raut wajah Radit memang nampak pucat, ia melupakan sarapan nya hari ini karena cemburu melihat Nania, dia juga masih kesal pada gadis itu.


Radit mempunyai maag, jadi ia tidak bisa telat makan yang terlalu lama. Pria itu tidak menjawab sama sekali, ia mengambil laporan dari tangan Nania sambil memegangi perut nya, dan berusaha menahan rasa sakit di perut.


Keringat dingin sudah menghiasi kening nya, "Tu-tuan.. Saya rasa anda sakit. Berbaringlah di sofa dulu Tuan." Nania berinisiatif menuntun Radit ke sofa.


Pria itu menurut saja, karena memang ia sakit perut. "Duduk di sini dulu, Tuan. Saya akan membuatkan minuman hangat."


Nania berlari ke sebuah pantry untuk membuat teh hangat, ia bertemu Riyan di dalam sana.


"Kenapa terburu-buru sekali?" Tanya Riyan.


"Tuan Radit terlihat tidak sehat, wajah nya pucat. Dia juga memegangi perut nya terus, aku ingin membuatkan nya teh hangat." Jawab Nania sambil menyeduh teh di cangkir.


"Gawat!! Tuan Radit punya maag. Cepat berikan dia obat maag yang ada di kotak obat dalam ruangan nya. Nanti aku akan menyusul." Titah Riyan.


"Tuan Radit punya maag? Emmh, b-baik aku akan segera memberi nya obat. Aku pergi dulu." Nania kembali ke ruangan Radit.


Pria itu sudah melepas jas nya, ia berbaring di sofa dengan wajah yang masih pucat dan keringat yang belum mereda.


"Tuan, minum ini dulu." Nania meletakan secangkir teh di atas meja dekat sofa. Ia lalu berjalan menuju kotak obat di atas nakas kecil dekat sudut ruangan. Ia mencari obat maag. "Ketemu.."


Nania kembali membantu Radit untuk duduk. "Tuan, minum ini dulu." Ia memberikan satu tablet obat pada Radit. Tapi pria itu menggelengkan kepala nya.


"Tidak perlu!"


"Tuan, anda ini keras kepala sekali. Sudah seperti ini masih bersih keras. Jika marah pada saya, setidak nya anda harus punya tenaga."


Radit masih tidak menjawab, ia malah berdecih mendengar perkataan Sekertaris nya. "Ayo buka mulut nya, aa..." Nania menuntun tangan nya untuk menyuapi obat ke mulut Radit.


"Tidak usah, lanjutkan saja pekerjaanmu!"


"Tuan, ini juga termasuk dari pekerjaan saya sebagai Sekertaris anda. Kalau masih tidak ingin minum obat nya, akan saya paksa!"


Nania mengancam dengan mata yang menajam. "Tidak mau!"


"Baiklah.."


Detik itu Nania langsung menempelkan obat di bibir Radit lalu mencium nya. Pria itu melotot, dan terpaksa menerima obat yang di berikan dari mulut ke mulut.


Glek... Obat itu berhasil tertelan. "Berhasil... Maaf Tuan, tapi yang tadi juga termasuk saya membayar hutang." Tegas Nania.


"Minum air nya dulu Tuan, dan istirahatlah." Nania merebahkan kembali Radit di sofa. "Saya keluar dulu Tuan, saya akan membelikan anda makanan." Ucap nya lalu pamit keluar.


Setelah memastikan Nania keluar, Radit mengulum senyum nya. Ia memegangi bibir nya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2