
Akhirnya Reyhan tidak tega, setelah tahu siapa yang ia tolong. "Dimana rumahmu?" Tanya nya menghentikan Serra yang mau membuka pintu mobil.
"Saya tinggal di kos Pak, tapi karena mereka sudah tahu tempat tinggal saya. Malam ini saya nggak bisa pulang ke kos, saya takut Pak." Jawab Serra dengan jujur.
"Lalu kamu mau singgah di mana malam ini?" Reyhan sedikit penasaran. "Saya juga belum tahu Pak, kalau saya pergi ke kantor Bapak apa boleh? Untuk malam ini saja, saya izin tidur di sana."
Serra berniat ke Perusahaan Reyhan, karena di kantor itu lebih aman. Banyak satpam yang menjaga kantor Reyhan. Tidur di halaman kantor pun tidak masalah bagi Serra, yang penting dia merasa aman.
"Ck, Serra. Kamu pikir kantor saya itu tempat penginapan? Nggak ada bermalam di kantor." Tegas Reyhan.
"Ba-baik Pak, kalau begitu saya permisi dulu." Serra hendak turun, tapi Rey malah mencegahnya. "Pasang seatbelt kamu." Titahnya tanpa menoleh.
Serra merasa bingung. "Loh, memangnya kita mau kemana Pak? M-maksud saya Bapak mau bawa saya kemana?"
"Ke Hotel."
"Hah? Ke Hotel, Bapak jangan macam-macam ya Pak." Ucap Serra langsung menutupi kedua dadanya. "Jangan kepedean kamu! Kamu itu cuma karyawan saya." Bantah Reyhan merasa di curigai yang tidak-tidak.
Reyhan dan Serra sampai di sebuah Hotel bintang empat. Rey lebih dulu masuk dan Serra mengikuti di belakangnya.
"Pesan kamarnya satu." Ucap Rey pada Resepsionis Hotel.
"Mohon maaf Pak, tapi untuk malam ini semua kamar kami sedang full." Wanita itu minta maaf pada Reyhan.
"Ya Tuhan, gitu ya Mbak? Okay deh." Jawab Reyhan merasa pusing. Serra hanya diam saja, ia melihat Reyhan bicara dengan Resepsionis yang sama sekali tak di mengerti olehnya.
"Kita masuk lagi ke mobil, kamarnya penuh." Ucap Rey langsung keluar dari lobi Hotel. Serra kembali mengikutinya di belakang hingga masuk ke mobil.
"Pak, sebenarnya ini mau kemana sih? Kenapa saya harus ikut Bapak. Em, maaf kalau saya jadi bertanya lagi." Akhirnya Serra memberanikan diri berbicara.
Rey tak menjawab pertanyaan itu, ia kembali lanjut menyetir mobilnya ke apartemen. Karena tidak ada Hotel lain lagi yang dekat dari apartemennya sekarang ini. Sesampainya di depan pintu unit miliknya. Serra berdiam diri dan tidak ingin masuk.
"Ayo masuk!" Titah Rey.
__ADS_1
Tapi gadis itu belum mau mengangkat kakinya. Ia masih diam di tempat. "Kamu nggak dengar saya bilang apa?" Rey terlihat sedikit geram.
"B-baik Pak."
Manik mata Serra menatap sekeliling apartemen Reyhan. Ia bahkan meremas tangannya sendiri, karena masih takut.
"Bi Yanti.." Panggil Rey.
Yanti pun keluar dari kamarnya. "Eh Tuan sudah pulang, ada yang bisa saya bantu Tuan?" Tanyanya lalu beralih memandang Serra yang berada di belakang Rey.
"Ini karyawan saya di kantor, tolong siapkan kamar untuknya malam ini. Saya mau langsung ke kamar, pastikan dia tidak buat ulah di sini." Ujar Rey dan beranjak pergi ke kamarnya.
"Tapi Pak.. Pak.." Panggil Serra yang masih belum mengerti.
Yanti merasa bingung, tapi ia tetap melakukan perintah Reyhan. "Neng, bisa ikut saya ke kamar. Saya akan tunjukkan kamarnya." Ajak Yanti.
"I-iya Bu, terima kasih."
Di dalam kamar bernuansa putih, Serra di biarkan bermalam di sana. Kamarnya begitu wangi dan bersih, ini semua Yanti yang bersihkan selama ini.
"Hmm, i-iya Bu. Saya nggak akan buat keributan di sini, sekali lagi terima kasih banyak ya Bu." Jawab Serra agak kaku.
"Tapi Neng, maaf saya mau tanya. Sebenarnya Neng ini kenapa bisa pulang bersama Tuan Rey kesini?" Yanti penasaran, biar gimana pun, Rey tetap menantunya yang belum di ketahui Rey secara langsung.
"Anu Bu, saya cuma karyawan biasa di kantornya Pak Reyhan. Tadi saya nggak sengaja ketemu Pak Reyhan di jalan. Pak Reyhan hanya menolong saya saja Bu."
"Ah begitu ya, syukurlah.. Kalau gitu Neng istirahat deh ya, saya tinggal dulu."
"Iya Bu."
Yanti merasa lega, karena gadis yang di bawa Reyhan hanya sebatas menolong saja. Ia bahkan belum tahu pasti permasalahan Dinan dan Reyhan itu seperti apa. Kenapa Yanti tidak pernah melihat Reyhan pulang ke rumahnya, ada rasa ingin bertanya. Tapi Yanti urungkan mengingat anaknya suka bersikap tega padanya.
Butuh waktu dua puluh menit Radit membersihkan dirinya di kamar mandi. Setelah itu ia keluar dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.
__ADS_1
Bagian dadanya di biarkan terbuka begitu saja, Nania yang duduk di sofa single dalam kamar itu langsung membuang wajahnya ke samping. Ia tidak ingin melihat pemandangan yang begitu seksi.
Radit masuk ke ruangan berpakaian, lalu keluar menggunakan kaos putih dan celana pendek saja. Ia tak henti mengulas senyum melihat tingkah Nania yang gerogi.
"Ehem..."
"Mas, buka pintunya. Aku juga ingin mandi." Pinta Nania sedikit jutek. "No, kamu belum di hukum kok sudah mau keluar. Lagian nggak usah mandi juga tidak masalah kok." Radit terkekeh.
"Mas jangan macam-macam ya. Ini nggak lucu ya Mas." Nania semakin judes kali ini. "Aku nggak bilang ini lucu. Sudah ayo kita mulai sekarang." Pinta Radit.
Kekasihnya itu langsung menutup bagian dadanya dan menyilangkan kakinya dengan erat. "Ayo Nana.." Radit menghampiri kekasihnya yang sedang ketakutan itu.
"Mas jangan dekat-dekat!"
"Okay, aku nggak dekat-dekat sama kamu. Tapi ini kamarku, terserah aku mau berbuat apa." Ia terkekeh lagi meledek Nania. Rasanya puas sekali melihat kekasihnya yang menggemaskan itu sedang parno.
"Sekarang pijit badanku, rasanya lelah sekali hari ini. Ini adalah hukuman buat kamu. Ayo cepat lakukan sekarang, apa yang aku minta!" Radit merebahkan tubuhnya di kasur. Ia membalik badannya menjadi posisi tengkurap.
"J-jadi aku cuma di suruh pijit aja Mas? Hah syukurlah.." Nania merasa lega, ia menarik dan membuang napasnya yang tadi sempat tercekal.
"Kalau kamu mau aku melakukan yang sungguhan juga nggak apa-apa kok." Radit mengedipkan satu matanya, ia terus menggoda Nania.
"Iya aku pijitin sekarang." Nania beranjak dari sofa menuju ranjang pria itu. Lalu ia naik dan duduk di samping tubuh Radit.
Pijatan demi pijatan ia berikan di tubuh kekar milik kekasihny. Bukannya puas merasa menghukum Nania seperti ini, malah peliharaannya yang ikut merespon. Radit memejamkan matanya erat ketika tangan Nania terus memijitnya dari atas hingga bawah dekat pinggang.
"Ahh.." Tanpa sadar Radit mendes*ah.
"Stop!! Sudah cukup, kamu boleh keluar. Kuncinya ada di meja itu." Radit menyuruh Nania keluar, ia juga memberi kode tempat menaruh kunci padanya.
Rasanya semakin tidak kuat jika Nania berlama-lama di dalam kamar bersamanya. Bisa-bisa malam ini berubah menjadi malam panas bagi Radit.
"Baiklah, kalau gitu aku kembali ke kamar." Nania akhirnya pergi, Radit langsung bernapas lega. Ia mengatur ritme napasnya, berharap sang peliharaan cepat tidur kembali.
__ADS_1
"Sial, malah jadi aku yang kena hukum kayak gini. Argghh..." Radit mengusap-usap wajahnya dengan kasar.