Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Kunci Pintu Sebelum Tidur


__ADS_3

Detektif Gu menjalankan perintah nya untuk mengawasi wanita yang menjadi tujuan Radit. Ia mengikuti Dinan pergi ke bengkel mobil yang ada di tengah Kota Jakarta.


Dinan turun dari mobil alphard hitam yang merupakan transportasi umum atau biasa di sebut taksi.


Ia masuk ke dalam bengkel itu dan bicara pada salah satu karyawan di sana.


"Bagaimana, apa mobil saya sudah selesai seperti semula?"


"Maaf Nyonya, tapi mobil nya baru bisa selesai dua hari lagi." Jawab pria yang berpakaian seragam bengkel.


Dinan mendecak kesal. "Bagaimana bisa dua hari lagi? Kan saya sudah bilang, untuk selesaikan lebih cepat lagi."


"Maaf Nyonya, tapi rusak nya lumayan parah, dan kami juga harus mengecat body mobil sesuai warna sebelum nya. Car paint coating tidak bisa selesai dalam sehari saja Nyonya." Pria itu menjelaskan keadaan yang benar ada nya.


"Baiklah, saya kesini ingin mengambil sesuatu di dalam mobil saya. Dimana mobil nya?"


"Di sebelah sana Nyonya, biar saya antar." Dinan mengikuti karyawan bengkel untuk ke mobil nya. ia pun mengambil sesuatu di dashboard mobil.


Lalu Dinan keluar dari bengkel setelah menemukan apa yang ia cari. Dari kejauhan Gu memperhatikan gerak gerik nya dan terus mengikuti Dinan.


"Seperti nya wanita ini menyembunyikan sesuatu di balik tangan nya."


Gu melihat Dinan menggenggam benda kecil di tangan nya sambil keluar dari bengkel tadi. Dinan lalu menyebrang jalan dan memasuki cafe yang ada di seberang jalan raya.


Ia menemui seseorang, Gu terus mengikuti nya. Ia bahkan duduk di sekitar Dinan, yang tak jauh jarak nya. Lalu Dinan terlihat menemui seorang wanita yang sebaya nya.


"Fio, kamu sudah lama menunggu?"


"Baru saja datang. Duduklah!" Fiona tidak membuka kacamata hitam nya. Ia juga menggunakan scarf yang menutupi kepala nya.


"Ada apa, bukankah kamu sudah tidak ingin menemuiku karena aku gagal membereskan nya." Ucap Dinan masih kesal pada Fiona.


Fiona mendecak kesal, ia bahkan masih kesal mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, kalau dia di berikan surat peringatan oleh Radit.


Baru kali ini ia menjadi seorang model dan di kontrak perusahaan bisa mendapatkan sanksi. "Lupakan perkataanku waktu itu. Aku sedang tidak mood membahas hal itu. Ada yang lebih penting dari ini." Ucap Fiona mendekat ke Dinan.


Ia membisikkan sesuatu di telinga Dinan, di situ Gu tidak dapat mendengar percakapan mereka. Terdengar Dinan mengangguk setelah di bisikkan oleh Fiona.

__ADS_1


"Baiklah, aku setuju denganmu kali ini." Jawab Dinan sambil menyeringai.


Mereka lalu menikmati minuman yang telah datang beberapa menit yang lalu.


Di kamar inap mewah yang di lengkapi perabotan furniture mahal, Delisha sedang menjaga Nania seperti biasa nya. Ia menceritakan diri nya kalau sekarang tinggal di apartemen Radit.


"Maaf ya Nan, aku jadi merepotkan calon suamimu." Ucap nya merasa tidak enak.


"Sudahlah nggak apa-apa. Ini bukan masalah besar bagi Mas Radit, semoga kamu nyaman ya tinggal di sana. Aku lusa juga sudah bisa pulang." Nania tersenyum menjawab percakapan Delisha.


"Benarkah?"


"Hm.."


"Aaaaahh senang nya... Akhir nya kamu bisa keluar juga dari kamar mewah ini." Delisha terkekeh memperhatikan seisi ruangan di sana.


"Ingat ya! Jangan macam-macam loh sama Riyan, karena kamu cuma berdua saja di apartemen." Nania mewaspadai sahabat nya yang polos ini.


"Beres Bu. Tenang saja, aman terkendali." Delisha memperagakan layak nya seorang mahasiswa yang hormat pada Dosen nya. Nania tertawa lepas, ia merasa terhibur sekali dengan kedatangan Delisha selama beberapa hari ini yang setia menemani nya.


Semua hal yang belum ia ceritakan dengan sahabat nya pun jadi bisa ia sampaikan. Semua rasa rindu lama tidak bertemu juga terbayarkan.


"Nana... Bagaimana kondisimu sekarang?"


"Mas, kamu sudah pulang? Aku jauh lebih baik sekarang." Jawab nya memberitahu keadaan nya yang jauh membaik. Radit menaruh tas nya di sofa.


Delisha dengan sadar, ia beralih ke sofa belakang. Membiarkan Radit duduk di kursi dekat ranjang.


"Syukurlah.. Apa sahabatmu itu membuat kamu bosan selama tidak ada aku sayang?" Tanya Radit dengan tatapan penasaran.


Nania melirik ke arah Delisha, yang di mana sahabat nya itu sedikit jadi takut. "Hmm, Delisha membuat aku bosan di sini Mas.." Canda Nania dengan wajah manis nya.


Delisha menatap tak mengerti pada sahabat nya. "Benarkah? Kalau begitu biar aku memberi nya hukuman." Ucap Radit.


"Nggak kok Mas, aku hanya bercanda saja. Aku sama sekali tidak bosan berada di sini bersama Delisha, tapi aku memang sudah bosan di rawat Mas. Aku ingin pulang, aku sudah merasa jauh lebih baik Mas." Nania mengeluh dengan manja nya.


Baru kali ini Radit melihat Nania yang manja dan merengek seperti itu, membuat diri nya gemas sekali.

__ADS_1


"No! Nana, kamu baru boleh pulang lusa. Jadi dengar apa yang Dokter katakan yaa.. Kamu sabar saja, aku ada di sini bersamamu. Jadi kamu tidak perlu merasa bosan." Radit hanya ingin Nania benar-benar sembuh.


Riyan dan Delisha menjadi pendengar yang baik dari percakapan kedua nya.


"Riyan, kamu boleh ajak Delisha pulang, jangan lupa kerjakan apa yang aku minta tadi." Titah Radit pada asisten nya.


"Baik Tuan, kalau gitu saya pamit pulang dulu."


"Nania, aku pamit pulang dulu. Kak Radit terima kasih telah mengizinkan saya tinggal di apartemen Kakak." Delisha menyampaikan terima kasih nya pada pemilik apartemen.


"Hm, jika Riyan macam-macam padamu, hubungi saja aku. Pulanglah, dan jangan lupa kunci pintu kamar mu sebelum tidur."


Pria bernama Radit itu benar-benar telah berubah sikap nya. Ia bahkan bisa bersikap akrab dengan Delisha, yang sudah ia anggap seperti adik nya sendiri.


Nania tersenyum senang menatap kekasih nya yang selalu pengertian itu.


"Baik Kak, saya pulang dulu. Sekali lagi terima kasih, Nania daahh.." Delisha melambaikan tangan nya.


Sepasang kekasih berinisial D dan R itu sudah pergi dari kamar Nania. Hanya tinggal Nania dan Radit saja di dalam nya.


Tanpa membuang waktu, Radit bangkit dan meraih tengkuk Nania, ia mencium bibir ranum milik calon istri nya.


"M-mas..." Keluh Nania merasa dapat serangan mendadak.


Pria itu sama sekali tidak menghiraukan nya, ia terus mencumbu Nania. Rasa yang selalu menggelora di dalam hati nya, rasa yang sudah membuat nya candu.


Nania menerima saja permainan dari Radit. Ia memejamkan mata nya menikmati setiap pagutan lembut itu.


Tangan Radit yang satu nya membelai punggung Nania. Ia begitu lembut mencumbu nya, tak lama Radit melepaskan ciuman itu. Ia menatap Nania penuh cinta.


"Apa pun yang terjadi padamu, aku akan selalu ada di sisimu Nana. Apa pun yang sudah terjadi, aku akan membayar nya untukmu. Dan siapa pun yang sudah berani menyakitimu, aku tidak akan diam. Sekalipun ada hubungan darah denganmu."


Ucapan Radit membuat Nania menghangat, ada rasa senang namun ia masih tidak mengerti dengan akhir kalimat nya.


"Mas..."


"Ada aku sekarang, semua yang terjadi dalam hidupmu kedepan nya.. Aku akan ikut terlibat di dalam nya."

__ADS_1


Radit memeluk tubuh Nania, gadis itu membalas pelukan nya. "Terima kasih Mas.." Nania membenamkan wajah nya di bahu kekar Radit.


'Terima kasih Tuhan... Karena Engkau sudah mengirimkan pria yang berhati malaikat untukku.' Syukur Nania dalam hati nya.


__ADS_2