Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Tidak Ada Pertemanan Antara Wanita dan Pria


__ADS_3

"Aku bilang, kamu bisa membangunkan peliharaanku, Nana." Bisik Radit tepat di telinga Nania.


Gadis itu merasa geli, dan berusaha bangun dari pangkuan nya. "Tuan, nanti kalau ada yang lihat bagaimana?" Nania merasa diri nya tidak aman saat ini.


"Bagus kalau ada yang lihat." Ucap Radit cuek.


"Tidak bagus untuk saya Tuan."


"Jawab dulu, siapa Devan?" Kali ini Radit bertanya lagi dengan serius. "I-itu teman saya, memang nya ada apa Tuan?" Jawab Nania.


"Nana, tidak ada pertemanan antara wanita dan pria. Jika ada, pasti salah satu nya mempunyai perasaan. Apa kamu suka dengan nya?" Radit memeluk Nania lebih erat.


"T-tuan.."


"Jawab aku!"


"T-tidak, saya tidak menyukai nya." Jawab Nania dengan cepat, ia sudah panik karena Radit terus memeluk nya dengan erat. Nania khawatir jika ada karyawan lain yang melihat kejadian ini lewat celah kaca jendela.


"Benarkah?" Nania pun mengangguk.


"Jika kamu tidak menyukai nya, maka dia yang suka padamu. Kamu tidak boleh berteman dengan nya!" Titah Radit dengan tegas. Lebih tepat nya, nada pria itu seperti sedang cemburu.


"Dia temanku, kenapa Tuan yang mengatur?" Nania tidak suka Radit melarang nya.


"Ini perintah, ikuti apa kataku, atau kamu akan tetap seperti ini!" Radit menaruh wajah nya di bahu Nania. Gadis itu mendadak diam, dan kaku.


"Kamu mengerti kan?" Tanya Radit lagi.


"I-iya baiklah." Nania pasrah.


"Okay, kalau sampai aku melihat kamu masih berteman dengan nya, maka hukumanmu akan lebih dari ini." Dengan sigap Radit membelokkan wajah Nania dan mengecup bibir gadis itu.


Ia memulai pagutan yang selalu menjadi candu bagi nya, ini seperti vitamin daya tahan tubuh untuk Radit. Terus mencium nya, tapi Nania berusaha untuk melepaskan pagutan yang Radit berikan.


Tangan Nania mencoba melepaskan tangan Radit yang melingkar di perut nya. Tak lama pria itu melepaskan ciuman nya.


"Tuan, ini sedang di kantor!" Maki Nania kesal. "Ini adalah bentuk peringatan untukmu, Nana." Tegas Radit.


"Mau mengulangi nya sekali lagi?" Dengan cepat Nania menjauhkan wajah nya. "Lepaskan saya Tuan, saya masih banyak pekerjaan." Pinta Nania.


Akhirnya Radit melepaskan Sekretaris nya itu. Dengan langkah cepat Nania keluar dari ruangan nya.


"Huft." Nania mengelus dada nya ketika sudah di depan pintu ruangan Radit.


Namun kaki nya terhenti melangkah ketika ia mengingat berkas penting yang ia bawa tadi. "Aduh, kenapa juga harus ada berkas itu, aarghh." Nania merasa jengkel karena harus kembali lagi ke dalam.

__ADS_1


"Ada apa, apa kamu berubah pikiran dan mau melakukan nya sekali lagi?" Tanya Radit tersenyum manis, saat tahu Nania kembali lagi.


"Bu-bukan Tuan, jelas saja saya kembali karena ingin mengambil berkas itu." Ia menunjuk berkas di atas meja.


"Ah, ini? Baiklah."


Di sebuah perusahaan yang berbeda, Reyhan nampak fokus dengan layar PC nya. Kemudian ada seorang gadis selaku petugas kebersihan di kantor nya membawakan secangkir kopi yang sudah Reyhan pesan sebelum nya.


"Permisi Pak, saya ingin mengantarkan kopi yang Bapak minta tadi." Gadis itu belum berani melangkah dari dekat pintu.


"Ya, taruh saja di sini." Titah Reyhan.


Langsung saja gadis berseragam Office Girl itu berjalan ke meja Reyhan dan menaruh kopi nya di sana.


"Silahkan Pak, saya permisi dulu."


"Hm, makasih."


"Sama-sama Pak."


Tangan putih bersih yang baru saja lepas dari cangkir kopi itu harus merasa terkejut kala Dinan masuk dengan cara yang tidak sopan ke ruangan Reyhan.


"Reyhan!!"


Brakk!!! Prang!!


"Kamu nggak apa-apa?" Reyhan malah memperhatikan karyawan nya di banding dengan kedatangan Dinan. Membuat wanita itu murka.


"Reyhan kamu apa-apan sih!!" Dinan geram dengan tingkah Reyhan yang malah perhatian dengan office girl itu.


"Maaf Pak, maaf. Saya tidak sengaja." Serra meminta maaf dan membungkukkan badan sambil meremas ujung baju nya, ia merasa panas di sekitar kaki nya yang tersiram kopi.


"Saya akan membersihkan ini dan mengganti kopi nya dengan yang baru, Pak. Sekali lagi saya minta maaf." Ucap Serra, ia lalu berlari keluar dari ruangan Reyhan.


Dinan menghampiri pria tampan yang masih duduk di kursi kebesaran nya. "Kamu kenapa sih Reyhan, selalu menghindar dari aku?!" Tanya Dinan dan pria itu tak menjawab nya.


"Ini lagi! Kamu ngapain coba, ngomong sama office girl tadi." Masih tidak mau kalah dengan kejadian tadi.


"Untuk apa kamu datang kesini? Aku sedang sibuk, keluarlah." Nada Reyhan masih biasa. "Rey, kamu tinggal di apartemen? Terus kenapa kamu nggak ngasih tahu aku?" Protes Dinan di hadapan nya.


"Ck, aku lagi sibuk. Kamu nggak dengar?!!" Bentakan itu berhasil membuat Dinan tersentak. "Terus Ibu yang tinggal di apartemen itu apa masih tinggal di sana?" Dinan meberanikan diri bertanya bodoh pada suami nya.


"Bukan urusan aku!" Jawab Reyhan cuek.


Dinan mengepal erat tangan nya, ingin sekali ia memaki-maki Reyhan sampai puas. Tapi apa daya, dia tidak punya kuasa apa pun terhadap suaminya itu.

__ADS_1


Dengan kesal Dinan keluar dari ruangan Reyhan dan mencari tahu sendiri apakah Ibu nya masih ada di apartemen itu, atau tidak.


Reyhan menghela napasnya dengan berat. Tak lama Serra datang membawa kopi baru, sambil memakai sandal jepit.


"Permisi Pak, saya membawa kopi baru nya, dan akan membersihkan yang tadi." Ucap nya lalu berjalan ke dekat Reyhan.


"Hm."


Sekilas Reyhan melirik penampilan Serra, ia melihat gadis itu memakai sandal, dan kaki nya sedikit memerah.


Serra dengan cepat membersihkan bekas pecahan cangkir kopi di lantai, lalu ia keluar ruangan untuk mengambil alat pel yang ia bawa di troley tadi.


Ia masuk lagi dan mengepel nya hingga bersih.


"Sekali lagi saya minta maaf Pak." Serra menunduk dan pamit pergi. "Tunggu!" Suara Reyhan menghentikan langkah nya.


"Kamu pegawai baru?"


"Iya Pak, saya baru saja dua minggu bekerja di sini." Ucap Serra menunduk. Ia tidak berani melihat Reyhan, di tambah kekacauan yang ia buat tadi.


"Kamu pakai sandal?"


"Maaf Pak, saya akan segera mengganti nya lagi dengan sepatu." Lagi-lagi ia senang sekali berkata maaf.


"Siapa namamu?"


"N-nama saya Serra, Pak."


"Kamu boleh pergi."


"Terima kasih Pak." Akhir nya Serra bisa keluar dari ruangan Reyhan dengan selamat tanpa di pecat. Kalau sampai ia di pecat, ia tidak tahu cara mencicil hutang nya lagi.


Nania berkemas saat pekerjaan nya telah selesai. Delisha menghampiri nya, "Nan, kamu sudah mau pulang kan?" Tanya nya.


"Iya Del, ada apa? Bukan nya kamu juga mau pulang?" Nania bertanya balik. "Iya, tapi kok aku mau ajak kamu ke kedai dimsum yang biasa kita makan itu loh." Ajak Delisha sambil membayangkan dimsum yang biasa ia beli.


"Ya sudah, ayo kita kesana."


"Yang benar Nan? Aaaaaa... Akhir nya aku bisa makan dimsum itu lagi, setelah sekian lama." Delisha senang bukan main.


"Kamu pergi saja bersama Riyan, Nania akan pergi bersamaku." Potong Radit yang tiba-tiba muncul.


"Em, baik Tuan." Jawab Delisha, yang memang di kantor ia akan bersikap sopan dan sewajar nya pada Radit.


"Nan, aku duluan ya." Sahabat nya itu pun pamit dan pergi. "T-tapi Del.." Nania tak sempat berkata karena Delisha sudah pergi.

__ADS_1


"Tuan, kita mau pergi kemana?"


"Sudah ikut saja, ayo ke mobil." Ajak pria tampan itu dan di ikuti Nania di belakang nya.


__ADS_2