Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Berubah Jadi Ala Western


__ADS_3

Di dalam mobil sedang dalam suasana yang canggung. Ya itu di rasakan oleh Riyan dan juga Delisha.


"Dimana rumahmu?" Riyan bertanya sambil fokus menyetir.


"Tidak jauh dari sini kok, Tuan." Balas Delisha yang sedikit gugup. Ia tak berani mencuri pandangan ke arah Riyan jika pria itu tidak bertanya.


'Aduh, kok aku jadi nervous gini sih di antar pulang sama dia'


"Nggak usah panggil Tuan, panggil nama saja." Pinta Riyan.


Mobil Riyan memasuki kavlingan yang di arahkan Delisha, "I-iya Kak." Jawab gadis itu ragu. Akhirnya mereka sampai di depan rumah Delisha.


"Jadi disini rumah nya ya, kita sudah sampai." Riyan memperhatikan sekitar rumah Delisha yang begitu sepi karena sudah malam.


"Terima kasih Kak, sudah antar aku pulang." Delisha melepaskan seatbelt yang melekat jadi pelindung diri nya selama perjalanan.


"Sama-sama." Balas Riyan menengok ke arahnya. "Kalau gitu aku turun, Kak Riyan hati-hati ya." Gadis itu mengulas senyum.


'Aduh, manis nya...' Batin Riyan mendapatkan senyuman dari Delisha.


"Iya. " Jawab Riyan kikuk, ia bingung harus bicara apa lagi. Setelah gadis itu turun, Riyan melanjutkan perjalanan nya lagi. Delisha melihat mobil Riyan sudah pergi, ia memegangi dada nya sambil membuang nafas lega.


"Hahh.. Bisa mati kaku aku tadi di dalam mobil." Gumam Delisha lalu masuk ke dalam rumahnya.


Nania masih di dalam kamar Radit, "Ah tidak usah Tuan, terima kasih. Makan saja rujak nya." Jawab Nania menolak dengan sangat hati-hati.


"Ya sudah, ini rujak buatan Mama. Aku memang suka rujak buah, kalau habis makan ini rasa nya semua pikiran langsung plong." Ujar Radit kemudian menyuap lagi potongan buah ke mulut nya.


"Begitu ya Tuan, kalau begitu habiskan saja rujak nya. Tapi apa perut anda baik-baik saja?" Nania khawatir dengan keadaan Radit, pria itu pun mengangguk.


Radit tadi sempat menelpon mama nya jika ia ingin sekali di butakan sambal rujak dan buah bikinan Mona. Jadi Riyan di suruh mengambil ke rumah nya untuk di bawakan ke apartemen. Tapi Mona tidak tahu jika Radit sedang sakit. Karena ia tidak ingin mama dan papa nya khawatir pada nya.


"Saya ke kamar dulu ya Tuan, jika anda perlu sesuatu. Tuan bisa memanggil saya."


"Memang kalau aku memanggil dari sini, kamu mendengar nya?" Detik itu Nania langsung menggaruk rambut nya yang tidak gatal.


"Iya juga ya, tapi Tuan bisa menghubungiku." Balas nya tersenyum. "Ya sudah, tidurlah.." Radit menyuruh Nania untuk istirahat.


Ia tahu jika Nania sangat lelah mengurus nya seharian ini, tapi kenapa pria ini menjadi perhatian dengan nya. Mungkin benar jika Radit banyak perubahan karena dekat pada gadis itu.

__ADS_1


Itu sedikit di rasakan oleh Nania. Ia pun pamit ke kamar nya untuk istirahat. Di dalam kamar sambil merebahkan diri nya di kasur. Nania memainkan ponsel nya. Ia mendapat kabar kalau Delisha sudah sampai rumah.


Mata nya terasa berat, Nania menguap dan terpejam perlahan. Sampai akhir nya ia tertidur pulas.


Berbeda dengan Radit yang tidak bisa tidur, "Apa aku terlihat lemah di depan nya?" Gumam nya sambil menatap langit-langit kamar.


"Lihat saja jika aku sudah merasa lebih baik. Aku akan terlihat gagah seperti biasa nya." Senyum itu terbit di wajah nya. Namun bayangan saat ia muntah di temani Nania wajah sumringah itu hilang.


"Haiisss.. Memalukan sekali.. Arrrghhh!!" Kesal nya menutupi wajah dengan bantal.


Keesokan hari nya saat mentari menyapa, Nania sudah beres menyiapkan sarapan untuk diri nya dan Radit.


"Dia sudah bangun atau belum ya?" Nania berdiri di dekat meja makan sambil memegang ponsel nya. "Aku lihat saja dulu di kamar nya." Ketika Nania memutar badan nya.


Ia menabrak dada bidang yang sudah lengkap memakai setelan kantor nya. Pria itu berdiri dengan gagah nya, rambut yang di tata rapi, begitu juga aroma maskulin yang keluar menyeruak hidung membuat Nania sampai terlena.


Nania sekejap memandang penampilan Radit yang dia akui memang tampan sekali. Mata nya tak berkedip menatap ke atas paras tampan yang memiliki rahang tegas itu.


"Sudah puas menganggumiku?" Celetuk Radit.


Sontak membuat mata Nania langsung berkedip-kedip dan jadi salah tingkah di depan pria itu.


"Kamu mengharapkan aku sakit ya, tapi tubuhku baik-baik saja." Senyum meledek Radit itu seperti menyihir Nania yang tak henti salah tingkah.


"Bu-bukan begitu Tuan... Emm, kalau gitu sarapan dulu Tuan." Ajak Nania menarik kursi makan untuk nya.


Radit duduk di kursi itu, ia melihat menu makan Nania sedikit berubah. Ada salad sayur, potongan buah-buahan. Beberapa lembar roti tawar, dan juga macam-macam selai melengkapi tatanan meja makan.


"Apa ini?" Radit mengernyitkan kening nya.


"I-ini menu sarapan nya Tuan. Apa ada yang salah? Jika Tuan ingin sesuatu katakan saja." Jawab nya bingung.


"Bukan.. Bukan.. Biasa nya kamu memasak makanan ala rumahan untuk sarapan. Kenapa berubah jadi ala western gini." Kekeh Radit masih memandangi makanan di atas meja itu.


Nania menggelengkan kepala nya ke kiri pelan. "Em.. Kemarin Dokter Tirta bilang jika Tuan kebanyakan makan makanan berat jadi saya buatkan yang sehat dan rendah kalori untuk Tuan."


Gadis itu menyengir memperlihatkan deretan gigi putih rapi nya.


'Awas saja kau Tirta!' Malu Radit dalam hati.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa. Mungkin benar kata mu kemarin, aku hanya masuk angin saja." Jawab Radit mengelak.


"Begitu ya Tuan, tapi syukurlah jika sekarang Tuan sudah sehat kembali." Nania mengulas senyum manis nya, lalu ia duduk di kursi makan dekat Radit.


"Tuan, anda mau selai rasa apa? Cokelat, stroberi, atau srikaya?" Tanya nya sambil mengambil selembar roti tawar.


"Apa saja." Pria itu pasrah, ia masih melipat kedua tangan nya di dada.


"Baiklah, seperti nya rasa srikaya saja." Lalu Nania mengoleskan selai itu di atas roti tawar untuk Radit.


Di sebuah taman kota Jakarta, Yanti sedang menunggu seseorang yang sebelum nya sudah berjanjian dengan nya.


Ia duduk di bangku taman sambil melirik ke kanan dan ke kiri. Yanti sudah seperti buronan, ia memakai kacamata hitam dan juga tutupan kain di kepala nya.


Tak lama datang lah seorang wanita yang cantik dan juga berkulit putih. Ia adalah Dinan, orang yang di telepon Yanti saat tiba di Jakarta.


"Dinan.. Duduklah, bagaimana kabarmu?" Tanya Yanti.


"Aku baik-baik saja. Aku dengar Nania bekerja di sebuah Perusahaan besar, benar begitu Bu?" Tanya nya dengan wajah yang tidak bersahabat.


"I-iya benar. Kemarin dia bilang, bekerja di Perusahaan Diamond Glow Cosmetics." Yanti menjawab semua yang ia ketahui dari Nania.


"Bagus, aku akan melibatkan dia untuk mengambil saham Perusahaan itu." Seringai Dinan yang cukup mengerikan.


"Memang nya kamu tahu siapa pemilik Perusahaan itu, Din?" Tanya Yanti karena sedikit tidak percaya jika Dinan mampu melakukan itu semua.


"Siapa yang tidak kenal Radit Cipta Buana. Dia pebisnis muda yang sukses di Negara ini, Bu. Bahkan salah satu Perusahaan nya termasuk yang paling maju se Asia." Jawab nya membuat Yanti melongo.


"Kamu yakin?"


"Ibu tenang saja, aku menikahi suami yang juga kaya. Aku dengar orang tua suami ku menjalin kerja sama dengan Perusahaan dia. Jadi itu akan mudah untuk ku merebut saham Radit." Dinan tertawa membuat Yanti malah bergidik ngeri.


"Terserah kamu saja lah, yang penting kamu harus lindungi Ibu, dari kejaran Damar. Ibu tidak mau hidup seperti buronan." Pinta Yanti.


"Ck, salah siapa Ibu pakai berhutang dengan nya. Memang uang yang selama ini aku kasih tidak cukup untuk Ibu." Kesal Dinan melihat Yanti.


Siapa sebenar nya Dinan ini, apa dia anak pertama dari Yanti, yang di rahasiakan keberadaan nya dari Nania dan juga Ayah nya dulu.


Yanti hanya diam, "Aku akan memberikan satu apartemen milik suamiku untuk Ibu tinggal disini, soal urusan hutang. Ibu minta saja pada Nania, bagaimana pun cara nya. Ibu pikirkan sendiri." Jawan Dinan.

__ADS_1


"Hm iya.. Iya Dinan. Ibu mau." Yanti sudah kesenangan akan tinggal di apartemen.


__ADS_2