Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Nania Koma


__ADS_3

Dokter Tirta masuk ke dalam kamar inap Nania. Ia membawakan hasil lab untuk Radit. Terlihat ada Delisha yang duduk di sofa panjang, dan Radit yang setia duduk di kursi samping ranjang sambil memegangi tangan Nania.


"Ehem.." Tirta berdehem.


"Selamat malam, maaf mengganggu Tuan Radit. Saya ingin membawakan hasil lab ini."


Tirta selalu profesional jika bertugas sebagai Dokter, ia tetap memanggil Radit dengan sopan saat bertugas.


"Ah, ya. Biar saya liat hasil nya." Radit mengucek mata nya, dan menerima amplop besar berwarna putih. Ia sempat terpejam kala menjaga Nania.


Dengan hati-hati Radit membuka amplop itu dan membaca nya. Tirta pun ikut menjelaskan keadaan Nania sekarang ini.


"Jadi Nyonya Nania mendapatkan serangan otak mendadak, membuat keseimbangan antara fungsi otak dengan saraf nya tidak stabil. Ia mengalami kelumpuhan ingatan sementara yang membuat diri nya jadi tidak sadarkan diri."


"Maksud nya kelumpuhan ingatan?"


Dengan berat hati Tirta menjelaskan kembali apa yang memang harus di jelaskan. "Jadi Nyonya Nania mengalami kelumpuhan ingatan sementara, Tuan. Tidak permanen, semoga jika sadar nanti ingatan Nyonya Nania bisa kembali lagi."


"Ya Tuhan.." Radit tidak bisa berkata-kata lagi.


Jangan tanyakan bagaimana kondisi Delisha, ia sudah meneteskan air mata ketika mendengar apa yang Tirta sampaikan.


"Tuan yang sabar ya, saya yakin Nyonya Nania kuat, dia pasti bisa melewati ini semua, dan segera sadar." Dokter Tirta memegang bahu Radit untuk membuat pria itu sedikit tenang.


"Apa itu karena kecelakaan yang di alami nya tempo hari?"


"Saya juga harus mengatakan ini, sebenar nya ada yang janggal di sini. Saya masih bingung kenapa Nyonya Nania bisa mendapat serangan dadakan, karena kondisi pasien kemarin sudah membaik. Tapi hasil lab tidak menunjukan keanehan. Semua seperti terjadi begitu saja Tuan. Mungkin ini efek dari kecelakaan kemarin." Ujar Tirta.


Tidak ada yang bisa Radit katakan lagi. Pria itu memijit ujung pelipis nya. Ia lalu duduk kembali di kursi nya dan menatap sendu Nania yang terbaring lemah.


"Nana..."


Delisha tak kuasa menahan tangis nya, ia pun menatap sahabat nya yang masih koma. Saat itu Riyan masuk berselingan dengan Dokter Tirta yang keluar. Mereka saling mengulas senyum.


Ketika masuk, wajah Riyan berubah menjadi sendu, baru kali ini ia melihat wanita yang ia cintai menangis dan juga atasan nya menangis.


Radit meneteskan air mata sambil terus mengenggam tangan Nania. Di peluk lah Delisha oleh Riyan. Ia tahu kalau kekasih nya juga terpukul dengan keadaan sekarang.


Riyan mengusap-usap lembut punggung Delisha. Ia juga menatap Nania yang tidak sadarkan diri di bantu dengan alat pernapasan di mulut dan juga hidung nya.


"Nana... Bangun sayang,, kamu sudah janji akan selalu bersamaku.. Maafkan aku Nana. Ini semua salah aku." Radit tidak peduli lagi dengan keberadaan Riyan dan juga Delisha.


Ia meluapkan semua unek-unek nya yang terpendam. "Nana.. Kalau saja aku waktu itu tidak membiarkan kamu pergi sendiri, ini semua pasti tidak akan terjadi sayang.." Tangis Radit semakin menjadi. Ia terisak dalam kepedihan nya.


Siapa yang tidak sedih melihat wanita yang ia cintai terbaring tidak sadarkan diri, siapa yang tahan melihat wanita yang akan menjadi bagian hidup nya, mengalami hal seperti ini.


Riyan melepaskan pelukan nya, dan membiarkan Delisha duduk sebentar. Lalu ia menghampiri Radit yang masih tersedu.


"Tuan... Ini pasti berat untuk Tuan dan Nania. Tuan harus sabar dan kuat, saya yakin Nania pasti bisa melewati ini semua." Ujar Riyan di samping nya.


"Tuan,, Nania adalah orang yang baik. Tuhan pasti akan selalu melindungi nya. Ini sudah takdir Tuan, tidak ada yang bisa menghindar. Saya ikut berdoa, semoga Nania bisa cepat sadar."

__ADS_1


Radit mendengar nya malah semakin tak kuasa menahan tangis. Baru kali ini Riyan melihat Radit menangis seperti ini.


"Riyan,, ini nggak adil!! kenapa harus Nania,,Kenapa dari dulu harus dia yang merasakan ini semua?!!" Radit tak habis pikir kenapa dari dulu Nania harus mengalami hal pahit seperti ini.


Dulu ia sering di celakai seseorang, bahkan ia pernah di lempar ke jurang oleh seseorang. Radit kembali mengingat masa itu.


"Tuan yang sabar.. Mungkin karena Nania adalah wanita yang spesial, Tuhan selalu menguji nya agar dia menjadi wanita yang kuat." Tukas Riyan.


"Kamu pulang lah Riyan, bawa Delisha pulang juga. Aku akan menjaga Nania di sini." Ucap Radit dengan suara parau nya.


"Saya akan di sini Tuan, saya dan Delisha akan ikut menjaga Tuan dan Nania." Jawab nya dengan yakin.


"Nggak perlu Riyan, kamu pulang saja."


"Nggak Kak, aku tetap ingin menjaga Nania di sini." Ucap Delisha mendekat ke ranjang Nania.


"Riyan,,," Tatapan Radit penuh harap agar asisten nya itu mengerti. "Baik Tuan.."


"Delisha, ayo kita pulang sekarang." Riyan mengajak Delisha untuk pulang bersama nya. "Tapi Mas, aku mau jaga Nania saja di sini. Aku nggak mau pulang." Delisha tetap bersi keras untuk tinggal.


Dengan penuh paksaan, Riyan berusaha membawa Delisha pulang, ia paham jika Radit tidak ingin di ganggu dulu.


"Mas.. Kenapa bawa aku pergi sih, aku mau jaga di sana, aku mau nemani sahabat aku di dalam!" Delisha marah saat sudah keluar dari kamar.


"Sayang... Mas tahu kamu mau jaga sahabat kamu di dalam, tapi apa kamu nggak mau kasih ruang untuk mereka? Biarkan Tuan Radit yang menjaga Nania. Sekarang kita pulang yaa,," Bujuk Riyan dengan tenang.


Ia tidak mau menyikapi amarah Delisha dengan balik marah. Mau tidak mau Delisha menurut dan pulang bersama Riyan.


"Mas, aku bukan cemberut. Aku masih sedih kenapa Nania bisa seperti itu, hikss.." Ia kembali meneteskan air mata nya.


"Ssssttt... Sudah, kamu doakan saja yang terbaik untuk Nania. Mas tahu kamu sedih, kita semua nggak ada yang mau Nania seperti ini. Tapi ini semua sudah takdir, nggak akan ada yang bisa merubah takdir, Delisha.." Ucap Riyan.


"Kecuali doa yang bisa merubah nya." Ujar nya lagi.


Pria itu mengenggam tangan kekasih nya, Delisha merasa di buat nyaman dengan Riyan. Pria itu sangat dewasa, dan selalu bisa memahami nya.


"Hikss... Makasih ya Mas, kamu sudah mau ngertiin aku."


Riyan tersenyum menatap Delisha. Beruntung nya Delisha mendapatkan Riyan yang sudah tampan, dan dewasa dalam menyikapi segala hal.


"Sudah hapus air mata nya. Mata indah kamu sudah berubah menjadi mata panda. He he" Riyan berusaha menghibur kekasih nya yang sedih.


Karena bagaimana pun larut dalam kesedihan itu tidak baik, dan sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Bagi nya, semua yang terjadi dalam hidup harus di jalani dengan ikhlas dan menerima dengan hati yang lapang.


"Massss...." Teriak Delisha.


Di dalam kamar mewah, Dinan sedang duduk di depan cermin besar. Ia memakai skincare rutin setiap malam sebelum tidur.


Reyhan keluar dari walk in closet nya. "Honey, kamu lihat jaket kulit aku yang beli di London nggak, yang warna hitam itu?" Tanya nya pada Dinan.


Ia sudah mencari di lemari nya tapi tidak ketemu. "Hmmm, kayak nya itu ada di lemari aku deh sayang. Kamu cari sendiri ya, aku lagi nanggung nih." Jawab nya yang masih mengoleskan krim di wajah nya.

__ADS_1


"Okay.."


Pria itu masuk lagi ke dalam ruang pakaian nya, ia membuka lemari Dinan yang berjejer di seberang lemari nya.


Reyhan membuka satu persatu lemari yang terdapat deretan baju tergantung sempurna. Manik mata nya tak sengaja melihat plastik putih di bawah lemari, seperti nya tak sengaja terjatuh.


"Apaan tuh?"


Karena penasaran Reyhan mengambil plastik itu dan membuka nya. Mata nya membelalak ketika melihat dan membaca isi dari kantung plastik itu.


"Dinaannn!!!!!"


"Apa sih Honey.." Jawab nya dari luar sana yang masih setia duduk di depan cermin meja rias nya.


Reyhan berjalan dengan raut wajah yang penuh amarah. Ia melemparkan plastik itu tepat di depan wajah Dinan.


Wanita yang berstatus istri Reyhan itu langsung mengambil benda yang di lempar suami nya. Ia pun kaget dan mendadak gugup.


"Sa-sayang ini kamu dapat dari mana?"


"Nggak usah tanya aku dapat dari mana?!! Yang aku mau tanya, itu punya siapa?!!" Tanya Reyhan dengan nada yang tinggi, ia kali ini benar-benar marah.


Wajah nya sudah merah padam. "I-ini... A-aku juga nggak tahu ini punya siapa sayang." Dinan pura-pura tidak tahu dengan benda yang ia pegang.


"Kamu tahu itu apa?!!"


"I-ini pil kontrasepsi M-mas.." Jawab nya tersentak.


"Lalu kenapa barang itu ada di lemari kamu, Dinan?!! Jawab!!" Teriak Reyhan yang sudah tersulut emosi.


Bagaimana bisa jika obat itu milik Dinan, selama ini pernikahan mereka selalu menantikan kehadiran seorang anak. Sangat tega jika Dinan mengkonsumsi obat itu.


"Kenapa kamu diam?! Kamu nggak bisa jawab?!"


"Okay, kamu diam berarti itu benar punya kamu!!"


Reyhan keluar dari kamar dan membanting pintu dengan keras. "Masss..." Teriak Dinan.


Ia mengejar Reyhan yang menuruni tangga dengan cepat. "Sayang, aku bisa jelasin semua nya. Sayang tunggu!! Reyhan..." Dinan terus menahan Reyhan yang sudah ingin keluar rumah.


"Lepasin!!"


Reyhan menghempaskan kasar tangan Dinan yang menghalangi nya. Ia masuk ke dalam mobil, dengan cepat keluar dari rumah. Dinan tidak bisa menghentikan Reyhan. Ia mengacak rambut nya sendiri.


"Reyhaaannn.."


"Aaarggghh!!" Teriak nya frustasi.


Lan datang menghampiri Dinan. "Dinan, ada apa? Kenapa kamu berantakan begini, Reyhan kemana?" Tanya Lan yang masih tak mengerti.


Bukan nya menjawab Dinan malah nyelonong masuk ke dalam dan kembali ke kamar. Lan masih tidak habis pikir.

__ADS_1


"Ada apa dengan Reyhan dan Dinan?" Gumam nya.


__ADS_2