
Radit melihat Sekertaris nya masih mematung di tempat duduk nya dalam ruangan meeting, ingin sekali rasa nya ia menanyakan ada apa. Tapi harga diri nya tidak mau ia kalahkan. Ia berikukuh masih acuh pada gadis itu.
"Nania.." Tegur Riyan.
"Nania.. Kamu tidak mau keluar?" Tanya nya lagi membuyarkan lamunan gadis itu.
"E-iya.. Iya Riyan." Balas Nania merapihkan laptop dan juga buku note nya. Riyan pun hanya bisa geleng-geleng kepala.
Nania berjalan sambil memeluk laptop yang ia bawa, mata nya masih kosong memikirkan sosok yang pernah hilang cukup lama dalam keluarga nya.
Langkah kaki nya terhenti kala seorang menarik lengan nya. Nania pun terkejut melihat wanita yang ada di hadapan nya.
"Kan Dinan.." Ia menatap lekat wajah sang Kakak.
"Rupa nya kamu bekerja disini." Ucap Dinan berpura-pura tidak tahu.
"Kak Dinan kemana saja, Kak? Kenapa Kakak tidak pulang saat Ayah meninggal. Kak Dinan tega sekali, bahkan sekarang Kakak tampak baik-baik saja."
Protes Nania yang menahan derai air mata di sekujur tubuh nya, tangan nya sudah mengepal keras meluapkan semua unak-unak nya.
"Diam!! Kamu nggak usah ikut campur urusan aku. Aku cuma mau bilang sama kamu, jika kita bertemu lagi. Anggap saja kamu tidak mengenalku. Paham! Kita bertemu hanya untuk urusan bisnis." Ucap Dinan begitu ketus dengan senyum smirk nya.
Belum sempat Nania menjawab, tapi Revan sudah memanggil sang istri dari sudut lorong.
"Dinan.. Kamu disana.."
Langkah pria itu mendekat, gelagat Dinan sudah nampak gelisah. "Awas kamu!!" Ancam Dinan pelan. Nania tetap menatap lekat wajah sang Kakak yang sebenar nya ia rindukan. Tapi sayang kenyataan nya, Dinan memang sudah berubah.
"Revan.." Balas Dinan kala suami nya sudah di samping nya.
"Ada apa? Apa kamu sedang ada urusan?" Tanya nya melirik ke arah Nania.
"Tidak sayang, aku tidak sengaja bertemu Sekertaris nya Tuan Radit disini. Kami hanya saling menyapa. Iya kan?" Jelas Dinan pura-pura tidak mengenal Nania.
Rasa sakit sudah mati di hati Nania, rasa itu sekarang berubah menjadi benci pada Kakak nya.
"Iya, kalau gitu saya permisi dulu." Jawab Nania lalu pergi setelah menunduk hormat pada Revan.
"Hm, ayo kita kembali ke kantor, Dinan." Ajak pria itu pada istri nya. "Iya sayang." Kemudian mereka pergi meninggalkan jejak.
Di kursi tempat Nania menjalankan tugas nya sebagai Sekertaris, ia masih duduk termangu di tempat. Dering telepon kantor membuyarkan tatapan kosong nya.
"Halo, saya Nania. Ada yang bisa di bantu?" Ucap nya dalam sambungan telepon begitu lembut sekali.
"Buatkan aku kopi sekarang!" Pinta Radit.
"Baik Tuan."
__ADS_1
Tut.. Panggilan sudah di putus oleh Radit. "Heh, bahkan menerima telepon saja suara nya selembut itu. Apa dia memang sengaja melembutkan suara nya agar semua orang tergoda oleh nya? Cih.." Oceh Radit dalam ruangan nya setelah menelpon Sekertaris nya.
Selang beberapa menit, Nania membawakan kopi yang di minta Radit.
"Permisi Tuan, ini kopi nya. Silahkan di minum."
"Hm."
Nania meletakan secangkir kopi di dekat Radit, pria itu lalu menyambar cangkir di sebelah nya dan menyeruput nya, ia memang sudah ingin minum kopi. Nahas detik itu juga..
Prangg!!!
Cangkir yang di genggam Radit terhempas di lantai menjadi pecahan beling dan cairan warna hitam yang pekat berceceran.
"T-tuan.. Ada apa, anda baik-baik saja?"
Gadis itu terkejut melihat Radit membanting cangkir kopi nya yang ia pegang.
"NANIA KENISHA!!!" Teriak nya begitu lantang.
Nania langsung tersentak menatap takut pada Radit, kesalahan apa yang sudah ia buat hingga pria di hadapan nya benar-benar murka pada diri nya.
"I-iya Tuan." Jawab nya gemetar.
"Kamu punya dendam apa sama saya?!! Hah?!! " Tanya Radit begitu marah, Nania menggeleng dengan cepat.
"JAWAB!!"
"Lalu kenapa kamu memberi garam di kopi saya?! Apa kamu tidak bisa membedakan mana gula dan garam?!"
"Ma-maaf Tuan.. Saya tidak sengaja." Lirih Nania.
Brakkk!!!
Radit menggebrak meja nya. Tidak tahu kenapa hari ini Nania sangat membuat darah nya naik dan emosi yang melanda tidak karuan.
"Keluar!!" Pinta Radit masih baik.
Namun gadis itu malah mendekat ke arah pecahan beling di lantai. Ia berinisiatif untuk membersihkan pecahan gelas dulu sebelum ia keluar.
Saat membungkuk dan baru memunguti beberapa pecahan gelas itu, Radit semakin kesal melihat nya.
"Aku bilang keluar!!!" Bentak Radit sangat marah.
Gadis itu tersentak hingga tangan nya terkena serpihan beling yang menusuk nya, darah segar keluar dari jari telunjuk nya.
"Awwhh.. Sshh.." Ringis Nania pelan.
__ADS_1
Kemudian ia berdiri, "Saya akan panggilkan OB untuk membersihkan ruangan anda Tuan. Sekali lagi saya minta maaf." Lalu ia keluar dari ruangan Radit.
Dada pria itu kembang kempis menatap kepergian Nania. "Aarrgghhh!!" Radit mengacak rambut nya. Ia ingin marah, tapi kenapa hati nya berkata lain.
Nania keluar menuju pantry dengan membawa kotak p3k di tangan nya. Ia kemudian membersihkan luka di jari nya sendiri.
"Kenapa aku bisa begitu ceroboh, hingga salah memasukan gula di kopi. Malah garam yang aku masukan."
Ia merutuki diri nya sendiri yang teledor, apa karena pikiran nya yang sedang rumit. Membuat fokus Nania jadi berkurang. Riyan membuka pintu pantry dan ia menoleh ke arah pria itu.
"Nania.. Kamu sedang apa disini?" Tanya Riyan.
Pria itu ingin membuat kopi untuk Tuan nya. "Em a-aku sedang ingin membuat teh. Iya, aku ingin buat teh. Kamu mau bikin apa?" Tanya nya menyembunyikan jari nya yang terluka setelah di plester.
"Aku mau buat kopi untuk Tuan Radit, mungkin tadi dia mencari mu di tempat sedang tidak ada. Jadi dia menyuruhku. Atau habis ini mau kamu saja yang membawa nya?" Tawar Riyan.
Dengan cepat kilat Nania menggelengkan kepala nya. "Bisa kamu saja yang membawa nya Riyan, aku sedang sakit perut." Berpura-pura memegangi perut nya.
"Benarkah? Tapi kamu baik-baik saja kan?" Pria itu menghentikan aktifitas nya yang sedang mengaduk kopi.
"Nggak apa-apa kok." Jawab Nania kaku.
"Nan, apa kamu sedang membuat masalah pada Tuan Radit?" Bisik Riyan pelan.
Gadis itu membelalakan mata nya. "Tidak, memang ada apa?" Ia tidak ingin Riyan mengetahui jika diri nya sedang bertengkar hebat semalam pada Radit. Nania tidak ingin Riyan curiga.
"Tuan Radit nampak emosi sekali."
"M-mungkin hanya perasaan mu saja. Sudah sana cepat bawakan kopi itu. Aku takut kamu malah di marahi karena terlalu lama." Ucap Nania.
"Baiklah, aku pergi dulu." Pria itu pamit setelah membuatkan kopi untuk Radit.
Nania bernafas lega, jika bersama Riyan sikap nya begitu santai. Karena Nania adalah orang yang mudah akrab dengan rekan kerja nya. Tidak sebalik nya pada Riyan, pria itu susah sekali bisa akrab dengan rekan kerja nya. Tapi entah mengapa dengan Nania, Riyan bisa begitu santai sudah seperti mengenal lama sosok Nania.
Usai bekerja sore ini Nania bergegas pulang, ia menaiki bus untuk sampai di apartemen. Langkah nya sangat letih, seharian ini Nania bekerja dengan bos dingin yang tidak berbicara sama sekali. Hanya menyuruh nya dengan isyarat saja. Membuat diri nya lelah dengan apa yang ia jalankan.
"Rasa nya aku ingin di telan bumi saja. Aku tidak ingin ada di bumi ini." Keluh Nania memasuki lift.
Manik mata yang tadi nya sayup, kini membuka lebar kala pintu lift terbuka menampilkan sosok Ibu nya yang berdiri menunggu di depan pintu apartemen nya.
"Untuk apa Ibu kesini?" Tegur nya pada Yanti.
"Nania kamu sudah pulang, Nania Ibu minta maaf pada kejadian itu. Ibu nggak tahu harus gimana lagi untuk melunasi hutang-hutang pada orang itu." Ucap nya berpura-pura sedih.
"Asal Ibu tahu, karena kelakuan Ibu kemarin. Nania hampir saja menjadi korban pria hidung belang seperti Damar."
Gadis itu marah pada Ibu nya, ia meluapkan kekesalan yang selama ini ia pendam. Yanti tidak pernah melihat Nania marah seperti ini.
__ADS_1
"Nania.. Tolong maafkan Ibu.." Lirih nya lalu menangis.
Air mata bualan itu membasahi pipi Yanti. Semua tidaklah mudah. Nania meremas rok yang di kenakan nya.