Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Xiaoran dan Teh Kombucha


__ADS_3

Bintang-bintang sedang menghiasi langit yang gelap, malam ini Nania sedang duduk di kursi rias. Ia memakai berbagai serangkaian skincare dari Diamond Glow di wajah nya yang mulus dan cantik itu.


"Ternyata kualitas Diamond Glow memang bagus, wajahku menjadi lebih berkilau, he he." Nania terkekeh sendiri.


Bunyi notifikasi pesan masuk di ponsel nya langsung membuat ia meraih benda persegi panjang di atas meja rias.


"Sedang apa?"


Gadis itu mengulum senyum mendapat pesan dari Devan.


"Sedang duduk saja."


Di bawah lantai griya tawang milik Radit, Devan membaca pesan balasan dari Nania dengan wajah yang gembira. Pria itu sedang berada di balkon apartemen nya.


"Sudah malam, kenapa belum tidur?"


"Sebentar lagi, kamu sedang apa?"


"Sama sepertimu, aku sedang duduk memandangi bintang-bintang di langit."


Gadis itu mengerutkan kening nya, ia lalu berjalan mendekat jendela, lalu membuka gorden lebar yang menutupi kaca jendela itu. Nampak beberapa bintang yang indah berbaris di langit.


"Bintang nya sangat indah. Aku juga melihatnya.."


Devan tersenyum, ia merasa Nania adalah cinta pada pandangan pertama buat nya.


"Sama sepertimu, indah.."


Nania tersipu malu membaca pesan dari Devan, ia langsung menyimpan ponsel nya di kantong baju tidur yang di pakai. Lalu memandangi kembali bintang-bintang di langit.


Pagi ini Radit, Nania dan Riyan tengah berada di dalam mobil. Mereka bertiga sedang melakukan perjalanan ke luar Kota untuk penelitian di villa Prof.Zhang, yang berada di Kota B.


Nania duduk di depan bersama Riyan yang mengendarai mobil nya. Sedangkan Radit duduk di kursi belakang sambil fokus pada ponsel nya.


"Berapa lama lagi akan sampai?" Tanya nya.


"Sekitar setengah jam lagi, Tuan." Jawab Riyan.


"Kamu sudah menyiapkan barang-barang yang kita perlukan di sana?" Radit bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel nya.


"Sudah Tuan, barang-barang untuk penelitian sudah di siapkan disana, dan kita akan menginap di villa yang tidak jauh dari villa Prof.Zhang"


Nania hanya bisa mendengarkan dan menyimak nya saja. Setelah tiga jam di mobil, akhirnya perjalanan mereka ke Kota B telah sampai.


Radit turun dan bertemu dengan Asisten Prof.Zhang.


"Selamat datang Tuan Radit, senang bertemu dengan anda." Wanita itu berjabat tangan dengan Radit.

__ADS_1


"Hm." Jawab Radit singkat.


Penampilan Asisten Prof.Zhang begitu seksi, bahkan belahan dada nya hampir terlihat sempurna, rok yang di kenakan juga sangat pendek. Nania merasa geli melihat pakaian yang terlalu minim seperti itu.


"Mari Tuan, Prof.Zhang sudah menunggu anda di dalam."


Xiaoran menuntun kedatangan mereka bertiga masuk ke dalam villa. Disana sudah ada seorang pria paruh baya berambut putih dan berkacamata tengah duduk di sofa.


Ia adalah Profesor Zhang, pemilik vila di Kota B dan juga yang memiliki berbagai macam tanaman, dan bunga-bunga yang di jadikan bibit parfume di halaman belakang. Kebun bunga dan tanaman lain nya berada di belakang villa nya langsung.


Keindahan villa Prof.Zhang memang menyorot mata siapapun yang datang kesana menjadi terpesona.


"Selamat datang Tuan Radit."


Ia berjabat tangan dengan Radit, Nania dan Riyan setia berdiri di belakang Tuan nya itu.


"Prof.Zhang, akhir nya bisa bertemu dengan anda. Suatu kehormatan untuk saya." Jawab Radit tersenyum.


"Ha ha ha, saya sangat menantikan sebuah kerja sama dari Perusahaan anda Tuan Radit. Mari silahkan duduk.."


Mereka berlima duduk di sebuah ruangan yang di penuhi beberapa tanaman di sudut ruang, juga berbagai macam lukisan bunga di dinding. Tak lupa ruangan yang begitu harum menyeruak di hidung tapi aroma nya sangat lembut dan menenangkan.


"Prof.Zhang, saya ingin melakukan penelitian langsung bersama anda untuk proyek baru saya. Saya, Asisten dan juga Sekertaris saya akan ikut membantu selama melakukan penelitian di sini."


"Baik Tuan Radit, saya senang ternyata anda mau turun langsung kesini untuk mencoba berbagai macam bibit parfume yang saya buat sendiri."


"Tidak masalah Prof.Zhang, itu sudah menjadi keharusan untuk saya dalam meninjau proyek baru."


Nania melihat wanita berkulit putih dan bertubuh sintal itu merasa risih terus memandangi Radit. "Ehem.. Ada yang cemburu nih." Bisik Riyan di telinga Nania.


Sontak saja membuat Nania sedikit melotot, ia melemparkan tatapan tajam pada Riyan. "Apa yang kamu maksud, jangan sembarangan bicara." Bisik Nania balik.


Riyan memang merasa di antara Nania dan Radit ada perasaan saling menyukai, tapi mereka saling gengsi untuk menunjukan perasaan nya masing-masing.


Pria itu terkekeh menahan tawa nya di samping Nania.


"Baiklah, karena anda sudah jauh-jauh datang kesini. Mari kita minum teh bersama sejenak. Saya mempunyai teh kombucha yang sangat enak dan bagus untuk kesehatan."


"Baik Prof.Zhang, terima kasih." Balas nya.


"Xiaoran, tolong siapkan teh kombucha yang telah saya racik." Titah nya pada sang Asisten.


"Baik Prof.Zhang."


Wanita itu berjalan melenggok dengan sengaja untuk mencari perhatian Radit. "Hati-hati.. Ada buaya betina yang akan menerkam mangsa nya." Bisik Riyan lagi pada Nania.


Kali ini Radit menoleh karena mendengar sedikit ucapan Riyan. Ia menautkan alis nya, Riyan dengan cepat menggelengkan kepala nya pelan dan tersenyum pada pria tampan itu.

__ADS_1


Tak lama Xiaoran kembali dengan membawa lima cangkir di nampan dan menaruh nya di atas meja. Ia sengaja membungkuk agak lama, untuk menampilkan bongkahan belah dada di depan Radit. Nania semakin geram melihat tingkah Xiaoran.


Sedangkan Radit tidak melirik sama sekali. "Bagaimana bisa Prof.Zhang memperkerjakan wanita seperti nya untuk menjadi Asisten." Bisik Nania pada Riyan.


"Silahkan di minum Tuan Radit, Sekertaris Nania, dan Asisten Riyan." Ucap Xiaoran.


"Hmm, terima kasih." Kali ini Nania angkat bicara. Menekankan kalimat nya dengan tidak suka namun tetap terdengar lembut.


Radit diam-diam mengulum senyum melihat ekspresi Nania yang seperti itu. Cukup lama berbincang-bincang sambil meminum teh kombucha. Kini mereka berpindah tempat ke villa sebelah yang tak jauh dari villa Prof.Zhang.


"Nania, kamar kamu ada di sebelah kamar saya. Riyan, malam ini kamu ikut bermalam di sini, tapi besok kamu harus kembali ke kantor. Untuk menggantikan tugas disana selama saya di sini."


"Baik Tuan."


Nania naik ke lantai dua membawa koper nya, ia masuk ke dalam kamar yang ada di sebelah kamar Radit. Kemudian ia merebahkan tubuh nya sejenak, tapi ada rasa aneh melanda di tubuh nya.


"Aduh, aku ingin buang air kecil. Dimana kamar mandi nya ya?"


Ia melirik kesana kemari, lalu Nania membuka sebuah pintu yang ada di sudut ruangan. Ketika ia membuka pintu itu, Nania begitu kaget melihat pemandangan yang ada di depan mata nya.


"Aaaaa..."


Radit yang sedang menanggalkan kemeja nya langsung menoleh ke jeritan suara itu berasal. Tubuh kekar nya menghampiri gadis yang tengah menutup wajah nya dengan kedua tangan.


"Ada apa?"


"Tu-tuan bagaimana bisa pintu ini.. Pintu ini terhubung ke kamar anda."


Nania masih belum berani membuka tangan nya. "Memang nya kenapa?" Tanya Radit cuek.


"Sa-saya kira ini kamar mandi. Sa-saya permisi dulu Tuan."


Ia langsung berbalik badan dan menutup kembali pintu nya. Nania mengibaskan tangan berkali-kali di wajah nya yang sudah memerah.


"Kamar ini sangat aneh. Bisa-bisa nya terhubung di kamar sebelah. Untuk apa di buat pintu depan kalau di dalam sini ada pintu juga yang terhubung." Kesal nya sambil berjalan mondar-mandir.


Radit tersenyum di kamar sebelah, ia kembali melanjutkan aktifitas nya untuk mandi.


Riyan yang berada di kamar nya langsung menelpon Delisha. "Halo Delisha.." Gadis itu menjawab panggilan Riyan di sela-sela kerja nya.


"Halo Kak Riyan, ada apa?"


"Aku sedang ada di Kota B, malam ini mungkin aku tidak bisa menjemputmu. Tapi besok aku akan menjemputmu lagi, besok pagi aku sudah kembali ke Jakarta."


"Ah, begitu ya Kak. Kak Riyan tidak usah khawatir, aku masih bisa naik bus. Apa Nania juga ada disana?"


"Iya, Nania ada di sini. Sudah dulu ya, nanti aku sambung lagi." Riyan merasa khawatir jika berlama-lama mendengar suara Delisha, hati nya berdesir aneh.

__ADS_1


"Iya Kak."


Panggilan sudah di matikan lebih dulu, kedua nya saling mengulum senyum di tempat. "Tidak aku sangka, Kak Riyan mengabari aku hanya untuk hal ini. Aaaaa..." Ucap nya serasa melambung ke atas awan.


__ADS_2