
"Jadi gitu Ma, Pa. Nania sekarang ini masih nggak ingat kalau Radit ini kekasihnya, yang sudah sempat melamar dia." Jelas Radit pada Sandi dan Mona.
Sandi heran dengan anaknya. "Kenapa kamu tidak coba jelaskan saja dengan dia?" Saran Sandi. Mona ikut menyimaknya.
"Iya Dit, kalau kamu terus terang. Nania pasti mengerti, dari pada kamu seperti ini. Terus kapan kamu mau nikahi dia?" Mona sudah tidak sabar punya menantu.
"Ya sabar dong Ma. Aku juga lagi pelan-pelan cari waktunya yang tepat. Yang penting Nania sembuh dulu, soalnya dia suka sakit kepala kalau coba ingat memori yang sekelibat ada di pikirannya." Radit suka tidak tega melihat kekasihnya itu kesakitan.
"Tapi Radit, kamu tetap sudah pernah melamar dia. Itu artinya Nania punya hubungan dengan kamu. Sebaiknya kamu beri tahu dia ya, jangan sampai nanti malah terjadi sesuatu di luar dugaan kamu. Karena Nania merasa tidak ada yang punya." Sandi bicara hal yang sewajarnya saja pada Radit. Mereka bicara di ruang keluarga sambil minum teh bersama.
"Iya Dit, Papa kamu benar. Jangan sampai Nania nanti malah di ambil sama yang lain. Memang kamu mau?" Mona ikut menimpali, entah kenapa Radit langsung teringat nama Devan yang belakangan ini suka menganggu Nania.
"Mama sama Papa kok malah jadi nakut-nakutin Radit sih, tenang saja Ma, Pa. Radit yakin kekuatan cinta kami pasti akan menuntun Nania agar tetap berada di sisi Radit." Dengan yakin pria tampan itu tersenyum.
"Hari gini masih bicara cinta saja Dit, Dit." Sandi terkekeh.
"Loh, memang benar kan Pa?" Sandi hanya merespon dengan mengangguk-anggguk saja. "Iya, cinta sih cinta. Tapi kalau kelamaan keburu basi Dit." Ujar Mona ikut meledek anaknya.
"Iih Mama apa sih," Kali ini Radit jadi kesal.
"Ya sudah, Mama mau bikin sambal rujak dulu. Kamu ngobrol dulu sama Papa ya, pulangnya masih nanti kan sayang?" Mona beranjak dari sofa. "Iya Ma." Jawab Radit.
Di perusahaan Diamond Glow Nania teringat perkataannya yang akan mengabari Devan hari ini. Ia pun segera meraih ponselnya untuk memberi tahu Devan. Kalau dia bisa untuk makan siang bersama.
Siangnya, Devan bertemu dengan Nania di sebuah restoran yang tak jauh dari kantor mereka. "Akhirnya kamu mau makan siang sama aku, makasih ya Nan." Ujar Devan sangat bahagia bisa makan siang bersama gadis yang ia sukai.
"Iya Dev, santai saja. Kebetulan tadi sebelum jam istirahat aku tidak terlalu sibuk. Jadi bisa makan siang di luar." Jawab Nania sambil meminum jus stroberi yang ia pesan.
"Iya Nan, nggak apa-apa. Aku ngerti kok kalau kamu sibuk." Devan menatap Nania sangat dalam, gadis itu merasa kalau Devan menyukainya.
__ADS_1
"Iya Dev, kamu apa tidak sibuk di kantor?" Tanya Nania balik. "Aku sibuk jika akhir bulan saja Nan. Ini kan masih tanggal muda, paling kerjaanku standar saja." Jawab Devan dengan ramah, ia justru menceritakan pekerjaannya.
"Nan, apa kamu sudah punya pacar?" Tanya Devan dengan hati-hati. Entah mengapa, Nania sempat berpikir sejenak.
"Nggak punya Dev, kenapa?" Jawab Nania santai.
Uhukk...Uhukkk...
Radit yang sedang makan rujak buah tersedak begitu saja. "Haduh Dit, makannya pelan-pelan dong sayang. Ini minum dulu!" Mona memberikan segelas air untuk anaknya.
"Nggak tahu Ma, tiba-tiba Radit tersedak." Balas Radit setelah menetralkannya dengan air. "Ya sudah, di lanjut pelan-pelan. Mama mau ke kamar dulu ya," Pamit Mona dengan senyum mengembang di wajahnya. "Iya Ma."
"Jadi serius kamu belum punya pacar Nan?" Tanya Devan sekali lagi untuk meyakinkan. Nania menjawabnya dengan mengangguk.
"Syukurlah," Puji Devan dengan lega.
"Nania, kalau kamu ada waktu. Malam minggu besok kita jalan mau nggak?" Ajak Devan dengan ragu-ragu. "Mau kemana Dev?" Nania belum tahu pasti dia bisa atau tidak.
"Ya, kita jalan saja. Ada yang mau aku sampaikan sama kamu nanti." Jelas Devan. "Ah, baiklah. Nanti aku akan kabari kamu lagi ya," Nania tidak bisa berjanji.
"Baiklah Nania.."
Reyhan datang ke ruangan kerja Dinan. Di mana ruangan itu berkesan mewah dan luas. Di lengkapi dengan kursi mahal berbahan kulit asli.
"Rey, kamu datang? Aku senang kamu bisa datang kesini." Ucap Dinan berdiri dari kursinya. Ia menyambut Reyhan yang datang sendiri ke ruangannya.
"Aku nggak mau lama-lama. Aku cuma mau kasih ini sama kamu. Mulai detik ini, kita sudah resmi bercerai." Ujar Reyhan dengan wajah datarnya.
"Apa?! Nggak, kamu pasti bohong kan,! Rey, aku nggak mau kita cerai. Kenapa kamu tega sama aku Rey,," Dinan meneteskan air matanya. Tapi Reyhan tidak sama sekali ingin melihat mantan istrinya itu menangis.
__ADS_1
"Dinan, ini adalah jalan terbaik untuk kita. Aku tetap membiarkan kamu bekerja di sini, selagi kamu masih profesional bekerja. Tapi kamu nggak bisa tinggal di rumah lagi." Tutur Reyhan dengan tegas.
Wanita itu masih terisak melihat surat perceraiannya. Ada rasa kesal dan ada rasa sedih juga. "Jahat kamu Rey, hiks.. Hiks.."
"Aku keluar dulu. Lebih baik kamu menebus semua kesalahan-kesalahan kamu sama orang yang telah kamu sakiti." Saran Reyhan sebagai pria yang masih punya hati.
"Aku nggak akan pernah nutupin semua kejahatan kamu, jika suatu hari nanti itu semua terjadi." Reyhan menegaskannya sekali lagi pada Dinan.
Lalu Reyhan keluar dari ruangan Dinan. Ia menekan tombol lift paling atas. Sampai di rooftop perusahaan Max Lan, Reyhan berjalan di ujung pembatas bangunan.
Ia menatap pemandangan dari atas sana, ada rasa sedih di relung hatinya. Selama ini dia telah salah mencintai wanita.
Reyhan melirik ke sebelah kanan. Di mana ada seorang gadis yang duduk di bawah payung besar, sebuah meja menjadi alasnya bersandar. Di rooftop, memang di sediakan tempat meja dan kursi untuk para Kolega yang ingin rileks sejenak.
Tapi sepertinya ini bukan gadis dari para petinggi di kantornya. Reyhan menghampiri gadis itu, ternyata Serra sedang tidur di sana.
Wajah damainya yang cantik mampu membuat Reyhan tersenyum. "Hei, bangun!" Ucap Reyhan dengan nada sedikit keras.
"Bangun Serra!!" Tegurnya dengan keras.
Sang empu terbangun dari tidurnya. Ia terkejut melihat Reyhan berdiri di sampingnya. "Astaga!" Kagetnya.
"Bagus ya, tidur di saat jam kerja." Pria itu melipat tangannya di dada. "Maaf Pak, saya nggak sengaja ketiduran setelah membersihkan tempat ini." Jawab Serra, terpaan angin yang cukup kencang membuat rambut Serra yang di kuncir itu melambai dengan indah.
Memberi kesan terhadap Reyhan yang sedang menegurnya. "Karena kamu sudah melanggar aturan, kamu tidak boleh turun sebelum jam kerja selesai hari ini!" Titah Rey menghukum Serra karena telah lalai dalam bekerja.
"T-tapi Pak saya__"
"Nggak ada tapi-tapian. Ini hukuman untuk kamu karena sudah melanggar aturan. Kamu paham?!" Serra mengangguk pasrah.
__ADS_1
Reyhan pergi dari rooftop itu, Serra termenung sendiri. "Tega sekali Pak Reyhan, mana aku belum makan siang." Serra merasa hari ini sangat apes.
"Kenapa juga aku pakai ketiduran di sini, tapi tempat ini bagus sekali. Sangat nyaman, dan indah." Ujar Serra menatap sekelilingnya. Rooftop yang di desain dengan sangat bagus dan menyegarkan.