
Radit duduk di kursi dekat ranjang Nania.
"Asalkan kamu cepat sembuh, aku tidak akan bilang pada Mama. Sekarang kamu minum obat nya dulu ya.." Pria itu mengambil obat untuk Nania malam ini.
"Baiklah Mas, aku akan cepat sembuh setelah minum obat ini." Nania menerima obat itu dan meminum nya.
"Bagus.." Radit senang karena kekasih nya sangat patuh.
"Mas, maaf ya.. Karena aku begini, jadi meninggalkan tugasku di kantor. Aku juga menunda desain yang aku buat untuk cover parfum baru nya." Ia merasa lalai dalam pekerjaan nya karena sakit.
"Ssstt.. Soal kerjaan di kantor, masih ada aku dan Riyan yang bisa menghandle semua nya. Untuk desain cover yang akan di buat seminggu ini, kalau kamu tidak bisa jangan di paksakan Nana. Aku akan tetap menunggu kamu sampai sembuh dulu, nanti kalau kamu sudah selesai mendesain cover nya. Aku akan tetap melihat nya."
Panjang lebar Radit bicara pada Nania yang begitu lembut dan pengertian. Malam ini gadis itu merasa bahagia sekali mendapatkan pria yang mencintai dan menerima nya dengan tulus.
"Terima kasih Mas untuk semua pengertian nya. Aku sampai tidak tahu bagaimana cara membalas semua kebaikanmu." Ia tersenyum manis di hadapan Radit.
"Cukup jadi pendamping hidupku selama nya Nana." Radit mengecup punggung tangan Nania.
Esok hari nya Radit berpamitan untuk pergi ke kantor, Ia bahkan menyuruh Delisha keluar dari butik tempat kerja nya demi bisa menjaga sahabat nya selama di rumah sakit.
Jangan tanyakan begitu egois nya Radit untuk orang yang di cintai nya. Ia rela melakukan apa saja untuk Nania. Delisha tidak khawatir saat Radit menyuruh nya untuk keluar dari butik.
Karena pria yang mempunyai kuasa itu akan memberikan nya pekerjaan di Perusahaan nya setelah Nania sudah sembuh dari sakit nya.
"Sayang, aku pergi ke kantor dulu. Nanti akan ada Delisha di sini yang menemanimu.." Singkat Radit mengecup kening Nania sebelum berangkat ke kantor.
"Mas, aku tidak apa-apa sendiri di sini. Kamu tenang saja."
"No, kamu akan bosan sendiri di sini. Delisha sebentar lagi datang, kamu jaga diri baik-baik ya.. Aku akan kembali setelah dari kantor. Panggil suster jika perlu sesuatu."
"Hmm, terima kasih Mas. Kamu hati-hati ya berangkat ke kantor nya." Nania mengulas senyum indah nya di pagi hari.
"Iya Nana, aku pergi dulu. Daahh.."
"Dah Mas.."
Radit keluar dari kamar inap mewah yang di pakai Nania. Ia memasuki lift dan pergi ke kantor nya. Hari ini akan ada meeting penting dan pertemuan dengan Detektif Gu. Ia juga akan menyelidiki kecelakaan Nania di tempat kejadian.
Karena sejujur nya pria yang kerap di panggil Radit itu masih penasaran, ia harus membuktikan nya sendiri dengan datang ke TKP.
"Naniaaa...."
"Delisha, kamu sudah datang."
__ADS_1
"Sudah Nan.. Bagaimana kondisi kamu?"
"Aku sudah merasa baikan, hanya kaki saja yang masih terasa sakit. Kepalaku sudah merasa enakan." Ia memegangi kepala nya yang masih di balut perban di bagian pelipis.
Delisha duduk di sofa dekat ranjang Nania. Raut wajah nya nampak ceria pagi ini. "Apa kamu perlu sesuatu Nan, biar aku ambilkan."
"Nggak Del, nanti saja. Aku sedang tidak ingin apa-apa. Oh ya, kamu tidak bekerja hari ini?" Nania penasaran kenapa sahabat nya malah datang untuk menemani nya.
"Apa Kak Radit belum bilang padamu Nan? Dia menyuruhku keluar dari butik untuk menjagamu di sini. Tapi nanti aku akan di masukan kerja ke kantormu."
"Apa?!! Kamu di suruh keluar dari butik? Mas Radit keterlaluan." Nania sedikit tersulut emosi.
"Nan, tenanglah dulu... Aku nggak masalah kok jika harus menjagamu di sini. Soal pekerjaan, biarlah aku nanti yang mengurus nya." Jawab Delisha menenangkan hati sahabat nya.
"Tapi Del, kamu sudah lama bekerja di butik itu. Apa kamu sudah ikhlas jika harus keluar dari butik itu?" Nania begitu intens menatap nya.
Delisha jadi mendadak kaku. "Hmm... Sebenar nya aku sudah bosan juga bekerja di butik yang harus pulang malam Nan. Tambah lagi pemilik butik itu baik sekali padaku. Nyonya Linka orang yang baik sekali, aku merasa tidak enak.. Tapi aku juga ingin merasakan bagaimana kerja di perusahaan yang besar Nan, jadi aku harus bagaimana menurutmu?" Ia bingung, takut salah ambil keputusan.
Nania begitu mengerti keadaan Delisha, sahabat nya ini memang ingin sekali bisa bekerja di kantor, tapi karena ia belum pernah di terima bekerja di perusahaan besar. Jadi Nania turut memaklumi keinginan Delisha.
"Delisha.. Aku tahu kamu sudah lama ingin bekerja di kantoran juga. Aku tidak akan memaksamu untuk tetap bekerja di butik itu, jika kamu merasa ini adalah kesempatan yang bagus untukmu, kenapa kamu tidak mencoba nya? Kamu bisa berkarya di kantor tempatku bekerja juga." Jawab Nania dengan nasihat tulus untuk nya.
Wajah Delisha menjadi berbinar, ia bahagia akan bekerja di kantor Diamond Glow. Perusahaan bonafit yang selalu di gilai semua orang untuk bisa bekerja di sana.
"Iya.. Semoga kamu bisa lebih terampil bekerja di kantor, karena kamu juga akan punya banyak teman di sana.."
"Iya Nan. Aku akan sangat berterima kasih juga pada Kak Radit." Mereka tersenyum bersama. "Nanti aku akan coba bicara lagi pada Nyonya Linka. Aku ingin keluar dari butik itu dengan baik-baik. Karena beliau telah banyak membantuku."
"Iya Delisha.. Sebaik nya memang harus seperti itu. Jika urusanmu di butik sudah selesai, akan jauh lebih tenang bekerja di tempat yang baru."
Berbeda dengan Radit yang sudah tiba di kantor nya. Ia berjalan memasuki ruangan nya dengan tubuh yang tegap dan wajah yang tampan juga berwibawa.
Ia duduk di kursi kebesaran nya, lalu menatap layar PC di meja untuk memeriksa kerjaan nya. Riyan datang untuk memastikan tugas Radit.
"Selamat pagi Tuan, saya datang untuk memberikan agenda Tuan hari ini, dan di depan ada seseorang yang ingin menemui anda, Tuan."
Riyan memberikan sebuah tablet di tangan nya pada Radit yang berisi laporan dan juga jadwal diri nya hari ini.
"Hmm, suruh dia masuk. Kamu boleh kembali bekerja." Jawab Radit dengan datar. Ia memang fokus dalam bekerja.
Tambah lagi pikiran nya sedang di penuhi berbagai macam hal, jadi senyum adalah hal sulit untuk saat ini.
"Baik Tuan, saya permisi dulu."
__ADS_1
Riyan keluar dan menyuruh orang yang ingin menemui Radit itu masuk ke dalam. Masuklah seorang pria seusia Radit ke dalam ruangan nya.
"Pagi Tuan Radit.." Sapa nya.
"Ah, ya pagi.. Silahkan duduk."
Radit berdiri dan menyambut kedatangan detektif Gu. Riyan sama sekali tidak tahu soal Gu yang datang ke kantor Radit. Pertemuan Radit dengan Gu memang tidak ada yang tahu tujuan nya. Sekalipun Riyan sebagai tangan kanan nya. Radit merasa ini tidak perlu di ketahui oleh Riyan.
Kedua nya duduk saling berhadapan di meja kerja Radit.
"Bagaimana, apa kamu sudah dapat apa yang aku minta?"
"Sudah Tuan, aku membawa ini untukmu."
Gu memberikan sebuah laporan penting yang Radit memang butuhkan, pria itu menerima nya dan membuka map nya. Ia membaca nya dengan teliti.
"Biar aku baca dulu."
"Silahkan Tuan.."
Mata nya sedikit terkejut kala membaca laporan dari Gu, ia begitu heran dengan data yang ia baca. "Apa semua ini benar?"
"Tentu benar Tuan, saya sudah menyelidiki nya dengan akurat." Jawab Detektif Gu.
Tak lama ada seorang petugas OB datang membawakan minuman untuk Gu dan juga Radit.
"Permisi Tuan, saya mau mengantarkan minuman ini." Ucap OB itu.
"Ya, taruh saja di sini." Jawab Radit.
Setelah selesai memberikan minum OB itu langsung keluar dari ruangan Radit. Mata elang Radit yang indah itu tak henti membaca setiap laporan yang di berikan oleh Gu.
"Ternyata dugaanku benar selama ini, kamu bekerja dengan bagus sekali. Aku akan mentransfer bayaranmu hari ini, dan akan memberikan bonus untukmu."
"Terima kasih Tuan, senang bisa bekerja dengan Anda." Gu tersenyum sambil menyesap kopi dari cangkir yang ia pegang.
"Ah ya, aku juga minta kamu tolong selidiki orang ini." Radit menunjukkan foto seorang wanita yang berada dalam berkas itu.
"Ada yang tidak beres dengan orang ini, tolong kamu selidiki terus orang ini." Pinta Radit dengan serius. Wajah nya terlihat sekali menahan amarah.
"Itu hal yang mudah Tuan, saya akan melakukan nya." Jawab Gu dengan hormat.
"Bagus" Radit menyebikkan bibir nya, ia menatap nanar dan lurus ke arah rak buku yang ada di ujung sudut ruangan depan Radit.
__ADS_1