Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Langit Yang Indah


__ADS_3

Langit berubah menjadi gelap, menunjukan keindahan nya dengan taburan bintang-bintang dan juga bulan yang menghiasi nya.


Nania bergegas ke rumah sakit menemui Ibu nya, ia pergi bersama Delisha menggunakan motor. Jangan tanyakan kemana pergi nya Radit, pria itu sudah kekeh sekali ingin mengantar nya, tapi Nania menolak dengan alasan waktu nya belum tepat.


Ia juga sudah menghubungi Dinan tapi, wanita yang mempunyai peran sebagai Kakak tidak merespon nya.


Nania masuk ke lorong rumah sakit bersama Delisha yang telah mengantarnya. "Nan, apa kamu menginap di sini nanti?" Delisha tidak melihat sahabat nya itu membawa baju.


"He em, aku akan menginap di sini malam ini."


"Tapi kenapa kamu tidak membawa baju?" Tanya gadis itu lagi. "Aku akan pulang dulu besok pagi sebelum berangkat kerja."


Akhir nya mereka sampai di depan pintu kamar Yanti di rawat inap.


Samar-samar Nania mendengar percakapan Ibu nya bersama seseorang. Nania mengintip di celah kaca pintu itu.


"Kak Dinan.." Gumam nya mengurungkan niat untuk masuk.


"Dinan, kamu kesini juga akhir nya Nak." Ucap Yanti merasa senang anak sulung nya baru saja datang.


"Ibu tuh kenapa sih, bisa segala masuk rumah sakit. Ngerepotin tahu nggak sih Bu!! Aku nggak bisa nemenin Ibu lama-lama di sini." Jawab nya dengan nada dingin agak ketus.


"I-iya nggak apa-apa Nak, Ibu mengerti kamu sudah berkeluarga."


"Kemana anak Ibu yang selalu patuh itu?"


"Nania bilang dia akan kesini malam ini, Ibu juga nggak tahu dia akan datang atau tidak." Yanti pasrah, ia juga tidak ingin merepotkan Nania terus.


"Ya sudah, aku akan pergi sekarang, aku nggak ingin Nania tahu kalau kita sudah saling ketemu. Yang ada nanti dia tahu rencana kita!"


Hati Nania merasa tercabik, ternyata Dinan sudah sering bertemu dengan Ibu nya. Tapi kenapa Ibu dan Dinan merahasiakan itu pada nya.


Tangan nya membuka kenop pintu dan masuk, Delisha mencegah nya.


"Nan, aku harap kamu bisa tenang. Aku akan ke kantin beli minum dulu. Aku akan kembali dengan cepat." Delisha merasa ini urusan keluarga, kehadiran nya tidak berhak mendengar percakapan di antara nya. Ia menguatkan sahabat nya dengan menggenggam tangan Nania sebelum masuk, dan pergi ke kantin.


"Iya Del, kamu tenang saja."


Nania masuk ke dalam. "Oh, jadi selama ini Kak Dinan sama Ibu memang sudah sering bertemu di belakang aku, tapi kalian bersikap seolah tidak pernah bertemu setelah sekian lama nya."


Dinan menatap nanar kehadiran Nania, Yanti juga merasa terkejut hingga ia tersentak tidak bisa berkata apapun.


"Jawab aku Bu!"


"Heh, anak kecil!! Kamu nggak usah ngurusin hubungan aku sama Ibu, kamu urusin saja kehidupan kamu sendiri!" Jawab Dinan dengan ketus.


"Kak, Dinan.. Kalau memang Kak Dinan sudah ketemu sama Ibu selama ini, kenapa Ibu berbohong sama aku? Apa ini semua Kak Dinan yang suruh?!"


"Dan rencana apa yang kalian maksud?!"


Nania merasa di asingkan dengan pertemuan mereka yang tidak di ketahui oleh nya. Hati nya merasa sakit di bohongi.


"Nania... Dengarkan Ibu dulu, Ibu bisa menjelaskan semua nya."


Gadis itu menggelengkan kepala nya, tanpa sepengetahuan mereka, suster Wati melihat pertengkaran ketiga nya di dalam kamar.

__ADS_1


"Jadi anak nya ada dua, yang mana anak itu ya?" Gumam nya melihat Nania dan Dinan memiliki perawakan yang hampir sama.


"Bu, aku nggak tahu apa yang Ibu rencanain sama Kak Dinan, yang jelas Nania kecewa sama Ibu." Protes nya menahan air mata.


"Kak Dinan, apa nggak cukup luka yang Kakak tinggali untuk keluarga?! Sekarang Kakak tetap bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dulu nya. Dan rencana apapun yang Kak Dinan sama Ibu ingin lakukan, aku nggak akan pernah takut dan goyah, aku bukan anak kecil seperti dulu lagi!" Jawab Nania dengan tegas sambil mengepalkan tangan nya.


"Dasar anak nggak tahu diri! Sudah berani kamu nantangin aku ya?!"


"Cukup!!" Teriak Yanti.


Dinan yang ingin melayangkan sebuah tamparan ke adik nya tidak jadi.


"Dinan jangan lakuin itu.." Mohon Yanti, dengan geram Dinan mengepalkan tangan sambil mengeraskan rahang nya.


Nania tidak sanggup berdebat dengan kedua nya, ia melangkahkan kaki keluar dari kamar rawat inap Yanti.


"Naniaaa..." Panggil Yanti.


Suster wati langsung pergi saat tahu Nania akan keluar.


Dengan cepat gadis itu berjalan keluar dari lorongn rumah sakit, Delisha bertemu Nania di jalan sambil menenteng sekantung minuman.


"Nania kamu mau kemana?" Tanya nya panik karena sahabat nya sudah menangis.


"Hiks... Kita pulang saja Del." Pinta nya lemah, dan Delisha mewujudkan keinginan sahabat nya, ia memeluk Nania sambil berjalan untuk keluar dari rumah sakit.


"Kamu yang sabar ya Nan.." Berkali-kali Delisha mengelus bahu Nania.


Delisha mengantarkan Nania sampai di apartemen, gadis itu menekan kode-pass untuk masuk ke dalam.


"Nan, kamu minum dulu yaa, sepanjang jalan kamu nangis terus dan nggak mau ngomong apa-apa sama aku. Cerita Nan,, Jangan kamu pendam sendiri, nggak baik."


Nania menerima sebotol mineral itu dan meminum nya sedikit, ia mengusap air mata nya dan menarik nafas.


"A-aku nggak tahu Del kedepan nya akan berbuat apa, aku kecewa sama Ibu dan Kak Dinan.. Hiks.."


Delisha mengusap bahu Nania lagi. "Sebenar nya ada apa, apa yang terjadi tadi Nan?"


"Selama ini Ibu sama Kak Dinan memang sudah saling ketemu di Jakarta, dan aku nggak tahu itu. Aku tahu nya Ibu belum pernah ketemu sama Kak Dinan lagi. Hiks,,,, dan mereka ngerencanain sesuatu buat aku." Nania menangis kembali, Delisha tak sanggup melihat sahabat nya menangis lagi.


Ia lalu memeluk Nania agar lebih tenang. "Aku tahu ini pasti berat banget buat kamu Nan, tapi kamu harus kuat.. Kamu yang sabar ya, aku akan selalu ada buat kamu Nan." Ucap Delisha.


Hati nya merasa lega karena Delisha selalu ada untuk nya, ia beruntung memiliki sahabat yang selalu ada pada nya.


Radit yang berada di dalam kamar mendengar Kode-pass pintu nya ada yang menekan, ia yang tadi sedang cuci muka di kamar mandi pun bergegas keluar.


"Nania... Kamu sudah pulang?"


Pria itu menghampiri kedua nya di sofa, Delisha memperhatikan pria tampan di depan nya mengkhawatirkan Nania.


"Loh, kamu nangis?"


Tangan Radit buru-buru menghapus air mata nya. "Ehemm... Nan, kayak nya aku harus pulang, aku yakin setelah aku pulang ada yang bisa membuat hati kamu lebih lega lagi." Ucap Delisha karena ia ingin memberi Radit ruang untuk bicara pada Nania.


"Tuan, saya pamit pulang dulu."

__ADS_1


"Delisha.."


Kedua nya memanggil nama Delisha berbarengan, hingga gadis itu menengok.


"Ya?"


"Terima kasih." Ucap Nania.


"Terima kasih karena sudah mengantarkan Nania." Ucap Radit juga, sukses membuat Nania sedikit terpana lagi dengan ucapan terima kasih nya, dan Delisha menaikan satu alis nya.


"I-iya Tuan sama-sama, saya pulang dulu."


"Hm, hati-hati di jalan." Jawab Radit.


"Kalian kompak sekali, aku jadi semakin yakin kalau hubungan kalian bukan hanya atasan dan bawahan. Baru saja aku ingin menanyakan hal ini pada Nania, tapi sudah ada masalah lagi yang terjadi pada nya, huft." Gumam Delisha sambil keluar dari apartemen Radit.


Nania memang belum sempat menceritakan hal ini pada Delisha karena waktu nya terlalu sibuk, dan belum bisa bertemu Delisha lagi semenjak kejadian makan malam bersama.


Radit duduk di samping Nania, ia memeluk gadis itu dengan mengusap punggung nya.


"Ceritakan jika kamu ingin mengatakan nya, jangan katakan jika memang kamu belum ingin menceritakan nya. Tapi, aku selalu siap mendengarkan nya kapan pun itu." Ucapan Radit malah sukses membuat Nania menangis lagi.


Pria itu mengusap pucuk rambut Nania agar wanita nya merasa tenang.


"Menangislah... Jangan di tahan." Ujar Radit.


Nania melepas pelukan nya, ia menghapus air mata yang membasahi pipi nya. Radit tidak pernah mengalihkan tatapan nya, ia terus menatap Nania.


"Sudah merasa lebih baik?" Tanya Radit, dan Nania mengangguk.


"Ikut aku yuk."


Tangan Radit menuntun gadis itu hingga menuju balkon yang ada di kamar nya, Nania menurut saja karena hati nya masih di belenggu kesedihan.


Tatanan lampu kota di malam hari terlihat jelas dari atas gedung apartemen Radit. Hembusan angin dan juga suara bising kendaraan sedikit terdengar.


"Kamu kenapa pulang, apa kamu nggak jadi temani Ibumu di rumah sakit?" Tanya Radit sangat hati-hati.


"Radit, suatu saat aku pasti akan cerita sama kamu. Tapi maaf, sekarang ini aku belum mampu untuk cerita sama kamu." Jawab Nania lemah.


Pria itu memeluk Nania lagi dari belakang, ia menempelkan dagu nya di ceruk leher Nania. Wangi aroma melati menyeruak di hidung pria tampan itu.


"Aku mengerti, aku tidak akan memaksamu lagi."


"Terima kasih." Nania tersenyum sambil memandangi gedung-gedung yang berjejer di depan nya.


"Radit.. Aku bukan dari keluarga yang punya segala nya seperti kamu, aku bahkan mempunyai keluarga yang hubungan nya sedikit rumit. Aku tidak yakin kamu bisa menerimaku, dan keluargamu adalah orang yang terpandang. Aku nggak mungkin bisa bersanding dengan anak nya yang bernama Radit.."


"Ssttt... Aku tahu kamu orang yang seperti apa, keluargaku bukan orang yang seperti itu. Jika hubunganmu dengan keluargamu sedang rumit, aku yakin suatu saat kamu bisa menyelesaikan nya. Aku akan selalu ada di sampingmu, tugasmu hanya berjalan di sampingku dan menggenggam selalu tanganku." Jawab nya dengan yakin.


Langit yang indah menjadi saksi antara perbincangan kedua nya. Radit mengecup singkat pipi Nania, ia membalikan tubuh gadis itu agar menghadap nya. Di pegang nya kedua pipi Nania.


"Aku nggak ingin ada yang di tutupi, aku ingin kita saling terbuka dan saling memahami. Aku mengharapkan itu."


Nyesss... Rasa nya Nania merasa bersalah di hadapan Radit, ia masih belum bisa menceritakan asal-usul keluarga nya. Bahkan ia belum bilang jika Dinan adalah Kakak nya.

__ADS_1


Nania mengangguk, ia kemudian memeluk Radit, menempelkan kepala nya di dada bidang pria tampan itu.


__ADS_2