
Yanti diam-diam pergi ke kota Jakarta untuk melarikan diri dari kejaran anak buah Damar. Ia tiba di sebuah kontrakan sederhana yang baru di bayar oleh nya.
"Damar tidak mungkin mencariku sampai kesini. Aku akan membalas perbuatan anak kurang ngajar itu."
Ia berencana mendekati Nania kembali, karena Yanti tahu jika Nania mempunyai atasan yang sangat kaya raya. Ia akan kembali memanfaatkan Nania.
"Halo, Dinan... Ibu sudah sampai di Jakarta." Ucapnya dalam sambungan telepon.
"Ya, baiklah. Ibu akan mencobanya."
Tut... Panggilan itu pun berakhir.
Nania masih duduk menatap air di danau. Ia tidak mempedulikan sosok pria yang tengah mengganggu nya.
"Maaf Tuan, seperti nya saya harus pergi." Ia beranjak dari kursi panjang itu.
"Tunggu!!" Devano mencegahnya dengan memegang pergelangan tangan Nania. "Maaf." Nania melepaskannya.
"Okay, maaf. Aku tidak sengaja mengganggumu. Biar aku saja yang pergi." Ucapnya dengan tangan menyerah ke atas.
"Tidak perlu, saya memang mau pergi, permisi."
Gadis itu pun meninggalkan Devano di tempat. Pria itu tersenyum, ia menatap Nania hingga pandangannya lama-lama menghilang.
"Sangat menarik.." Ujar Devano penasaran dengan Nania.
Tiba di apartemen Radit, gadis yang baru saja dari danau membuka pintu dengan menekan kode akses, untuk masuk ke dalam.
"Eh, Tuan.."
Saat masuk ia terkejut melihat Radit sedang meminum wine di sofa. "Kamu baru pulang?"
"Ah, iya Tuan. Saya tidak tahu jika Tuan pulang kesini." Gadis itu duduk di sofa seberang tempat Radit duduk.
"Mau minum?" Tawarnya.
"Tidak Tuan, terima kasih. Rasa nya sangat aneh." Balas Nania menggelengkan kepalanya. "Cih, kamu bilang aneh. Tapi kamu menenggaknya hingga habis waktu itu."
Radit berdecih mengingat kejadian Nania pada waktu itu. "Itu semua karena Tuan menyuruh saya untuk minum, jadi saya meminumnya dengan terpaksa."
"Ha ha ha. Lucu sekali, terpaksa tapi kamu habiskan hingga dua gelas." Pria itu meletakan gelas berkaki tinggi di meja.
"Sudah Tuan, jangan di bahas. Saya malu mengingat kejadian itu." Wajah Nania merasa salah tingkah. Ia memang malu jika mengingat kejadian itu.
Radit beranjak dari sofa dan mendekat ke arah gadis itu, "Hm.. Tuan mau apa?"
__ADS_1
Nania beringsut mundur, hingga terpojok di sandaran sofa. "Tapi kamu tidak malu membuka bajumu di dalam kamar saat ada aku.." Radit menggoda Nania, ia mengikis jarak di antara Nania dan dirinya.
Bibir merah jambu milik Nania sangat menggoda imannya, tambah lagi Radit habis meminum wine karena merasa penat sehabis bekerja.
"I-itu.. Saya tidak sadarkan diri, Tu-tuan.." Nania gelagapan karena deru nafas Radit sudah bisa ia rasakan.
Pria itu mengungkung diri nya, ia terjebak tidak bisa bangkit untuk kabur. "Benarkah?" Tanya Radit sambil tak lepas menatap bibir pink itu.
Nania mengangguk dan, detik itu juga Radit membungkam mulut Nania dengan bibirnya. Ia memagut lembut bibirnya, bagaikan candu untuk Radit.
Gadis itu memejamkan matanya erat, ia merasa jantungnya seolah ingin meledak, juga dalam tubuh Radit seolah menjadi panas terbakar. Ia hanyut dalam pagutannya.
Tangannya memegangi tengkuk Nania, ia menekan hingga ciuman itu semakin dalam.
"Mmpphht"
Sepertinya oksigen yang Nania dapatkan hampir habis, tapi pria itu masih menikmati permainannya. Gadis itu mencengkeram lengan Radit, ia meminta untuk berhenti.
"Hah... Hhhh.." Radit melepaskan ciumannya. Nania langsung menghirup udara yang sempat kehabisan ia hirup.
Radit masih menatap Nania dengan mata yang sudah tidak bisa di artikan lagi, ia kembali memagut bibir Nania. Seolah tidak memberi jeda untuk Nania berbicara sesuatu.
Sontak saja membuat Nania kembali tersentak, tapi tubuhnya seolah tidak bisa meronta. Radit seperti menghipnotis dirinya.
Suara bel apartemen menghentikan keduanya yang sedang terbakar gairah.
"Huhhh...Hah...Hhh" Nania merasakan bebas dari jeratan Radit.
Pria tampan yang mengungkung nya masih belum beranjak, ia menempelkan ibu jari nya di bibir Nania. Mengelap lembut bibir yang warnanya sudah menjadi lebih merah.
"Lumayan, sangat manis.." Bisik Radit dan, ia beranjak dari atas tubuh Nania.
Radit membukakan pintu apartemennya. Riyan datang membawa berkas di tangannya.
"Maaf Tuan, ini berkas yang anda minta tadi untuk, di antarkan kesini."
"Hm, terima kasih. Kau boleh pergi."
"Baik Tuan, saya permisi."
Setelah kepergian Riyan, pria itu kembali ke ruang tengah. Dimana Nania juga masih duduk menatapnya yang berjalan ke arahnya. Gadis itu lalu mengalihkan pandangannya. Ia merasa salah tingkah atas kejadian barusan.
"Aku lupa kalau tadi menyuruh Riyan untuk membawa dokumen ini kesini."
Radit menempelkan bokongnya di samping Nania. "Sa-saya mau ke kamar dulu, Tuan." Ucapnya.
__ADS_1
Hendak bangkit dari sofa, tangan Radit sudah mencegahnya. Nania kembali gugup, ia berkali-kali menggaruk tengkuknya dan menatap ke sembarang arah.
"Aku sedang disini, tapi kamu ingin pergi. Apa itu Sekertaris yang baik?"
"Bukan begitu Tuan, tapi.."
"Baca ini!" Radit memberikan map yang baru saja ia bawa dari Riyan.
Tanpa berkata apapun lagi, Nania langsung membuka map itu dan membacanya. Terlihat sebuah kontrak resmi dari Radit untuknya sebagai Sekertaris.
"Tuan, I-ini kan..."
"Hm, cepat tanda tangani. Mulai besok kamu sudah resmi menjadi Sekertarisku di kantor, bukan masa percobaan lagi." Ujarnya sambil bersandar di sofa.
"Ini nyata kan Tuan?"
"Menurutmu?"
"Baiklah, saya akan tanda tangan, terima kasih Tuan." Nania langsung menanda tangani kontrak resmi itu.
Radit menilai pekerjaan Nania selama sebulan ini memang bagus, seperti nya ia tidak akan salah pilih menjadikan Nania sebagai Sekertarisnya. Selain ia cantik, Nania juga multi talenta. Itu sangat di butuhkan oleh Radit.
"Jangan senang dulu. Hutangmu padaku masih belum lunas. Pikirkan lah caramu untuk melunasi hutangmu padaku bulan besok."
Nania mendadak terdiam di tempatnya. "Tapi Tuan, mana mungkin saya bisa membayar itu semua hanya dalam tempo satu bulan." Jawabnya melemah.
"Aku hanya bilang, pikirkan caramu untuk membayarnya. Jadi sebaiknya kamu memang harus pikirkan selama sebulan ini. Dengan cara apa kamu membayar itu semua." Pria itu menyeringai menatap Nania.
Bulu halus di kulit Nania mendadak merinding. "Baik Tuan."
"Siapkan air hangat untukku, aku mau mandi." Titah Radit padanya.
"Ya?" Nania melongo.
"Kamu tidak mendengar Nania?" Radit mendekat ke Nania, lalu ia berbisik di telinganya. "Apa perlu kita melanjutkan lagi hal yang sempat tertunda tadi, hm?" Ucap Radit membuat bulu kuduk Nania meremang.
'Dasar mesum!! Bisa-bisa nya dia ingin melakukan hal itu lagi padaku. Aku tidak akan mau.'
"I-iya Tuan." Nania langsung kabur dari sofa menuju kamar Radit.
Pria itu terkekeh melihat Nania berlari, ia seperti menemukan hal yang akan selalu menjadi canda nya.
Nania baru pertama kali masuk ke dalam kamar Radit. Ia takjub dengan kemewahan, kebersihan, dan juga tata letak semua barang yang ada di dalam kamar Radit.
"Besar sekali kamarnya.. Semua ada disini, ini kamar atau rumah?" Gumamnya mencari kamar mandi, dan mengisi air di bath tub.
__ADS_1