Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Ruang Laboratorium


__ADS_3

Nania ikut memejamkan mata nya, tapi ia menahan nafas nya. Bukan karena di sengaja, tapi ia seakan tidak bisa bernafas.


"Emmbhh..."


Cukup lama Radit menikmati nya, ia terus memagut tanpa henti. Bahkan sekarang lidah nya sudah menerobos masuk menyapu dinding-dingding lembut. Membelit lawan nya hingga Nania gelagapan. Radit sadar jika Nania tidak bisa bernafas bebas. Ia melepaskan pagutan nya.


Nafas kedua nya tersenggal-senggal. Pria itu masih menatap wajah cantik Sekertaris nya. Seperti biasa ibu jari Radit mengusap lembut bekas permainan nya di bibir gadis itu.


"Malam ini kamu mencicil nya lagi."


Senyum Radit mengembang menatap Nania yang masih terpaku. Pria itu meminta hak nya lagi yang ia anggap ciuman adalah cara Nania mencicil hutang nya.


"T-tuan.." Lirih Nania masih gugup.


"Hm.." Jawab nya lembut.


"T-tuan sudah melakukan nya lagi sebanyak tujuh kali." Ujar nya dengan ragu.


"Benarkah, kalau gitu malam ini aku ingin kamu membayar nya sekali lagi." Dengan sigap Radit menggenggam tangan Nania.


Ia sudah meraih tengkuk Nania, lalu hidung nya sudah saling bersentuhan dengan hidung bangir milik Nania. Tapi bunyi bel menggagalkan niat Radit untuk kembali mencium nya.


"Sh**it!!" Teriak Radit dalam hati nya.


Ia menjauh dari tubuh gadis itu, "Itu pasti delivery order." Bilang nya pada Nania.


Sekertaris itu jadi salah tingkah, ia menengok ke kanan dan ke kiri. "Biar saya saja yang mengambil nya Tuan."


"Iya."


Lalu gadis itu bangkit dari sofa untuk membukakan pintu. Sedangkan Radit masih merasa jengkel. Ia meninju udara kosong di depan nya. Lalu mengusap wajah nya kasar.


"Tuan, ini makanan nya sudah datang."


Nania memperlihatkan dua paperbag cokelat di tangan kanan dan kiri nya. "Baiklah kita makan." Jawab nya.


Dengan malas Radit menyusul Nania ke ruang makan yang sedang menata makan malam nya. Mereka akhir nya makan malam bersama.


Di sela makan malam, Nania memperhatikan pria di hadapan nya yang sedang menyuap nasi ke mulut nya.


"Tuan sudah tidak marah lagi kan."


"Tidak, asal kamu tidak membuat kesalahan lagi!" Jawab nya.


Gadis itu tersenyum senang. Entah kenapa jika pria di depan nya ini sedang marah. Hati nya jadi ikut tidak karuan.


'Apa aku menyukai nya ya? Kenapa hatiku rasa nya aneh seperti ini. Tidak.. Tidak.. Aku tidak boleh menyukai nya. Dia sama aku bagaikan langit dan bumi ' Batin Nania.

__ADS_1


Ia menggelengkan kepala nya, menyadarkan diri nya dari pikiran khayalan nya.


"Ada apa?"


Radit melihat ekspresi Nania yang sedari tadi makan sambil memikirkan sesuatu.


"Ti-tidak.. Makanan nya enak Tuan." Kilah gadis itu lalu pura-pura meminum air.


Keesokan hari nya Riyan menjemput kembali Tuan nya di apartemen untuk pergi bekerja. Ia sudah siap di dekat pintu.


Di waktu yang sama Nania dan Radit keluar dari kamar nya. Ia berjalan bersama tanpa bicara.


"Tuan anda sudah siap?" Tanya Riyan


"Sudah, ayo berangkat."


"Baik Tuan. Nania kami berangkat dulu yaa.." Riyan berbisik pelan ke Nania tapi masih terdengar di telinga Radit.


"Nania, kamu juga ikut!" Titah Radit lalu keluar dari apartemen milik nya.


Membuat Riyan mengernyitkan kening nya. "Apa Tuan Radit sudah baikan denganmu, Nan?" Tanya nya sambil berjalan keluar mengikuti Radit di belakang nya.


"Memang nya ada apa? Aku baik-baik saja dengan Tuan Radit. Ayo kita berangkat sekarang, nanti jalanan keburu macet." Balas Nania berusaha menampilkan aura yang biasa saja.


Pria bernama Riyan itu semakin bingung di buat mereka berdua. "Dasar aneh kalian!" Gumam nya pelan.


Hari ini Perusahaan Diamond Glow Cosmetics resmi memulai pembuatan produk terbaru nya. Radit akan sangat sibuk meneliti pembuatan produk di ruang laboratorium dan gedung belakang tempat produksi.


Semua nya berjalan sesuai dengan rencana Radit. "Bagaimana untuk hasil nya? Hari ini sudah bisa kan, aku tunggu laporan nya." Ujar Radit pada seorang karyawati dalam ruang penelitian itu.


"Nania, habis ini kita beralih ke bagian produksi." Ajak nya.


"Baik Tuan."


Tidak sampai terlalu berlama-lama di dalam ruang laboratorium, Nania dan Radit pindah memasuki area gedung produksi yang semua bernuansa putih, terlihat sekali gedung produksi milik Diamond Glow sangat mengutamakan kebersihan.


"Sudah di mulai dari jam berapa?" Tanya Radit pada kepala Manager di bagian produksi.


"Sudah mulai dari jam delapan pagi tadi, Tuan." Jawab kepala Manager itu.


"Bagus, tolong perhatikan semua kesiapan nya ya, jangan sampai ada yang terlewat atau kehabisan." Titah nya.


"Baik Tuan."


Lalu Radit kembali berkeliling lagi, Nania terus mengekor di belakang nya membawa iPad kecil yang selalu ia gunakan untuk mencatat.


"Berikan aku satu botol." Pinta Radit pada seorang karyawan produksi yang merupakan bagian finishing dari produk terbaru nya.

__ADS_1


"Baik, ini Tuan." Karyawan itu memberikan sebotol essence pada Radit, dan pria itu menerima nya.


"Nania, tolong simpan ini." Pria itu memberikan benda botol kaca pada Sekertaris nya. "Baik Tuan."


"Ayo kita keluar, sudah cukup." Ujar Radit pada Nania.


Pria tampan itu telah menyelesaikan pengecekan secara langsung untuk produk terbaru nya. Ia memang tidak pernah diam di tempat, dia akan selalu ikut terjun memantau untuk mengetahui semua proses-proses nya.


Di dalam ruangan kerja Radit, Nania sedang membantu mencari file di rak buku besar dalam sudut ruangan.


"Ah, ketemu.."


Gadis itu gembira akhir nya ia menemukan file yang ia cari dari puluhan deretan binder yang tersusun rapi di rak besar itu.


"Tuan, ini file yang anda cari."


Ia menyerahkan file itu pada Tuan nya. "Apa jadwalku selanjut nya." Tanya pria itu sambil membenarkan kerah kemeja nya yang terasa melelahkan.


"Anda ada jamuan makan siang bisnis di restoran chinese bersama S.N Corp, Tuan." Jawab Nania dengan cepat dan jelas.


"Riyan sudah tahu kan?"


"Sudah Tuan."


"Baiklah, kamu akan ikut denganku nanti siang. Bilang pada Riyan untuk menhandle sisa tugasku di sini sampai jam kerja selesai." Titah nya panjang lebar.


"Sa-saya yang ikut dengan Tuan? Bukan nya Tuan yang akan pergi bersama dengan Riyan?" Tanya Nania bingung. Karena memang yang ia tahu, jamuan makan siang itu untuk Tuan nya dan Riyan.


Radit menghela nafas nya sejenak, ia memijit celah kosong di tengah alis nya. "Nania, kamu mau memimpin meeting dengan para Divisi hari ini?" Ucap nya lembut namun terasa lelah.


"Tapi saya belum pernah memimpin meeting Tuan, karena saya masih baru." Jawab Nania dengan ragu-ragu.


"Ya sudah, biarkan Riyan yang mengambil alih itu semua. Kamu bisa ikut denganku di jamuan makan siang bisnis."


"Baik Tuan. Kalau gitu saya akan menyiapkan berkas nya dulu."


Nania pamit ingin keluar dari ruangan itu, tapi suara Radit menghentikan langkah nya.


"Lain kali, kamu akan memimpin meeting dengan para Divisi di Perusahaan ini." Ujar nya sekedar memberi tahu.


Gadis jtu membulatkan mata nya, ia rasa nya belum siap jika harus memimpin dalam setiap meeting. Tapi apa boleh buat, itu sudah tugas nya. Toh, masih ada waktu tidak harus sekarang.


"Baik Tuan."


Kemudian Nania benar-benar keluar dari ruangan Radit. Ia menyiapkan berkas di tempat kerja nya untuk siang nanti.


Nania tidak mau sampai mengecewakan kinerja nya dalam setiap kesempatan yang Radit berikan untuk nya.

__ADS_1


"Nania ayo semangat.. Kamu pasti bisa!"


Helaan demi helaan yang Nania ciptakan, sekedar untuk menyemangati diri nya yang sebenar nya sangat lelah.


__ADS_2