Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Disita Selama Satu Minggu


__ADS_3

Kecepatan mobil yang di kendarai Nania tidak bisa cepat, lalu lintas semakin ramai. Ia sudah kehabisan banyak waktu yang terbuang. Kini jarum pendek sudah mendekati angka 12, dan jarum panjang berada di angka 6.


"Haduh, bagaimana ini.."


Nania tak berhenti bicara sendiri karena merasa panik.


"Bisa-bisa nya dia menyuruhku untuk pergi jauh seperti ini hanya untuk membeli sebuah makanan dengan waktu yang singkat."


"Dia memang gila!" Kesal Nania pada Bos nya.


Tak lama ponsel yang masih menempel di dashboard mobil berbunyi, panggilan masuk dari Radit membuat Nania menepikan mobil nya dan mengangkat panggilan itu.


"Halo Tuan.."


"Kembalilah, waktumu habis. Aku sudah tidak ingin makan mi itu lagi!"


"Ta-tapi Tuan saya sebentar lagi sudah sampai."


Tut.. Panggilan di matikan secara sepihak oleh Radit membuat gadis itu semakin geram.


"Hah, dasar gila, mesum! Dia mengerjaiku lagi, sama saja aku seperti jalan-jalan tidak jelas ke daerah ini. Huft... Sabar Nania.. Sabar.."


Nania mengelus-ngelus dada nya yang sudah naik turun karena amarah yang tertahan. Akhir nya mau tidak mau ia kembali ke kantor nya lagi.


Berbeda dengan pria berjas hitam yang sedang mengendarai motor matic milik Delisha untuk bisa sampai ke rumah Radit mengantarkan pesanan Mona.


"Wuh, akhir nya sampai juga ke rumah Nyonya. Kalau tidak ada motor ini, aku tidak mungkin bisa sampai ke rumah besar ini dan balik lagi ke kantor."


Riyan terkekeh sendiri sambil melepas helmet nya dan masuk ke dalam rumah Radit.


"Permisi Nyonya, saya ingin mengantarkan ini untuk Anda."


Mona yang sedang berada di ruang tengah menerima paket paperbag mewah dari tangan Riyan.


"Loh, kok kamu yang antar, Riyan? Radit nya mana?"


"Tuan sedang sibuk hari ini Nyonya. Jadi saya yang mengantarkan ini untuk Anda."


Ibu dari Radit mengangguk-ngangguk paham. Ia mengerti jika anak nya sedang sibuk di kantor. Padahal saking tidak ada kerjaan nya. Pria bernama Radit itu sedang menghukum kedua karyawan nya.


"Iya Nyonya, kalau begitu saya pamit mau kembali lagi ke kantor."


"Iya Riyan, terima kasih ya."


"Sama-sama Nyonya, permisi."


Riyan keluar dari rumah besar bak istana itu, ia kembali memasang helmet dan menarik gas motor matic yang ada di teras rumah Radit.


"Ternyata seru juga naik motor."


Ia merasa hati nya kembali ceria, tidak murung seperti awal berangkat tadi. Setiba nya di Perusahaan Diamond Glow, Riyan memarkirkan motor di area parkir khusus motor. Ia celingak-celinguk melihat di sekitar nya.


"Tuan nggak akan tahu, kalau saya kesini naik motor."


Sambil merapihkan penampilan nya, ia pun masuk ke dalam kantor untuk kembali bekerja. Saat pintu lift di lantai ruangan Riyan bekerja terbuka, ia langsung mendapati wajah tampan berahang tegas yang tidak lain adalah Radit. Sudah berdiri di hadapan nya.


"T-tuan.."


"Sudah sampai ya.."

__ADS_1


Radit tersenyum seolah tidak merasa tahu jika Riyan menyelesaikan hukuman nya memakai motor milik Delisha.


"I-iya Tuan, saya sudah menjalankan sesuai perintah Anda."


Riyan berdehem menetralkan kondisi nya agar tidak gugup. "Bagus. Kembali bekerja!" Titah nya pada Asisten itu.


"Baik Tuan. Permisi.."


Ketika Riyan hendak melangkah, tangan Radit sudah menyekal lengan Riyan. "Tunggu!"


"Eh, a-ada apa Tuan?"


"Kemarikan kunci motor itu!"


Pria yang mempunyai kedudukan besar di Perusahaan itu memasukan satu tangan nya ke dalam saku celana, dan satu nya lagi melebarkan telapak tangan nya pada Riyan.


"Kunci motor apa ya, Tuan?" Ia masih berusaha pura-pura untuk tidak mengerti. Padahal dalam hati Riyan, ia sudah apes karena Radit telah tahu.


"Cepat berikan, atau hukuman mu belum selesai!"


Mau tidak mau Riyan mengeluarkan kunci motor dari saku jas nya dan memberikan benda itu pada Radit.


"I-ini Tuan"


"Aku akan sita motor ini selama satu minggu! Tidak ada protes ataupun memohon!"


Dengan lenggang nya Radit berjalan meninggalkan Riyan di tempat dan masuk ke dalam ruangan nya lagi. Radit tidak tahu jika motor itu milik Delisha, ia hanya mengetahui jika Riyan pulang dengan menggunakan motor dari satpam yang berjaga di pintu gerbang Perusahaan nya.


"Haiissh... Seharus nya aku menitip motor Delisha di mini market depan. Kenapa aku bisa lupa kalau Tuan Radit itu bisa tahu segala hal."


Riyan mengusap wajah nya kasar, kali ini ia benar-benar frustasi. "Bagaimana nasib Delisha yang motor nya di tahan selama satu minggu, ck!"


Ponsel di saku jas Riyan bergetar, ia membuka ponsel itu setelah mengambil nya. Terlihat nomor belum ada nama nya mengirimi dia pesan.


Pria itu semakin menghela nafas nya berat, ia menjadi tidak enak dengan kebaikan Delisha. Riyan pun kembali bekerja di ruangan nya.


Nania baru tiba di kantor pukul satu siang. Ia turun dari mobil dengan wajah yang murung.


"Sekarang sudah jam satu, aku jadi tidak sempat makan siang, huft."


Ia mengetuk ruangan Radit dan masuk ke dalam. "Tuan, kenapa anda meminta saya untuk kembali sebelum mendapatkan makanan itu." Protes nya.


Kursi besar itu kemudian berbalik, menampilkan pria yang selalu mempunyai aura tampan dan daya tarik bagi setiap kaum hawa.


"Aku sudah tidak berselera."


Itulah jawaban ringan dari bibir Radit membuat tangan Nania mengepal, dan menghela nafas nya.


"Kalau begitu ini kunci mobil Anda, Tuan. Saya kembali bekerja lagi, permisi."


"Wait!!"


Nania memutar badan nya dan berusaha menampilkan senyum indah nya, "Ada yang bisa saya bantu lagi Tuan?"


"Ambil itu disana! Itu untukmu."


Radit menunjuk ke sebuah kotak yang ada di meja pasangan sofa dalam ruangan itu dengan pulpen di tangan nya.


Tanpa bertanya gadis itu langsung mengambil nya. Ia melihat sebuah nama restoran di atas kotak persegi itu.

__ADS_1


"Ini apa Tuan?"


"Itu makanan untukmu. Makanlah sebelum kembali bekerja!"


Radit mengatakan itu tanpa melirik ke arah Nania, ia berpura-pura fokus pada layar PC nya.


"Hm, terima kasih Tuan."


Nania kembali ke meja kerja nya, ia tersenyum melihat kotak berisi makanan di atas meja nya.


"Aku kira dia se-tega itu denganku. Tapi dia masih memberiku makan." Ucap nya tersenyum. Tanpa menunggu lama ia pun menyantap makanan dari sebuah restoran jepang yang rasa nya sangat lezat.


Setelah jam kerja selesai, Nania pamit pada Radit untuk pulang sendiri karena ada urusan yang harus ia selesaikan.


Pria tampan itu sedikit mengerutkan kening nya kala Nania meminta izin tidak bisa pulang bersama. Ada rasa penasaran tapi Radit tidak mau terlalu jauh mengikuti rasa penasaran itu.


Ia masih belum mengerti dengan perasaan aneh di hati nya yang terkadang muncul menggebu. Nania sudah berada di dalam taksi untuk bisa sampai di taman, tempat ia berjanjian dengan Ibu nya.


"Sudah sampai, Mbak."


"Ah, baik Pak. Ini ongkos nya, terima kasih."


"Sama-sama Mbak."


Ucapan supir taksi membuyarkan lamunan Nania. Ia pun segera turun setelah memberikan ongkos taksi nya.


Nania memasuki area taman yang indah, manik mata nya menjuru ke seluruh area taman. "Hah, indah sekali taman nya. Aku jadi merasa lebih segar." Ucap nya sambil terus berjalan.


Nania duduk di sebuah bangku taman sambil menunggu Yanti datang. Tak lama dari arah kiri Yanti datang menghampiri anak nya.


"Nania.. Kamu sudah sampai." Sapa nya yang masih pura-pura baik.


"Ibu.. Iya aku baru saja sampai."


Yanti ikut duduk di sebelah Nania, lalu menaruh tas nya di atas pangkuan. "Sebenar nya ada apa Ibu ingin bertemu?"


"Em.. Ibu hanya ingin bertemu saja padamu Nak." Yanti sedikit gugup, karena tidak biasa nya ia bersikap lembut pada Nania.


"Nania.. Bantu Ibu untuk melunasi hutang Ibu pada juragan Damar. Anak buah nya terus mencari Ibu sampai sini. Ibu takut Nania..." Yanti menampilkan ekspresi sedih nya.


"Bu, tapi kan Ibu tahu sendiri. Nania tidak punya uang sebanyak itu."


"Nania, kamu kan bekerja di sebuah Perusahaan besar. Kamu pinjam saja pada bos mu itu." Usul Yanti.


"Nggak bisa, Bu. Tuan Radit sudah banyak membantu Nania. Aku nggak bisa Bu."


Nania tidak ingin membebankan Radit lagi untuk ikut menyelesaikan permasalahan yang ada di hidup nya.


"Ibu, apa Ibu tahu kalau Kak Dinan ada di sini."


Tiba-tiba Yanti mendadak diam dan mematung di tempat. "M-maksud kamu apa Nania?" Ia masih berusaha tidak mengerti apa yang di katakan Nania.


"Aku bertemu Kak Dinan, Bu. Ibu harus bertemu juga pada nya."


Dengan cepat Yanti menggelengkan kepala nya. "Ibu tidak mau bertemu dengan nya lagi, dia sudah pergi meninggalkan Ibu. Ibu tidak sudi untuk bertemu pada nya." Yanti menunjukan ketidak suka nya pada Dinan. Tentu saja itu sebuah kepalsuan belaka.


"Biar bagaimana pun Kak Dinan juga anak Ibu. Apa Ibu tidak rindu pada nya. Ibu juga sudah tinggal di sini. Hm.. Ngomong-ngomong Ibu tinggal dimana?"


Lagi-lagi Yanti mendadak diam dan tersentak.

__ADS_1


'Nania tidak boleh tahu kalau aku tinggal di apartemen yang diberikan Dinan padaku, selama tinggal disini.'


"Hm.. I-ibu menyewa kontrakan di gang kecil.. Ibu tidak merindukan nya, dia sudah tidak peduli lagi pada Ibu." Bohong nya.


__ADS_2