Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Kegelisahan Radit


__ADS_3

Radit masih gelisah mengikuti Mona di belakang, apa lagi Mona menuju dapur. Di dapur terdapat belanjaan Nania yang belum selesai ia susun di kulkas.


"Memang nya mama harus bilang dulu mau datang kesini, kamu aneh banget deh. Lagian kamu sudah lama tidak pulang ke rumah. Maka nya mama khawatir, pingin lihat kamu kesini." Ujar Mona.


"Bu-bukan gitu ma. Radit lagi ada proyek baru di kantor. Jadi agak sibuk, pulang nya kesini saja biar nggak terlalu jauh dari kantor." Jawab Radit menggaruk tengkuk leher nya yang tidak gatal.


Mona menaikan satu alis nya kala melihat belanjaan yang masih ada di atas meja dapur.


"Kamu habis belanja?" Tanya Mona penasaran.


Ia membuka kantung belanjaan itu, dan mengobrak-abrik isi nya.


"I-itu.. Iya tadi Radit habis belanja ma." Jawab nya berbohong. Radit memejamkan mata nya merasa tidak enak berbohong pada Mona.


Mona membuka kulkas, ia lumayan terkesima melihat isi kulkas yang penuh dengan beberapa bahan seperti sayuran, telur, daging ikan, dan ayam.


"Radit.. Sejak kapan kamu stok bahan ini di kulkas?" Mona menyentuh bahan-bahan itu.


Radit semakin tidak enak hati. "Iya ma, Radit semenjak tinggal di apartemen masak sendiri, he he."


"Loh, memang nya kamu bisa masak? Kamu saja tidak pernah menyentuh dapur kalau di rumah. Hayoo.. Kamu ngumpetin sesuatu dari mama ya?"


Wuuusshhh.... Angin dingin serasa menerpa di kulit pria itu. "Radit belajar masak kok ma, tutorial di youtube, iya benar.. Belajar dari youtube, he he."


Mona mendekati anak nya dan mengintai dari atas ke bawah. "Kamu jangan aneh-aneh ya. Kamu pikir mama bisa kamu bohongi, jangan-jangan kamu sudah punya pacar ya?" Pertanyaan nya begitu mencekam buat Radit.


Nania di dalam kamar merasa gelisah, ia tidak pernah bertemu dengan Mona, hanya sekali saja waktu di kantor. Tambah lagi sekarang dia tinggal di apartemen nya Radit. Jika sampai ketahuan, ia tidak tahu harus menjelaskan nya seperti apa.


"Haduh, bagaimana ini? Apa mama Radit akan curiga, mana belanjaan aku tadi masih ada di dapur." Nania menepuk-nepuk kening nya merasa bodoh.


"Mama apa sih, Radit benar lagi belajar masak kok." Pria itu masih belum mau jujur.


"Kamu bilang lagi sibuk sama proyek baru kamu di kantor, masa kamu ada waktu untuk belajar masak? Mending sekarang kamu jujur saja sama mama. Toh mama tidak akan marah." Mona berjalan menuju sofa di ruang tengah.


Radit mengikuti mama nya yang duduk di sofa. "Mama jangan marah dulu ya, lain kali pasti Radit akan cerita sama mama." Anak itu tersenyum kaku di depan Mona.

__ADS_1


"Tuh kan benar,, jadi kamu memang punya pacar tapi nggak bilang sama mama. Kamu keterlaluan deh Radit." Mona membuang wajah nya ke samping. Ia melipat tangan nya di dada.


"Ma please.. Radit akan cerita sama mama. Tapi nggak sekarang." Radit menunjukan kelembutan nya pada sang mama agar mengerti.


"Siapa nama nya?" Tanya Mona begitu ketus.


"A-itu.. Nama nya.." Radit bimbang.


"Kamu jangan keterlaluan ya Radit, masa kasih tahu nama nya saja nggak mau." Kali ini Mona menatap tajam pada anak nya.


"I-iya ma maaf, nama nya... Nana ma, iya nama nya Nana." Radit menyengir kuda meyakinkan Mona. "Nana?"


"Kapan kamu mau kenalin dia sama mama?"


"Setelah proyek baru di kantor Radit selesai, nanti aku akan kenalin ke mama sama papa." Jawab nya dengan yakin.


Mona menyelidik tatapan anak nya dengan dekat, ia menujuk wajah Radit dengan jari telunjuk nya. "Mama nggak mau kamu sampai bohong lagi ya."


"Iya ma, mana pernah Radit bohong sama mama." Pria itu menampilkan deretan gigi nya yang putih dan bersih ke Mona.


Mona menarik nafas nya dengan lega. "Itu mama bawakan makanan kesukaan kamu dan rujak buah. Makanan nya tinggal kamu panasi saja di microwave."


Sebuah mobil sedan berwarna hitam yang mewah berhenti di sebuah taman. Riyan turun bersama Delisha.


"Kak Riyan, sebenar nya kita mau kemana?"


"Kamu tunggu di sini ya, jangan kemana-mana. Aku mau kesana sebentar." Pinta Riyan meninggalkan Delisha di air mancur yang berada di tengah taman itu.


Taman yang indah di malam hari, ada beberapa pengunjung juga di sana. Delisha cuma bisa pasrah, ia mengangguk dan menunggu Riyan kembali lagi.


Saat menunggu Riyan datang, ia duduk di bangku taman, ada seorang anak kecil membawa sebuket bunga menghampiri Delisha.


"Kakak, nama nya Delisha ya?"


"Hei, anak manis. Kok kamu tahu nama Kakak?"

__ADS_1


Delisha mengusap pucuk rambut anak laki-laki itu. "Ini untuk Kakak." Ia memberikan sebuket bunga nya pada Delisha.


"Untuk Kakak? Tapi dari____"


"Heii, tungguu!!" Baru saja Delisha ingin bertanya, tapi anak itu sudah berlari meninggalkan nya. "Tidak anak kecil, tidak juga pria dewasa, sama-sama menyebalkan." Kesal nya lalu membaca sebuah card di bunga yang ia pegang.


Delisha, maukah kamu bersedia menjadi kekasihku? Aku memang bukan pria yang sudah lama mengenalmu, tapi percayalah.. Waktu singkat yang kita lewati membuat aku yakin, kalau kamu adalah gadis yang aku impikan selama ini. Jika kamu ragu akan perasaanku, kamu bisa meletakan bunga ini di kursi. Tapi jika kamu menerimaku, kamu bisa mencium bunga ini. ~Riyan.


Dari kejauhan Riyan mengamati gadis yang ia sukai. Delisha tersenyum kala membaca tulisan yang ada di kartu itu, ia lalu menurunkan bunga di tangan nya.


Seketika rasa khawatir Riyan muncul, tapi tangan yang memegang bunga mawar tidak jadi menaruh nya di bangku, Delisha menarik bunga itu dan menghirup aroma nya dalam-dalam.


Mata nya terpejam merasakan kesegaran dari sebuket bunga mawar merah yang Riyan berikan. Dengan yakin langkah pria yang bersembunyi tadi mendekat pada Delisha.


Ia berdiri tepat di hadapan Delisha, gadis itu membuka mata nya dan mereka saling menatap penuh harap, ada cinta di mata Riyan, dan ada kebahagiaan di mata Delisha.


"Kak____"


"Ssstttt.."


Riyan meletakan jari nya di bibir manis Delisha, detik itu juga ia memeluk gadis yang sudah menerima nya. Suara tepuk tangan dari beberapa pengunjung menjadi saksi bersatu nya mereka.


Setelah itu Riyan melepaskan pelukan nya, ia memegang kedua bahu Delisha. "Terima kasih Delisha.. Kamu sudah mau menerimaku." Riyan tersenyum bahagia di depan nya.


"Iya Kak.." Delisha mengangguk dan juga melukis senyum.


Mona sudah pulang dari apartemen Radit. Sudah banyak sekali cara yang ia lakukan agar mama nya cepat pulang, tapi Mona malah mengajak nya nonton film india selama dua jam di depan tv. Mau tidak mau pria itu mengikuti kemauan mama nya.


"Akhir nyaa... Mama pulang juga, huft." Radit menutup pintu apartemen nya setelah mengantarkan Mona sampai pintu lobi apartemen.


Ia melangkah masuk ke dalam kamar, karena merasa khawatir Nania masih ada di dalam. Di buka nya pintu kamar Radit, dan ternyata Nania sudah tertidur di sofa single dalam kamar nya.


"Maaf ya sayang, kamu jadi ketiduran karena menunggu mama pulang. Aku janji akan segera mengenalkan kamu ke mama dan papa." Radit tersenyum, ia menyibakkan anak rambut ke belakang telinga Nania.


Nania masih memakai dress berwarna biru muda selutut, tidak sengaja kain dress itu tersingkap ke atas menampilkan paha mulus nya yang putih itu.

__ADS_1


Sekejap Radit yang menyadari itu menelan saliva nya. Ia mengecup kening Nania, dan menurunkan dress nya. "Aku tidak akan melakukan nya sekarang, mungkin di suatu hari aku tidak akan melepaskan mu sampai pagi menjelang." Ia tersenyum.


Lalu mengangkat tubuh Nania dan memindahkan nya ke atas ranjang. Di tutupi nya dengan selimut, dan Radit pun ikut merebahkan diri nya di samping Nania. Kemudian kedua nya terlelap dalam mimpi.


__ADS_2