
Keesokan hari nya sebuah mobil sudah bersiaga di depan gedung apartemen Radit pagi ini. Tak lama Nania pun keluar menggunakan salah satu mobil milik Radit. Karena malam itu Radit meminta Nania pergi ke kantor menggunakan salah satu mobil milik nya di basement apartemen.
Radit berangkat ke kantor dari rumah nya, ia menyetir kendaraan mewah nya sendiri. Mobil yang tadi menunggu di depan gedung apartemen membuntuti mobil Nania dari belakang.
Seorang wanita menggunakan kacamata hitam dan juga scarf yang ia kenakan untuk menutupi kepala nya menyebikkan bibir tengah menatap ke depan.
"Rasakan ini!!!" Ucap nya.
Ia menginjak pedal gas nya dalam-dalam saat mobil Nania melintasi jalanan yang tidak begitu ramai. Ini merupakan jalan pintas yang sering ia lewati bersama Radit.
Ciiitttt..... Bruugghh....
"Aaaaaaakhhh...." Teriak Nania dari dalam mobil.
Mobil yang di kendarai Nania di seruduk kencang dari belakang, hingga lepas kendali menabrak pohon besar di tepi jalan. Wanita yang menabrak itu segera melajukan mobil nya yang juga rusak bagian depan dengan cepat, agar tidak banyak yang melihat kejadian tadi.
Bapak-bapak yang berjualan mie ayam keliling sedang mendorong gerobak nya itu buru-buru berlari ke arah mobil Nania.
"Tolongg.. Tolong!!! Ada kecelakaan.." Teriak bapak penjual mie ayam.
Ia mengetuk-ngetuk pintu kaca mobil Nania, gadis itu masih sedikit sadar meskipun kening nya sudah terluka akibat terbentur.
"Mbak..Mbak.. Bisa buka pintu nya?! Mbak dengar saya kan!!" Teriak bapak itu dari luar. Ia begitu panik melihat keadaan Nania.
Samar-samar Nania masih mendengar dan menguatkan tangan nya untuk menekan tombol kunci agar pintu mobil bisa di buka. Kemudian ia tidak sadarkan diri.
Bapak penjual itu langsung mengeluarkan Nania dari dalam mobil. Beberapa warga setempat juga sudah ikut ramai menolong Nania.
"Aduh, kenapa ini Pak?" Tanya salah satu warga.
"Ini, kayak nya tadi nabrak pohon karena di seruduk mobil lain dari belakang." Ujar Bapak mie ayam.
"Ya Allah, ya sudah sekarang kita bawa Neng nya ke rumah sakit aja ya." Ajak warga setempat. Nania pun di larikan ke rumah sakit terdekat.
Para tim medis di bagian IGD segera menangani Nania sebagai korban kecelakaan.
"Tolong suster.. Mbak nya ini kecelakaan, mobil nya nabrak pohon beringin besar di pinggir jalan." Ucap salah satu warga yang membawa Nania tadi.
"Baik Pak, tolong tunggu di sini ya. Biar kami tangani pasien dulu." Pinta suster.
Nania segera di periksa dan di obati. Sedangkan bapak yang menolong tadi memberikan tas jinjing milik Nania pada suster nya. Pihak rumah sakit segera mencari identitas korban dan mencoba menghubungi pihak keluarga dari ponsel milik pasien.
"Panggilan masuk terakhir di sini nama nya Mas Radit, kita hubungi saja nomor ini." Ucap suster kepada teman nya yang sedang memeriksa ponsel Nania kebetulan tidak memakai password.
Radit baru saja tiba di gedung perusahaan, mobil nya masih terparkir di depan pintu utama perusahaan. Ketika hendak turun ponsel nya berdering.
__ADS_1
"Nana.." Gumam nya.
"Halo, Nana.. Ada apa sayang?"
"Maaf Tuan, kami dari pihak rumah sakit Xxx. Ingin mengabarkan jika pasien bernama Nania sedang berada di IGD rumah sakit karena kecelakaan." Jawab Suster.
"Apa?!! E, O-okay saya kesana sekarang."
Tanpa aba-aba dan menunggu lama, Radit langsung menginjak pedal gas mobil nya untuk menuju rumah sakit tempat Nania berada.
Satpam yang berdiri di pintu masuk sampai di buat melongo karena mobil Radit melaju begitu cepat keluar dari gedung perusahaan.
"Nana... Kamu kenapa sayang, ya Tuhan semoga Nana baik-baik saja." Gumam nya sambil fokus menyetir. Wajah nya terlihat panik dan gelisah.
Ia menghubungi Riyan untuk menghandle perusahaan nya hari ini.
"Halo Riyan, aku sedang menuju rumah sakit. Tolong kamu handle perusahaan hari ini." Perintah nya di sambungan ponsel yang terhubung pada Airpods di telinga nya.
"Loh, Tuan anda ke rumah sakit ada apa?"
"Cerita nya panjang, tolong lakukan saja apa yang aku tugaskan."
"Ba-baik Tuan."
Riyan yang sudah di ruangan kerja nya merasa aneh. "Siapa yang sakit? Apa Tuan sakit? Ah, tapi tidak mungkin. Kalau Tuan sakit dia tidak akan pergi ke rumah sakit. Tapi Dokter di rumah sakit yang langsung datang kesini." Gumam nya bingung.
Begitu tiba di rumah sakit tujuan, Radit masuk dengan langkah yang cepat. Ia berlari ke ruang IGD untuk mencari Nania.
"Tuan, anda mencari pasien atas nama siapa?"
"Na-nania.. Dimana dia sekarang, Sus?"
"Baik, mari saya antar."
Manik mata pria tampan itu berubah menjadi sendu melihat Nania yang terluka. Kening nya yang di perban, dan kaki nya yang di gips.
"Nana..." Lirih nya tak kuasa menahan sedih.
"Maaf Tuan, sebaik nya anda segera mengurus kamar inap untuk pasien, karena pasien perlu di rawat beberapa hari kedepan." Ucap Suster.
"Baik Suster, bisa tolong tinggalkan saya sebentar." Pinta Radit dengan sendu.
"Baik Tuan, saya permisi."
Radit menggenggam tangan Nania, ia menatap wajah cantik kekasih nya yang terbaring tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Nana.. Apa yang sudah terjadi sama kamu sayang.. Maafkan aku Nana, maafkan aku.." Suara parau nya menahan air mata.
Bapak yang tadi menolong Nania menghampiri Radit. "Maaf Tuan, apa anda keluarga dari Neng ini? Saya tadi membantu Neng nya kesini." Ucap nya pelan, tidak ada maksud mengganggu.
"Iya benar Pak, terima kasih karena sudah membawa calon istri saya kesini." Jawab Radit dengan ramah, mengusap wajah yang masih sedih.
"Iya Tuan sama-sama. Tuan yang sabar ya.. Tadi mobil Neng nya di seruduk sama mobil yang ada di belakang nya. Jadi mobil Neng nya nabrak pohon besar di pinggir jalan, begitu Tuan kejadian yang saya lihat." Jelas bapak penjual mie ayam yang rela meninggalkan gerobak jualan nya untuk menolong Nania.
Radit masih bingung dengan penjelasan dari sang Bapak, apa kecelakaan ini di sengaja, apa memang murni kecelakaan. Semua membayang di pikiran Radit.
"Jadi ada mobil yang menabrak dari belakang?"
"Iya Tuan."
"Apa orang yang di belakang itu mengalami luka juga Pak?"
"Tidak Tuan, justru mobil itu langsung pergi begitu saja. Seperti nya takut di salahkan sama warga atau lebih jelas nya bagaimana saya juga nggak ngerti Tuan." Jawab Bapak itu dengan jujur.
"Baiklah Pak, sekali lagi terima kasih banyak. Ah, ini untuk Bapak. Tolong jangan di tolak Pak, saya sangat berterima kasih karena anda sudah menolong calon istri saya." Radit mengeluarkan lembaran uang merah yang cukup tebal dari dompet nya, dan memberikan uang itu pada Bapak yang menolong Nania.
"Ya Allah Tuan, ini mah banyak sekali. Saya menolong nya ikhlas Tuan." Bapak itu mengembalikan uang Radit.
"Tolong Pak di terima saja, ini sebagai bentuk rasa terima kasih saya. Semoga kebaikan Bapak di balas Tuhan dengan beribu kebaikan."
"Tuan.. Terima kasih, ini sudah jauh lebih cukup. Semoga Allah juga membalas kebaikan Tuan, dan calon istri Tuan akan segera pulih kembali. Aamiin.." Doa sang Bapak tulus sekali pada Nania.
Radit tersenyum mendengar kalimat dari pria paruh baya itu, hati nya merasa tersentuh. Bapak penjual mie ayam itu segera pamit, dan Nania pun di bawa petugas rumah sakit untuk pindah ke kamar inap nya.
Dinan merasakan kaki nya begitu sakit, ia berjalan dengan tertatih-tatih masuk ke dalam ruangan Reyhan.
"Aaahh... Ssshh.. Si-al ini sakit sekali." Ia meringis kesakitan.
"Loh sayang.. Kaki kamu kenapa?" Reyhan menghampiri sang istri dan menuntun nya duduk di sofa.
"Aduh sayang, kaki aku sakit banget." Keluh Dinan pada suami nya. "Sebenar nya kamu kenapa sayang? Terus kamu habis dari mana, kenapa tadi berangkat nya nggak bareng sama aku?" Reyhan menumpuk pertanyaan nya.
"Em,,, i-itu.. Tadi aku berangkat bareng sama teman, karena ada urusan sebentar sayang. Terus i-ini kaki aku tadi ngga sengaja kebentur meja. Sshhh...." Dinan masih merasakan nyeri di bagian pergelangan kaki nya dan dengkul nya.
"Masa kaki kamu kebentur meja sampai biru begini sayang? Kita ke rumah sakit sekarang ya?" Ajak Reyhan, tapi Dinan menolak keras.
"Ah, nggak usah sa-sayang.. Sshhh.. A-aku istirahat di sini saja. Kamu kan bisa panggil dokter pribadi kita untuk datang kesini." Pinta Dinan dengan manja.
"Ya sudah kamu istirahat di kamar saja ya, biar aku panggilkan Dokter Tirta." Reyhan menggendong tubuh istri nya dan memindahkan ke dalam kamar yang ada di dalam ruangan kerja nya.
Radit duduk di sofa dalam kamar inap Nania. Ia masih melamunkan kejadian yang menimpa kekasih nya.
__ADS_1
"Aneh sekali, kalau memang tidak sengaja,, harus nya mobil yang menabrak itu tidak harus lari. Ini seperti di sengaja. Kalau memang ia menabrak mobil Nania, setidak nya dia juga mengalami cidera. Aku harus menyelidiki nya." Seru Radit memikirkan kejadian dengan logika nya.