
Di balik kaca besar ruangan Radit, yang bisa melihat ke arah meja kerja Nania dari dalam. Pria itu memperhatikan kekasihnya yang sedang bekerja.
"Nana.. Aku akan membuatmu bahagia. Kamu wanita yang kuat selama ini, banyak orang yang memandang kamu sebelah mata saja." Ucap Radit dengan mata yang terus memandang Nania.
Tiba-tiba Radit melihat Nania mengangkat sebuah panggilan dari ponselnya. Ia pun penasaran, hingga mendekati dirinya di bilik kaca.
"Habis mengangkat telepon dari siapa dia?" Gumamnya penasaran.
Melihat Nania yang bangkit dari kursi dan ingin masuk ke ruangannya, Radit pun langsung bergegas kembali ke meja kerjanya
"Permisi Tuan, anda akan ada meeting lima belas menit lagi." Lapor Nania padanya, ia tersenyum ramah.
Senyumnya di balas oleh Radit, hingga Nania merasa sedikit heran. "Iya, baiklah." Jawab Radit.
"Ini materi untuk meetingnya Tuan, dan ini ada berkas yang perlu anda tanda tangani." Nania menyerahkan dua dokumen pada Radit.
"Tadi kamu habis angkat telepon dari siapa?" Radit penasaran sekali. "Itu, dari Ibu saya Tuan. Beliau minta bertemu dengan saya sepulang bekerja." Jawab Nania jujur.
Radit mengangguk, ia masih penasaran. "Ya sudah, kalau gitu biar aku antar kamu nanti." Ajak Radit menawarkan dirinya. "Em, tidak perlu Tuan. Saya bisa berangkat sendiri. Tuan nggak perlu repot-repot mengantar." Tolak gadis itu sambil mengulas senyum.
"Aku sekalian ingin mengajakmu makan malam di tempat kemarin." Pria itu mencoba beralasan. "Tempat kemarin? Bukannya kemarin Tuan baru saja dari sana, he he." Nania merasa heran dengan tingkah pria itu belakangan ini.
"Ya nggak apa-apa. Kan di sana banyak pedagang makanan. Bisa coba yang lain," Radit mengangkat kedua bahunya agar tidak di curigai.
"Baiklah Tuan. Kalau gitu saya permisi dulu, berkasnya saya minta kembali." Nania mengambil dokumen yang sudah di tanda tangani Radit, lalu keluar dari ruangannya.
Dinan mencoba mencari Ibunya, ia bahkan lupa dengan tugasnya di kantor Reyhan. Di mana ia masih di beri kesempatan, bekerja di perusahaan Max Lan.
"Kemana sih perginya Ibu, mana teleponnya nggak di angkat?!!" Kesalnya sambil menyetir mobil. "Lagian Ibu ngapain juga sih, masih tinggal di apartemen padahal dia tahu Reyhan singgah di sana." Ucapnya lagi masih marah-marah.
Ponsel Dinan berbunyi, ia menepikan mobilnya lalu mengangkat telepon itu. "Halo Reyhan?" Sapanya dengan sumringah.
__ADS_1
"Di mana kamu? Kata orang kantor, kamu sudah dua hari ini nggak masuk kerja. Ingat ya Dinan, aku kasih peringatan kamu. Kalau sekali lagi aku dengar kamu nggak ada di kantor. Kamu, aku PECAT!!" Maki Reyhan tidak main-main dalam sambungan teleponnya.
Dinan gelagapan, ia semakin jengkel dengan sikap Reyhan yang selalu tegas kepadanya. "Rey, a-aku nggak ke kantor karena lagi ada urusan. Aku janji, ini terakhir kalinya a-aku nggak ke kantor." Jawab Dinan.
"Halo Rey__"
"Halo.." Sayangnya panggilan itu sudah di matikan oleh Reyhan.
"Ck, sialan!! Reyhan semakin lama sudah keterlaluan, aaaarghh!!" Dinan mengacak-ngacak rambutnya. Ia pusing dengan kehidupannya yang sudah berantakan.
Yanti pergi dari apartemen hanya membawa ponselnya saja, ia tak membawa baju-bajunya. Setelah mengabari Nania dan membuat janji akan bertemu, Yanti menunggunya di sebuah taman.
"Ya Tuhan, tega sekali anakku sendiri mengusirku dan merendahkanku.. Hiks,," Yanti masih teringat dengan perilaku Dinan pagi tadi. Ia duduk di bangku taman sambil menangis.
"Nania yang bukan anak kandungku, tapi hatinya malah selembut itu pada Ibu. Tega kamu Dinan, Ibu kecewa sama kamu, hiks.." Ucapnya menahan isak tangis, sakit di hatinya.
Sebuah mobil berhenti di depan taman. Wanita itu turun dan menghampiri Yanti, yang sebelumnya ia sudah mengamati.
Yanti menoleh ke suara itu berasal, alangkah terkejutnya ia melihat Wati ada di hadapannya. Orang yang selama ini ia cari.
"K-kamu Wati?" Tanya Yanti masih tidak yakin.
"Iya saya Wati, saya sudah lama mencari kamu. Ternyata kamu ada di sini. Sekarang bisa kita bicara?" Ucap Wati dengan nada yang senang, bisa bertemu dengan Yanti.
Dua orang bodyguard Lan mengawasi Wati dari jarak yang tidak jauh. "Iya, saya juga ingin bicara sama kamu. Ayo, duduklah!" Ajak Yanti menyuruh Wati duduk. Namun wanita itu menolak.
"Maaf, tapi bisakah kamu ikut saya? Saya akan menceritakan semuanya dan mengajak kamu bertemu dengan seseorang." Wati masih berdiri, ia menggenggam tangan Yanti. Matanya mengalirkan sebuah ketulusan.
Yanti pun mengangguk, ia ikut bersama Wati masuk ke dalam mobil Bodyguard Lan. "Baiklah, tapi kamu harus janji sama saya. Untuk menceritakan semuanya."
"Iya saya janji, mari ikut saya."
__ADS_1
"Nania,,, maafkan Ibu, Nak. Mungkin ini kesempatan Ibu untuk bisa mengetahui siapa orang tua kamu. Ibu akan menebus semua kesalahan Ibu sama kamu Nak." Batin Yanti menangis.
Sore harinya, Nania dan Radit berhenti di sebuah taman. Tempat di mana Yanti menunggu Nania. "Kamu yakin Ibu kamu minta bertemu di taman ini, Nana?" Tanya Radit agak bingung.
"Iya Mas."
"Tapi kok tamannya sepi banget ya?" Pria itu menoleh ke kanan dan ke kiri. Bahkan tidak ada orang di taman itu.
"Iya Mas, kok tamannya sepi sekali ya? Ibu di mana, biar aku telepon dulu." Nania mencoba menelpon Ibunya. Tapi nomor Yanti di luar jangkauan.
"Haduh Mas, kok nomor Ibu di luar jangkauan ya?" Nania sedikit cemas. Karena Yanti sendiri yang meminta Nania bertemu dengannya di taman itu.
"Coba kita cari kesana dulu deh, kalau nggak ada,, Kita tunggu saja dulu di sini selama satu jam. Gimana?" Tawar Radit mengusulkan saran yang tepat.
"Iya boleh Mas. Yuk, kita kesana." Nania mengajak Radit mengitari taman itu.
Tidak ada batang hidung Yanti terlihat di sana. Keduanya duduk di bangku taman. "Nggak ada Ibu kamu di sini Nana. Lebih baik kita coba tunggu dulu ya, nanti kalau Ibu kamu nggak ada juga. Baru kita pergi." Radit melepas jas hitamnya yang melekat di tubuh kekarnya.
"I-iya Mas. Tapi kok aku khawatir ya sama Ibu," Kecemasan mulai melanda hati Nania.
"Kamu tahu Ibu kamu tinggal di mana?" Tanya Radit, Nania menggelengkan kepalanya. "Kamu benar nggak tahu, Nana?"
"A-aku nggak tahu Mas. Karena waktu itu Ibu nggak mau ngasih tahu aku." Nania merasa bersalah, Radit merangkul kekasihnya agar tetap tenang.
"Ya sudah, kamu tenang ya. Jangan panik, Ibu kamu pasti baik-baik saja." Bukankah ucapan adalah doa. Yang Radit katakan semoga memang benar kenyataannya. Yanti akan baik-baik saja.
Wati bersama Yanti turun dari mobil. Ia sampai di sebuah rumah sederhana milik Lan. "Ini di mana Wati?"
"Masuk dulu Mbak, kita ngobrolnya di dalam saja." Ajak Wati, mereka pun masuk ke dalam rumah itu.
Keempat penjaga Lan yang di tugaskan mengawasi Wati, berjaga di setiap sudut rumah itu. Bahkan kamera pengawas sudah di pasang oleh Lan tanpa Wati sadari.
__ADS_1