
Reyhan singgah di dalam apartemen nya, ia masih membiarkan Yanti berada di dalam sana. Karena wanita paruh baya itu mengaku kalau bekerja sebagai pembantu.
Pagi ini Yanti merasa badan nya sudah jauh lebih segar dari hari sebelum nya. Ia memasak menu sarapan sederhana ala rumahan, barang kali Reyhan mau mencicipi nya.
"Seperti nya aku tidak bisa pergi ke rumah sakit dulu. Karena menantuku ada di sini. Semoga saja Wati masih ada di sana." Gumam nya sambil menyusun beberapa makanan di meja. Ia memikirkan Wati yang sempat ia tunggu di rumah sakit.
Benar saja, tak lama pria tampan yang Yanti tahu adalah menantu nya keluar dari kamar dan melewati ruang makan.
"Tuan, saya sudah memasak makanan untuk sarapan, jika Tuan berkenan. Silahkan di cicipi Tuan." Ajak Yanti tanpa menatap wajah menantu nya. Ia menunduk karena takut ketahuan.
"Hm, baiklah."
Pria yang masih berstatus suami Dinan itu duduk di meja makan. Ia membuka piring nya, saat Yanti hendak menuang nasi ke piring itu, Reyhan mencegah nya.
"Tidak perlu Bi, saya bisa sendiri. Karena hanya ada saya dan Bibi di sini. Sebaik nya Bibi ikut sarapan juga." Ajak Reyhan dengan santai.
Ia seperti yakin kalau wanita di hadapan nya ini, mengenal Dinan bukan cuma sebagai majikan saja. Reyhan juga bukan orang yang gila hormat, dia sangat menghargai orang yang lebih tua dari nya.
"Anu, tidak usah Tuan, saya bisa sarapan nanti saja. Silahkan di makan Tuan." Jawab nya menunduk.
"Tidak perlu sungkan, saya tidak membeda-bedakan orang. Bibi duduk saja, saya juga tidak terlalu suka makan sendirian." Ajak nya kembali.
Dengan sedikit gemeter Yanti pun mengikuti perintah nya. Ia duduk di kursi makan dan membuka piring nya.
"Terima kasih Tuan. Tapi saya tidak biasa seperti ini." Jawab nya.
"Ya, santai saja Bi." Kedua nya melakukan sarapan bersama di apartemen.
Lain di kediaman keluarga Lan, Dinan sedang menuruni anak tangga. Semenjak pertengkaran yang terjadi dengan nya pada Reyhan, ia jarang sekali bertemu dengan Lan di rumah.
Pagi ini nampak Lan sedang melamun di kursi makan nya. Dinan memperhatikan sejenak di tangga, lalu turun ke bawah.
"Bi Inah, itu Papa kenapa?" Seorang pelayan berhenti ketika di tanya Dinan.
"Itu Nyonya, saya juga nggak tahu. Tapi seperti nya Tuan besar sedang ada masalah." Jawab nya dengan menunduk.
"Oh, ya sudah."
Dinan menghampiri Lan di ruang makan. Ia duduk di kursi yang tak jauh dari nya. Pria yang nampak melamun itu sampai tidak sadar dengan kehadiran Dinan.
"Pa... Papa kenapa?"
__ADS_1
"Papa.." Tegur nya lagi pelan. Tentu saja Dinan tidak berani membentak Lan, yang mempunyai kuasa di rumah itu dan perusahaan.
"Ah, ya? Ada apa Dinan?" Lan terbuyarkan dari lamunan nya. Ia menatap Dinan dengan biasa. Karena Lan tidak mau ikut campur dengan masalah anak nya. Ia yakin Reyhan bisa menyelesaikan nya, tapi ada guratan wajah kecewa terhadap Dinan dari raut wajah Lan.
"Papa ada apa, kok melamun?"
"Tidak ada apa-apa. Kamu sarapan saja, Papa pergi dulu ya." Lan tidak mau berlama-lama dengan Dinan, karena pikiran nya sedang kacau. Ia pun bangkit dan pergi.
Dinan mencebikkan bibir nya. "Dasar, nggak anak nggak Papa nya, sama saja!" Maki nya pelan yang merasa di acuhkan.
Di dalam mobil Lan menelpon seseorang, yaitu penjaga bayaran nya yang di suruh menjaga Wati di sebuah rumah sederhana, yang sudah ia sewa.
"Halo, bagaimana? Apa dia sudah sehat dan normal kembali?" Tanya nya.
"Seperti nya sudah Tuan, dia sudah bisa membersihkan rumah pagi ini." Jawab penjaga Lan di seberang sana. Yang menjaga Wati di rumah itu.
"Suruh dia mencari wanita yang ia maksud sekarang, dan kabari aku jika dia sudah menemui nya. Kamu harus terus mengawasi dan ikut bersama nya mencari orang itu!!" Perintah Lan.
"Baik Tuan, siap laksanakan."
Lan menutup sambungan panggilan nya, ia memang kecewa dengan Wati, tapi hanya wanita itu yang tahu di mana keberadaan anak nya sekarang.
Lan diam-diam juga akan menuntut rumah sakit yang telah merahasiakan hal sebesar ini dari nya, setelah mendapatkan bukti-bukti yang cukup kuat.
Akhir nya Lan menjalankan mobil nya menuju pemakaman, di mana sang istri tercinta nya di makam kan.
"Rahayu, anak kita ternyata masih hidup, kamu pasti akan senang jika dapat melihat nya. Aku yakin dia pasti mempunyai wajah cantik sepertimu." Ucap Lan di depan tempat peristirahatan mendiang sang istri.
"Aku akan terus mencari anak kita, aku janji akan menemukan nya sayang..." Lirih nya lagi terdengar pilu. Suara nya serak dan Lan menitikkan air mata.
Wati sudah berada di dalam mobil penjaga yang bekerja dengan Lan. "Jadi sekarang kita mau kemana?!" Tanya Sino dengan tegas.
"I-itu,, kemana ya?" Wati juga bingung harus mencari wanita yang ia titipkan anak nya di mana.
Karena dulu seingat nya, ia menitipkan bayi itu di jalanan yang sepi, dan jauh dari kota jakarta. Yanti yang tengah melewati jalan bersama suami nya dulu, ia terkejut karena tiba-tiba Wati menyerahkan seorang bayi dan lari begitu saja.
Karena jalanan sudah malam dan gelap, Yanti bersama suami nya tidak bisa mengejar nya, akhir nya suami Yanti memutuskan untuk merawat bayi itu. Yanti dan suami yang sehabis dari rumah teman nya di pinggir kota pun, membawa pulang bayi itu ke rumah nya yang berada di kampung.
"Apa? Jadi Ibu ini belum tahu mau mencari kemana?!" Sino sedikit kesal. Ternyata Wati masih belum tahu akan mencari nya kemana.
"T-tunggu, jangan marah dulu. Saya memang tidak tahu orang yang akan saya cari itu di mana. Karena saya juga tidak tahu nama dan foto nya." Jelas nya pada Sino.
__ADS_1
"Haduh, susah deh kalau sudah begini! Tapi Ibu tahu nggak terakhir ketemu orang itu di mana?"
"I-iya saya tahu, terkahir saya bertemu dia pas saya kecelakaan. Di jalan mangga besar."
"Ya sudah lebih baik kita ke sana dulu." Sino pun menjalankan mobil nya menuju tempat yang Yanti sebutkan. Semoga saja, ada hasil dari pencarian nya.
Di kantor Diamond Glow, Riyan fokus menyusun laporan yang di bantu oleh Delisha. Gadis itu semakin hari semakin pandai saja dalam urusan pekerjaan.
"Baby, tolong bantu aku yang ini ya." Riyan menyerahkan map ke Delisha.
"Baik Mas, aku cek dulu ya."
"Ehm,, Baby kamu mau minum sesuatu?" Riyan berpikir sejenak. "Minum apa Mas?" Delisha bingung. "Bagaimana kalau kita minum coklat?" Tawar nya pada kekasih yang manis itu.
Delisha tidak pernah menolak jika tentang makanan dan minuman, karena gadis ini memang hobi makan dan jajan.
"Waahh, itu kayak nya boleh deh Mas. Pas banget butuh yang seger-seger buat ngerjain laporan ini, he he he.." Ia terkekeh kecil sambil menutup bibir nya yang tersenyum dengan tangan.
"Ya sudah biar aku pesan ya, kamu mau ada tambahan lagi, di tempat yang aku pesan juga ada cake dan waffle nya sayang."
"Hmmm, apa saja deh terserah Mas." Senyum manis itu selalu memanah hati Riyan, ia tak bisa berpaling pandangan dari kekasih nya.
"Okay, tuan putri yang cantik."
"Iihh Mas apa sih." Delisha malu-malu di depan nya.
Di rumah sakit besar Korea, Nania melalukan terapi berjalan lagi yang di bantu oleh Radit. "Tuan, saya bisa sendiri kok. Tuan duduk saja." Pinta nya, karena sedari tadi Radit memegangi tangan nya terus sambil melangkah pelan.
Nania merasa tidak enak hati. "Nggak apa-apa. Lagi pula saya juga nggak ada kerjaan di sini." Jawab Radit.
"Ta-tapi bukan nya Tuan juga punya rumah sakit di Korea. Kenapa Tuan tidak coba mengunjungi nya?" Nania seolah-olah memberi masukan, agar pria itu tidak terus berada di sisi nya.
"Jadi kamu memerintah aku Nania?"
"Bu-bukan Tuan,, saya....Aakkh" Nania hampir saja terjatuh.
Radit dengan sigap memegangi nya dari belakang, hingga posisi pria itu memeluk tubuh Nania tepat di belakang nya.
"Hati-hati.. Kayak gini kok mau coba sendiri." Radit meledek nya. Nania jadi salah tingkah dengan wajah Radit yang mempesona. Ia pun mengalihkan pandangan nya ke kanan dan ke atas.
"Sudah, biar aku bantu saja." Radit memaksa dan memegangi tangan wanita yang ia cintai itu. "I-iya Tuan." Nania hanya bisa patuh dengan perintah atasan sekaligus kekasih nya yang belum ia ingat.
__ADS_1