Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Aku Pernah Melihatnya


__ADS_3

Pagi ini Yanti sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit, seluruh biaya rumah sakit sudah di biayai oleh Nania.


Yanti pulang menggunakan mobil dari orang suruhan Dinan, sebelum masuk ke dalam mobil Yanti menangkap sosok wanita yang pernah ia temui puluhan tahun yang lalu.


"Orang itu.. Seperti nya aku pernah melihat nya, tapi dimana ya?" Gumam Yanti melihat sosok wanita yang sedang mendorong kursi roda di lobi rumah sakit.


"Pak tunggu sebentar, saya mau kesana dulu." Ucap Yanti pada pria yang menjadi suruhan Dinan.


"Baik Bu."


Wanita bernama Yanti itu mengikuti suster yang berjalan melewati lorong rumah sakit.


"Berhenti.." Yanti mencekal tangan suster itu.


Suster yang di hentikan jalan nya menoleh ke arah Yanti. "Ada yang bisa saya___" Wajah nya berubah mendadak pucat, ia tidak mampu melanjutkan kalimat nya.


"Kamu orang yang waktu itu kan? Iya kan?" Tanya Yanti begitu tegas.


"Maaf anda salah orang Bu." Jawab Wati buru-buru ia ingin pergi, tapi Yanti menghalangi nya.


"Nggak, saya tidak salah orang, kamu memang benar orang nya. Sekarang kamu harus pertanggung jawabkan perbuatan kamu!!" Yanti berusaha menggenggam erat pergelangan tangan Wati.


Ya, suster itu adalah Wati. Sosok wanita paruh baya yang hampir seusia Yanti. "Lepaskan... Tolong!!"


"Hei!! Jangan kabur kamu.."


Wati berhasil kabur dari Yanti, ia berlari melewati tangga darurat, karena kondisi Yanti yang belum pulih total, ia tidak bisa mengejar wanita itu.


"Si-al.. Dia berhasil lolos, tapi nggak apa-apa. Setidak nya aku tahu dimana dia sekarang." Yanti lalu pergi meninggalkan rumah sakit.


Sedangkan Wati, ia sedang mengatur ritme nafas nya, dada nya kembang kempis melirik ke celah pintu tempat ia bersembunyi di ruang praktek.


"Hah.. Hah.. Akhir nya aku bisa lolos dari wanita itu. Maafkan saya, saya nggak bermaksud kabur. Tapi saya juga nggak ingin kena masalah. Capek-capek kerja pindah dari rumah sakit yang lama, ternyata aku di sini malah ketemu sama wanita itu." Gumam Wati meratapi nasib nya.


Wati dulu nya bekerja di rumah sakit swasta ternama dan terbaik di Kota Jakarta. Karena harus menanggung aib Dokter dan rumah sakit tempat dulu ia bekerja, ia rela di pindahkan ke rumah sakit umum yang mempunyai standar B.


Sampai di dalam mobil Yanti mengabari Nania melalui sms dari ponsel nya.


"Nania,, Ibu sudah boleh pulang dari rumah sakit. Terima kasih kamu sudah membiayai semua tagihan Ibu di rumah sakit."

__ADS_1


Nania yang sedang bekerja di meja nya, ia membaca pesan dari Ibu nya. Wajah nya tidak bisa menggambarkan ekspresi apa pun.


"Syukurlah, Ibu sudah pulang dari rumah sakit. Maaf Bu, Nania belum bisa menemui Ibu dulu." Gumam nya menatap layar di ponsel nya.


Di perusahaan lain di Kota Jakarta, Reyhan duduk di kursi kebesaran nya, ia sibuk dengan berkas-berkas di meja nya.


"Sayang.."


Dinan masuk ke dalam ruangan suami nya. "Honey, ada apa?" Tanya nya mengalihkan pandangan ke istri nya.


"Aku dengar Diamond Glow membuat produk parfum yang bakal menggemparkan semua kalangan."


"Benarkah? Kamu tahu darimana sayang?" Reyhan mengerutkan alis nya.


"Hm, a-aku tahu dari temanku yang bekerja di Diamond Glow." Dinan duduk di pangkuan Reyhan. "Sejak kapan kamu punya teman bekerja di perusahaan Radit?" Reyhan kembali bingung.


"Em, itu.. Temanku baru saja masuk kerja di sana." Kilah nya, Reyhan hanya manggut-manggut tanda mengerti.


"Ya sudah biarkan saja, toh kita juga punya proyek dengan Diamond Glow." Jawab Reyhan tidak mau ambil pusing.


Dinan merangkul leher suami nya, ia mengecup lembut pipi Reyhan. "Sayang,,, ini di kantor." Reyhan semakin tidak tahan.


Siang nya Nania membawakan makan siang ke dalam ruangan Radit. "Tuan, saya bawakan makan siang untuk anda." Gadis itu tersenyum manis sambil menenteng paperbag berisi makanan.


Radit bangkit dari kursi kebesaran nya, ia berjalan ke arah sofa. Tak lupa pria itu menutup tirai kaca di ruangan nya dan mengunci pintu dengan remot pintar.


"Kemarilah..."


"Akh.. Radit."


Gadis itu di tarik hingga jatuh di atas pangkuan Radit yang duduk di atas sofa. "Bagaimana kalau ada yang datang?"


"No. Mereka semua pasti sibuk dengan makan siang nya."


Pria itu mencium bibir Nania sekilas, gadis itu tersenyum. "Kalau begitu kita juga harus makan siang." Hendak turun, namun di cekal oleh Radit.


"Aku mau menambah daya sekali lagi." Pinta Tuan tampan itu.


Cups... Benda kenyal yang sudah menjadi candu Radit itu kembali ia *****, Nania membalas ciuman nya. Entah kenapa ia selalu terlena dalam perlakuan Radit yang seperti ini.

__ADS_1


"Aku sudah lupa berapa kali aku membayar hutangku padamu." Nania terkekeh setelah melepaskan pagutan nya.


"Hutang?" Radit mengernyitkan kening nya.


"Iya hutangku dulu yang 300 juta." Gadis itu tersenyum, Radit pun paham. "Ah ya aku ingat, sudah jangan permasalahkan lagi soal uang itu. Aku tidak akan menagih nya lagi padamu. Aku bahkan bisa memberikan nya lebih dari itu untukmu."


Radit menyentil hidung Nania dengan manja, ia membuka paperbag makanan yang Sekertaris nya bawa.


"Tapi aku tetap ingin membayarnya, kamu sudah banyak membantuku, Radit." Ucapan Nania sangat sungguh-sungguh dan serius.


Pria itu meletakan alat makan nya dan menoleh ke gadis nya. "Nana sayang.. Aku sudah bilang tidak menganggap itu hutang lagi. Kenapa kamu tetap ingin membayar nya? Kamu cukup membayar nya dengan hidup bersamaku." Jawaban Radit membuat Nania terpaku.


"Nana??" Nania memundurkan wajah nya.


"Iya, Nana sayaang.. Aku akan memanggilmu Nana." Ia tersenyum di depan Nania.


Nania mengulum senyum nya, ia merasa bahagia sekali sejak bersama Radit. Ia memeluk Radit sekejap.


"Ayo, kita makan dulu. Apa kamu mau aku melanjutkan yang tadi?" Sebuah ide konyol muncul di benak Radit. Tentu saja Nania sudah menatap nya dengan intens. Mereka tertawa bersama sebelum menyantap makanan nya.


Lain dengan kedua insan yang tengah makan siang bersama di pedagang bakso. "Kamu nggak marah kan Kak Riyan, aku ajak makan di tempat ini?" Gadis itu takut Riyan merasa tidak nyaman.


"Kenapa harus marah, justru ini membuat aku segar banget, bosan makan menu di kantin perusahaan terus." Jawab Riyan sambil menyantap kembali semangkuk bakso yang begitu lezat dan menggugah selera.


"He he Kak Riyan bisa saja."


"Del, kunci motor kamu sudah di kembalikan sama Tuan Radit, jadi nanti aku antar motor kamu ke rumah ya?"


"Wah,,, yang benar Kak? Akhirnya aku bisa naik motor aku lagi." Delisha begitu gembira, raut wajah nya nampak berseri, Riyan yang melihat itu diam-diam mengulum senyum.


"Tapi Kak Riyan nggak usah antarkan motor nya ke rumah. Biar aku yang ambil saja nanti, selepas bekerja." Bilang nya.


"Jangan,, kamu pulang nya sama aku saja. Nanti motor nya biar aku suruh orang antar ke rumah kamu." Dengan yakin Riyan menawarkan hal yang buat Delisha berbunga-bunga dalam hati nya.


'Aaaaa... Nggak bisa.. Nggak bisaa.. Kenapa Kak Riyan jadi mendadak so sweet gini sih. Ngajakin makan siang bareng, terus mau anterin pulang kerja lagi nanti.'


"Iya Kak, makasih banyak ya Kak Riyan, aku jadi ngerepotin terus."


"Sama-sama. Ayo makan lagi bakso nya, ini enak lho..." Mereka melanjutkan kembali aksi makan siang bersama nya di tempat jualan bakso.

__ADS_1


__ADS_2