Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Kata Yang Selalu Di Rindukan Radit


__ADS_3

Mentari telah menyapa bumi, semua orang sibuk dengan aktifitas nya masing-masing. Nania sudah rapi dengan setelan kantor nya, begitu pun juga Delisha yang semalam tidur bersama nya sudah ikut rapi memakai setelan kantor.


"Delisha,, ada apa dengan pakaianmu? Kamu mau berangkat kerja ke butik rapi sekali, biasa nya kamu hanya memakai celana levis dan kemeja saja." Nania menelisik pakaian sahabat nya yang menggunakan kemeja juga rok span selutut.


Beberapa baju yang di gunakan Delisha adalah pemberian dari Riyan, yang sengaja memaksa diri nya untuk berbelanja di Mal ketika Nania berada di Korea.


"Em, ini.. Aku kan bekerja di kantor mu sekarang." Jawab Delisha penuh dengan keceriaan.


"Benarkah? Kok bisa, kenapa aku baru mengetahui nya sekarang ya,," Ia merasakan ada yang aneh lagi. "Sudah jangan di pikirkan, aku senang sekali bisa bekerja di kantor bersamamu." Jawab Delisha lagi sambil tersenyum.


"Iya, kamu benar. Kamu sangat ingin sekali bisa bekerja di kantor. Syukurlah sekarang impianmu tercapai Delisha, aku ikut senang." Ia memeluk sahabat nya dengan tulus.


"Ya sudah, ayo kita sarapan. Aku tadi sudah membuat menu sarapan lho bersama Mas Riyan."


"Kamu bisa masak?"


"Bisa dong. Sudah ayo,," Ajak Delisha, ia membantu Nania berjalan keluar.


Nania hanya manggut-manggut saja. Pasal nya ia masih heran kenapa banyak perubahan pada orang-orang sekitar nya. Tapi ia mencoba hiraukan itu semua.


"Selamat pagi Mas Riyan, selamat pagi Kak Radit." Sapa Delisha, ternyata sudah ada Riyan dan Radit di ruang makan.


"Pagi Delisha, duduk lah. Ayo, kita sarapan dulu sebelum berangkat." Riyan menyuruh kedua nya duduk.


Radit menatapi Nania dari atas hingga ke bawah. Sudah lama ia tidak melihat kekasih nya menggunakan baju kantor.


"Nana, kamu sudah rapi begini, mau kemana, hm?" Tanya Radit begitu manis.


"A,, Saya mau berangkat ke kantor Tuan." Jawab nya sedikit canggung. "Kamu yakin?"


"Iya saya yakin Tuan."


"Baiklah, tapi aku minta pesan sama kamu. Jangan panggil aku Tuan lagi jika bukan di kantor. Kamu mengerti?" Perintah nya sebelum memulai sarapan.


Nania membuka piring nya, "Tapi itu sangat aneh Tuan."

__ADS_1


"Lakukan jika kamu memang ingin berangkat ke kantor hari ini. Jika tidak mau, kamu istirahat saja, tidak boleh ikut ke kantor."


"Ba-baiklah.. Tapi saya harus memanggil Tuan apa? Kakak, Abang, Mas atau Pak?" Tanya nya, membuat Radit memejamkan mata nya sejenak.


Delisha dan Riyan yang mendengar nya, cuma bisa menyimak saja, tapi dari ekspresi mereka sudah seperti menahan tawa.


"Terserah kamu saja Nana."


"Baiklah, Pak Radit."


Yang tadi nya Radit hendak menuang nasi, ia urungkan lalu menatap Nania dalam. "Aku tidak mau di panggil Pak. Panggil saja Mas." Kata-kata nya cukup menekan sekali.


"I-iya Ma..Mas Radit." Akhir nya kata yang selalu di rindukan Radit lolos juga dari bibir Nania. Ia tersenyum puas.


"Bagus, segera makan. Lalu kita berangkat bersama."


Selesai melakukan sarapan, Nania di bantu berjalan dengan Delisha sampai di basement tempat di mana mobil Radit dan Riyan di parkir.


"Ayo masuk Nana." Titah Radit membukakan pintu mobil untuk nya.


"Sa-saya di belakang saja Mas."


Mau tidak mau ia masuk ke dalam mobil Radit dan duduk di sebelah nya.


"Hati-hati ya Nania dan Kak Radit, daahh.." Delisha melambaikan tangan lalu masuk ke dalam mobil Riyan.


"Loh, Delisha tidak bareng sama kita Mas?"


"Dia kan sudah punya kekasih sekaligus sudah menjadi asisten nya Riyan, jadi dia akan berangkat bersama nya. Kenapa kamu khawatir sekali?" Tanya Radit dengan aksi tatap menatap nya.


"Em, itu- tidak apa-apa kok." Nania pasrah.


Di dalam mobil, Riyan berjalan di belakang mobil Radit. Ia bersama Delisha di samping nya sambil mendengarkan lagu kesukaan Delisha.


"Buat apa terus bertahan.. Bila terus terluka.. Nyata nya hati telah beda.. Biarkan ku pergi tuk bahagia... Hoo oow woo uoowh.. Jangan di paksa.. Bila semua telah berbeda.. Untuk apa pertahankan.. Jika kita tak sejalan.." Begitulah lirik lagu yang di nyanyikan Delisha.

__ADS_1


Membuat hari-hari Riyan lebih berwarna semenjak kehadiran nya.


"Baby... Ibu kamu jadi nya menetap tinggal di kampung?"


"Iya Mas. Aku jadi sedih deh, kenapa Ibu harus tinggal di kampung." Delisha merubah wajah nya menjadi cemberut.


"Jangan sedih sayang, kan Ibu kamu harus mengurus Buk Lik kamu yang sedang sakit itu. Kamu tenang saja ya, ada aku. Tapi kamu sudah bilang 'kan sama Ibu kamu, kalau kamu tinggal bareng sama Nania, nggak di rumah kamu?" Riyan merasa khawatir, takut Ibu Delisha merasa cemas juga di sana.


"Sudah Mas, aku sudah telepon Ibu kemarin. Dan kata Ibu nggak apa-apa kalau aku tinggal bersama Nania. Ibu jadi tenang, tapi aku jadi merasa tidak enak dengan Kak Radit, Mas." Delisha merasa tidak enak hati pada Radit. Karena pria itu selalu membantu nya. Bahkan untuk tempat tinggal saja di izinkan tinggal di apartemen mewah nya.


"Nanti biar aku yang bicara sama dia, kamu nggak usah khawatir ya Baby.." Riyan mengelus pipi nya, membuat Delisha merona.


"Benarkah Mas? Tapi seandai nya aku nggak boleh tinggal sama Nania lagi juga nggak apa-apa kok. Aku bisa tinggal di rumah, emm... Meskipun aku agak sedikit takut." Ya, Delisha memang tidak bisa di tinggal sendirian.


"Iya, kamu tenang saja sayang."


Begitulah perbincangan di dalam mobil Riyan bersama Delisha. Riyan bersyukur sekali semasa hidup nya, ia di berikan kemudahan, dalam hal karier maupun asmara nya.


Ia mempunyai atasan yang sangat baik, dan kekasih yang tulus juga cantik. Tentu nya masih sangat muda dari nya, itu sungguh bonus sekali untuk Riyan.


Di perusahan Lan, Reyhan masuk ke dalam ruangan nya. Di dalam ruangan itu sudah ada Dinan yang duduk di sofa.


"Untuk apa kamu kesini?" Tanya Reyhan tanpa menatap Dinan.


"Reyhan, aku nggak mau datang ke pengadilan. Aku juga nggak mau cerai sama kamu! Kamu kenapa sih, nggak mau kasih aku kesempatan?!!"


Dinan sudah frustasi menanggapi masalah nya. Kenapa semua urusan nya bisa jadi seperti ini.


"Kamu nggak bisa mikir ya Dinan, apa saja yang sudah kamu lakukan?! Kamu bisa mikir nggak?!! Kamu sudah mencelakai orang, dan kamu juga sudah mematahkan kepercayaan aku selama kita menikah!! Sekarang kamu nyuruh aku untuk kasih kesempatan? Sudah nggak waras kamu!!" Tegas Reyhan dengan suara tinggi nya.


"Tapi Reyhan, aku mohon sekali ini saja." Dinan mulai menampakkan kesedihan nya.


"Aku nggak akan pernah percaya sama kamu!! Masih baik aku nggak bilang ke semua orang, kalau kamu adalah penyebab Nania celaka. Sekarang mending kamu keluar dari sini!! Kamu lebih baik perbaiki diri kamu lagi Dinan!!" Reyhan menggebrak meja nya dengan kuat.


Sentakan itu membuat Dinan takut, ia langsung keluar dari ruangan Reyhan. Tanpa sengaja Devan yang ingin ke ruangan Kakak nya itu menguping pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Maksud Kak Reyhan tadi apa, mencelakai Nania? Apa Nania yang di maksud itu,, Nania??" Gumam Devan sambil menutup mulut nya.


"Aku harus memastikan sendiri, sebelum aku melihat nya. Semoga saja bukan Nania yang aku kenal." Tapi Devan juga merasa aneh, karena sudah hampir dua minggu ini dia tidak pernah melihat Nania di gedung apartemen nya.


__ADS_2