Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Harus Berhati-hati


__ADS_3

Radit mengetuk pintu kamar Nania, dan pintu itu langsung di bukakan.


"Tuan Radit?"


Nania mengangkat satu alisnya, untuk apa Tuannya datang malam begini ke kamarnya. Tanpa menjawabnya, Radit nyelonong masuk begitu saja ke dalam kamar. Mau tidak mau Nania menutup pintu masih dengan rasa penasaran.


"Tuan ada apa kesini, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Nania mendekat ke arah Radit yang duduk di sofa single.


"Bagaimana, apa kamu sudah merasa baikan?"


"Saya sudah jauh lebih baik berkat Tuan Radit." Nania masih berdiri di dekatnya.


"Tidurlah, aku akan disini menjagamu."


Kalimat datar yang baru saja keluar dari mulut pria tampan itu membuat mata Nania tak berkedip, deru nafasnya berhenti sejenak. "Ma-maksud Tuan bagaimana?" Gadis itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Wajah Radit tidak mengeluarkan ekspresi apa-apa. Kedua kakinya ia luruskan dan taruh di atas kursi kecil pasangan sofa single itu. Radit memejamkan matanya.


"Tidurlah, aku tidak akan mengulangi perkataanku. Ini bukan saatnya membantah dari sebuah perintah!" Jawabnya cuek.


"Tapi Tuan..."


"Iya.. Iya Tuan, tapi Tuan Radit tidur di kasur saja. Biar saya yang tidur di sofa."


Sejenak tidak ada sahutan, tiba-tiba Radit membuka matanya dan menatap intens pada Nania. Membuat gadis itu gelagapan dan akhirnya menuruti perintahnya.


"Hmm, aku akan tidur.."


Nania dengan terpaksa tidur di ranjang, di temani Radit di sampingnya. Ritme suara hujan jadi penghantar tidur untuk mereka berdua.


Awalnya sulit untuk Nania tidur, ia memejamkan matanya berulang kali, dan kini ia benar-benar sudah tertidur. Radit yang pura-pura tidur menyadari itu pun tersenyum. Ia menjadi lebih dekat pada Nania.


Gadis yang awalnya ia anggap rendah, kini malah membuat folder baru di pikirannya.


Semakin malam semakin dingin suhu udara dalam kamar mereka. Mungkin karena hujan yang belum juga berhenti, membuat lapisan kaca jendela semakin dingin. Riyan tertidur pulas di balik selimut dalam kamarnya, Nania juga tidur nyenyak sekali dalam selimutnya. Berbeda dengan Radit yang merasa kedinginan.


Ia turun dari sofa dan naik ke tempat tidur, tanpa disadari Nania. Ia juga masuk ke dalam selimut, mereka tidur bersama dalam satu selimut malam ini.


Jendela yang tidak di tutup, membuat mentari menyapa sepasang insan yang masih berada di balik selimut. Tidak di sadari keduanya, Nania tengah berada dalam dekapan Radit. Bahkan bibir Radit menempel pada kening Nania.


Gadis itu mengerjapkan matanya lebih dulu, ia merasa ada yang aneh di sekujur tubuhnya. Seperti ada yang membelit tubuhnya, lalu ia membuka matanya perlahan.


Betapa terkejutnya Nania, melihat dada bidang pria yang di tutupi kaos putih tepat di depan hidungnya. Kemudian ia tersadar jika ada yang menempel di keningnya, Nania berusaha melepaskan pelukan Radit.


"Hmm...." Ia berusaha melepaskan, namun pelukan itu semakin erat.


"Tuan bangunlah... Saya tidak bisa bergerak." Pinta Nania dengan lembut.


Rasanya ia ingin marah, tapi tenaganya seakan tidak ada, dan lebih anehnya Nania, malah merasakan nyaman dalam pelukan Radit.

__ADS_1


Pria itu mengerjapkan matanya, ia tersadar dan kaget benda kenyal miliknya menempel di kening Nania.


"Astaga.." Ucap Radit melepaskan pelukannya.


Mereka berdua sontak duduk dan saling salah tingkah, "Kenapa aku bisa tidur disini?" Tanya Radit, ia kembali mengingat kejadian semalam. Rasa dingin melanda tubuhnya hingga ia perlahan ikut tidur bersama di ranjang Nania.


"Aku tidak sengaja, dan aku tidak melakukan apa-apa. Kamu tenang saja." Jelas Radit dengan wajah salah tingkahnya. Ia menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"I-iya Tuan.."


Kedua pipi Nania merona, ia merasa malu. Bisa-bisanya semalam ia tidur berpelukan bersama Tuannya. Ini di luar jangkauan dan dugaan Nania.


"K-kalau gitu saya ke kamar mandi dulu Tuan."


Gadis itu bangkit dan berlari ke kamar mandi. Ia menutup pintu kamar mandi dengan sedikit keras. Di balik pintu kamar mandi, Nania memegangi dadanya yang berdetak tidak karuan. Ia mengatur deru nafasnya.


"Manis sekali.."


Radit memegangi bibirnya sambil tersenyum melihat tingkah Nania yang lucu dan menggemaskan pagi hari ini. "Ah, sepertinya aku sudah kehilangan akal sehat. Aku harus periksa sama Dokter Tirta." Ia kembali tersenyum dan merebahkan kembali tubuhnya di kasur sambil bergerak tidak karuan.


Di kediaman rumah Kevin, ia tengah sarapan di ruang makan bersama istri dan juga anak-anaknya.


"Pa.. Aku ingin pergi ke Bali deh, seperti teman sekolahku." Ujar Kenzo lalu menggigit roti lapisnya.


"Memangnya anak papa ingin sekali ya liburan kesana?" Kevin tersenyum pada anaknya, dan di angguki Kenzo.


"Sepertinya anak-anak butuh liburan. Luangkan waktumu untuk liburan bersama." Ujar Sania dengan lembut.


Dalam hati Sania ia tersenyum puas dengan tingkah Kevin yang sekarang. Pasalnya Kevin memang belum merubah perasaannya pada Nania, namun dari laporan-laporan yang di berikan dari anak buahnya membuat Kevin menjaga jarak pada Nania.


Yang anak buahnya katakan, bahwa Nania terlihat bahagia menjalani kehidupan sehari-harinya belakangan ini. Itu membuat Kevin sedikit lega, mungkin lain waktu dia akan mencoba untuk mendekati Nania lagi.


Kevin juga urungkan niatnya untuk menceraikan Sania saat ini, karena Sania memohon untuk memperbaiki hubungan dengan dirinya. Tapi Kevin menolak keras, ia tidak ingin bercerai sekarang karena anak-anaknya. Jadi Sania selalu menjadikan kedua anaknya sebagai senjata untuk meluluhkan hati Kevin kembali.


Sania juga terlihat belum melakukan tindakan apa-apa lagi pada Nania, ia masih merencanakan sesuatu untuk kedepannya membalas perbuatan Nania. Ia masih sangat benci pada Nania karena telah merebut hati Kevin darinya.


"Ayo papa antar kalian ke sekolah.." Ajak Kevin.


"Tidak usah, anak-anak biar aku saja yang mengantarnya." Balas Sania mengulas senyum di wajahnya.


Kevin memangguk-angguk tanda setuju, "Ya sudah, kalau gitu aku ke kantor dulu. Papa berangkat dulu ya cantik dan jagoan papa." Pria itu mencium pipi kedua anaknya, lalu bergegas keluar.


Radit, Nania dan Riyan kembali ke Jakarta menggunakan mobil, setibanya di Jakarta Radit langsung meminta di antar ke apartemennya saja.


"Riyan, kamu balik saja ke kantor."


"Baik Tuan."


Saat Riyan ingin masuk ke dalam mobil, Nania juga ikut masuk ke dalam mobil. "Kamu mau kemana, Nania?" Tanya Radit.

__ADS_1


"Saya juga akan ikut ke kantor, Tuan."


"Tidak perlu, kamu turun sekarang!"


"Tapi Tuan, di kantor pasti banyak yang harus di kerjakan." Nania merasa tidak enak pada Riyan, ia menjadi bingung melirik ke arah Radit dan juga Riyan.


"No! Riyan, kamu bisa pergi sekarang."


"Baik Tuan." Riyan pun menjalankan mobilnya meninggalkan mereka di lobi apartemen.


Tiba di dalam apartemen milik Radit, keduanya duduk di sofa. Pria itu membuka jasnya dan menaruh nya ke samping.


"Kalau saja aku tidak mengecek Cctv dalam apartemen ini. Mungkin aku tidak akan tahu jika kamu pergi bersama Ibumu."


Nania langsung menunduk, ia merasa malu pada Radit yang selalu tahu masalahnya. "Maaf Tuan.." Jawab Nania dengan lembut.


"Kalau bukan juga aku yang menghubungi sahabatmu, aku tidak akan tahu kalau hubunganmu dengan Ibumu sedang tidak baik."


Pria itu menggulung kemejanya sampai ke siku, ia membuka dua kancing baju kemejanya bagian atas.


"Saya juga tidak tahu, bila akan terjadi seperti ini Tuan. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya pada Tuan Radit."


Nania merasa bersalah, ia duduk di sofa dekat Radit yang membentu L di ruangan itu. Manik matanya menahan air mata. Jangan sampai air mata itu lolos dari pelupuk matanya.


"Sudahlah, lupakan! Aku tidak ingin kamu ada masalah lagi. Kedepannya kamu harus berhati-hati dan menjaga diri dengan baik. Jangan sampai terjadi lagi kejadian yang akan merugikanmu."


Nasihat yang keluar dari mulut pria tampan itu membuat hati Nania terenyuh, ia merasa di perhatikan pada orang lain. Karena selama ini yang selalu perhatian padanya hanya Delisha.


"Iya Tuan, terima kasih atas nasihat dan juga perhatiannya."


"Aku bilang seperti itu karena kamu Sekertarisku, dan kamu selalu melibatkan aku. Jika kamu terlibat masalah lagi, yang rugi juga aku. Semua pekerjaan jadi tertunda dan menumpuk."


Radit membuang muka, ia merasa gengsi untuk mengakui sikap perhatiannya yang ia berikan pada Nania.


"Iya Tuan."


"Jangan berpikir yang tidak-tidak, ingat statusmu sebagai bawahanku!" Cetus Radit berusaha menetralkan suasana yang terlihat mulai canggung.


"Baik Tuan. Eh, apa Tuan mau makan siang sekarang? Ini sudah pukul setengah satu siang. Sudah waktunya Tuan makan."


"Boleh."


"Kalau gitu biar saya masakan dulu menu makan siang untuk Tuan."


Nania bangkit dari duduknya, "Tunggu, memangnya kamu bisa masak?"


"Bisa Tuan, tapi tidak tahu jika rasanya akan pas dengan selera Tuan. Apa Tuan Radit ingin saya belikan makanan di luar?"


"Tidak perlu, aku akan mencoba masakanmu." Balas Radit lalu ikut berdiri.

__ADS_1


"Iya Tuan."


__ADS_2