Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Bab 35


__ADS_3

Zia di dampingi oleh Pak Hadi, memasuki gedung rumah sakit untuk menjenguk Papa Rudi dan menemui Gavin.


Meski Papa Rudi hanya Papa mertuanya, namun kekhawatiran Zia padanya sama seperti saat Zia mengkhawatirkan orang tuanya.


Begitu baik dan pedulinya Zia pada kedua orang tua Gavin, karna selalu menganggap mereka adalah pengganti orang tuanya.


Gavin keluar dari ruangan yang mereka sewa untuk menginap di sana agar bisa menjaga dan mengawasi Papa Rudi.


Gavin hendak menyusul istrinya yang baru saja sampai di rumah sakit.


Sejujurnya sedikit khawatir membiarkan Zia melakukan perjalanan jauh dalam keadaan hamil muda, namun Gavin tidak bisa melarang Zia untuk menjenguk Papa Rudi.


Keduanya mengukir senyum saat dipertemukan di koridor. Gavin berjalan cepat, menghampiri Zia kemudian menariknya dalam dekapan.


Dia terlalu rindu pada istrinya, ingin memeluk istrinya dalam keadaan hati yang hampir remuk.


Setidaknya dengan memeluk Zia, dia bisa merasakan ketenangan untuk sesaat.


Karna kekhawatiran dan kegelisahan hatinya tidak bisa mereda sebelum melihat kondisi Papa Rudi membaik.


"Mas,," Ucap Zia dengan suara tercekat.


Zia seolah biasa merasakan kehancuran yang saat ini tengah dirasakan oleh suaminya.


Pelukan Gavin yang begitu erat, terasa begitu memilukan. Zia tau jika saat ini Gavin sedang membutuhkan sandaran dan seseorang orang bisa membuatnya kuat.


Jika sudah menyangkut hidup orang tua, semua anak pasti akan merasakan kehancuran. Tidak memandang perempuan ataupun laki - laki. Karna sejati, mereka sama - sama memiliki hati.


"Kamu harus kuat demi Mama. Mama akan semakin sedih kalau melihat anak - anaknya rapuh. Karna kalian sumber kekuatan Mama untuk menghadapi cobaan ini." Tutur Zia sembari mengusap punggung suaminya untuk memberikan ketenangan.


"Saat ini hanya do'a yang bisa kita berikan untuk Papa. Kamu juga harus percaya kalau Papa bisa melewati masa sulitnya."


Zia dengan hati - hati memberikan nasehat dan semangat untuk Gavin.


Zia sadar, mengucapkan semua itu memang mudah, tapi tidak mudah dijalankan jika berada diposisi itu.


Gavin melepaskan pelukannya, kedua tangannya langsung menangkup pipi Zia, kemudian mengulas senyum lebar.


"Aku akan kuat selama ada kamu di sampingku,," Kata Gavin dengan nada pujian.


Zia ikut tersenyum, merasa senang karna Gavin bisa tersenyum lebar meski dia tau hatinya sedang risau.


"Kalau begitu aku akan menemani mu selama disini." Ujar Zia antusias. Dia juga ingin ikut andil berada di samping Mama mertuanya yang saat ini juga membutuhkan semangat dari orang - orang disekitarnya.


"Jangan mengada - ngada, disini tidak baik untuk baby kita,," Tegur Gavin tak setuju.


Gavin menunduk, mendaratkan kecupan dia perut Zia sembari mengusapnya pelan.


"Tapi Mas, aku juga ingin,,"


Ucapan Zia langsung di potong oleh Gavin.


"Sayang, kamu juga harus menjaga baby kita dengan baik. Jadi jangan berlama - lama di rumah sakit, apa lagi sampai menginap disini." Kata Gavin menasehati.


"Ada hotel di dekat sini Mas, kita bisa menginap di sana kan.?"

__ADS_1


"Aku rasa baby kita tidak mau jauh - jauh dari Daddynya." Zia mulai membujuk Gavin dengan menjadikan anak mereka sebagai alasannya.


"Benarkah.?" Tanya Gavin antusias. Matanya sampai berbinar. Zia mengangguk cepat.


"Bahkan semalam aku kesulitan untuk tidur lagi, dia pasti ingin di peluk Daddynya."


Zia membusungkan perutnya, mengusap perut itu dan menatap sedih.


"Baiklah, akan aku pikirkan nanti."


Gavin mulai mempertimbangkan keinginan dan pendapat Zia, karna sejujurnya dia juga tidak tenang meninggalkan Zia terlalu lama.


****


Gavin dan Zia menuju ruang ICU. Perasaan yang tadi tidak terlalu risau, kini terasa semakin tidak karuan setelah menatap ruangan itu.


Apalagi, didepan ruangan itu ada Mama Ambar yang sedang berdiri di pintu sambil mengintip lewat kaca kecil.


Hati siapa yang tidak akan pilu melihat pemandangan menyedihkan itu.?


Zia tau betul bagaimana perasaan Mama mertuanya.


"Mah,,," Panggil Zia lirih.


Mama Ambar terlihat lambat merespon panggilan Zia. Pikirannya yang kacau membuatnya tidak bisa berkonsentrasi dengan keadaan sekitar.


"Zia,,," Kata Mama setelah menoleh.


Mata Mama Ambar sangat sembab dan merah. Seperti habis menangis cukup lama.


Zia langsung memeluk Mama Ambar. Mengusap punggungnya berkali - kali tanpa berkata apapun. Zia hanya ingin menjadikan dirinya sebagai tempat sandaran bagi Mama mertuanya.


Tak berselang lama, tangis Mama Ambar terdengar pecah. Zia bisa merasakan tubuh Mama mertuanya bergetar.


"Mama boleh menangis sampai merasa tenang."


"Aku tau ini tidak mudah, karna aku pernah ada diposisi seperti ini."


"Aku terus menangis sampai air tidak mau lagi mengalir, mungkin sudah habis karna terlalu lama menangis."


"Rasanya sedikit tenang setelah menangis, tapi tangisanku tidak memberikan pengaruh apapun pada kondisi mereka."


"Jadi aku berhenti menangis dan mulai memanjatkan do'a untuk kesembuhan mereka."


"Meski kita tidak bisa melawan takdir, setidaknya kita sudah mencoba untuk merubahnya dengan cara berdo'a."


Perlahan tangis Mama Ambar mulai melemah. Tubuhnya juga tidak lagi bergetar.


Zia hanya bisa merasakan tarikan nafas Mama Ambar yang begitu berat. Terus melakukannya berulang kali hingga keadaannya semakin tenang.


Mama Ambar melepaskan pelukannya. Dia menatap Zia dengan tatapan yang sulit untuk di jelaskan.


"Maafkan Mama,," Ucapnya tulus. Mama Ambar meraih tangan Zia dan menggenggamnya.


"Kesalahan Mama terlalu besar, permintaan maaf mungkin tidak akan sebanding dengan apa yang sudah Mama lakukan pada kamu, sekalipun Mama mengucapkan maaf setiap saat pada kamu."

__ADS_1


Mama menunduk penuh sesal.


Zia yang selama ini ada untuknya setiap kali berada dalam keadaan terpuruk, tapi pernah dipatahkan hatinya hanya karena tak kunjung hamil.


Seandainya saja itu bukan Zia, mungkin permintaan maaf dari Mama Ambar tidak akan mudah untuk di terima.


"Aku sudah memaafkan Mama,,"


Zia mengukir senyum tulus. Zia paham akan kekurangan manusia yang menjadi tempatnya salah dan khilaf.


Meski memaafkan itu berat, tapi menaruh kebencian dan dendam pada seseorang hanya akan menghancurkan diri sendiri.


...****...


"Mama yakin tidak mau ikut kita.?" Tanya Zia.


Dia sudah menanyakan hal itu 3 kali. Mengajak Mama mertuanya untuk istirahat di hotel, tapi Mama Ambar terus menolak dengan alasan tidak mau meninggalkan suami.


"Kalian saja, Mama akan tidur di ruangan sebelah. Lagipula sudan ada Sari yang menemani Mama."


Mama melirik asisten rumah tangganya yang baru datang 1 jam lalu.


Dia sengaja menyuruh Sari datang untuk menemaninya dan membawakan baju ganti serta perlengkapan yang lainnya.


"Ya sudah, kami ke hotel dulu." Kata Gavin.


"Jangan lupa hubungi aku kalau ada apa - apa."


Mama Ambar mengangguk.


Gavin dan Zia bergegas ke hotel untuk menginap di sana.


"Kamu beli baju untuk kita sebanyak itu Mas.?"


Tanya Zia heran.


Dia menatap deretan paper bag yang ada di jok belakang mobil Gavin.


Gavin memang baru saja pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli baju ganti karna dia maupun Zia tidak membawanya.


"Hemm,," Gavin hanya mengeluarkan deheman datar. Dia sibuk sibuk mengarahkan mobilnya untuk keluar dari basement rumah sakit.


"Ya ampun Mas, kamu itu,,,"


Zia menghentikan ucapannya saat jari telunjuk Gavin menempel di bibirnya.


"Nanti saja protesnya Zi, aku lelah."


"Badanku juga tidak enak, rasanya lengket sejak tadi pagi belum mandi." Keluh Gavin.


"Tunggu setelah aku mandi,,"


Tuturnya lembut, sembari mengusap kepala Zia.


Zia mengangguk paham. Penampilan Gavin memang sudah acak - acakan dengan wajah yang terlihat kelelahan dan menahan kantuk.

__ADS_1


Untungnya ada hotel di dekat rumah sakit itu, jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai disana.


__ADS_2