Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Bab 24


__ADS_3

Nindy menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menatap Gavin yang duduk depannya sambil terus menatapnya tajam. Gavin terlihat menahan amarahnya pada sosok wanita yang sudah 3 tahun bekerja dengannya itu. Gavin tidak pernah menyangka Nindy melakukan perjanjian dengan sang mama, dengan bersedia menjadi istri keduanya.


"Apa yang sudah di janjikan oleh mama saya.?!!" Gavin terlihat geram.


"Berapa banyak yang kamu butuhkan.?!" Tambahnya lagi dengan suara yang semakin tinggi.


Nindy semakin menunduk, memainkan ujung roknya dengan kedua tangan.


Wanita itu kebingungan untuk menjelaskan pada Gavin.


"Ayo katakan.! Dan kamu bisa keluar dari pekerjaanmu sekarang.!"


Gavin menggebrak meja pelan, namun cukup menarik perhatian pengunjung cafe.


Gavin memang sengaja mengajak Nindy bertemu di cafe. Di sana tidak akan ada yang mengenalinya, ketimbang harus mendatangi Nindy di kantor.


"Sa,,,saya minta maaf Pak,," Ucap Nindy lirih. Dia masih belum berani menunjukan wajahnya.


"Saya tidak keberatan untuk diceraikan setelah memiliki anak,,"


"Saya akan memberikan anak untuk Pak Gavin dan Bu Zia,," Nindy sedikit melirik Gavin. Wanita itu seakan pemasaran dengan reaksi Gavin setelah mendengarkan ucapannya.


Sayangnya Gavin tersenyum kecut. Tatapan laki - laki itu justru berubah menjadi tatapan yang seolah jijik melihat wanita seperti Nindy.


"Kamu bicara seolah tidak punya hati dan harga diri.!" Cibir Gavin.


Entah apa yang ada di pikiran Nindy. Dia dengan mudahnya akan memberikan anaknya pada Gavin dan Zia nantinya. Dia memohon seperti wanita yang tidak punya harga diri, dan menukar anak dengan uang, seperti ibu yang tidak berhati.


"Saat ini harga diri tidak terlalu penting untuk saya Pak,," Sahut Nindy tegas. Wanita itu sudah berani mengangkat wajahnya. Dia menatap Gavin dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Ada yang jauh lebih penting dari harga diri saya. Itu sebabnya saya bersedia melakukannya, tanpa perlu Pak Gavin tau apa alasan saya,,"


"Saya tidak peduli Pak Gavin akan menganggap saya seperti apa. Mari kita jalankan saja perintah ibu Ambar. Semakin cepat dijalankan, maka akan semakin cepat pula berakhir,,"


Nindy berkata tanpa keraguan. Wanita itu seakan sudah memikirkan matang - matang keputusan yang sudah dia ambil 1 minggu yang lalu.


"Kamu benar - benar gila.!" Geram Gavin.


"Sampai kapanpun saya tidak akan ikuti permainan kalian.!"


"Dan mulai besok jangan tunjukan wajah kamu lagi di hadapanku.! Kamu saya pecat.!" Seru Gavin tegas. Dia beranjak dari duduknya, namun Nindy ikut beranjak dan memegang erat tangan Gavin.


"Pak saya mohon turuti saja permintaan Ibu Ambar. Saya janji tidak akan menganggu kalian setelah melahirkan anak untuk,,,


Gavin menepis kasar tangan Nindy. Tatapan Gavin semakin berapi - api pada sekretarisnya yang selama ini dia pikir wanita baik - baik.


"Jangan bermimpi Nindy.!" Geram Gavin di telinga Nindy, kemudian meninggalkan wanita itu begitu saja.


Gavin keluar dari cafe dengan kedua tangan yang mengepal erat. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran sang mama.


Rupanya mama Ambar benar - benar ingin menjalankan ide gila ini. Yaitu mencarikan istri kedua untuknya agar bisa memiliki anak.


Tanpa sepengetahuan Gavin, mama Ambar sudah merencanakan semua itu dengan Nindy.


Bahkan hari pernikahan mereka akan digelar 1 minggu mendatang.

__ADS_1


Dan Gavin baru tau kemarin saat di telfon oleh mama Ambar.


Itu sebabnya pagi tadi dia malas berangkat ke kantor karna tidak ingin berlama - lama melihat Nindy.


...****...


Zia sudah berurai air mata, tapi mama Ambar terus berbicara dari seberang sana.


Jari - jarinya bahkan terasa melemah memegang ponsel yang dia tempelkan di telinganya.


Kata demi kata yang di ucapkan oleh mama Ambar berhasil mencabik - cabik hatinya.


"Jangan larang Gavin untuk menikah lagi.!"


"Mama harap kamu tidak menggagalkan pernikahan mereka nantinya."


"Nindy sudah berbaik hati untuk meminjamkan rahimnya, harusnya kamu senang karna nanti bisa mengurus anaknya."


Mama Ambar seolah sedang berbicara pada benda mati yang tidak memiliki hati dan perasaaan. Dengan ringannya mengeluarkan ucapan yang mampu menghancurkan hati seorang istri.


"Aku tidak pernah melarang mas Gavin untuk menikah lagi, asal dia lebih dulu menceraikanku.!"


"Kami belum bercerai mah, jadi tolong jangan bahas pernikahan mas Gavin dengan wanita lain.!"


Tegas Zia dengan suara yang bergetar. Dia berusaha menahan tangisnya agar tidak semakin pecah. Meski berpura - pura tegar itu sangat menyakitkan.


"Tapi Gavin tidak mau bercerai.!"


"Kamu Terima saja pernikahan mereka. Hanya 1 tahun, atau sampai Nindy melahirkan anak Gavin,,!"


"Gavin dan Nindy sudah setuju, asal kamu tidak mengacaukan rencana mama, semuanya akan baik - baik saja."


"Jadi kamu harus terima keputusan kami,,!"


Tambahnya lagi.


Zia yang sudah tidak sanggup, akhirnya mematikan sambungan telfon dari mertuanya itu.


Tangis Zia semakin pecah, membayangkan Gavin akan menikah lagi dalam waktu dekat. Terlebih wanita yang dipilih mama Ambar sebagai istri kedua Gavin adalah Nindy.


Tapi sampai saat ini Gavin justru tidak memberi tau apapun padanya.


Sebuah pesan yang masuk di ponselnya, membuat Zia menghentikan tangisnya.


Dia membuka pesan yang dikirimkan oleh Mitha.


'Bukankah ini pak Gavin dan sekretarisnya.?'


Di bawah pertanyaan itu ada foto Gavin dan Nindy.


Foto yang menunjukan keduanya saling menatap dan Nindy memegang tangan Gavin.


Zia tersenyum sinis. Dia ingat dengan kata - kata Gavin saat laki - laki itu akan keluar dari rumah.


Kata - kata yang menggambarkan kalau hubungan mereka akan baik - baik saja.

__ADS_1


Tapi nyatanya saat ini Gavin justru yang menancapkan duri dalam rumah tangganya.


Zia mengepalkan tangannya. Sorot matanya begitu tajam menatap dua orang yang ada di dalam foto tersebut.


"Aku ikuti permainan kalian.!!" Geram Zia penuh amarah.


Dia segera menghapus air matanya. Rasanya tidak ada gunanya lagi menangisi rumah tangganya.


Sudah tidak ada harapan lagi untuk mempertahankan rumah tangga bersama Gavin.


Terlebih Gavin sudah bersedia untuk menuruti permintaan mama Ambar dengan menikah lagi dengan Nindy.


Jangan di tanya lagi seperti apa hancurnya Zia saat ini. Dia tidak menyangka Gavin akan melakukan semua ini padanya. Bahkan Zia tidak punya pikiran jika Gavin keluar untuk menemui Nindy.


Pada akhirnya apa yang di takutkan Zia mungkin akan segera terjadi. Perpisahan, satu kata yang mampu menghancurkan segala kenangan indah dan cinta yang selama ini ada di antara mereka.


...****...


Sampainya di rumah, Gavin bergegas masuk sembari memanggil Zia.


Laki - laki itu membawa 2 gelas cup berisi jus mangga dan jeruk.


"Zi,,,,!" Teriak Gavin sekali lagi.


Namun yang menghampiri Gavin justru asisten rumah tangganya.


"Ibu ada di taman belakang Pak,,," Tuturnya sopan sembari menjulurkan tangan ke arah taman belakang.


Gavin hanya mengangguk, lalu pergi ke taman belakang.


Gavin mengembangkan senyum, melihat Zia dari kejauhan. Wanita itu sedang memetik mawar merah dan mawar putih yang bermekaran.


"Cantik seperti kamu,,," Puji Gavin.


Zia berhenti menatap bungan mawar yang ada di tangannya. Dia menoleh, menatap Gavin dengan seulas senyum tipis yang terlihat menyayat hati. Sayangnya Gavin tidak menyadari hari itu.


Zia meraih vas bunga yang sudah dia siapkan. Satu persatu tangkai bunga itu dimasukan kedalam vas bunga bersisi air.


Tatapan Zia begitu dalam pada bunga yang ia susun satu persatu.


"Mawar ini bahkan jauh lebih berharga, selain cantik dia juga berguna.'"


"Berbeda dengan ku,," Ucap Zia dengan nada menyindir.


"Kamu jauh lebih berharga dari apapun,," Sahut Gavin dengan senyum yang mengembang sempurna. Dia berdiri di belakang Zia dan memeluknya. Zia tidak memberikan respon apapun, hanya diam membiarkan Gavin memeluknya.


"Aku bawa jus mangga kesukaan kamu,,," Bisiknya di telinga Zia, sembari mengangkat tangannya yang memegang kantung plastik berisi jus.


Karna tidak mendapatkan respon dari Zia, akhirnya Gavin menuntun wanita itu menuju kursi panjang di taman itu.


Zia menatap Gavin dengan nanar. Laki - laki itu masih saja bungkam. Seakan tidak ada niatan untuk memberitahukan pernikahannya dengan Nindy.


...****...


Lama nggak up😔. Masih pada stay kan.?

__ADS_1


__ADS_2