
Di kediaman Revan sebelum berangkat ke club. Dinan memaksa suami nya untuk mengajak nya.
"Sayang, biarkan aku ikut ya.. Aku ingin menemanimu." Rengek Dinan merangkul lengan suami nya.
"Tidak sayang, aku akan pergi ke Club, bukan untuk bermain golf. Kamu di rumah saja ya.." Balas Revan.
Ia tidak ingin istri nya pergi ke tempat seperti itu, tapi bukan Dinan nama nya jika dia tidak menginginkan sesuatu disana, ia akan merengek hingga di izinkan.
"Ayolah sayang, aku hanya ingin tahu saja. Lagi pula kan ada kamu di sana. Aku cuma mau menjaga suamiku."
Ia terus merengek pada Revan, hingga pria itu mengusap wajah nya dengan kasar, dan terpaksa ia mengizinkan Dinan untuk ikut bersama nya.
"Okay, kamu ikut. Tapi kamu tidak boleh ikut minum. Aku hanya ingin minum sambil merayakan nya saja dengan Tuan Radit." Jawab Revan dengan tegas.
"Siap sayang, terima kasih. Kalau gitu aku akan bersiap dulu." Dinan mengecup bibir suami nya lalu pergi ke kamar nya.
Revan yang mendapati perlakuan istri nya yang manja. Di buat geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
"Astaga Dinan.. Usia mu sudah ingin kepala tiga. Tapi rengekkan mu selalu membuatku luluh." Ucap Revan yang masih duduk di sofa.
Setelah bertemu dengan Radit di sana. Dinan tersenyum puas. Ia memang ingin memastikan Radit datang ke club bersama Nania atau tidak.
Memastikan itu semua dengan mata kepala nya sendiri, mampu membuat Dinan tersenyum puas. Ternyata dugaan nya benar. Ia kembali menginginkan sesuatu untuk menjebak adik nya, agar bisa menikah dengan Radit.
Dengan begitu, ia akan lebih mudah mendapatkan setengah saham yang di miliki Radit. Revan sendiri tidak mengetahui motif istri nya.
Tapi Revan memberikan kepercayaan akses untuk Dinan mengetahui semua aset yang di miliki Keluarga Lan.
"Ingin tambah lagi soft drinks nya?" Tawar Dinan pada adik nya.
Nania menggelengkan kepala nya. "Tidak perlu, ini saja cukup." Balas nya.
Dinan kembali tersenyum getir, 'Sial.. Aku harus bisa membuat dia minum lagi, kali ini aku akan membuat dia merangkak ke atas ranjang Tuan nya sendiri.' Batin Dinan menyeringai.
Radit membisikan sesuatu pada Nania, "Kamu ingin coba minum?" Tanya Radit meledek Nania.
"Tidak Tuan, terima kasih."
Nania membalas nya dengan berbisik juga, "Satu gelas saja. Yakin kamu tidak menginginkan nya? Aku akan menjagamu." Rayu pria itu lagi pada Sekertaris nya.
Revan melihat kelakuan Radit yang menyikapi Sekertaris nya nampak spesial itu, hanya bisa terkekeh.
"Astaga, apa ini seperti di cerita novel. Mencintai Sekertarisku." ia terkekeh pelan. Sedangkan Dinan merasa jengkel melihat kedua insan di hadapan nya terlihat romantis.
"Tidak Tuan, aku tidak mau." Nania tetap kekeh pada pendirian nya.
Kejadian di Bandung waktu itu sangat memalukan. Bagaimana kalau nanti diri nya tidak tahu akan melakukan seperti apa, tambah lagi Radit sekarang suka melakukan hal yang membuat Nania suka membeku di tempat.
"Aku permisi ke toilet sebentar ya, Tuan."
__ADS_1
Nania izin untuk pergi ke toilet, Radit pun mengangguk. Ia kemudian keluar dari ruangan VIP menuju toilet khusus tamu VIP yang ada di ujung lorong.
"Aku juga ingin pergi ke toilet dulu ya." Ucap Dinan menyusul Nania.
Radit memicingkan mata nya. Ia seperti merasa Nania dan Dinan ada sesuatu yang ia tidak ketahui. Tapi entahlah, Radit tidak ingin mengurusi hal itu.
Di sebuah kamar mandi, Nania berdiri di depan cermin sambil membenarkan sedikit baju nya. Lalu mencuci tangan di wastafel.
"Seperti nya adik ku sudah tumbuh menjadi anak yang dewasa dan cerdas. Mangsamu kali ini cukup berkelas sekali." Serka Dinan dari belakang.
Nania melirik Dinan dari pantulan cermin. "Apa maksud Kakak?" Tanya nya datar.
"Kamu mengincar Tuan Radit kan?" Bisik nya.
"Itu bukan urusan Kak Dinan." Jawab Nania tegas. Ia memang merasa ini semua bukan urusan Kakak nya lagi. Di tambah hati Nania saat ini telah membeku pada Kakak nya yang sangat angkuh.
"Aku akan menolong adikku untuk mendapatkan nya." Dinan mengangkat sudut bibir kanan nya.
"Tidak perlu Kak, aku bukan adikmu lagi. Semua urusanku tidak perlu Kak Dinan sangkut pautkan lagi dengan diri Kakak. Aku tahu mana lelaki yang terbaik untukku." Balas nya dengan lembut tapi sungguh menekan.
Dinan mengepalkan tangan nya. "Bukan kah tujuanmu datang ke Jakarta memang ingin mencari pria kaya raya." Ledek sang Kakak menggoda nya.
"Maaf, tapi aku bukan Kak Dinan. Yang rela meninggalkan keluarga demi pria kaya seperti, Tuan Revan."
Kini Dinan kehabisan kata-kata. Ia menampar Nania detik itu juga. Plak!!! Tamparan keras mendarat di pipi halus adik nya.
Nania memegangi pipi nya, "Kenapa Kak? Yang aku katakan benar kan!." Gadis itu semakin merasakan sakit di hati nya.
"Benar! Kalau gitu, jangan pernah Kak Dinan ikut campur urusanku juga." Nania tersenyum getir dan pergi meninggalkan Dinan.
"Sia*lan Nania!! Aargghh..." Kesal nya sendiri di dalam toilet.
Begitu balik ke dalam ruangan VIP, Radit melihat pipi Nania sedikit merah. Karena sudah larut malam juga. Akhir nya Radit pamit pada Revan untuk pulang lebih dulu.
"Tuan Revan, sayang sekali. Seperti nya saya ada urusan mendadak, saya harus pulang duluan. Lain kali saya yang akan mengundangmu." Ucap Radit.
"Ah ya. Tidak apa-apa. Silahkan Tuan Radit jika anda ada urusan. saya akan menunggu undangan nya." Balas Revan tersenyum.
"Terima kasih, kami pergi dulu."
Radit menyuruh Nania dengan kode dari mata nya untuk segera pergi. Gadis itu pun menurut, mereka akhir nya keluar dari ruangan itu.
Saat keluar tangan kekar Radit kembali merangkul pinggang Nania, gadis itu menoleh ke arah Radit. Wajah tampan itu hanya melihat ke depan dengan datar.
Dari belakang Dinan melihat kedua nya pergi semakin mengepalkan tangan nya.
"Benar-benar sial!!"
Ketika di dalam mobil, Radit sudah siap menjalankan mobil nya. Tapi Nania belum memakai seatbelt nya.
__ADS_1
"Tuan, biar saya saja yang menyetir." Pinta nya dengan lembut.
"Kenapa?"
Pria itu menoleh, Nania jadi merasa gugup, karena Radit menatap nya dengan tatapan yang tidak biasa.
"Em, Tuan kan habis minum, biar saya saja yang mengendarai mobil ini."
Tidak ada balasan yang keluar dari mulut Radit, pria itu malah membuka seatbelt nya dan mendekati Nania.
Gadis itu meremas ujung dress nya kala Tuan nya mengikis ruang di antara mereka. Perlahan Radit mendekat, degup jantung Nania semakin tidak karuan.
Radit menarik seatbelt dari sisi kiri Nania sangat dekat hingga deru nafas mereka saling menyapa. Klekk!! Seatbelt itu terpasang sempurna. Tapi Radit belum juga menjauh.
"Hanya minum lima gelas tidak akan membuatku mabuk." Ucap pria itu dengan bangga.
Kemudian ia menyentuh pipi kanan Nania dengan lembut. Rasa hangat di pipi itu terasa di telapak tangan Radit. Nania sedikit bergerak memundurkan kepala nya.
"Ada apa dengan pipimu?" Tanya Radit lembut.
Baru kali ini Nania mendengar Radit berbicara pada nya dengan nada yang lembut sekali. "T-tidak kenapa-kenapa Tuan."
"Benarkah?"
"Iya Tuan."
"Tapi ini sedikit merah dan terlihat memar."
Radit meneliti pipi gadis itu, karena benar saja. Pipi kanan Nania memang sedikit agak memar dan merah. Dinan menampar nya sangat keras, hingga lubuk hati Nania jauh merasakan lebih sakit dari tamparan tadi.
"Sungguh ini bukan apa-apa Tuan. Mungkin karena aku tidak biasa memakai bedak." Bohong nya mengalihkan pembicaraan.
"Kamu ingin membohongiku? Jika karena bedak tidak akan seperti ini Nania.." Protes Radit.
Bagaimana bisa Nania berbohong pada seorang pria yang mengerti tentang produk kecantikan, apa Nania lupa dimana ia bekerja sekarang.
"Baiklah kalau kamu tidak ingin bilang. Aku akan menghukum mu saat kita sudah sampai di apartemen."
Pria itu menjauh sambil memakai seatbelt nya lagi, dan menjalankan mobil nya. Nania menjadi takut mendengar kalimat yang baru saja Tuan nya bilang.
"Hukuman apa Tuan, kenapa anda harus menghukumku?" Tanya Nania ragu.
"Itu karena kamu sudah berani bohong padaku, aku tidak suka mempunyai Sekertaris yang suka berbohong." Jawab nya tanpa menoleh.
Suasana mendadak dingin, membuat Nania meremat tangan nya sendiri.
"Tapi bagaimana jika itu urusan pribadi Tuan, bukan urusan pekerjaan." Jawab Nania membela diri.
"Tetap saja kamu berbohong kan?"
__ADS_1
Nania hanya diam tidak bisa menjawab. "Kamu diam, baiklah.. Aku anggap itu benar, dan kamu harus terima hukuman nya."
Mobil itu berjalan menambah kecepatan nya. Hingga mereka sudah sampai di parkiran gedung apartemen nya.