
Delisha masih sedih melihat keadaan Nania di hadapan nya sekarang ini. "Sebenar nya apa yang terjadi padamu Nania? Kenapa bisa sampai seperti ini, aku begitu khawatir mendengar kamu kecelakaan." Tanya sahabat nya yang cemas.
Nania tersenyum, ia menatap ke atas dan kembali menatap sahabat nya.
"Aku juga nggak tahu Del, kenapa aku bisa seperti ini. Tiba-tiba saja mobil yang aku kendarai di tabrak dari belakang, aku hilang kendali karena jalanan nya tidak luas, jadi aku menabrak pohon. Setelah itu, aku sadar sudah ada di sini." Jawab Nania.
"Di tabrak?"
"Hemm.."
"Tapi orang yang menabrak kamu bagaimana?"
"Itu dia, aku juga tidak tahu Del. Radit nggak ngomong apa-apa. Aku belum menanyakan nya juga, aku nggak mau dia jadi berpikir yang lain. Biarlah saja, mungkin ini memang musibah untukku." Nania sebenar nya juga merasa ada yang janggal.
"Tapi Mas Riyan bilang, kalau orang yang menabrak kamu itu sudah melarikan diri. Aku jadi curiga.." Delisha memang sempat di ceritakan kronologi kecelakaan Nania dari Riyan.
"Ciee... Panggil nya Mas Riyan sekarang. Sudah jangan terlalu pikirkan masalah itu, aku di sini baik-baik saja bersama kalian." Nania memegang tangan Delisha yang tersipu malu.
"He he, i-iya.. Tapi baik-baik apa nya? Kaki kamu saja di gips seperti ini, kepala di perban. Cih, kamu memang sahabatku yang sok kuat." Delisha menatap Nania dengan penuh penekanan.
"Bukankah ini terlihat lucu?" Nania malah bergurau berekspresi seperti zombie yang menakut-nakuti Delisha, hingga kedua nya tertawa bersama.
Riyan masih mengobrol dengan Radit di living room. "Saya juga sedang meminta tim yang lain untuk mengecek toko-toko di sekitar jalanan sana yang menggunakan Cctv Tuan. Semoga saja ada hasil nya."
"Iya semoga saja. Urusan kantor bagaimana?"
"Beres Tuan, semua nya aman. Saya sudah membawa berkas dan laporan yang perlu Tuan tanda tangani di tas."
"Hm, baiklah."
Samar-samar mereka mendengar tawa dari gadis nya, hingga membuat Radit penasaran dan menghampiri nya.
"Ehemm.. Kayak nya ada yang senang sekali." Tegur Radit berdehem dan duduk di sofa.
"Eh, Tuan.." Delisha jadi tidak enak.
"Nggak usah panggil aku Tuan. Kamu memang kekasih nya Asistenku, tapi biar pacar kamu saja yang panggil aku Tuan, tidak denganmu." Ujar Radit melirik ke arah Riyan dengan sengaja.
"I-iya Kak."
Nania terkekeh melihat ekspresi Riyan yang sedikit pasrah dengan tingkah atasan nya itu.
'Kalau saja di dunia ini ada orang seperti Tuan Radit ada 10, aku yakin semua Asisten nya selalu di buat mengumpat dalam hati.' Sorak Riyan dalam hati.
Tentu saja Delisha jadi malu karena hubungan nya dengan Riyan sudah di ketahui oleh Radit.
__ADS_1
"Riyan, kamu sudah bawa apa yang aku pesan tadi?"
"Sudah Tuan, pakaian Tuan sudah saya bawa kesini." Jawab sang Asisten yang selalu memenuhi kebutuhan Radit kapan pun di minta.
"Delisha.. Apa kamu yakin dengan Riyan? Dia sudah tua dan gila bekerja. Aku takut nanti dia akan berubah menjadi Kakek-kakek." Canda Radit di dalam ruangan itu.
Gelak tawa Nania tak kuasa menahan, ia tertawa karena ulah Radit. Delisha pun ikut terkekeh, namun dia menatap Riyan penuh cinta yang sedang kesal di ledek.
"Hmm aku yakin, aku tetap menerima nya." Jawab Delisha.
Seakan Riyan menghangat karena jawaban dari kekasih nya. 'Terima kasih Baby.. Kamu memang yang terbaik, tapi bagaimana aku tidak gila bekerja. Kalau atasanku saja gila bekerja, emm bukan gila lagi. Tapi memang maniak.' Lagi-lagi Riyan mengumpat Radit dalam hati nya.
Yanti tidak menemukan sama sekali orang yang ia cari waktu itu. Kini diri nya semakin hari semakin penasaran.
"Aku sangat penasaran sekali dengan orang itu. Karena hanya dia yang tahu siapa orang tua sebenar nya. Ck, aku harus cari kemana wanita itu." Yanti bermonolog sendiri sambil mondar-mandir di dekat jendela kamar nya.
"Apa aku harus minta tolong Dinan,,, tapi itu tidak mungkin. Anak itu semakin kesini semakin galak saja pada Ibu nya."
"Sebaik nya besok aku cari lagi ke rumah susun itu." Yanti masih ingin mencari tahu kebenaran nya.
Di dalam kamar inap President suite hanya ada Nania dan Radit saja. Pasangan yang satu nya sudah pulang karena hari mulai gelap.
"Sayang... Apa kamu perlu sesuatu?"
"Hm, i-iya Mas, aku ingin ke toilet." Blusshh... Mendengar Nania memanggil nya dengan sebutan Mas, Radit mengulum senyum.
Radit membantu Nania bangun dari ranjang nya. Pria itu sempat bingung karena kaki Nania belum bisa untuk berjalan. Akhir nya Radit menggendong Nania ala bridal style.
"Aaakkh... Mas kenapa menggendongku?" Tanya nya di gendongan pria tampan itu.
"Lantas aku harus bagaimana? Kaki kamu belum bisa berjalan dulu. Biar aku gendong saja."
Pria itu masuk kamar mandi dan mendudukan Nania di closet. Sungguh ini hal memalukan untuk Nania.
"Biar aku tunggu di luar, nanti panggil aku jika sudah selesai ya Nana.." Begitu lembut Radit memperlakukan Nania. Gadis itu sampai terbuai di buat nya.
"Hm.. Makasih sayang." Jawab Nania tersenyum.
Beberapa menit kemudian Nania sudah selesai, Radit membantu kekasih nya lagi untuk sampai di ranjang. Ketika menggendong Nania ia tak sengaja tersandung kaki nya sendiri.
Hingga hampir sampai di ranjang, pria itu kehilangan keseimbangan nya dan.. Brugghhh...
Nania hampir saja jatuh ke lantai, namun Radit buru-buru menaruh tubuh Nania di atas ranjang rumah sakit. Tak sengaja tatapan mereka saling beradu.
Bibir ranum milik kekasih nya memang selalu menggoda dan candu untuk Radit. Bukan nya bangkit dari kungkungan nya. Radit malah meraih bibir itu dan mencium nya.
__ADS_1
Cukup lama, lembut sekali ia mempermainkan benda kenyal milik Nania. Gadis itu menyambut dan membalas nya. Entah kenapa ia selalu luluh dan merasa nyaman dengan Radit.
"Mmphh.."
Nania mulai kehabisan napas, pria itu akhir nya melepaskan pagutan nya. Ia mengelap bekas ciuman nya di bibir Nania menggunakan ibu jari.
"Maaf, aku sudah rindu dengan milikku yang ini." Radit menunjuk bibir ranum Nania. Gadis itu tersipu malu, dan menunduk.
"Lekas sembuh Nana.. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini." Radit memeluk kekasih nya. Nania ikut merasakan bagaimana kasih sayang Radit pada nya begitu besar.
"Terima kasih, karena selalu ada untukku. Aku akan segera sembuh, kamu tenang saja Mas."
Pintu di ketuk oleh petugas rumah sakit, petugas itu membawakan makan malam untuk Nania. Gadis itu begitu terkejut, karena menu makan malam Nania sangatlah menggoda dan mewah sekali.
"Mas, apa ini makanan dari restoran?"
"Hm, rumah sakit ini punya restoran di bawah, memang nya ada apa Nana?"
"Tidak, tapi kenapa makanan orang sakit bisa semenggoda ini." Nania tak berhenti mengalihkan pandangan nya dari menu makan malam mereka berdua.
"He he, Nana sayang.. Kamu tenang saja, makanan ini sudah di buat khusus, dan boleh di makan untuk orang yang sedang di rawat. Apa makanan ini lebih menggoda daripada aku?" Pria itu mendekati Nania.
"Tetap saja kamu yang lebih menggoda." Ups Nania keceplosan.
"Benarkah, bagaimana kalau kita melanjutkan yang tadi dulu sebelum makan malam?" Radit menggoda kekasih nya. Nania spontan mundur karena tubuh Radit semakin maju.
Pria itu mengecup kening Nania. "Aku bercanda sayang, ayo kamu makan dulu."
Huft.. Nania bernapas lega, mereka pun makan malam bersama. Karena makanan yang di antar memang khusus untuk dua orang sesuai permintaan Radit.
"Mas, kenapa harus membayar kamar semewah ini untukku. Aku bisa menggunakan kamar yang biasa saja." Tanya Nania di sela makan nya.
"Aku hanya ingin calon istriku merasa nyaman."
Lagi-lagi Nania di buat merona wajah nya. "Tapi ini berlebihan Mas." Radit menatap Nania dengan serius.
"Nana sayang.. Kamu tidak usah memikirkan hal lain. Pikirkan saja untuk kesembuhanmu yaa.. Aku akan mengabari Mama kalau kamu di rumah sakit."
"Jangan..."
"Loh, memang kenapa sayang?"
"A-aku tidak ingin Mama khawatir, Mas. Jangan menelpon nya yaa, please..." Gadis itu menunjukan puppy eyes nya, hingga Radit tertawa karena gemas.
"Baiklah, aku tidak akan melakukan nya. Asalkan...."
__ADS_1
"Asalkan apa Mas?"