
Nania sudah di pindahkan ke ruang rawat inap VVIP nya. Ia sudah mendapatkan pengobatan dari Dokter ahli bedah saraf.
"Bagaimana Dok, apa Nania bisa segera sembuh?"
"Nona Nania mengalami cedera otak sekunder, dimana fase ini, pasien mengalami gangguan fisiologis nya dan hipoksida pada area otak."
"Kami sudah memberikan obat dan akan memberikan tahapan dosis nya. Semoga saja pasien bisa segera sadar. Tapi kemungkinan jika pasien sadar, akan sulit untuk bisa normal kembali seperti biasa nya." Jelas Dokter dengan berat hati. Ia mengatakan segala nya yang memang terjadi.
"Maksud Dokter, Nania akan bagaimana?"
"Biasa nya pasien yang mengalami cedera otak sekunder, saat tersadar mereka bisa kehilangan separuh ingatan nya, atau karakter nya sedikit berbeda, bahkan ada juga yang mengalami kelumpuhan. Tapi secara pemeriksaan, Nona Nania memiliki kondisi tubuh yang cukup kuat, semoga saja tidak terjadi apa-apa ketika sadar nanti."
"Ya Tuhan.." Radit mendengar penjelasan itu langsung terenyuh.
"Anda tenang saja Tuan, kami akan melakukan yang terbaik buat pasien." Ucap Dokter menjaminkan nyawa pasien.
"Maaf Tuan Radit, saya permisi dulu. Sebaik nya anda juga beristirahat yang cukup."
"Ya Dok, terima kasih."
Lemas adalah hal yang Radit rasakan sekarang ini. Ia bersandar di tembok dan memejamkan mata nya. Menangkup wajah nya dengan kedua tangan. Lalu terisak sendiri, mencoba menerima takdir saat ini.
"Ya Tuhan.. Kenapa ini harus terjadi pada Nana." Lirih nya sendu.
Radit mendekati ranjang rumah sakit yang di pakai Nania. Ia duduk di kursi sebelah nya, menatap pilu wajah pucat kekasih nya.
"Nana... Bangun sayang,,"
Pria itu menceritakan semua kisah awal pertemuan mereka berdua, sambil menggenggam tangan nya. Nania seolah memberikan respon, air mata nya lolos dari pelupuk mata nya yang masih terpejam.
Radit yang melihat itu tersenyum, tapi air mata nya juga ikut menetes.
"Sayaang.. Kamu mendengar semua nya? Aku ada di sini Nana. Aku akan selalu bersama kamu di sini. Aku akan menunggu kamu Nana." Ucap pria itu dengan tulus.
"Jangan tinggalkan aku ya sayang.." Radit memohon dengan sangat.
Di pinggir jalan Ibukota Jakarta, Yanti sedang membeli sesuatu di warung, manik mata nya tidak sengaja menangkap wanita yang seusia nya melintas di depan warung. Wanita yang selama ini ia cari-cari keberadaan nya.
"Dia kan__" Sambil berpikir, Yanti mengikuti nya.
"Hei tunggu!!" Teriak Yanti.
Wati yang tadi nya sedang mencari pekerjaan, melirik ke arah suara yang meneriaki nya. Mata nya langsung melotot dan berlari kencang saat ia tahu yang meneriaki nya adalah Yanti. Orang yang selalu mengincar nya belakangan ini.
__ADS_1
"Haduh, mampus aku!"
Ia berlari sekuat tenaga, tidak ingin kehilangan jejak wanita itu lagi. Yanti ikut berlari mengejar Wati yang menuju arah jalan raya.
"Heii... Tunggu!!!"
"Berhenti!!"
"Tunggu!!"
"Heii..."
Meski napas nya sudah tersenggal-senggal Wati terus berlari dan belok ke arah jalan raya. Sambil kepala nya terus menengok ke belakang. Ia jadi kehilangan fokus pandangan nya, Wati tertabrak mobil yang sedang melintas kencang.
Ciiiiittt....Bbrruughhh!!
"Aaaaaaaak..."
Tubuh wati terpental ke atas dan jatuh ke aspal. Mobil mewah yang tidak salah pun menjadi korban atas kecerobohan Wati yang berlarian sembarang di jalan raya.
Lan yang duduk di belakang kendaraan mewah nya, ikut tersungkur ke depan dan terkejut.
"Ada apa?" Tanya Lan pada supir nya.
"A-anu Tuan.. S-saya baru saja nabrak orang yang tiba-tiba berlari di depan mobil Tuan." Ucap sang supir dengan gelisah.
Semua orang sudah ramai, bahkan kaca mobil Lan sudah di gedor-gedor oleh warga setempat. Yanti ikut menyaksikan tragedi barusan itu, langsung berlari menemui Wati yang sudah berlumuran darah.
"Ayo, cepat turun!!" Ketuk salah satu warga di mobil Lan.
"Pak, tolong cepat di bawa ke rumah sakit orang ini" Pinta Yanti.
"Ibu kenal sama orang ini?" Tanya warga.
"Nggak Pak, tapi kasihan Ibu ini, cepat kita bawa ke rumah sakit."
Karena Lan bukan orang yang suka lari dari tanggung jawab, sekalipun ia tidak bersalah. Lan sempat memijit kening nya dan turun dari mobil, lalu menyuruh warga untuk membawa Wati masuk ke dalam mobil Alphard nya dan pergi ke rumah sakit.
"Saya akan tanggung jawab, cepat bawa Ibu ini masuk ke mobil saya. Biar saya bawa ke rumah sakit."
"Ayo.. Ayo Pak, segera di angkat Ibu nya." Sorak warga setempat membantu Wati.
Yanti mengikuti mobil Lan dari belakang menggunakan ojek motor. Ia tidak ingin kehilangan jejak Wati lagi. Ia harus tahu sebenar nya anak yang ia rawat selama ini itu anak siapa?
__ADS_1
Tiba di rumah sakit, Wati segera di larikan ke ruangan IGD, ia langsung di tangani Dokter. Lan menghembuskan napas nya dengan berat. Ia lalu mengurus biaya rumah sakit Wati.
"Tuan, maafkan saya.. Saya benar-benar tidak bisa menghindar, karena Ibu itu langsung berlari di depan mobil Tuan." Sang supir masih terus merasa bersalah.
Lan tahu ini memang bukan kesalahan yang di sengaja oleh supir nya. Melainkan ini sebuah kecelakaan.
"Ya sudah Budi, ini semua bukan salah kamu. Ini murni kecelakaan. Lebih baik kamu pulang saja, bawa mobil nya pulang juga. Saya akan di sini dulu sampai Dokter keluar."
"Tapi Tuan, saya di sini juga tidak apa-apa. Saya akan menemani Tuan di sini. Ini juga tanggung jawab saya."
Budi sudah lama bekerja dengan Lan, bahkan jika Lan keluar Negeri pun ia di ajak. Untuk tetap menjadi supir nya selama di luar Negeri. Keahlian menyetir Budi bahkan sudah tidak di ragukan Lan lagi jika di Luar Negeri sekalipun.
"Ya sudah, kalau itu mau kamu."
Dari kejauhan Yanti mengawasi ruang IGD yang ada Wati di dalam nya.
"Sebaik nya aku tunggu di sini saja." Gumam nya.
Tak lama Dokter keluar dari ruang IGD, ia menghampiri Lan.
"Apa anda keluarga nya Tuan?"
"Bukan Dokter, tapi saya yang tidak sengaja menabrak nya. Bagaimana kondisi nya?" Jawab Lan.
"Begini Tuan, pasien perlu melakukan operasi kecil di bagian kepala nya, pasien mengalami patah tulang di bagian pergelangan tangan dan juga kaki nya. Oleh karena itu, pasien harus menjalani rawat inap untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit ini."
"Ya Dokter, tidak apa-apa. Lakukan saja yang terbaik untuk pasien. Saya akan bertanggung jawab untuk membiayai pengobatan nya."
"Ya Tuan, kalau begitu pasien akan segera melakukan operasi nya, dan di pindahkan ke kamar inap."
"Iya Dokter."
Dokter pun pergi, Lan merasa sedikit cemas dengan keadaan pasien. Ia pun menyuruh Budi untuk mengecek identitas korban.
"Budi, kamu tadi sudah menyerahkan tas Ibu itu ke petugas rumah sakit kan?"
"Sudah Tuan."
"Kalau gitu, cepat kamu cari tahu identitas Ibu itu, dan tanyakan juga sama petugas rumah sakit. Apa sudah ada keluarga nya yang bisa di hubungi?"
"Baik Tuan. Saya permisi dulu."
Budi pun menjalankan tugas nya sesuai permintaan Lan. Yanti mendengar sekilas pembicaraan Dokter dengan Lan yang belum ia ketahui nama nya.
__ADS_1
"Seperti nya Bapak itu menyuruh supir nya untuk mencari tahu identitas wanita itu. Sebaik nya aku ikuti supir itu saja, barang kali aku jadi tahu dimana ia tinggal dan siapa nama nya."