
Setelah puas pria itu melepaskan pelukannya. Nania menahan isak tangis dalam hatinya. Matanya sudah berkaca-kaca.
Perlakuan Radit kali ini memang sudah kelewatan. Tapi Nania masih memikirkan beberapa kali kebaikan Radit padanya, dan sudah sering ia menolongnya.
Nania hanya mampu dalam diamnya, hatinya kini hancur kembali. Apa Radit akan terus melakukan hal ini padanya, tapi kenapa Tuannya itu selalu menciumnya. Apa benar Radit memang mengira dia adalah wanita penggoda dan mura**han, sangat sakit hatinya sekarang.
"Apa begini memang sudah biasa kamu lakukan!" Radit menyeringai.
Nania masih diam saja, "Cih, ternyata memang benar! Baiklah, tiga juta untuk setiap kali aku melakukan hal itu, kamu bisa hitung berapa sisa hutang kamu!!"
Dengan kesal Radit meninggalkan Nania yang masih terduduk di atas meja. Ia masuk ke dalam kamarnya. Setelah Radit pergi, air mata Nania meluruh membasahi pipinya.
Ia menangis memegangi dadanya, entah kenapa kalimat yang di lontarkan Radit begitu menusuk hatinya. Apa lagi Radit menganggap setiap ciuman itu dia bayar tiga juta. Hati Nania begitu hancur.
"Hiks...Hiks.. Serendah itu kah aku dimatanya?"
Di dalam kamar Radit membasuh wajahnya di wastafel dalam kamar mandinya. Ia melihat ke cermin yang menampilkan dirinya.
"Cih, dasar semua wanita sama saja!"
Ia sedikit tidak tega melihat keadaan Nania yang berantakan akibat ulahnya tadi, Radit melihat bibir Nania sedikit bengkak sebelum pergi ke kamar akibat dirinya. Karena tadi Radit sempat emosi dan menggigit bibir gadis itu, juga menghisapnya dalam-dalam.
"Apa aku sudah keterlaluan?"
Keesokan harinya Nania sudah duduk di mejanya. Ia berangkat menggunakan bus ke kantornya. Sedangkan Tuannya itu sudah berada di dalam ruang kerja nya.
Setelah kejadian semalam, Radit berangkat lebih pagi dan tidak sarapan. Ia masih kesal jika melihat raut wajah Nania.
"Nania.." Riyan menegur lamunan gadis itu.
"Eh, Riyan.. Ada apa?"
"Untuk apa kamu pagi-pagi melamun."
"Bukan apa-apa kok." Nania pura-pura melihat layar PC nya.
"Tolong berikan ini pada Tuan ya, aku mau ke Divisi Pemasaran dulu." Riyan memberikan dua map ke meja Nania. "Kenapa kamu tidak memberi sendiri padanya." Bisik Nania pelan takut di dengar Radit.
"Kan kamu Sekertarisnya. Cie... Sudah resmi menjadi Sekertaris, selamat ya Nan." Riyan mengulas senyum.
"Hmm.. Iya terima kasih, lain kali aku akan mentraktirmu makan. Tapi tidak sekarang ya, he he."
"Beres, kalau gitu aku pergi dulu. Jangan lupa, langsung kamu kasih ya itu ke, Tuan." Riyan kembali mengingatkan sebelum pergi. "Iya aku akan mengantarkannya sekarang."
Gadis itu mengetuk pintu ruangan Radit, dan masuk ke dalamnya. Tapi tidak ada Radit di kursi kebesarannya.
__ADS_1
Di sofa juga ia tidak ada, samar-samar Nania mendengar suara orang yang sedang mual. Ia mendekat ke arah kamar mandi dalam ruangan Radit.
"Tuan...."
Nania langsung berlari menyusul Radit yang sedang muntah di dalam kamar mandi. Raut wajah Radit sudah pucat sekali, ia terlihat sangat lemas.
"Keluarlah, aku tidak apa-apa." Pinta Radit dengan lemah.
Namun Nania tidak mau keluar, ia membantu memegangi lengan Radit dan malah memijat tengkuk Radit.
Pria itu malah merasa tidak nyaman, karena ia sedang muntah, itu hal yang sangat menjijikkan tapi, Nania malah kelihatan tidak jijik sama sekali.
"Tuan, anda kenapa, anda baik-baik saja kan?"
"Uwekk.... Uwek..."
Setelah dirasa perut Radit baikan, ia membasuh wajahnya dan keluar di bantu dengan Nania. "Duduk disini dulu Tuan.." Ia membantu Radit duduk di sofa panjang.
Wajah Radit yang pucat, dan mengeluarkan keringat dingin di wajahnya. Nania sangat tidak tega melihat keadaan Tuannya. "Tunggu sebentar Tuan, saya akan buatkan anda minuman hangat."
Gadis itu berlari keluar ruangan dan beberapa menit kemudian kembali membawa nampan berisi teh hangat dan juga minyak kayu putih.
"Minum ini dulu Tuan."
Tanpa ragu Radit meraih gelas itu dan meminum teh hangat buatan Nania. "Apa anda masuk angin, Tuan?"
"Biar saya berikan minyak ini di punggung Tuan." Tawar Nania memperlihatkan botol minyak kayu putih yang selalu ia bawa di tas.
Pria itu melirik ke arah Nania, "Iya cobalah jika memang itu membuat lebih baik." Jawabnya.
Nania bingung untuk menggosokan minyak itu di punggungnya, ia masih ragu terdiam di tempatnya.
"Kenapa belum di pakaikan?"
"A-anu Tuan, bisakah anda buka jas dan kemejanya dulu?" Ia menjadi gugup, takut Radit memikirkan yang macam-macam padanya.
"Begini saja Tuan, saya bisa minta tolong pada Riyan untuk menggosokan ini pada punggung dan dada anda, bagaimana?" Tawar Nania dengan canggung.
Ruangan itu mendadak canggung untuk Nania tapi, tidak dengan Radit. "Tidak usah, kamu saja. Pakaikan itu di kamar, jangan disini!" Radit meminta Nania untuk ke kamarnya yang ada di dalam ruangan kerja Radit.
Kamar yang biasa ia gunakan jika ingin beristirahat.
"T-tapi Tuan.." Nania ragu mengikuti Radit.
"Apa kata orang lain jika melihat aku tidak berpakaian nanti?" Jawab Radit tidak ingin debat. Karena melihat wajah Radit semakin pucat, akhirnya Nania menuruti perintah Tuannya itu.
__ADS_1
"Iya Tuan."
Keduanya masuk ke dalam kamar yang berada di sudut ruangan kerja Radit. Sebuah kamar yang cukup luas dan di design khusus. Ada sebuah ranjang di dalamnya. Radit duduk di tepi tempat tidur, ia membuka jas dan juga kemejanya perlahan.
Nania mengalihkan wajahnya ke arah lain.
"Tunggu apa lagi? Cepatkan pakaikan!"
"B-baik Tuan."
Nania duduk di belakang Radit, ia menuangkan minyak itu ke punggungnya, menggosokannya secara merata, Nania juga melakukan pijatan kecil di punggung Radit. Punggung yang nampak kekar dari belakang, otot lengan Radit bahkan terlihat jelas di mata Nania dari belakang. Sepertinya Radit menikmati sekali pijitan kecil yang diberikan Nania.
"Cih, ternyata kamu memang pandai menggoda.." Ucapan pelan Radit masih dapat Nania dengar.
"Terserah Tuan saja mau mengataiku seperti apa. Aku tidak akan marah." Balas Nania yang memang ia tidak ingin berdebat pagi ini pada Radit. Pria itu cuma mengangkat satu alisnya.
"Sudah Tuan, untuk dadanya anda bisa memakainya sendiri. Ini minyaknya."
Nania mengulurkan tangannya ke depan memberikan minyak itu pada Radit, namun pria itu malah berbalik arah hingga berhadapan dengannya.
Sontak Nania langsung menutup matanya yang melihat dada bidang Radit tanpa balutan kemeja. "Aku tidak pernah menggunakan minyak ini, cepat pakaikan juga!" Pinta Radit.
"Cepat Nania! Kamu ingin berlama-lama disini?"
Akhirnya Nania mengalah, ia membuka matanya perlahan, lalu memakaikan minyak ke dada bidang milik Radit.
"Maaf Tuan." Ucapnya minta izin.
Nania mengoleskan minyak itu ke dada, tapi penglihatannya bergerak kesana dan kemari agar tidak fokus pada dada keras dan perut roti sobek itu.
Sesuatu ada yang mengalir dalam tubuh Radit, ia seperti tersengat listrik kala tangan Nania menyentuh dadanya. Pria itu memperhatikan wajah Nania.
"Sudah Tuan, kalau gitu saya permisi dulu. Sebaiknya anda istirahat saja."
Kala Nania hendak pergi, tangan kekar itu sudah mencegahnya lagi. Hati Nania bergetar, ia takut Radit akan menciumnya lagi.
"Maaf Tuan, tapi ini sedang di kantor, saya juga sedang tidak ingin membayar hutang." Jawab Nania pelan tanpa berani menatap Radit yang masih memegangi tangannya.
"Cih, memangnya aku ingin melakukan apa? Kamu berharap aku menciummu, hm?" Radit tersenyum tanpa di sadari Nania.
Wajah Nania berubah bersemu merah. Ia jadi merasa malu karena sudah terlalu percaya diri.
"Maaf Tuan.."
"Bangunkan aku dua jam kemudian! Aku akan tidur sebentar disini."
__ADS_1
"Baik Tuan, saya permisi dulu."
Nania keluar dari kamar itu, Radit malah tersenyum melihat tingkah konyol Nania. "Manis sekali.. Dia memang selalu menggodaku, ck." Ucap Radit dengan percaya dirinya.