Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Peliharaanku


__ADS_3

Keesokan hari nya Nania bangun lebih pagi, ia hendak membuat sarapan. Karena sudah lama ia tak membuat menu sarapan. Tapi siapa sangka, di dapur ia sudah menemukan sahabat nya yang sedang memasak bersama kekasih nya.


Delisha dan Riyan membuat sarapan di dapur sambil bermesra-mesraan.


"Baby, tolong berikan telur nya satu lagi." Pinta Riyan sambil mengulurkan tangan nya pada Delisha.


"Ini telur nya Mas. Apa ada lagi yang bisa aku bantu?" Delisha membantu kekasih nya menyusun makanan dan menyiapkan bahan-bahan yang di perlukan.


"Kamu bisa buat jus nya, hari ini bagaimana kalau kita buat jus apel di mix dengan jeruk?" Tanya Riyan mengeluarkan ide nya.


Delisha mengangguk, "Biar aku saja yang membuat jus nya." Potong Nania yang datang menghampiri mereka.


"Loh Nan, kamu sudah baikan? Apa masih sakit kepala nya, biar aku saja yang buat jus nya." Delisha membantah sahabat nya yang ingin membuat jus.


Tapi Nania tetap mengambil buah apel dan siap mengolah nya. "Aku sudah merasa lebih baik, biar aku saja yang membuat nya. Kamu bisa membantu Riyan lagi." Ujar Nania tersenyum.


Tatapan Delisha beralih ke Riyan. "Apa nya yang harus di bantu lagi, sejak tadi ia asik masak sendiri, huft." Keluh Delisha yang menatap Riyan begitu pandai memasak.


Akhir nya menu sarapan pun siap di sajikan. Beberapa makanan dan minuman sudah tertata rapi di meja makan.


"Kalau gitu aku panggil Mas Radit dulu ya." Nania baru melangkah, tapi Radit sudah datang dan rapi dengan setelan kerja nya.


"Apa kamu baik-baik saja Nana?" Tanya nya dengan wajah tampan rupawan itu.


"Em, itu- kenapa semua orang bertanya apakah aku baik-baik saja, aku sudah merasa lebih baik. Mari kita sarapan dulu." Nania langsung duduk di kursi makan. Mereka semua melakukan sarapan bersama di ruang makan.


Dinan pagi-pagi sekali sudah berangkat dari kediaman Lan menuju apartemen yang di tinggali suami nya.


Ya, dia akan mendatangi Reyhan di apartemen nya. Dinan menekan bel pintu apartemen itu, dan seorang pria membuka nya.


"Kakak Ipar?" Devan sedikit bingung.


"Di mana Reyhan, apa dia masih di dalam?" Tanya nya dengan yakin, kalau Reyhan masih tinggal di apartemen Devan.


"Apa maksud Kakak Ipar? Kak Reyhan tidak tinggal di sini, dia tinggal di apartemen nya sendiri. Apa Kakak Ipar tidak tahu?" Jawab Devan dengan santai. Bahkan ia masih tidak mengerti kenapa Dinan bisa mencari Reyhan di apartemen nya. Devan pikir dia sudah tahu.


Kening Dinan mengerut, dada nya bergemuruh, ia bahkan sedikit kehilangan oksigen karena susah bernapas.


"A-apa, ja-jadi Reyhan tidak ada di sini? Di-dia tinggal di apartemen nya?" Tatapan Dinan kosong. Ia masih seperti orang ling-lung.


"Iya Kak."


"Baiklah, kalau gitu aku pergi dulu."

__ADS_1


Dengan langkah gontai nya, Dinan pergi menuju parkiran mobil. Di dalam mobil ia buru-buru menelpon seseorang.


"Ayo angkat telepon nya, ck!!" Dinan berdecak kesal.


"Aaarrgghh!!!" Ia memukul-mukul stir mobil nya sendiri, dan bergegas pergi. Tapi di saat ia mengendarai mobil nya untuk keluar dari apartemen itu, ia melihat sosok wanita yang sangat ia benci.


Ya, Nania masuk ke dalam mobil Radit dan pergi bersama, melewati mobil Dinan di depan nya.


"Jadi dia benar masih hidup? Dasar wanita nggak tahu diri, lihat saja kamu Nania!! Kamu sudah berani buat aku kehilangan semua nya, kamu harus terima akibat nya!!" Sumpah Dinan sambil mencekal erat stir mobil nya.


Ia melaju kencang menuju apartemen Reyhan, ada yang lebih ia khawatirkan lagi dari masalah Nania bagi nya.


Setiba nya di sana, ia langsung menekan kode akses pintu apartemen milik nya bersama Reyhan.


"Reyhan... Reyhan!!!" Teriak nya sambil mencari keberadaan pria yang ia cintai. Tapi sayang nya, Reyhan sudah lebih dulu berangkat ke kantor sebelum Dinan datang.


Lalu Dinan mencari Yanti di kamar nya, wanita yang telah melahirkan nya pun tidak ada di dalam. Merasa frustasi kenapa semua jadi seperti ini, Dinan semakin geram dan berteriak tidak jelas.


"Aaarrrrghhh,,,, kurang ajar. Kenapa semua jadi begini?!!" Marah nya tak kunjung reda.


"Di mana Ibu, kenapa dia tidak ada di sini?! Jangan-jangan Reyhan sudah bertemu dengan Ibu." Ia menerka-nerka hal yang tidak ingin terjadi.


Yanti keluar dari apartemen setelah Reyhan berangkat kerja. Ia berniat pergi ke rumah sakit lagi untuk memastikan wanita yang ia tunggu waktu itu masih ada atau sudah pergi.


"Aku harus bertemu dengan wanita itu, semoga saja Wati masih ada di sana." Gumam nya sambil memasuki rumah sakit.


"Maaf Bu, tapi yang nama nya Wati di sini ada sembilan. Nama lengkap nya beliau siapa Bu?" Petugas itu bertanya kembali dengan Yanti.


Yanti menggaruk kepala nya pelan, benar juga yang di katakan petugas ini, bahwa yang nama nya Wati pasti memang banyak. "Em dia pernah di rawat di sini dua pekan yang lalu, kalau tidak salah di kamar dahlia. Apa pasien masih di rawat di sini, Sus?"


Petugas itu mencari informasi yang di katakan Yanti. "Oh pasien atas nama Ibu Wati yang di rawat di kamar Dahlia 18 ini sudah keluar dari rumah sakit satu pekan yang lalu, Bu." Jawab nya sesuai dari data rumah sakit.


"Begitu ya Sus, baik terima kasih Suster." Yanti melenggang pergi begitu saja. Wajah nya berubah menjadi sendu.


"Jelas dia sudah tidak di rawat di sini. Aku sudah lama sekali tidak berkunjung ke sini. Aku jadi kehilangan jejak nya, kemana aku harus mencari nya lagi?" Ucap nya pasrah.


Yanti mengambil ponsel nya dari dalam tas, ia melihat banyak panggilan tidak terjawab dari Dinan. "Aduh, bagaimana ini? Dinan telepon aku banyak sekali, apa dia sudah tahu kalau Reyhan tinggal di apartemen?"


"Sebenar nya kamu sedang ada masalah apa Dinan, semoga kamu dengan suamimu baik-baik saja. Reyhan adalah pria yang sopan dan baik." Yanti berharap anak nya itu dalam keadaan baik-baik saja.


Apa lagi yang ia kenal, Reyhan selalu baik pada nya dan sopan. Sangat di sayangkan, Reyhan tidak tahu kalau pembantu nya ini adalah Ibu dari istri nya sendiri.


Sebuah mobil mewah masuk ke pekarangan rumah sederhana, jauh dari kata mewah. Pria itu turun dari dalam mobil nya. Beberapa penjaga membungkuk selaku memberi hormat pada nya.

__ADS_1


"Apa dia ada di dalam?" Tanya Lan.


"Ada Tuan, silahkan." Satu anak buah dari Lan memberi jalan untuk nya masuk.


Lan masuk ke dalam rumah itu, Wati yang sedang duduk di kursi ruang tamu pun ikut berdiri dan membungkuk. Ia sangat takut pada Lan.


"Sudah satu minggu sejak kamu keluar dari rumah sakit. Apa belum juga bertemu dengan wanita yang merawat anakku?!" Tanya Lan tanpa basa-basi.


Kaki Wati bergetar, ia sungguh tidak sanggup jika berhadapan langsung dengan Lan. "M-maafkan saya Tuan, sa-saya belum berhasil menemukan nya. Sa-saya janji akan segera menemukan wanita itu." Ucap nya dengan suara bergetar.


"Ingat!! Saya tidak akan pernah memaafkan kamu sebelum kamu menemukan anakku. Apa kamu mau saya jebloskan ke penjara?"


"Ampun Tuan, jangan Tuan, saya janji akan menemukan anak Tuan.. Saya janji, tapi saya mohon jangan masukkan saya ke penjara Tuan." Wati memohon, ia bahkan sudah meluruh ke lantai.


"Saya akan pergi ke Luar Negeri selama dua pekan. Kalau kamu tidak bisa menemukan anakku sampai saya tiba di sini lagi, maka siap-siap kamu dan rekan kerjamu di rumah sakit dulu masuk ke dalam penjara!!" Ancam Lan tidak main-main.


"Ba-baik Tuan."


Nania mengetuk pintu ruangan Radit. Ia pun masuk ke dalam, menemukan pria itu sedang berkutat dengan laptop nya.


"Tuan, saya ingin minta tanda tangan nya." Nania menyerahkan berkas di tangan nya pada Radit. Pria itu menerima nya, tapi malah di letakkan di sudut meja.


"Tuan, saya butuh tanda tangan Tuan saat ini juga." Ucap Nania merasa di abaikan. "Duduklah dulu, aku ingin bicara padamu."


Mau tidak mau Nania duduk di hadapan Radit. "Tuan ingin bicara apa?" Tanya nya.


Radit menyatukan tangan nya dan menempelkan nya di dagu sambil menatap Nania. "Siapa Devan?" Pertanyaan itu sukses membuat Nania menautkan alis nya. "D-devan? Memang nya ada apa Tuan?"


"Jika aku bertanya, maka jawab saja. Siapa Devan?" Radit mulai menatap kekasih nya itu dengan intens. Nania merasa aneh di tatap seperti itu oleh nya.


"Hanya teman."


Jawaban Nania sukses membuat Radit membuang wajah nya ke samping dan mendengus. "Teman kamu bilang?" Nania mengangguk.


Radit memberi kode pada Nania untuk berdiri dan menghampiri nya. "Ada apa Tuan? Kenapa saya harus ke sana, saya di sini saja." Jawab Nania dengan pelan, ia tidak mau berdekatan dengan pria yang suka membuat jantung nya berolahraga.


Pria itu melotot, agar Nania tidak membantah perintah nya. "Baiklah, baiklah." Nania bangkit dan menghampiri nya. Ia berdiri di samping kursi kebesaran milik Radit.


Radit langsung menarik kekasih nya, hingga Nania terjembab di atas pangkuan Radit. Ia terduduk tepat di atas kedua paha Radit. Pria tampan itu memeluk nya dari belakang.


Nania seakan berontak minta di lepaskan, tapi sayang sekali pelukan Radit dari belakang membuat kedua tangan nya tidak bisa bergerak.


"Tuan, apa yang anda lakukan, lepaskan saya!"

__ADS_1


"Ssstt, jangan bergerak seperti ini terus! Kamu bisa membahayakan dirimu sendiri jika peliharaanku bangun!" Nania membelalakan mata nya.


"Apa maksud Tuan?!"


__ADS_2