
Nania memarkirkan mobil sport milik Radit di area parkiran khusus CEO di basement, "Sudah sampai Tuan." Ucap Nania tersenyum sambil melepas seatbelt yang melindungi diri nya.
"Rambutmu aneh hari ini, lebih baik seperti ini saja."
Pria itu menarik tali yang mengikat rambut hitam milik Nania. "T-tuan.." Nania memegangi rambut nya.
"Nah, begini tidak aneh. Jangan mengikat rambutmu saat bekerja. Itu merusak mataku!"
Setelah mengatakan itu semua, Radit langsung turun dari mobil nya. Nania merapihkan rambut nya dan segera ikut turun dari mobil.
Ia terus mengekor di belakang Radit, sesekali Nania mengerucutkan bibir nya karena kesal rambut nya telah di rusak.
Di dalam lift mereka hanya berdua saja, tiba-tiba saja lift yang di pakai Radit dan Nania berguncang dan lampu nya berkedip-kedip.
Nania hampir kehilangan keseimbangan karena getaran di lift itu sangat mendadak bagi mereka berdua. Dengan sigap tanga kekar Radit memegangi lengan Nania.
"T-tuan, kenapa dengan lift nya?" Nania mulai panik.
"Aku juga tidak tahu, jangan panik Nania."
Radit menekan tombol merah emergency yang ada di dinding lift. "Tolong periksa lift khusus, ada orang di dalam!" Ucap Radit dengan tegas, dengan tangan yang masih setia memegangi lengan Nania.
"Tuan, sampai kapan kita akan disini?"
"Tenanglah, aku sudah minta bantuan. Mungkin petugas langsung segera mengecek nya, kita tunggu saja."
"Iya Tuan."
Kedua nya masih berdiri di dalam lift, beberapa karyawan yang bekerja 24 jam di depan layar Cctv langsung berlari mencari bantuan petugas bagian teknisi.
"Gawat! Tuan Radit terjebak di dalam lift. Cepat periksa lift nya sekarang!" Ucap salah satu pria yang melapor ke bagian teknisi.
"Baik, Pak."
Riyan yang habis dari gedung produksi sedang berjalan di lantai dasar membawa beberapa dokumen di tangan nya, mendengar beberapa orang yang berkerumun membicarakan Radit, ia langsung menelpon Tuan nya.
"Halo Tuan, anda dimana?" Tanya Riyan panik.
"Darimana saja kamu baru menghubungiku! Cepat keluarkan aku dari lift sekarang!" Jawab Radit dengan enteng nya di dalam lift.
"I-iya Tuan."
Dengan cepat Riyan berlari menuju Machine Room untuk memeriksa nya. "Ada apa? Kenapa bisa lift khusus mendadak mati?" Tanya Riyan dengan wajah panik nya.
"A-anu Pak, ada kabel yang harus di ganti karena kabel sebelum nya ada yang ru-rusak, Pak." Petugas teknisi itu sedikit takut mengatakan nya.
"Kenapa bisa? Sudah, cepat perbaiki sekarang!" Titah nya dengan tegas.
Riyan mengusap wajah nya kasar, kejadian ini tidak pernah di alami. Sekalipun ada perbaikan, akan ada pemberitahuan sebelum nya.
__ADS_1
Ia meraih ponsel nya lagi, dan menelpon Radit. "Halo Tuan, ada kabel yang rusak. Sedang di perbaiki, butuh waktu setengah jam. Saya akan coba bantu Tuan untuk keluar dari sana." Ucap nya frustasi.
"Perbaiki sekarang, aku tunggu!!"
"Saya akan membuka paksa pintu lift, anda tunggu sebentar ya, Tuan."
"Tidak perlu, kerjakan saja apa yang seharus nya di perbaiki!" Radit melirik ke arah Nania.
"Tapi Tuan__"
"Riyan, setelah ini aku akan memberimu hukuman nanti!"
Tut.. Panggilan di matikan membuat Riyan berdecak kesal dengan tingkah bos nya yang selalu begitu.
"Bagaimana Tuan? Apa kita bisa segera keluar?" Tanya Nania.
Radit menarik nafas nya dengan berat, "Setengah jam lagi kita akan segera keluar." Ujar nya dengan terpaksa.
"Ya? Iya Tuan."
Nania mendadak lesu, pasokan udara di lift itu terasa sekali tidak enak. Beruntung nya mereka hanya berdua, jadi udara yang mereka dapatkan masih bisa untuk bertahan. Lift khusus itu juga lumayan berukuran besar, muat untuk 10 orang jadi tidak terlalu sesak.
Gadis itu duduk di bawah, ia merasa berdiri akan menguras tenaga.
"Tuan duduklah, untuk apa berdiri terus." Pinta nya. Pria itu melirik, menurut nya duduk tidak masalah. Radit langsung duduk di dekat Nania.
"Berikan ikat rambut saya Tuan. Saya ingin mengikat rambut agar tidak gerah."
"Ini, jangan di ikat seperti tadi, itu sangat jelek." Bilang nya dengan datar.
"Ya baiklah."
Sekertaris itu patuh, ia tidak ingin berdebat dalam lift yang udara nya tidak cukup untuk saling berargumen.
Tangan Nania menggulung rambut nya hingga terlihat leher mulus nya. "Saya akan mengikat seperti ini sementara, jangan protes, Tuan." Ia memajukan bibir nya karena kesal takut di protes lagi.
Pria di samping itu berusaha menelan saliva nya kala melihat Sekertaris nya yang begitu cantik, entah kenapa setiap melihat seperti ini, ada yang mengalir aneh di tubuh nya.
"Ck, terserah kamu saja!" Kilah Radit tidak mau gugup.
"Apa kamu tidak ingat, semalam kamu mabuk dan mengajakku tidur bersama di kamar." Senyum devil milik Radit itu terulas, ia senang sekali mengerjai Nania.
"Apa?!"
Nania terkejut, "Cih, coba ingat-ingat. Kamu sendiri yang memaksaku dan menggodaku, kalau saja semalam aku tidak tidur. Tamatlah riwayatmu!" Radit mengalihkan wajah nya dan mengulum senyum tertahan.
"Benarkah? Saya rasa tidak Tuan."
"Terserah kamu saja! Hukuman mu hari ini menjadi dua kali lipat." Ujar nya dengan ekspresi yang sama sekali tidak Nania inginkan.
__ADS_1
"Memang nya kesalahan apa lagi yang saya lakukan Tuan?" Nania memajukan bibir nya.
"Kesalahanmu karena sudah berani menggodaku dan tidur di kamarku semalam!" Tegas Radit dengan suara bariton nya.
"Ssstttt"
Mendadak tangan Nania langsung membekap mulut Tuan nya yang cerewet itu. Mata Radit menatap nya dengan tajam, gadis itu menyengir kuda berusaha untuk rileks.
"Jangan keras-keras Tuan bicara nya, nanti kalau ada yang dengar bagaimana?"
"Tidak akan."
Radit menurunkan tangan Nania, ia lalu menggenggam erat tangan lentik itu hingga sang empu sedikit meringis.
"T-tuan."
"Sudah mulai berani sekarang ya!! Wah seperti nya aku salah menilaimu." Pria itu menekankan kata-kata nya.
"Maaf tadi hanya reflek, karena Tuan bicara nya terlalu keras. Baiklah.. Baiklah hukuman saya menjadi dua kali lipat." Pasrah gadis itu dengan atasan nya.
"Ck, lihatlah dirimu yang sekarang dan semalam. Begitu sangat berbalik, semalam kamu merayuku, menggoda, bahkan mencium juga!"
Radit melipatkan kedua tangan nya di dada sambil membuang arah tatapan nya ke kanan. Padahal semalam yang mencium adalah Radit bukan Nania. Gadis di samping nya merasa kepanasan.
"Apa Tuan? Saya mencium anda? Itu sangat tidak mungkin. Ha ha"
Tawa terpaksa itu seakan mendinginkan diri nya yang sudah kepanasan akibat perkataan Radit. "Mau ku tunjukkan bagaimana semalam kamu menciumku, hm?"
Tangan Radit kembali menarik lengan Nania, hingga gadis itu menoleh dan manik mata mereka saling beradu. Nania tidak bisa berkutik, mata nya juga tak mampu berkedip. Bibir nya menjadi kelu dan hembusan nafas mereka saling bertukar.
Radit mendekati wajah Nania, terus mendekat dan satu tangan nya memegangi wajah gadis itu, mengelus nya pelan, dan terjadilah lagi. Aksi Radit yang mencium gadis itu, ia lu*mat lembut bibir merah merona milik Nania.
Satu tangan Nania meremas ujung rok nya sendiri karena serangan Radit yang selalu membuat nya luluh. Benda tidak bertulang itu sudah membelit lawan nya, tapi Nania tidak pernah membalas nya. Ia takut jika salah melakukan sesuatu nanti nya, padahal diri nya sangat aneh, tidak bisa menolak ciuman ini.
Pria tampan berahang tegas itu melepaskan tautan nya, ia mengelap lembut bibir Nania dengan ibu jari nya seperti biasa.
Nania menjadi diam tak bersuara, dada nya mengatur nafas dengan pelan. Kali ini Radit melakukan nya dengan lembut, hingga nafas kedua nya tidak saling memburu.
Degupan jantung gadis itu berdetak lebih cepat, ia tidak mengerti perasaan apa ini sebenar nya.
"Tepat seperti semalam kamu melakukan itu."
Radit mengulum senyum nya, ia melihat pipi Nania sudah bersemu merah. Merupakan jika gadis itu sangat malu. Nania menundukkan kepala nya, ia jadi salah tingkah, bingung mau bicara seperti apa.
"Wajahmu memerah?"
"B-benarkah Tuan?" Nania jadi semakin gelagap.
Ia semakin gemas melihat tingkah Nania yang mengipas-ngipaskan diri nya dengan tangan lentik itu sendiri.
__ADS_1
"Saya hanya merasa gerah Tuan." Ujar Nania lagi.