Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Bab 31


__ADS_3

"Kenapa di selalu mengikuti kita.!" Geram Gavin sambil terus menggandeng tangan Zia untuk pergi dari taman.


Gavin sudah terlalu muak melihat wajah David yang sangat menyebalkan.


Apa lagi dia terus melempar senyum pada Zia saat melihat Ciara dan Zia tengah bermain bersama.


Dia terpaksa harus berdebat lagi dengan David saat itu. Menegur David agar menjaga pandangannya dari Zia.


Tapi lagi - lagi David selalu memberikan jawaban yang membuat emosinya memuncak.


"Ada wanita cantik di hadapanku, sayang sekali kalau harus menjaga pandangan."


"Terlalu menyejukkan untuk di biarkan begitu saja."


Jawaban David terus berputar di kepalanya.


Bagaimana Gavin tidak tersulut emosi mendengar jawaban David yang mengagungkan dan mendambakan istrinya.


Suami manapun pasti akan merasakan hal yang sama seperti yang di rasakan oleh Gavin.


Kalau saja Zia tidak melerai, mungkin saat itu juga akan terjadi baku hantam antara Gavin dan David karna memperebutkan Zia.


"Dari sekian banyak wanita di muka bumi, kenapa harus mengejar wanita yang sudah bersuami.!"


Gavin terus meluapkan kekesalannya atas sikap David yang di pikir sangat keterlaluan karna melewati batas.


"Sudah berapa kali aku bilang, jangan lagi dekat dengan anak itu Zi."


"Abaikan saja jika si brengsek itu menyodorkan putrinya padamu. Dia itu sedang menjadikan putrinya sebagai cara untuk bisa berdekatan dengan mu." Sulut Gavin penuh amarah.


Gavin terus menyerocos kesal. Rasanya sebanyak apapun kalimat yang keluar dari mulutnya, tidak akan cukup untuk menggambarkan kekesalannya terhadap David yang sudah mengusik ketenangan rumah tangganya bersama Zia.


Sementara itu, Zia memilih untuk diam. Menjadi pendengar yang baik untuk suaminya yang sedang terbakar cemburu.


Bisa dibilang, sikap yang di tunjukkan oleh Gavin terlalu berlebihan.


Meski sudah berulang kali meyakinkan Gavin kalau hatinya hanya untuk suaminya tercinta, dan tidak akan pernah berpaling pada David, tapi Gavin tetap saja merasa cemburu pada David.


Padahal di dalam rahim Zia sudah ada Gavin Junior, Sudah pasti Zia tidak akan berpaling dari Gavin sekeras apapun usaha David untuk mendekatinya.


"Sudah sayang,, jangan marah - marah lagi." Pinta Zia lembut. Dia mengusap dada Gavin berulang kali untuk memberikan ketenangan pada Gavin yang hatinya sedang panas.


"Ketampananmu berkurang kalau marah - marah seperti itu." Goda Zia.


Zia masih sempat mengedipkan mata pada Gavin. Sengaja menggodanya agar berhenti berceramah.


"Ziii,,," Tegur Gavin kesal.


Dia sedang serius meluapkan amarahnya atas sikap David, tapi Zia malah menanggapinya dengan mengajaknya bercanda.


"Aku benar - benar sedang marah. Jangan menggodaku." Gavin memutar malas kedua bola matanya. Dia membuang pandangan ke arah lain.


Suasana hatinya sangat kacau. Rasanya ingin terus menyerocos dan mengumpat David dengan kata - kata kasar.


Kalau saja Zia tidak melerainya, saat ini Gavin pasti sudah tersenyum puas karna bisa menonjok David.


Zia menatap bingung pada suaminya. Zia merasa kalau akhir - akhir ini Gavin jadi sensitif.


Setiap kali melihat David pasti akan berakhir marah - marah dan susah untuk di bujuk.

__ADS_1


"Aku yang hamil, tapi kamu yang sensitif."


Kata Zia. Dia menahan tawa, merasa lucu dengan apa yang dialami oleh Gavin.


"Kebanyakan ibu hamil yang sensitif, bukan suaminya." Tuturnya lagi.


Gavin menoleh. Dia menatap Zia karna sedang mencerna baik - baik ucapannya.


Sepertinya yang di katakan oleh Zia memang benar.


Gavin mengakui kalau akhir - akhir ini dirinya lebih cepat marah dan tersinggung. Apa lagi jika menyangkut soal David.


Mendengar namanya saja sudah membuat Gavin ingin melayangkan tinjuan ke wajahnya.


"Tapi aku yang sudah menghamilimu, wajar kalau aku juga merasakan apa yang biasanya di alami ibu hamil."


Jawab Gavin.


Dia ingat penjelasan dokter saat dirinya periksa ke rumah sakit karna sering muntah.


Ternyata bukan hanya ibu hamil saja yang mengalami sindrom kehamilan, suami juga bisa mengalaminya.


"Kau ini,," Zia mencubit pinggang suaminya. Dia gas sendiri mendengar jawaban Gavin, terlebih raut wajah Gavin sangat lurencan


*****


"Kenapa Ciara tidak boleh ikut tante Zia.?"


Wajah Ciara begitu sendu. Dia memberikan protes pada David yang sudah melarangnya untuk ikut dengan Zia.


Ciara sampai menangis histeris di taman selepas kepergian Zia dan Gavin dari sana.


David yang kebingungan menjawab, hanya bisa mendekap Ciara dalam pelukannya.


Putrinya terlalu mudah dekat dengan Zia. Dan sekarang dia yang kewalahan menghadapi Ciara setiap kali ingin bertemu dengan Zia. David sampai harus menyuruh orang utuk terus mengawasi Zia hampir 24 jam karna ingin tau kemana saja Zia pergi.


Jadi ketika sewaktu-waktu Ciara merengek padanya untuk bertemu dengan Zia, dia dengan mudah bisa mendatangi Zia.


Kalau saja hubungan Zia dan Gavin semakin memburuk, David mungkin bisa mengabulkan keinginan Ciara untuk mengajak Zia tinggal bersama.


Tapi kenyataan tak sesuai ekspektasi. Hubungan Zia dan Gavin justru semakin membaik karna kehamilan Zia.


"Bagaimana kalau kita membeli es krim.?"


Tawar David setelah cukup lama Ciara diam.


"No.! Ciara mau sama tante Zia saja." Tolak Ciara tegas.


David hanya bisa menghela nafas berat. Dia bergegas pergi dari taman dan pulang ke rumahnya.


Semenjak Zia di bawa pulang oleh Gavin, David memilih kembali pindah ke rumah utama. Tidak lagi tinggal di apartemen itu.


Karna tujuannya tinggal di apartemen itu hanya ingin melihat Zia yang dulu sesekali datang ke apartemen.


"Berani sekali datang ke rumahku.!" Geram David pelan.


Dia menatap Arabella dengan sorot mata tajam.


Wanita itu sedang berdiri di luar gerbang rumahnya yang menjulang tinggi.

__ADS_1


David memberikan penjagaan ketat di rumahnya, tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam.


Jadi sudah di pastikan kalau Arabella tidak di perbolehkan masuk oleh penjaga rumah tapi memilih untuk tetap menunggu di luar gerbang.


David menyuruh penjaga rumah untuk membukakan gerbang. Kedatangan mobilnya yang terparkir di depan Gerbang Arabella bergegas menghampirinya.


Ara tau kalau mobil itu di kendarai oleh David.


Dia bisa melihat wajah kejam itu dari balik kaca mobil yang sedikit transparan.


"Ciara,,," Mata Arabella berbinar.


Dia bisa melihat putri kecilnya duduk di samping David dengan wajah yang cemberut.


"Kenapa harus mirip denganmu." Gumam Ara dengan kekesalan di hatinya.


Dulu saat baru dilahirkan, wajah Ciara lebih mirip dengannya.


"Buka pintunya David.!!" Teriak Ara sambil mengetuk kaca mobil David.


"Ijinkan aku menemui putriku kali ini,," Ara mulai meneteskan air matanya.


David tidak menghiraukannya sama sekali. Dia justru kembali menghubungi penjaga rumah untuk mengusir Arabella.


"Papa, tante itu kenapa.?"


Ciara kebingungan melihat Arabella yang terus mengetuk kaca mobil.


"Dia salah mobil sayang, dia pikir mobil ini miliknya." Jawab David asal. Dia langsung melajukan mobilnya kedalam rumah saat penjaga rumah tengah mengusir Arabella.


"Tidak.! Lepaskan aku." Teriak Arabella. Dia menatap mobil David yang sudah masuk kedalam rumah.


"Aku harus bertemu dengan putriku."


"Ciara.!!! Ini Mama sayang,,!!" Teriak Arabella frustasi.


"Maaf nona, anda harus pergi."


Penjaga rumah mendorong Arabella menjauh dari depan gerbang. Setelah itu bergegas masuk dan menutup gerbang. Tapi lupa menguncinya.


Ara kembali berlari ke depan gerbang, menggedor gerbang itu dengan tangis yang pecah.


"David.!!! Kau benar-benar kejam.!!" Teriak ara penuh amarah. Tubuhnya merosot, bersimpuh di depan gerbang sambil terus menatap ke dalam.


"Kamu tidak bisa memperlakukanku seperti ini.!"


"Aku yang sudah mengandung dan melahirkan putriku.!" Serunya di sela isak tangis yang semakin pecah.


"Aku sudah bilang padamu, jangan bertindak menyedihkan seperti ini."


Angga mengulurkan tangannya pada Arabella, meminta wanita itu untuk berdiri.


"Ayo pulang.!" Ucap Angga tegas.


Ara meraih uluran tangan Angga, lalu beranjak dari sana.


Angga yang sudah mengantarkan Arabella kerumah David karna terus memohon padanya.


Saat Arabella menyuruhnya untuk pulang, Angga memilih tetap berada di sekitar rumah David untuk memantau Arabella.

__ADS_1


Karna Angga tau pasti akan terjadi hal seperti ini.


Dia paham betul sifat bosnya yang tak pernah menyukai Arabella.


__ADS_2