
Di sebuah apartemen mewah yang terletak di paling atas gedung, sepasang kekasih tengah makan malam bersama di meja makan.
"Ayo dong Baby, di makan makanan nya. Kamu dari tadi belum makan sesuap pun." Tutur Riyan yang melihat Delisha hanya mengaduk-ngaduk makanan nya saja.
"Mas, kamu tahu nggak. Tadi Nania sempat bilang sama aku. Kalau besok dia sudah boleh pulang, dan minta di buatkan dimsum. Tapi sekarang Nan...Nia malah,,, hiks.. Hiks.." Delisha kembali menangis. Mengingat kejadian siang tadi bersama sahabat nya.
"Ssttt... Sudah, kamu jangan nangis lagi sayang."
Riyan menghampiri kekasih nya dan memeluk dari belakang. Pria itu menarik kursi dan duduk di sebelah Delisha.
"Kamu jangan sedih lagi ya, ini sudah jalan nya. Percaya sama Tuhan, kalau sahabat kamu pasti akan segera sadar." Riyan mengusap-usap punggung Delisha.
"Ayo sekarang kamu makan dulu ya, apa perlu Mas yang suapin nih." Goda Riyan menaik turun kan kedua alis nya.
"Iihss Mas apa sih, aku lagi sedih juga." Delisha mencubit lengan kekasih nya. "Ha ha ha.. Habis nya kamu lagi sedih juga bikin aku gemas sih. Sudah dong, sekarang ayo makan dulu."
"Iya Mas.."
Di sebuah kamar president suite, Radit menatap Nania dari sofa. Ia duduk tak berhenti mengalihkan pandangan nya dari Nania.
Sesuatu terlintas di benak nya. "Mungkinkah ada orang lain yang sengaja ingin mencelakai Nana lagi?" Gumam nya.
"Tapi Tirta bilang tidak ada keanehan dalam hasil lab nya. Sebaik nya aku selidiki lagi besok sendiri." Penampilan Radit sudah berantakan, kemeja yang sudah keluar dari celana bahan nya. Dasi yang sudah terlepas. Tapi ketampanan pria ini tidak pernah luntur.
Reyhan memencet bel apartemen Devan. Ia melarikan diri dari rumah menuju tempat tinggal adik nya.
Baru saja mereka tadi berkumpul, sekarang Reyhan harus singgah di tempat Devan.
"Kak Reyhan?"
Pria itu langsung saja masuk ke dalam apartemen Devan, ia duduk di sofa ruang tengah. "Loh, Kak Reyhan kesini malam-malam, ada apa Kak?"
Devan merasa ada yang tidak beres, karena Reyhan tidak biasa nya mampir ke apartemen. "Biarkan gue tidur di sini malam ini Dev." Jawab Reyhan.
Ia mengacak-ngacak rambut nya, dan mengusap kasar wajah nya. "Tunggu, sebenar nya apa yang terjadi Kak?"
__ADS_1
"Nanti saja ya gue cerita nya. Gue pusing banget sekarang."
"Ya sudah Kak, lo istirahat dulu saja. Gue nggak akan maksa untuk cerita juga kok. Apartemen ini selalu terbuka buat lo. Jadi bebas kapan saja lo mau kesini."
Ya memang selama menjadi saudara, kedua adik dan kakak ini tidak pernah ada perselisihan. Mereka selalu berhubungan baik, meskipun jarang bertemu.
"Thanks ya Dev. Kalau gitu gue ke kamar dulu. Gue pinjam kamar tamu lo."
"Iya Kak."
Di dalam kamar Reyhan melamun sambil menatap ke jendela yang menampilkan pemandangan lampu Kota Jakarta di malam hari.
"Dinan.. Apa selama ini kamu memang sengaja tidak ingin punya anak dari aku?"
Wajah nya masih terlihat frustasi. Ia mengingat waktu yang telah di lewati bersama Dinan. Dimana diri nya selalu perhatian dengan istri dan menuruti semua keinginan nya.
Tapi ternyata balasan sang istri malah menyakitkan hati nya. "Tega kamu sayang.. Berarti selama empat tahun kita menikah, kamu memang nggak pernah menginginkan seorang anak." Lirih nya.
Berbeda dengan Dinan yang masih berkecamuk di kamar nya. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa. "Arrgghh.. Sial, kenapa juga Reyhan pakai menemukan benda itu!" Kesal nya.
"Sekarang aku harus gimana, gimana cara nya aku jelasin ke Reyhan?" Dinan mendecak kesal. Ia bingung dengan langkah selanjut nya.
"Sorry Reyhan.. Aku belum siap punya anak." Dinan menjambak rambut nya sendiri.
Bukan Dinan tidak mencintai Reyhan, hanya saja ia belum siap jika harus mengandung dan membesarkan anak. Entah apa yang ada di dalam pikiran nya hingga Dinan berani mengkonsumsi pil itu tanpa sepengetahuan Reyhan.
Radit memutuskan untuk menghubungi Mona, waktu sudah menunjukan pukul 9 malam. Mona dan Sandi langsung bersiap saat di kabarkan jika Nania koma di rumah sakit.
"Pa, ayo cepat Pa kita ke rumah sakit sekarang. Mama khawatir sama Nania dan juga Radit di sana Pa." Ajak Mona yang sudah rapih menunggu Sandi bersiap.
"Iya Ma sebentar.."
"Yuk Ma kita berangkat sekarang." Sandi dan Mona langsung bergegas menuju rumah sakit.
Tiba di rumah sakit mereka langsung menuju kamar Nania. Sebelum nya Mona sudah di beri tahu Radit tempat kamar Nania. Jadi mereka langsung saja kesana tanpa bertanya lagi pada suster.
__ADS_1
"Radit.."
"Mama.. Papa."
Dengan penampilan yang berantakan Radit bangkit dari sofa menghampiri orang tua nya. Mona memeluk Radit, ia pasti mengerti perasaan anak nya sekarang.
"Ma..." Lirih Radit.
"Sabar ya Sayang.. Kamu harus kuat." Mona mengelus-ngelus punggung anak nya.
Sandi menghampiri ranjang Nania. Ia melihat keadaan wanita yang di cintai anak nya. Begitu iba melihat kondisi Nania sekarang.
Wajah cantik nya yang pucat, dan di penuhi alat bantu pernapasan, juga suara denyut jantung dari patient monitor membuat ruangan itu nampak sunyi.
Mona menghampiri Nania. Ia menggenggam tangan nya, lalu menatap wajah pucat pasi itu terpejam dengan tenang.
"Sayang, bagaimana cerita nya? apa yang terjadi sama Nania? Bukan kah tadi pagi kamu bilang dia ada di kantor." Tanya Mona.
"Maafin Radit Ma, sebenar nya Nania tidak ada di kantor pagi tadi. Sudah tiga hari Nania di rawat di sini." Jawab nya sendu.
Mona tidak mau melanjutkan pertanyaan nya, ia yakin bahwa anak nya sudah melakukan hal yang terbaik.
"Nania anak cantik.. Kamu harus kuat ya,, ayo bangun, Nak.." Ucap Mona tulus pada Nania. Manik mata wanita paruh baya ini sudah mulai berkaca-kaca.
Sandi mengelus bahu istri nya. Ia ikut merasakan apa yang di rasakan sang istri dan juga anak nya. "Ma,, Doakan saja, supaya Nania bisa segera sadar.. Hanya doa Ma yang bisa merubah keadaan." Tutur Sandi.
"Iya Pa."
Radit menceritakan awal mula kecelakaan yang menimpa Nania. Di mulai dari mobil nya yang menabrak pohon dan kemarin pingsan lalu koma. Mona serasa tersayat hati nya mendengar cerita Radit.
"Ya Tuhan, malang sekali kamu Nania.. Semoga Tuhan memberi keajaiban untuk kamu sayang." Ucap Mona lagi pada gadis itu.
"Radit, sebaik nya kamu mengajak Nania berobat ke Luar Negeri. Papa ada teman Dokter di Korea, beliau Dokter ahli bedah Saraf. Siapa tahu dengan kamu mengajak Nania kesana. Ada perkembangan yang baik untuk nya."
"Iya Pa, Papa benar. Radit juga sempat menghubungi tim di Korea tadi Pa. Mungkin besok Radit akan membawa Nania ke Korea."
__ADS_1
"Iya Nak, sebaik nya kamu cepat bawa dia kesana ya besok." Tukas Mona lagi menyetujui.
Radit memang mempunyai rumah sakit torak plastik di Negara Korea Selatan. Jadi pria ini memang punya banyak kenalan Dokter di berbagai keahlian.