Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Terungkap


__ADS_3

Serra masih terdiam di sofa dalam ruangan kerja Reyhan. "Pak sebenarnya saya di sini menunggu apa? Apa Pak Reyhan butuh sesuatu?" Gadis itu memberanikan diri bertanya.


"Kamu tunggu di sini dulu, saya lagi pesankan kamu makanan. Tapi kamu nggak usah kepedean, saya kayak gini karena kamu masih karyawan saya." Ucap Reyhan yang duduk di seberang Serra.


"Iya Pak, tapi nggak perlu kok Pak. Saya bisa makan nanti saja." Serra menolak dengan lembut.


"Kamu berani jawab saya ya?!" Rey heran sekali dengan Serra. Gadis itu selalu menolak kebaikannya


Tak lama orang suruhan Rey datang membawa makanan. Dan Rey membuka makanannya untuk Serra. "Sekarang habiskan makanannya!" Titah Rey yang masih duduk di seberang Serra.


"Pak Reyhan nggak makan juga?" Tanyanya masih bingung. Masa iya dia makan sendiri di depan atasannya.


"Kamu suruh saya makan bareng sama kamu?!" Rey menatap Serra dengan wajah datarnya. Tidak mau di ambil pusing, gadis itu pun memakannya dengan lahap.


Tanpa rasa malu di hadapan Rey yang sedang melihatnya. "Makanannya enak sekali Pak. Pasti mahal, terima kasih ya Pak." Ucap Serra setelah menghabiskan makanannya.


"Lucu juga lihat cara makan dia tadi. Kelihatan rakus tapi tetap rapi." Batin Reyhan.


"Ya sudah, kalau gitu kamu boleh pulang." Ujar Rey, ia pun mengambil tas kerjanya. Lalu keluar dari ruangannya bersama Serra.


Kantor Reyhan sudah nampak sepi. Karena hari sudah gelap, Hanya ada security dan beberapa pekerja saja yang lembur di ruangannya.


"Kamu pulang naik apa?" Tanya Rey di dalam lift khusus. Serra menaiki lift itu atas perintah Rey.


"Saya pulang naik angkutan umum, Pak."


Setelah sampai di depan pintu keluar-masuk perusahaan. Rey membuka pintu mobilnya, "Ayo masuk, biar saya antar kamu pulang." Entah kenapa Rey ingin mengantarnya pulang.


Ia khawatir kalau Serra pingsan lagi di jalan. "Maaf, tapi nggak usah Pak, terima kasih. Saya bisa naik angkutan umum di depan." Tolak Serra dengan lembut dan tersenyum.


"Masuk!! Saya nggak terima penolakkan, siapa kamu berani menolak saya?!" Rey memberi kode agar Serra cepat masuk. Akhirnya gadis itu masuk ke dalam mobil mewah Rey.


Nania masih menatap wajah tampan milik Radit. Manik matanya mampu membuat hatinya bergetar. "Ehmm.." Akhirnya Nania membuyarkan suasana yang canggung itu.


"Nana, kamu cantik sekali malam ini." Gombalan maut Radit keluar dari bibirnya. Tentu saja Nania tersipu malu. "Mas Radit ini berlebihan, semua wanita itu cantik, Mas."


"Tapi hati kamu juga cantik." Jawab Radit polos.


Wajah Nania berubah kemerehan, "Mas Radit lagi gombal ya? He he." Nania terkekeh pelan. "Kayaknya mau hujan, kita pulang sekarang ya." Ajak Radit menggenggam tangan Nania.


"I-iya Mas."

__ADS_1


Benar saja, begitu sampai di dalam mobil. Hujan turun membasahi bumi. "Bintangnya tidak terlihat jika hujan turun." Ucap Nania pelan.


"Dan aku berharap, meskipun dia tidak terlihat. Tapi bintang tidak pergi dari langit." Balas Radit yang mendengar ucapan Nania.


Keadaan di dalam mobil menjadi canggung lagi, Radit menatap wajah Nania dari dekat. Di bawah guyuran hujan dalam mobil. Pria itu menarik tengkuk Nania dan menciumnya. Hati Nania bergetar, merasakan bibir pria yang selalu memaksanya itu menempel di miliknya.


Kali ini seperti tanpa ada paksaan, rasanya juga berbeda. Tidak ada ciuman yang menuntut. Bahkan Nania hampir terlena.


Hari telah berganti, pagi sekali Dinan mengunjungi apartemen Reyhan. Ia menekan kode akses di pintu itu, lalu masuk ke dalam.


Betapa terkejutnya Dinan melihat Reyhan sedang sarapan bersama Yanti, Ibunya sendiri.


"Reyhan kamu___" Dinan terdiam.


"Dinan?" Yanti terkejut, ia pun berdiri dari kursi makan. Tatapannya seperti ketakutan, sama seperti Dinan yang menatap kedua nya dengan bibir yang kelu tak mampu berkata.


"Ada apa dengan kalian? Kenapa saling terkejut, apa sebenarnya yang kalian sembunyikan?!" Ucap Rey dengan nada yang tegas.


Ini adalah waktu yang tepat, karena dari awal bertemu Yanti, Rey memang sudah merasa curiga. Sepertinya Dinan punya hubungan khusus dengan Yanti. Tapi soal itu, Rey masih belum menyelidiki. Maka ini adalah waktu yang tepat, karena mereka saling bertemu.


"R-rey kamu ngapain sarapan sama dia? Dia itu hanya pembantu!!" Ucap Dinan menghampiri Yanti dan mantan suaminya itu di meja makan.


Kata yang keluar dari mulut Dinan membuat hati Yanti bagai tertusuk pisau tajam. "Jaga mulut kamu Dinan!! Kamu sudah pagi-pagi datang kesini. Sekarang mau buat keributan, iya?!!" Bentak Reyhan.


"Rey?!! Apa yang aku bicarakan itu benar, dia hanya pembantu di sini!" Dinan masih menutupi identitas Yanti.


"Kamu juga! Lancang sekali kamu makan di meja makan ini, saya bayar kamu untuk jadi pembantu di rumah ini. Sekarang juga kamu saya pecat!! Pergi kamu dari sini!!" Bentak Dinan tanpa ada rasa takut pada Ibunya.


Yanti meneteskan air matanya, hatinya begitu sakit dan terluka. Teganya Dinan menganggap dirinya sebagai pembantu, dan mengusirnya begitu saja.


"Cukup Dinan!! Kamu nggak berhak pecat Bik Yanti, yang harusnya keluar dari sini itu kamu!" Rey begitu marah pada Dinan.


"Sudah Tuan, tidak apa-apa. Tolong Tuan dan Nyonya jangan bertengkar. Saya memang tidak pantas makan di meja ini. Biar saya saja yang pergi, saya pamit Tuan, Nyonya." Isak tangis yang di rasakan Yanti begitu jelas.


Ia masih mampu menguatkan hatinya untuk berkata seperti itu di depan menantu dan anaknya.


"Ikut aku sekarang!!" Rey menarik tangan Dinan ke ruang tengah di apartemen itu.


"Rey lepas!! Sakit Reyhan.." Ringis Dinan, yang di seret Reyhan ke depan. "Untuk apa kamu kesini??!" Tanya Rey yang sedang menahan emosinya.


"Rey, aku kesini cuma mau minta maaf sama kamu. Aku mau kita perbaiki semuanya Rey, tolong beri aku kesempatan. Tapi aku mohon, jangan tinggalkan aku Rey." Wanita itu memohon di hadapan Rey.

__ADS_1


Tapi Reyhan seakan mati rasa mendengar penuturan dari Dinan yang tak pernah tulus. Ia bahkan tidak bisa membedakan, mana yang benar atau bohong dari mulut Dinan.


"Maaf Dinan, yang aku bilang sama kamu adalah perbaiki diri kamu untuk kebaikkan kamu sendiri. Bukan kita yang perbaiki semuannya. Aku nggak bisa, jadi tolong kamu terima semua ini. Dan pergi dari sini sekarang." Tegas Rey, lalu dia meninggalkan Dinan.


"Rey tunggu.. Reyhan Tunggu!!"


"Aaaaarrggghh!!!" Teriak Dinan yang frustasi.


Radit menemui seseorang di sebuah cafe. Datanglah seorang pria yang memakai topi hitam dan hoodie berwarna biru denim.


"Maaf Tuan, membuat anda menunggu." Ucap Detektif Gu.


"No Worry, jadi apa yang sudah kamu ketahui?" Radit sangat penasaran. Ia memang sudah menunda bertemu Gu pasca Nania kecelakaan dan di bawa ke Korea.


Mungkin ini waktu yang tepat untuknya bertemu dengan Gu. "Ini Tuan, di dalam sini ada video yang membuktikan bahwan Nona Nania di tabrak dengan sengaja."


Gu menyerahkan sebuah flashdrive yang berisikan video kecelakaan Nania. "Dari mana kamu mendapatkan ini?" Tanya Radit penasaran. Ia mengambil benda yang di berikan Gu.


"Saya mendapatkannya waktu saya mengikuti wanita bernama Dinan. Orang yang Tuan minta untuk di selidiki. Sekitar satu bulan yang lalu, saya mengikutinya. Yang ternyata dia pergi ke bengkel,


Lalu ia menjatuhkan flashdrive ini saat bertemu dengan seorang temannya di sebuah cafe. Kalau tidak salah namanya Fiona. Terlihat mereka sedang menyusun rencana." Jelas Gu dengan kenyataannya yang ia dapatkan.


"Fiona? Apa yang kamu maksud adalah wanita ini?" Radit mengeluarkan ponselnya. Ia sempat mencari gambar Fiona yang memang sempat menjadi model di Brand Skincare nya sendiri.


"Iya benar Tuan, wanita itu yang bertemu dengan Dinan di cafe. Tapi saya juga sempat menyelidiki Fiona ini, sepertinya ia tidak melakukan apapun terhadap Nona Nania." Gu sempat menyelidiki Fiona, tapi selama ini wanita itu tidak ada gerak-gerik yang mencurigakan.


"Sepertinya mereka memang merencanakan sesuatu, tapi yang jelas mencelakai Nona Nania adalah Dinan, Tuan. Saudari kandungnya sendiri." Gu meyakinkan lagi pada Radit ada yang selama ini telah ia selidiki.


"Kamu yakin, kalau Dinan orangnya?" Radit masih tidak habis pikir.


"Yakin Tuan, anda pasti bisa menilai dari video yang ada di dalam sana. Kalau Fiona, dua minggu yang lalu ia pergi ke London dan kabarnya belum balik lagi Tuan." Lapor Gu memberikan foto-foto yang ia potret sebagai bukti.


"Dinan wanita yang saya selidiki, sepertinya ia baru saja di ceraikan oleh suaminya sendiri."


"Jadi begitu? Baiklah. Bayaranmu akan aku transfer, aku pergi dulu. Thank you Gu" Radit bersalaman dengan Detektif Gu.


"Sama-sama Tuan, senang bekerja sama dengan Tuan Radit." Gu tersenyum dan melihat kepergian Radit.


Di dalam mobil Radit masih tidak habis pikir mendengar penjelasan dan bukti foto-foto yang ia dapatkan dari Gu. Semua hal yang menjanggal di pikirannya terungkap.


"Ternyata selama ini yang mencelakai Nana adalah Kakaknya sendiri, tega sekali Dinan. Aku nggak akan diam, kamu harus terima akibatnya Dinan!"

__ADS_1


"Nana, aku akan membalas semua kejahatan Kakak kamu. Kamu tenang saja sayang, dia akan menyesal telah menyakiti kamu!" Ucap Radit bermonolog sambil mencekal kuat stir mobilnya.


__ADS_2