Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Bab 27


__ADS_3

David mengepalkan kedua tangannya setelah mendapat kabar dari orang suruhannya tentang kehamilan Zia. Kini bukan hanya sulit untuk mendapatkan Zia, melainkan tak akan mungkin untuk mendapatkannya.


Sudah di pastikan hubungan Zia dan Gavin akan semakin baik dan bahagia dengan kehamilan Zia.


David mengusap kasar wajahnya. Harapannya untuk bisa mendapatkan Zia dan hidup bersamanya, kini pupus begitu saja. Dia sudah tidak bisa lagi mencari celah untuk memisahkan Gavin dan Zia.


Sekalipun bisa melakukannya dengan cara licik, nyatanya David tidak bisa untuk merenggut kebahagiaan Zia.


Selama ini David bersikeras untuk mendapatkan Zia karna tau kalau kondisi rumah tangga Zia berada di ambang kehancuran. Itu sebabnya dia muncul kembali dalam kehidupan Zia setelah bertahun - tahun lamanya.


Dia tidak tega melihat wanita yang dia cintai hidup dalam kesedihan dan rasa sakit akibat perlakuan buruk dari mertua Zia.


"Apa harus merelakan kamu lagi Zi.?" Gumam David dengan sesak di dadanya.


Dulu dia sudah berbesar hati merelakan Zia menjalin hubungan dengan David meskipun sebenarnya bisa merebut Zia dengan berbagai cara.


Tapi lagi - lagi David memikirkan perasaan Zia yang sudah bahagia bersama Gavin sampai akhirnya memilih untuk mundur perlahan.


Meskipun begitu, sejak dulu David masih terus mengawasi Zia sampai detik ini.


Dengan maksud untuk merebut Zia jika suatu saat Gavin menyia - nyiakan Zia atau menyakiti perasaannya.


*****


"Pelan - pelan Zi,," Tegur Gavin lembut. Dia menuntun Zia untuk masuk kedalam rumah. Sejak turun dari mobil, Gavin terus merangkul Zia tanpa berniat untuk melepaskannya. Dia terlalu antusias atas kehamilan Zia hingga membuatnya bersikap berlebihan untuk menjaga kehamilan Zia tetap baik - baik saja.


"Ya ampun Mas, aku merasa seperti anak kecil yang baru bisa berjalan." Protes Zia dengan tawa geli. Meskipun begitu, Zia tetap senang dengan perhatian Gavin yang sebenarnya sangat berlebihan.


Zia tau, dia juga bisa memaklumi akan hal ini. Bagaimanapun juga, Gavin sudah mendambakan kehamilan ini sejak bertahun - tahun yang lalu.


Tidak heran jika saat ini Gavin sangat antusias hingga membuatnya benar - benar ingin menjaga dan melindungi kehamilan Zia.


"Aku sangat bahagia Zi." Ucap Gavin dengan sorot mata yang berbinar. Sekalipun Gavin tidak mengatakan hal itu, Zia bisa melihat kalau Gavin memang sangat bahagia.


Kebahagiaan yang dirasakan oleh Gavin saat ini, terlihat jauh lebih besar dari kebahagiaan yang sebelumnya dia rasakan.


"Aku jauh lebih bahagia karna bisa memberikanmu seorang anak."


"Setidaknya aku sudah melengkapi semua tugasku sebagai seorang istri."


"Kamu tau,,?" Ujarnya sambil mengusap pelan pipi Gavin. Sorot matanya juga tak beralih sedikitpun dari wajah tampan Gavin.


"Tidak ada yang lebih penting selain kebahagiaan kamu Mas,," Ungkap Zia dengan mata berkaca - kaca.


Bagi Zia, kebahagiaannya terletak pada kebahagiaan Gavin. Kesedihan dan kehancurannya juga terletak pada kesedihan Gavin. Itu sebabnya dia begitu terpuruk dan hancur saat melihat Gavin seakan tidak memiliki semangat lagi dalam menjalani rumah tangganya yang tak kunjung di karuniai seorang anak.


Kini, kehamilan itu menghapus segala permasalahan dan kehancuran yang sempat di alami oleh keduanya.

__ADS_1


Kehamilan Zia di ibaratkan cahaya yang muncul di tengah kegelapan.


"Jangan seperi itu Zi, aku jadi merasa buruk karna sempat jahat padamu."


"Kamu selalu memikirkan kebahagiaanku, tapi aku hanya memikirkan diriku sendiri."


Gavin menghentikan langkah dan manarik Zia dalam pelukannya.


"Aku benar - benar minta maaf untuk itu Zi." Ucapnya tulus. Jika saja bisa memutar waktu, mungkin Gavin akan memilih untuk tidak melukai perasaan Zia selama berbulan-bulan lamanya.


"Lupakan hal menyakitkan itu Mas, fokus pada kebahagiaan kita saat ini dengan kehamilanku." Kata Zia. Dia sudah ikhlas dengan perlakuan buruk Gavin padanya beberapa bulan lalu.


Zia adalah definisi istri sempurna dan idaman para suami di luar sana. Tak heran jika David begitu mencintai dan menginginkan Zia.


Kebaikan dan ketulusan hatinya selalu terpancar dari setiap tutur kata dan sikapnya.


***


Sampainya di kamar, keduanya langsung merebahkan tubuhnya di ranjang setelah membersihkan diri.


Gavin terus mendekap Zia dari belakang. Satu tangannya terus berada di atas perut Zia dan mengusapnya lembut.


Kehamilan Zia bagaikan mimpi indah. Gavin tak pernah menyangka akan secepat ini mendapatkan kabar kehamilan Zia di saat baru saja melewati ujian yang hampir membuat rumah tangganya berakhir.


Disaat hatinya sudah ikhlas meskipun nantinya Zia tak kunjung hamil, ternyata takdir berpihak padanya.


"Aku sudah tidak sabar untuk melihat wajahnya Zi." Tutur Gavin. Senyumnya terus mengembang indah di wajahnya.


"Kalau perempuan, pasti akan sangat cantik seperti kamu." Katanya dengan nada pujian.


Zia mengulum senyum. Tak hanya Gavin saja yang begitu antusias, dia juga sangat antusias untuk mengetahui jenis kelamin dan ingin melihat rupanya.


"Tapi masih lama Mas. Yang terpenting, fokus saja pada kehamilanku agar tetap sehat dan baik - baik saja sampai melahirkan nanti."


Zia berbalik badan untuk bertatap muka dengan Gavin. Kini giliran Zia yang mendekap Gavin.


"Kapan kita akan memberitahukan kabar ini pada keluargamu.?" Tanya Zia. Wajahnya dirundung kecemasan. Sekalipun tau jika rencana pernikahan Gavin dan Nindy akan batal karna kehamilannya, tapi Zia tidak bisa bernafas lega kalau Mama Ambar belum tau tentang kabar bahagia ini.


"Besok." Jawab Gavin cepat.


"Kita akan mengabari mereka besok. Bila perlu menyuruh Mama dan Papa untuk datang agar melihatnya langsung." Turunnya lembut. Senyum Gavin mengembang. Dia berusaha membuat Zia untuk tenang karna melihat kecemasan dari sorot matanya.


"Sebaiknya kita tidur sekarang."


"Mulai hari ini, aku tidak ingin melihatmu tidur di atas jam 9 malam Zi. Kamu harus tidur lebih awal. Pastikan kondisi kamu tetap sehat."


Gavin mulai overprotective. Dia ingin menjaga kehamilan Zia agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.

__ADS_1


Sudah menantikan kehamilan ini selama bertahun - tahun, tentu saja Gavin ingin menjaganya sebaik mungkin.


Zia mengangguk patuh sambil mengulas senyum. Dia membenamkan wajahnya pada dada bidang Gavin.


Hidupnya terasa sangat sempurna setelah mengetahui bahwa diri tengah mengandung anak Gavin.


****


"Bagun Mas,," Zia berbisik pelan di telinga suaminya. Gavin masih terlelap dengan satu tangan yang masih mendekapnya.


"Mas,,," Panggilnya lagi. Kini Gavin mulai menggeliat dan membuka matanya perlahan.


"Sudah siang, kamu harus mandi dan bersiap ke kantor." Zia berbicara lembut. Gavin masih diam, seakan sedang mengumpulkan kesadarannya yang belum sepenuhnya terkumpul.


Cupp,,,


Satu kecupan mendarat di kening Zia. Wanita cantik itu reflek memejamkan mata. Dia merasakan kecupan yang di penuhi dengan cinta.


"Makasih Zi, makasih karna sudah bertahan dan berjuang sampai saat ini."


"Kehamilan ini adalah buah dari ketulusan dan kesabaran kamu."


"Aku bersyukur memiliki pendamping hidup sebaik dirimu."


"Tak hanya cantik, kamu terlalu sempurna sebagai seorang istri."


Pujian demi pujian terucap indah dari bibir Gavin.


Zia tersenyum bahagia. Bukan karna mendengar pujian Gavin, melainkan karna hubungannya dengan Gavin semakin hangat dan baik karna kehamilannya.


"Sudah, jangan terlalu berlebihan memujiku. Aku hanya manusia biasa Mas."


"Aku sempurna karna kamu melengkapi kekuranganku."


Zia mengecup bibir Gavin tanpa ragu. Tapi setelah itu wajahnya langsung merona karna di tatap oleh Gavin.


"Dulu aku selalu senang setiap kali kamu menggodaku seperti ini. Tapi untuk beberapa bulan ke depan, sepertinya godaanmu akan membuatku tersiksa."


"Aku tidak berani membenamkan milikku didalam sana sampai kandunganmu benar - benar aman.


Ucapan Gavin semakin menimbulkan rona merah di pipi Zia. Dia terlihat salah tingkah mendengar ucapan Gavin yang sedikit vulgar.


"Bukankan kata dokter tidak masalah jika melakukannya.?" Ucap Zia mengingatkan.


"Asal jangan terlalu sering dan tidak kasar." Jelasnya tanpa menatap wajah Gavin. Sudah pasti Zia menahan malu. Gavin pasti sedang menatapnya dengan tatapan yang penuh arti.


"Aku tau, tapi lebih baik menghindarinya lebih dulu untuk menghindari hal yang tidak di inginkan." Sahut Gavin lembut.

__ADS_1


Tidak masalah jika harus menahan diri untuk tidak menyentuh Zia, asal kandungan Zia baik - baik saja.


__ADS_2