
Sangat tidak memungkin kan melakukan operasi saat pasien dalam keadaan koma. Nania melakukan berbagai macam pemeriksaan, mulai dari tes darah, dan radiologi.
Radit beristirahat di kamar dalam ruang inap Nania. ia di sediakan tempat VVIP terbaik di rumah sakit tersebut. Sambil menunggu Nania di periksa, pria ini sekejap memejamkan mata nya.
Karena memang sudah dua hari ini ia tidak dapat tidur, akibat terus memikirkan dan menjaga Nania.
Di perusahaan Diamond Glow siang ini, Delisha ikut dengan Riyan bekerja. Sambil membaca CV milik Delisha, Riyan sengaja menyuruh nya untuk membantu kerjaan di kantor.
"Baby, kamu bisa tolong lihat berkas ini nggak? Coba kamu tolong cari perbedaan dari kedua berkas ini." Riyan memberikan dua berkas pada Delisha yang duduk di sofa dalam ruang kerja nya.
"Baik Mas, biar aku periksa dulu berkas nya." Jawab nya sambil mengulas senyum.
Rasa nya semangat sekali hari ini bekerja di temani sang kekasih, Riyan bersandar di kursi nya sambil menatap Delisha yang fokus membaca berkas.
"Apa aku jadikan Delisha asisten aku saja ya, kan bisa tiap hari ketemu." Gumam nya memikirkan ide jabatan Delisha di kantor.
"Kalau aku lihat dari CV nya, dia lulusan diploma tahun kemarin. Boleh lah itu, he he." Riyan terkekeh sendiri tanpa di sadari Delisha.
Di sebuah perusahaan lain, yaitu perusahaan Max Lan, Reyhan tetap bekerja meskipun sedang ada masalah dengan Dinan.
Lan yang sudah kembali mengelola perusahaan nya, datang ke ruangan anak nya.
"Reyhan, boleh Papa bicara sebentar?" Tanya Lan yang menghampiri Reyhan. Pria itu menarik kursi di meja kerja anak nya.
"Ada apa Pa, kebetulan Reyhan lagi senggang. Hanya baca laporan saja." Jawab Reyhan yang langsung mengalihkan tatapan nya dari layar PC.
"Sebenar nya semalam kamu ada masalah apa dengan Dinan, kenapa kamu pergi dari rumah?"
Membayangkan jika Lan tahu permasalahan nya dengan Dinan, membuat Reyhan memijit pelipis nya dan berusaha menampilkan raut wajah yang tidak ada masalah.
"Ah, itu Pa. Reyhan semalam ke apartemen Devan kok, kebetulan ada project penting yang harus di bahas untuk hari ini Pa." Kilah Reyhan, agar Lan tidak khawatir.
"Begitu ya? Ya sudah, Papa hanya khawatir saja dengan kamu dan Dinan. Jika kalian ada masalah, sebaik nya di bicarakan lagi berdua. Tidak baik jika ada masalah malah saling menghindar."
Lan sebenar nya tahu jika Reyhan sedang ada konflik dengan Dinan. Karena Lan tahu betul karakter kedua anak nya. Namun Lan sengaja tidak bertanya lebih jauh. Ia yakin kalau Reyhan pasti bisa menyelesaikan masalah nya sendiri.
"Ehem, iya Pa. Tapi Reyhan sama Dinan baik-baik saja kok Pa." Jawab nya tersenyum.
"Gimana kalau kita minum kopi dulu Pa?" Ajak Reyhan mengalihkan pembicaraan, dan mencairkan suasana.
__ADS_1
"Nanti saja, Papa mau ke kantor teman dulu. Kamu lanjutkan saja pekerjaan kamu, Papa pergi dulu." Lan bangkit dari kursi dan pergi dari ruangan Reyhan.
"Hati-hati Pa."
Selang beberapa menit Lan pergi, pintu ruangan Reyhan kembali terbuka. Ya, siapa lagi yang datang kalau bukan Dinan, yang dari pagi di acuhkan oleh Reyhan.
"Sayang, please tolong dengarkan penjelasan aku dulu. Kamu kenapa sih malah menghindar terus dari aku?"
Dinan meronta pada Reyhan, untuk meminta waktu nya. Tapi pria itu tidak menggubris sama sekali apa yang Dinan katakan.
"Sayang... Sayang.. Reyhan!!!" Teriak Dinan.
Ia sudah kesal di acuhkan oleh Reyhan. Kesabaran nya serasa menipis.
"Lebih baik kamu keluar Dinan, aku sedang tidak ingin membicarakan hal itu dengan orang yang tidak mau mengandung anak aku!"
Sakit, rasa nya sakit mendengar kalimat yang keluar dari bibir Reyhan. Namun pria itu juga merasakan sakit yang luar biasa di relung hati nya.
"Sayang.. Hiks.." Dinan mulai menangis.
"Cukup! Kamu nggak usah menangis di sini. Kalau kamu nggak mau keluar dari ruangan aku, biar aku saja yang keluar."
Reyhan berlalu meninggalkan Dinan yang masih berdiri di dalam ruangan nya. Ketika berjalan melewati ruangan Dinan, Reyhan melihat wanita yang tidak asing bagi nya.
"Bukan nya itu model yang lagi naik daun itu, Fiona. Ya, kalau nggak salah nama nya Fiona. Tapi untuk apa dia masuk ke ruangan Dinan, apa mereka saling mengenal?"
Resepsionis itu menyuruh Fiona untuk menunggu di dalam ruangan Dinan, sesuai permintaan Dinan.
"Mohon di tunggu ya Nona, kemungkinan Bu Dinan sedang keluar sebentar. Saya permisi dulu." Ucap nya dan keluar dari ruangan Dinan.
Reyhan yang ingin memanggil karyawan nya itu, ia urungkan. Karena melihat Dinan yang berjalan ingin masuk ke ruangan nya.
Rasa penasaran timbul di benak nya. Ia pun berdiri di dekat pintu ruangan Dinan.
"Fiona, untuk apa kau kemari, apa tidak bisa bertemu di luar saja." Tanya Dinan dengan tidak santai.
Prok.. Prokk... Prok... Fiona bertepuk tangan dengan pelan, ia menertawakan sikap Dinan yang hebat sekali.
"Hebat kamu Dinan!! Ternyata, aku baru tahu kalau kamu begitu licik melebihiku." Ujar Fiona.
__ADS_1
"Apa maksud kamu!" Dinan tidak terima.
"Kamu tahu kan perjanjian kita itu apa? Aku menyuruh kamu untuk menculik Nania, tapi kamu malah membuat nya tidak sadar dan masih tetap berada di sisi Radit!!"
Fiona sudah geram dengan tingkah Dinan. Siapa sangka, kalau Dinan melakukan hal kejam di luar dugaan nya.
"Bukan kah itu yang kamu inginkan agar dia cepat mati?! Iya kan? Aku memang tidak menculik nya. Tapi aku akan membuat nya menderita."
"Apa maksud kamu?" Fiona masih tidak mengerti.
"Kamu lihat saja nanti."
"Aku merasa, seperti nya bukan hanya aku yang tidak suka dengan Nania. Seperti nya kamu juga begitu benci pada nya! Terlihat sekali dari raut wajah kamu, cih." Fiona mendecih melihat Dinan menatap tidak suka ketika menyebut nama Nania.
"Ya!! Kamu benar, aku memang membenci wanita sialan itu!!"
"Cih, aku tidak peduli kamu punya urusan apa dengan nya. Tapi apa yang sudah kamu lakukan, itu atas dasar kemauan kamu sendiri. Aku sudah tidak bersangkutan lagi denganmu!!" Fiona meraih tas nya dan pergi dari ruangan Dinan.
Belum sempat Fiona keluar dari ruangan itu, Reyhan sudah lebih dulu masuk ke dalam.
"Apa maksud kalian?! Dinan, jawab aku!! Nania mana yang kamu sebut tadi?" Wajah Reyhan sudah padam, ia sudah tidak bisa menahan kesabaran nya melihat kelakuan sang istri di belakang nya.
"Jawab Dinan!!" Maki Reyhan.
Fiona dan Dinan tersentak, tidak ingin terseret dalam keadaan. Fiona segera berlari keluar dari ruangan Dinan.
Reyhan berjalan mendekat ke arah Dinan, ia bahkan sudah meremas bahu Dinan dengan kuat. Hingga wanita itu sedikit meringis.
"A-aku bisa jelasin Reyhan."
"Aku tanya sekali lagi, apa yang sudah kamu lakukan di luar sana tanpa sepengetahuan aku?!!"
"A-aku.." Dinan tidak mampu berkata lagi.
Lutut nya terasa lemas, tamat sudah riwayat nya. "Ternyata kamu sangat berani menyakiti seseorang Dinan, aku tidak menyangka telah menikahi wanita yang jahat!!"
"Reyhan aku.."
"Tadi kamu menyebut nama Radit dan Nania, apa mereka orang yang aku kenal? Kalau sampai benar aku tahu kalau mereka orang yang kamu sakiti. Aku nggak akan biarkan kamu Dinan!! Mulai sekarang, aku sudah tidak mau percaya dengan kamu lagi. Aku akan urus perceraian kita!" Reyhan marah sekali.
__ADS_1
Reyhan menghempaskan bahu Dinan yang sudah menangis sedari tadi. Ia kecewa, sangat kecewa. Lalu ia pergi meninggalkan Dinan sendiri.
"Reyhan... Reyhan tunggu!!" Teriak Dinan dalam isak tangis nya.