
Delisha dan Riyan akhir nya memutuskan pergi ke tempat makan yang menjual seafood. Mereka berdua duduk di area lesehan.
"Kamu ingin pesan apa?" Tanya Riyan.
Gadis itu masih melihat-lihat menu makanan di tangan nya. "Aku mau kerang dara asam manis, sama nasi goreng spesial saja."
"Okay, terus minum nya mau apa?"
"Apa ya..?" Delisha masih bingung ingin pesan minum apa. "Samain sama Kak Riyan saja deh." Ucap nya tersenyum.
Lagi-lagi Riyan terpana dengan senyuman manis milik Delisha, ia mulai menetralkan kondisi hati nya yang tak karuan.
"Aku mau pesan bir, kamu mau?" Ledek nya.
"Memang nya ada ya?" Delisha menautkan kedua alis nya. "Aku cuma bercanda. Mana ada, aku pesan es jeruk, kayak nya segar. Kamu mau?" Ia pun mengangguk. "Boleh Kak."
Akhir nya Riyan memesan menu makanan yang Delisha dan diri nya pesan. "Kak Riyan sering kesini ya?" Tanya gadis di hadapan nya.
"Nggak, sering lewat saja. Baru ini mampir sama kamu." Jawab nya.
'Apa..?Jadi dia baru pertama kali kesini, sama aku? Haa.... Eh sadar Delisha.. Sadar.. Kamu nggak boleh kepedean gini. Dia itu sudah mapan banget, sedangkan kamu cuma pelayan butik.'
"Memang kenapa?" Tanya Riyan tapi Delisha malah melamun, pria itu melambaikan tangan nya di depan wajah Delisha.
"Delisha.."
"Ah, iya.. Nggak apa-apa kok. He he" Ia tersentak dan berusaha santai.
Di sebuah villa yang di singgahi Radit dan Nania, mereka berdua juga sedang makan malam bersama. Radit memesan makanan di sebuah restoran dekat Kota B.
"Tuan, berapa lama lagi kita di sini?" Tanya Nania.
"Memang nya kenapa?" Gadis itu segera menggelengkan kepala. "Dua atau tiga hari lagi. Sampai semua nya beres, bahan yang kita pilih dan perhitungan bahan untuk di produksi awal bulan depan." Jelas Radit.
Nania manggut-manggut tanda mengerti. Ia melanjutkan makan nya, dering ponsel Nania membuat tatapan Radit menoleh ke arah gadis itu.
"Maaf Tuan, saya angkat telepon sebentar."
"Hm."
Ia bangkit dari kursi makan nya dan sedikit menjauh dari Radit. "Halo, Devan.." Sapa Nania.
Suara itu masih bisa terdengar Radit, mendadak pria itu menghentikan makan nya dan menatap tajam ke Nania yang membelakangi nya.
"Ah, iya Dev. Aku sedang di luar Kota. Nanti kalau sudah di Jakarta aku akan kabarin kamu lagi." Ucap nya lagi.
Radit semakin mengeraskan rahang nya, ia mengeratkan pegangan sendok di tangan nya. "Baiklah, sampai ketemu nanti. Selamat malam Devan." Balas Nania dari ucapan Devan di seberang sana.
Uhuukk..Uhuk... Radit pura-pura terbatuk, Nania mematikan ponsel nya dan menghampiri Radit. "Tuan, hati-hati makan nya." Tegur Nania.
"Minum dulu Tuan." Pria itu menerima gelas dari tangan Nania tanpa membalas ucapan nya.
Suara gelegar petir di luar sana terdengar sangat keras dan mencekam. Hujan turun begitu deras. "Hujan nya deras sekali.." Gumam Nania.
__ADS_1
Ding.. Dong... Suara bel berbunyi, maupun Radit dan Nania melirik ke arah pintu utama.
"S-siapa yang datang malam begini, Tuan?" Tanya Nania gelisah. "Aku juga tidak tahu."
Radit beranjak dari kursi makan, Nania mengekor di belakang nya yang berjalan ke arah pintu utama. Pria tampan itu membuka pintu besar yang terbuat dari kayu jati.
"Xiaoran.." Nania terkejut.
Wanita yang datang adalah Xiaoran, "Tu-tuan.. Bisakah saya bermalam di sini. Saat saya ingin pulang, di luar tiba-tiba saja hujan. Dan saya sedang melewati villa anda, Tuan."
Pria itu memasukan kedua tangan ke saku celana piyama tidur nya yang berwarna hitam.
"Xiaoran, kenapa bekerja sampai semalam ini?" Nania merasa aneh.
"Ah, saya habis membersihkan ruang penyimpanan milik Prof.Zhang, jadi saya baru pulang."
Nania melemparkan tatapan nya pada Radit, pria itu ikut menatap penuh tanya. Baju yang di kenakan Xiaoran memang sudah basah. Mana mungkin Nania tega membiarkan nya.
"Masuklah.." Ucap Radit.
Dengan senang hati Xiaoran mengangguk dan ikut masuk ke dalam. Nania menutup pintu sambil mencebikkan bibir nya.
"Terima kasih Tuan, anda sudah berbaik hati mengizinkan saya bermalam di villa ini." Ucap Xiaoran dengan nada manja nya yang berusaha menggoda Radit.
Baju yang di kenakan nya sudah tercetak jelas di tubuh nya, Nania merasa Radit mulai tidak nyaman pun ikut membereskan masalah ini.
"Hm, kamu bisa tidur di kamar tamu sebelah sana." Unjuk Radit pada kamar yang bekas Riyan pakai.
"Baik Tuan."
Tentu saja itu hanya keterpaksaan, ia tidak ingin wanita itu berlama-lama dengan Radit. "Iya, baiklah."
Radit memilih masuk ke dalam kamar nya yang ada di lantai dua. Ia bersama Nania naik ke atas. "Pastikan dia tidak membuat masalah di sini." Ujar Radit sebelum masuk ke kamar nya.
"Baik Tuan." Jawab Nania.
Dan gadis itu pergi ke kamar nya untuk mengambil baju ganti. Dia akan meminjamkan nya pada Xiaoran.
"Xiaoran, ini baju ganti untukmu. Aku tidak tahu ini pas atau tidak. Tapi baju tidur ini all size."
"Nggak apa-apa. Terima kasih." Jawab Xiaoran agak jutek.
Tidak ingin berlama-lama bersama Xiaoran, Nania pun kembali ke kamar nya. Karena hari sudah malam mereka semua pun akhir nya beristirahat di dalam kamar masing-masing.
Saat tengah malam, Nania terbangun karena haus, air yang ada di kamar nya sudah habis, terpaksa ia harus mengambil ke bawah dapur. Ketika membuka pintu kamar, samar-samar Nania melihat Xiaoran yang sedang celingak-celinguk mencari sesuatu.
Nania masuk kembali ke dalam kamar nya tanpa menutup rapat pintu. Ia kemudian mengawasi gerak-gerik Xiaoran yang mencurigakan.
Benar saja, Xiaoran membuka kamar tidur Radit, ia mengenda-ngendap bak maling yang sedang masuk rumah orang. Lalu wanita itu masuk ke dalam kamar Radit, Nania menutup mulut nya.
"Mau apa dia masuk ke kamar Tuan?"
Untuk memastikan itu, Nania menutup pintu kamar nya, ia berjalan menuju pintu terhubung di dalam kamar itu. Kemudian ia menempelkan telinga nya, tidak ada suara sama sekali.
__ADS_1
Karena terus penasaran, Nania menarik pelan-pelan handle pintu dan mengintip nya. Mulut nya langsung melongo kala melihat Xiaoran menaiki ranjang Radit.
Sedangkan pria itu tengah tertidur pulas. Tangan Nania mengepal erat, entah kenapa ia benci melihat Tuan nya di tempeli wanita macam Xiaoran.
"Awas saja kamu Xiaoran!!"
Dengan hati-hati Xiaoran ikut merebahkan tubuh nya di samping Radit, lalu ikut memejamkan mata nya. Nania mengangguk-angguk.
"Oh, jadi kamu ingin menjebak Tuan Radit, dengan berpura-pura tidur bersama nya." Gumam Nania kesal.
Ia terus mengamati dari balik pintu terhubung itu, yang tanpa di sadari sama sekali oleh Xiaoran, jika ada pintu terhubung dari kedua kamar tersebut.
Setelah lima belas menit Nania menunggu, ia merasa jika Xiaoran sudah tertidur. Lalu ia berjalan pelan-pelan dari balik pintu terhubung itu mendekati Radit.
Di bangunkan nya Radit dengan pelan, pria itu mulai mengerjapkan mata nya, Nania dengan cepat membekap mulut Radit memakai tangan kanan nya. Tangan kiri nya ia tempelkan telunjuk jari nya di mulut, agar Radit tidak berisik.
Pria itu mengerti dan diam, Nania menarik tangan Radit agar terbangun, setelah berdiri Radit terpanjat kala Xiaoran sudah tidur di samping nya.
"Ssstt.." Nania mengisyaratkan Radit agar mengikuti nya
Kedua nya sudah berhasil keluar dari kamar Radit. Kini mereka tengah berada di kamar Nania, gadis itu mengunci pintu terhubung dan duduk di sofa.
"Tuan.. Kenapa anda ceroboh sekali, masa Tuan tidak sadar jika wanita itu mengendap masuk ke kamar Tuan."
Radit menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal. "Mungkin karena hujan, jadi aku tidak dengar." Jawab nya pelan.
Memang di luar sana masih turun hujan yang cukup deras, membuat siapa saja yang tidur akan terasa pulas.
"Saya cuma takut Tuan akan di jebak oleh nya."
"Terima kasih, karena kamu sudah menolongku." Tatapan Radit penuh dengan damba. Nania merasa jadi canggung.
"I-iya sama-sama Tuan."
"Kalau gitu, aku tidur di sini saja."
"Tidak bisa." Tegas Nania.
Pria itu mengernyitkan kening nya, "Kenapa? Kemarin malam juga kita tidur bersama. Aku tidak akan melakukan apa-apa. Masa kamu menyuruhku kembali tidur bersama Xiaoran." Ucap nya seakan memelas dengan nada dingin nya.
"Ya sudah Tuan tidur di sini saja. Biar saya tidur di kamar tamu."
Ketika Nania ingin pergi, tangan kekar pria itu menahan nya. "Kamu yakin mau tidur di bawah sendiri? Di luar sedang hujan. Kita sedang berada di villa. Kamu nggak takut?"
Gadis itu mendadak parno, dan merinding. "Di sana tidak ada apa-apa." Kekeh Nania tetap mempertahankan gengsi nya.
"Sudahlah, tidur di sini saja. Aku tidak akan berbuat apa-apa."
"Akkh!!"
Radit menarik lengan Nania, hingga gadis itu tidak sengaja terjatuh di atas tubuh Radit. Dengan sadar Nania berusaha bangun, tapi pria itu menahan nya.
Mereka saling beradu pandangan, suasana dingin dan suara hujan membuat Radit merasa ingin kehangatan.
__ADS_1