
Gavin setengah berlari, menyusui lorong rumah sakit yang lenggang di jam 3 pagi.
Ini kondisi terparah Papa Rudi ketika sakit jantungnya kambuh, sampai menyebabkan koma saat ini.
Bagaimana Gavin bisa tenang. Sekalipun di sudah berkeluarga, kedudukan orang tuanya tetap berarti dalam hidupnya.
Tidak akan bisa bernafas tenang dengan kondisi orangtuanya yang sedang bertahan antara hidup dan mati.
Gavin mulai memelankan langkahnya. Suasana di depan ruang ICU hanya membuat hatinya semakin tersayat. Mama Ambar sedang terisak dalam pelukan Irene. Istri Revan juga ada di sana, ikut menenangkan Mama mertuanya.
Melihat situasi yang begitu menyayat hati, tubuh Gavin terlihat melemah. Dia berjalan gontai menghampiri Revan dan suami Irene yang duduk terpisah dengan para wanita.
Keduanya tertunduk sedih, sudah pasti mencemaskan kondisi Papa Rudi, juga tidak tega melihat Mama dan istri - istri mereka menangis.
"Bang, Bagaimana kondisi Papa.?" Tanya Gavin pelan.
Revan mengangkat wajahnya. Wajah yang terlihat sendu bercampur sayu menahan kantuk.
"Hanya bisa menunggu keajaiban." Jawab Revan lesu.
"Do'akan saja agar Papa kuat melewati masa kritisnya."
Revan bicara seolah sudah pasrah dengan kondisi Papa Rudi yang tidak memiliki harapan untuk bertahan dan sembuh.
Dokter sudah mengupayakan yang terbaik, tapi sekarang hanya bisa berpasrah diri pada sang pemilik kehidupan.
"Kita bisa memindahkan Papa ke rumah sakit besar di Singapura. Setidaknya Papa akan mendapatkan penanganan yang lebih baik dengan fasilitas yang memadai dan dokter ahli yang jauh lebih profesional."
Gavin memberi saran, mencoba mengajak kakaknya untuk berunding demi kesembuhan sang Papa.
Jika masih bisa mengupayakan yang terbaik, memberikan perawatan dan pengobatan yang maksimal, tentu saja apapun akan dilakukan oleh seorang anak demi kesembuhan orang tuanya.
"Aku sudah mendiskusikan dan meminta pendapat dari dokter yang menangani Papa. Kita bisa memindahkannya setelah melihat perkembangan 3 sampai 5 hari ke depan."
Tutur Revan.
Sama halnya seperti Gavin yang berfikir jauh mengupayakan yang terbaik untuk kesembuhan sang Papa, Revan pun berfikir demikian.
Dia bahkan lebih awal berkonsultasi dengan dokter mengenai rencananya untuk memindahkan sang Papa ke rumah sakit yang lebih besar.
"Baiklah, kita tunggu 3 hari saja."
"Papa harus cepat mendapatkan penanganan yang baik."
Gavin nampak setuju dengan apa yang di tuturkan oleh Revan. Dia yakin rumah sakit ini juga sedang mengupayakan yang terbaik untuk keselamatan Papa Rudi.
"Sebaiknya kamu temui Mama dulu, sejak tadi Mama terus menanyakan mu."
Revan menoleh pada Mama Ambar yang masih menangis dalam pelukan Irene. Mereka belum menyadari keberadaan Gavin karna jarak tempat duduk mereka lumayan jauh dari Tempat Duduk Gavin.
"Hemm,,,"
Gavin hanya berdehem lesu. Dia berjalan gontai menghampiri sang Mama.
Melihat Mama menangis sepilu itu, Gavin sampai harus menang nafasnya yang terasa sesak.
Meski Mama Ambar pernah menciptakan masalah dalam rumah tangganya, sampai hampir membuatnya bercerai dengan Zia, tapi perasaan seorang anak pada Ibu tidak akan pernah berubah.
Seburuk apapun sikap sang ibu, sesering apapun membuat kacau rumah tangganya, Gavin tetap tidak tega melihat kesedihan yang begitu mendalam dari wajah sang Mama.
__ADS_1
Beliau terlihat sangat terpukul atas apa yang sedang terjadi pada suaminya.
"Mah,," Panggil Gavin lirih.
Ketiganya baru menyadari keberadaan Gavin.
Istri Revan beranjak dari duduknya, memberikan tempat pada Gavin untuk duduk di sebelah Mama Ambar.
"Nak,," Mama Ambar langsung memeluk Gavin yang baru saja duduk di sebelahnya. Kini isak tangisnya semakin pecah. Ada ketakutan yang sulit untuk di jelaskan dari tangisnya.
"Mama harus tenang, dokter akan mengupayakan yang terbaik untuk Papa."
"Menangis tidak akan merubah apapun."
"Kita berdoa saja, semoga Papa bisa melewati masa kritis. Papa pasti kuat."
Gavin hanya bisa menenangkan Mama Ambar tanpa bisa berbuat apapun. Dia juga tidak tau harus bersikap seperti apa menghadapi cobaan yang tengah menimpa keluarganya.
****
Zia sudah bersiap untuk pergi ke Bandung, menyusul Gavin yang saat ini masih berada di rumah sakit.
Zia baru saja mengirim laporan pada Gavin. Mengirimkan bukti pada Gavin kalau pagi ini sudah sarapan, meminum susu dan vitamin.
Meski terbilang lebay, tapi Zia tetap menuruti permintaan suaminya.
Karna laporan itu yang akan membuat Zia diperbolehkan untuk pergi ke Bandung.
"Daddymu itu benar - benar berlebihan,," Gumam Zia sambil menggelengkan kepala, namun bibirnya tersenyum tipis.
Dia bahagia menjalani kehamilannya dengan perhatian Gavin yang luar biasa.
"Iya Nyonya,," Pak Hadi langsung membukakan pintu untuk Zia.
"Pelan - pelan saja Pak,," Pintar Zia sebelum keluar dari halaman rumahnya.
Pak Hadi mengangguk patuh. Tanpa di minta oleh Zia pun, dia akan mengendarai mobil dengan hati - hati sesuai permintaan Tuannya yang baru saja menelfonnya. Memberikan pesan padanya agar hayi - hati membawa Zia.
"Pak berhenti sebentar." Pinta Zia.
Pak Hadi langsung menghentikan Mobilnya di depan terminal.
"Ada apa Nyonya.?" Pak Hadi menoleh kebelakang.
"Saya mau beli rujak buah,," Kata Zia dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Matanya berbinar, menatap gerobak penjual rujak buah di tepi jalan.
Buah segar yang tertata rapi, terlihat sangat menggoda.
"Tunggu di sini ya Pak, saya keluar dulu."
"Jangan Nyonya, biar saya saja." Pak Hadi menawarkan diri untuk membelikan rujak. Dia tidak mungkin membiarkan Zia keluar di tempat ramai Terlebih majikannya itu sedang hamil muda. Dia bisa di marahi habis - habisan oleh Gavin kalau terjadi sesuatu pada Zia.
"Tidak apa Pak, saya ingin beli sendiri." Zia memaksa, dia keluar begitu saja tanpa bisa dicegah oleh Pak Hadi.
Namun Pak Hadi tidak gegabah, dia ikut keluar dari mobil dan mengawasi Zia dari jarak dekat.
"Mau rujaknya Pak, di bungkus yah,," Kata Zia pada penjual itu.
"Iya Mba, sebentar yah,," Sahutnya. Penjual itu sedang membuatkan pesanan milik pembeli lain.
__ADS_1
Zia tampak santai menunggu.
"Awas Mba, ada pencopet,,!!" Teriakan seorang wanita membuat Zia menoleh, begitu juga dengan orang - orang yang ada di sana.
Zia terlihat syok melihat laki - laki yang hampir saja mengambil tasnya.
Karna teriakan itu, si pencopet langsung lari.
Sebagian orang mengejarnya. Sementara itu, Pak Hadi dan wanita yang tadi berteriak, langsung menghampiri Zia.
"Mba tidak apa apa.?" Tanyanya.
"Harus hati - hati disini Mba, banyak pencopet." Tuturnya sopan.
Zia diam, dia masih syok. Bukan takut tasnya di bawa lari oleh pencopet, tapi takut pencopet itu kasar padanya dan akan berakibat buruk dengan kehamilannya.
"Ya ampun Nyonya, untung saja tidak apa - apa."
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Nyonya, Tuan pasti akan memarahi saya." Pak Hadi terlihat cemas.
"Sebaiknya Nyonya menunggu di mobil saja, biar saya yang menunggu rujaknya."
"Disini bahaya untuk kandungan Nyonya."
Saking paniknya, Pak Hadi terus menyerocos panjang lebat. Entah apa yang terjadi kalau pencopet itu menarik paksa tas majikannya.
"Saya tidak apa - apa Pak." Jawab Zia lirih. Tubuhnya masih sedikit gemetar karna syok.
"Terimakasih, untung saja ada kamu,," Ucap Zia tulus. Zia menatap wajah wanita yang terlihat seusia dengannya.
"Sama - sama,,"
"Lain kali hati - hati,," Katanya sembari mengulas senyum.
"Mari Mba,," Pamitnya untuk beranjak. Namun Zia menahan tangannya.
"Kamu mau kemana.?" Tanya Zia.
Dia memperhatikan tas besar yang dibawa oleh wanita itu.
"Eh,, saya.?" Tanyanya bingung.
"Saya mau pulang ke Bandung Mba,,"
Zia langsung tersenyum mendengarnya.
"Kebetulan sekali, saya juga mau ke Bandung."
"Dari pada naik bus, lebih baik ikut saya saja."
"Perjalanannya lumayan lama, kalau ada teman ngobrol tidak akan bosan."
Ujar Zia membujuk.
Wanita nampak berfikir. Dia pasti ragu untuk ikut dengan Zia karna tidak mengenalnya.
"Jangan takut, saya bukan orang jahat." Kata Zia, dia membuyarkan lamunan wanita cantik yang ada di depannya.
Wanita itu langsung tersenyum malu, tidak enak pada Zia karna memang sempat berfikir macam - macam.
__ADS_1