
Yanti masih merasa canggung berbicara dengan pria tampan yang ada di depan nya.
"Saya.. Saya sedang mencari seseorang saja di sekitar sini."
Nyata nya memang benar jika Yanti sedang mencari keberadaan Wati yang menyimpan sejuta rahasia dari nya.
"Mencari seseorang?" Radit bingung.
"I-iya, bukan siapa-siapa. Hanya mencari teman saya saja Tuan." Ucap nya berbohong. Ia tidak mungkin berkata sejujur nya pada Radit.
"Ah ya Bu, karena bertemu dengan anda di sini, ada yang ingin saya katakan. Jika saat ini Nania sedang di rawat, di rumah sakit."
"A-apa?!! Nania di rawat di rumah sakit, memang apa yang sudah terjadi pada nya?" Yanti seakan langsung cemas mendengar kabar Nania.
"Cerita nya cukup panjang Bu, kalau Ibu mau menemui Nania, anda bisa ikut saya. Saya juga ingin ke rumah sakit." Ajak Radit dan Yanti mengangguk.
"Baiklah Tuan, saya ikut, saya ingin melihat Nania."
Mereka pergi ke rumah sakit tempat Nania di rawat. Di dalam mobil tidak ada percakapan antara kedua nya.
Setelah tiba di rumah sakit, Yanti mengikuti Radit yang melangkah di lorong. Lalu masuk ke dalam kamar inap Nania.
Mata Yanti sedikit takjub dengan kemewahan kamar inap di rumah sakit itu. Tatanan dan juga furniture di dalam nya sangat elegan.
"Nana... Lihat aku bawa siapa?" Ucap Radit tersenyum pada Nania yang tengah mengobrol bersama Delisha sambil memakan buah jeruk.
"Mas, kamu sudah pulang dari kantor? M-memang nya mas Radit bawa siapa?" Gadis bernama Nania dan Delisha nampak bingung juga penasaran.
Yanti pun muncul di hadapan semua nya.
"Naniaa..." Lirih Yanti.
"I-ibu.."
Kedua nya sama-sama terkejut, Yanti pun mendekati ranjang Nania dan melihat keadaan nya. Delisha mengalah dan menyingkir ke belakang dekat Radit.
Radit membiarkan kedua nya berbicara, ia mengajak Delisha untuk pergi ke living room.
"A-apa yang sudah terjadi padamu Nania? Kepala dan kaki mu sampai begini.." Yanti meringis dengan keadaan Nania yang kepala nya di perban dan kaki nya di gips.
"Hanya musibah saja Bu, aku tidak apa-apa. Oh ya, bagaimana Ibu bisa bersama Mas Radit kesini?" Ia tersenyum pada Ibu nya.
"Tidak sengaja Ibu tadi bertemu di jalan. Terus dia mengatakan kalau kamu ada di rumah sakit. Maka nya Ibu ikut kesini. Apa ini sangat sakit?" Ragu-ragu Yanti menunjuk kaki Nania.
"Tidak kok Bu, aku baik-baik saja." Tahan Nania, sebenar nya ia merasakan sakit di sekujur tubuh nya. Tapi karena pengaruh obat, dia bisa setahan sekarang ini.
"Biar Ibu yang kupaskan ini untukmu." Yanti mengambil buah apel yang ada di atas meja. Ia mengupaskan buah nya untuk Nania.
Gadis itu sangat terenyuh melihat perubahan Ibu nya yang saat ini lebih baik pada nya. "Maaf ya Bu, selama Ibu keluar dari rumah sakit kemarin. Aku belum menemui Ibu lagi." Ucap nya melupakan kejadian dimana ia dan Dinan ribut di rumah sakit.
__ADS_1
Nania begitu kecewa dengan Dinan, tapi ia tidak bisa menaruh kecewa itu lama-lama pada sang Ibu. Biarlah semua menjadi jalan nya. Nania ikhlas menjalani hidup dengan semesti nya.
"Ibu sudah tidak apa-apa, kamu bisa lihat sendiri." Jawab Yanti.
Di sebuah perusahaan yang cukup menjulang tinggi di kota Jakarta. Reyhan menghampiri Dinan yang duduk di kursi kerja nya.
"Sayang, mobil kamu kemana? Aku nggak lihat mobil kamu dari kemarin." Reyhan serius sekali bertanya pada Istri nya.
"Ah,, i-itu sayang... Mobilku sedang di bengkel." Jawab nya sedikit gugup.
"Di bengkel? Memang nya ada apa dengan mobilmu sayang?" Reyhan menaikkan satu alis nya. Dinan tidak seperti biasa nya begini. Jika ada sesuatu pada mobil nya, ia pasti sudah lebih dulu bilang pada Reyhan.
"I-iya sayang.. A-aku nggak sengaja kemarin saat berangkat sendiri nyerempet trotoar saat parkir. Jadi aku langsung bawa ke bengkel mobil nya." Kilah Dinan memastikan agar Reyhan percaya.
"Begitu ya? Tapi kamu nggak apa-apa kan sayang?" Reyhan curiga.
"Nggak kok sayang." Senyum manis terbit di wajah nya.
'Aneh sekali Dinan ini, tidak biasa nya ia menaruh mobil nya di bengkel sendiri.' Batin Reyhan merasa ada yang ganjal.
Mentari yang setia menyapa bumi dari pagi, kini terbenam dan berganti dengan bintang-bintang yang indah menghiasi langit.
Riyan mengantarkan Delisha pulang ke rumah, karena ada Radit yang menjaga Nania di setiap malam.
"Mas, aku mau beli siomay di ujung jalan sana dulu boleh nggak?" Pinta Delisha dengan manja.
Ya Tuhan, rasa nya Riyan begitu gemas sekali melihat tingkah manja kekasih nya ini. Pria itu pun mengangguk. "Boleh dong Baby.."
"Mas, mau nggak?"
"Nggak sayangku, Mas masih kenyang.. Kamu saja ya" Tolak Riyan dengan lembut. Gadis itu pun mengerti.
'Badan nya saja yang kecil, makan nya paling banyak, he he.' Riyan begitu gemas.
Setelah membeli siomay, mereka melanjutkan perjalanan lagi untuk sampai ke rumah nya Delisha. Tiba di depan rumah, Delisha pamit untuk masuk ke dalam. Riyan memutar kembali mobil nya, untuk pulang ke apartemen.
Tak lama ponsel nya berdering. "Delisha??" Riyan mengernyitkan alis nya. Baru saja ia berpisah, tapi kekasih nya sudah menelpon saja.
"Halo Baby, ada apa?"
"Mas, bisa putar balik tidak, a-akuu takut sendirian di rumah." Pinta nya dengan sendu.
"Loh, memang Ibu kamu kemana sayang? Jangan sedih gitu dong. Iya Mas putar balik sekarang ya.."
Pria itu memutar balik mobil nya dan kembali ke rumah Delisha. Suara deru mobil terdengar di telinga Delisha. Gadis itu buru-buru keluar dari rumah nya.
Riyan yang turun dari mobil menghampiri Delisha. Kekasih nya langsung berlari dan memeluk diri nya. "Baby.. Kamu kenapa?"
"Mas aku takut di rumah sendiri, Ibu menulis pesan kalau siang tadi pulang ke kampung karena Bude membutuhkan bantuan Ibu. Terus sebelum Ibu berangkat, bilang mau menelponku tapi baterai nya habis. Jadi Ibu berpesan di kertas ini." Ia memberikan kertas nya pada Riyan.
__ADS_1
Riyan pun membaca nya, Ibu Delisha memang pergi ke kampung halaman nya yang berada di Kota Malang. Karena Kakak dari Ibu Delisha membutuhkan bantuan nya untuk mengadakan acara yang juga dadakan dari sana nya.
"Kamu tenang dulu ya Baby.."
"Mas, tolong antarkan aku saja ke rumah sakit lagi. Aku akan menginap di sana saja bersama Nania." Usul nya karena tidak ingin di rumah sendiri.
"Nggak bisa Baby.. Di sana kan ada Tuan Radit, masa kamu mau mengganggu mereka?" Tolak Riyan memastikan Delisha tidak pergi ke sana. Bisa habis berhadapan dengan Radit setelah nya.
"Lalu aku harus bagaimana Mas? Aku tidak mau di rumah sendiri." Ucap nya sendu. "Baby.. Kamu jangan sedih gitu, sekarang kamu ambil baju kamu di dalam. Kamu ikut Mas saja ya.." Ajak Riyan, karena ia juga tidak tega membiarkan Delisha di rumah sendirian, dengan daerah rumah nya yang sepi sekali kalau malam.
"Kita mau kemana Mas?"
"Kamu kemas saja baju nya, kita bicara nya nanti saja di mobil." Delisha pun patuh, ia langsung mengambil beberapa baju nya di lemari, dan memasukkan nya ke dalam tas besar.
Setelah selesai mereka berdua kembali masuk ke mobil, dan Riyan membawa pergi Delisha dari rumah nya.
Sepanjang jalan Riyan tidak mengatakan apapun membuat Delisha mengantuk dan tertidur. Begitu sampai di basement apartemen mewah nya. Ia langsung membangunkan Delisha.
"Baby.. Bangun sayang.."
"Huaaammm.. Sudah sampai ya Mas.. Maaf aku ketiduran Mas." Delisha celingak-celinguk melihat ke sekitar nya.
"Jadi kita ada dimana ini Mas?" Delisha merasa familiar dengan tempat ini.
"Turun dulu yuk, nanti Mas jelaskan di dalam."
Riyan turun dan membawa tas Delisha di tangan nya, mereka memasuki lift dan menekan tombol untuk ke lantai paling atas.
Ketika pintu lift terbuka Delisha tidak menyangka kalau Riyan membawa nya kesini. "Loh Mas.. Ini kan apartemen nya Kak Radit."
"Iya Baby, ayo masuk."
Sebelum nya Radit memang sudah menyuruh Riyan untuk tinggal di apartemen nya, jangan tanyakan bagaimana cara Radit meminta nya. Sebagai Asisten Riyan tidak mau banyak tanya, ia pun patuh dan menjalankan perintah nya.
Selama di perjalanan tadi, Riyan meminta izin kalau tidak bisa tinggal di apartemen nya dulu karena Delisha. Riyan juga menceritakan sedikit masalah nya pada Radit. Akhir nya sang pemilik Diamond Glow itu menyuruh asisten dan kekasih nya tinggal di apartemen nya saja.
Sangat repot jika Mona datang tidak ada Riyan yang tinggal di sana.
"Baby.. Ini kamar kamu, kamar aku ada di sebelah kamu."
Riyan membawa Delisha ke kamar tamu yang tak jauh dari kamar Nania. "Makasih Mas, maaf aku jadi merepotkan begini. Tapi kalau boleh tahu, kenapa aku harus tinggal di apartemen ini, Mas?" Ia menatap sekitar kamar nya yang benar-benar di penuhi kata mewah dan elegan.
Semua interior dan barang-barang di dalam nya sangat bagus, yang pasti nya juga mahal.
"Cerita nya panjang Baby, aku jelaskan nanti ya. Kalau kamu mau istirahat dulu, silahkan sayang."
Pria itu ingin masuk ke dalam kamar Delisha, ia menenteng tas dan mengikuti kekasih nya dari belakang.
Tak sengaja kaki Riyan tersandung karpet. Ia hilang keseimbangan nya dan menubruk Delisha yang ada di depan nya.
__ADS_1
Brugghhh... Mereka jatuh bersama.
Delisha berada di bawah tubuh kekar Riyan. "Aaaah... Mas berat sekali." Keluh Delisha. Pria itu pun langsung mengangkat tubuh nya dan mengungkung Delisha.