
Di dalam rumah sederhana, Yanti dan Wati duduk di kursi ruang tamu. Tidak ada penjaga di dalam rumah itu, hanya di depan rumah dan di belakang rumah saja. Bodyguard dari Lan menjaga Wati agar tidak kabur.
"Saya sudah lama mencari Mbak Yanti." Ucap Wati dengan wajah bahagianya.
Karena memang ia sudah menantikan momen ini, sudah lama juga dirinya mencari keberadaan Yanti yang tak pernah kunjung ia temukan.
"Saya juga sempat mencari kamu di rumah sakit. Tapi karena ada urusan, saya telat pergi ke sana. Ternyata kamu sudah pulang dari rumah sakit kala itu." Jawab Yanti dengan ramah.
"Sebenarnya, saya mengejar kamu waktu itu, cuma ingin menanyakan siapa orang tua dari anak yang saya besarkan selama ini. Tapi kamu terus berlari, hingga tertabrak. Syukurlah sekarang kamu sudah sehat kembali." Ujar Yanti merasa sedikit bersalah, dengan kejadian waktu lampau.
Wati mendekatkan dirinya dengan Yanti. Ia memegang tangan wanita yang sedang bersamanya.
"Mbak, saya minta maaf. Saya memang salah, tapi percayalah Mbak. Saya melakukan hal itu waktu dulu, karana saya memang di ancam. Dan saya bingung harus melakukan apa, selain membuang bayi itu." Jelas Wati dengan nada sendu.
"Saya punya anak juga saat itu, saya bekerja sendirian. Karena suami saya sudah lama meninggal, saya masih butuh pekerjaan untuk membesarkan anak saya yang tinggal bersama Neneknya.
Dari kejauhan saya memang sengaja meninggalkan bayi itu pada Mbak dan suami Mbak Yanti. Karena saya tidak tega jika harus membuangnya di tempat yang tidak seharusnya." Isak tangis Wati sudah terdengar.
Ia menyesal telah melakukan hal yang membuat dirinya terpuruk selama ini. Hidup dengan rasa bersalah dan penyesalan adalah hal yang buruk.
Demi keluarga, ia rela melakukan hal jahat seperti itu. Demi pekerjaan dan uang, ia tega membiarkan bayi yang tak bersalah berpisah dengan orang tuanya.
"Maafkan saya Mbak,, hiks.. Hiks.." Suara tangis Wati benar-benar menunjukkan penyesalan.
"Sudahlah Wati, ini memang sudah takdirnya. Saya tidak menyalahkan kamu. Yang saya inginkan sekarang hanyalah mengetahui siapa orang tua anak saya. Apakah mereka masih hidup?" Yanti sangat penasaran. Ia ingin Nania mengetahui siapa orang tua kandung yang sebenarnya.
"Hiks,, Orang tua yang saya pisahkan dengan bayinya kala itu, masih hidup Mbak. Mereka yang di luar tadi adalah penjaga dari orang tuanya." Jawab Wati dengan sejujurnya.
Terungkap sudah sebentar lagi, siapa orang tua Nania, Yanti sudah tidak sabar.
"Jadi mereka semua orang suruhan dari orang tua kandung anakku?" Wajah Yanti tidak menyangka.
"Iya Mbak."
__ADS_1
"Lalu di mana mereka?"
"Beliau sedang ada urusan, sebentar lagi pasti kembali kesini. Mbak mau kan bertemu dengannya dan anak yang telah Mbak rawat?" Wati bertanya untuk memastikannya.
"Beliau namanya siapa?"
"Namanya___"
Duduk di kursi kebesarannya, Radit terus melamun memikirkan sesuatu. Kerjanya sedari tadi tidak fokus, entah apa yang membuat pria tampan itu terus melamun.
"Permisi Tuan, ini saya bawakan laporan dari anak perusahaan yang ada di NewYork" Riyan membawakan dokumen penting ke ruangannya.
Tapi pria itu tidak menggubris keberadaan Riyan sejak tadi. "Tuan?" Asisten sekaligus tangan kanan Radit itu mencoba membuyarkan lamunannya.
"Tuan Radit?"
"Ah, iya. Kenapa?" Radit membenarkan posisi duduknya. "Apa Tuan sedang tidak enak badan?" Tanya Riyan lagi.
"Hm, tidak. Ada perlu apa?" Kata Radit tanpa basa-basi, mood nya sedang tidak baik hari ini. "Ini saya membawa laporan dari anak perusahan yang di NewYork. Sesuai yang anda minta Tuan." Riyan menyerahkan dokumennya ke atas meja Radit.
"Baik Tuan."
Begitu keluar dari ruangan Radit, Riyan menjumpai Nania yang sedang fokus bekerja di tempatnya. "Sstt Nan.." Panggilnya pelan.
"Riyan, kenapa?" Nania menghentikan pekerjaannya. "Si Bos kenapa tuh, kok kayak lagi murung gitu?" Ucap Riyan yang masih heran.
Nania melirik sekilas ke ruangan Radit dari celah jendela. "Benarkah?" Riyan menghela napasnya pelan. "Iya, mending kamu buatkan si Bos teh hangat. Siapa tahu mood nya langsung baik lagi," Riyan mengusulkan ide bagus untuk Nania.
Gadis itu mengangguk, "Ah iya. Baiklah, nanti aku buatkan untuknya. Oh ya mumpung ada kamu, ini aku titip untuk Delisha." Nania menyodorkan salinan dokumen pada Riyan.
"Ya sudah, aku ke ruanganku dulu. Ini aku akan kasih ke pacarku, bye." Riyan mengulas senyum dan berlalu pergi.
Nania masih memperhatikan Radit dari tempat kerjanya. Terlihat pria itu memang sedang menatap kosong layar PC di hadapannya.
__ADS_1
Wajahnya seperti banyak pikiran, sesuai ide yang di berikan Riyan. Nania pun bergegas membawakan teh hangat untuknya.
"Permisi Tuan, saya bawakan teh hangat dan cookies untuk Tuan." Nania meletakkan nampannya di atas meja Radit.
"Nana, tapi aku tidak minta teh?" Radit masih bingung. "Tuan, ini adalah sebagian tugas dari Sekertaris. Jika Tuan sedang ada masalah, anda bisa menetralkan sedikit pikiran dengan meminum teh hijau ini." Tawar Nania tersenyum ramah.
"Tahu dari mana kamu kalau aku sedang ada masalah, hm?" Radi terkekeh melihat tingkah kekasihnya.
"Dari raut wajah anda. Setiap orang mempunyai masalah Tuan, jika Tuan tidak bisa menceritakannya pada orang lain. Setidaknya, buat diri Tuan menjadi rileks sedikit." Nania tetap tersenyum, entah kenapa ia tidak ingin melihat pria di hadapannya ini sampai murung.
"Baiklah, aku akan minum ini. Lain kali aku akan cerita denganmu." Radit meraih cangkir tehnya dan menyuruputnya.
"Teh nya enak. Terima kasih Nana." Ucap pria tampan itu dengan tulus. "Sama-sama Tuan, jika anda butuh sesuatu. Anda bisa panggil saya"
"Pasti Nana."
"Kalau gitu saya permisi dulu Tuan."
"Eh tunggu Nana!"
Nania membalikkan tubuhnya, "Ada apa Tuan?" Radit berdiri dari kursinya. Ia menarik tangan Nania menuju ke sofa yang ada di dalam ruangan itu.
"Temani aku sebentar saja." Radit menyuruh Nania duduk, ia pun merebahkan tubuhnya di sofa dan menyandarkan kepalanya di atas pangkuan Nania.
"Tapi Tuan__"
"Kamu bilang, jika butuh sesuatu aku harus panggil kamu. Aku membutuhkannya sekarang, tetaplah seperti ini sebentar saja." Radit memejamkan matanya.
Napas Nania terasa sesak, ia seakan lupa cara bernapas di saat kepala Radit singgah di atas pangkuannya.
Hal itu membuat degup jantung Nania tak karuan. "Tapi Tuan, apa yang orang lain katakan jika melihat ini?" Gadis itu merasa khawatir.
"Kamu selalu khawatir, tenanglah aku pemimpin di sini." Ucap Radit dengan mata yang terpejam, Nania pun terdiam.
__ADS_1
Pasrah adalah kata yang tepat untuk Nania sekarang, ia hanya bisa diam mengikuti permintaan Radit. Sambil mengatur ritme napasnya, Nania menatap wajah tampan milik Radit.
Ada rasa sedih, ada rasa bahagia. Entah apa yang di rasakan Nania sekarang ini, situasi yang suka membuat dirinya bingung.