
Siang ini perusahaan Diamond Glow mengadakan meeting dengan perusahaan Max Lan, siapa lagi kalau bukan Reyhan yang mengambil alih perusahaan Max Lan sekarang ini.
"Riyan, apa sudah siap?"
"Sudah Tuan, mereka sedang dalam perjalanan menuju ruang meeting." Balas Riyan, ia lalu berjalan bersama Radit yang ada di depan nya menuju lift.
Mereka akan melakukan meeting pembahasan proyek nya yang sudah berjalan. Raut wajah Radit terlihat berbeda sekali di dalam lift.
Ia seakan menanti sesuatu untuk di lihat dan di pastikan. Sudah tiba di depan ruang meeting, kedua nya masuk dan di sambut semua orang yang akan ikut dalam rapat tersebut.
"Baiklah, kita mulai rapat ini. Riyan, bagikan semua nya." Titah Radit memulai meeting dengan menyuruh Riyan membagikan berkas materi pada semua nya.
Manik mata nya tak henti menatap Dinan dengan intens. Ia bahkan sesekali menatap nya sedikit tajam. Merasa di tatap aneh dengan Radit, Dinan menundukkan wajah nya.
"Tuan Reyhan, bagaimana perkembangan project yang kita jalankan bersama saat ini?" Tanya Radit dengan nada datar nya.
"Produk yang kita luncurkan kali ini cukup berkembang pesat, serum DNA Salmon sudah menyebar di berbagai provinsi, juga ke berbagai manca Negara. Bahkan laporan yang saya terima, bagian pemasaran menerima sekali banyak orderan, hingga produksi kita keteteran." Jawab Reyhan dengan yakin dan juga jelas.
"Okay, project kita kali ini berhasil, saya akan menambah karyawan di bagian produksi untuk mempercepat pembuatan produk, agar pemasaran tetap berjalan dengan semesti nya." Usul Radit dengan cermat.
Dinan mengangguk, ia bahkan hanya mendengarkan saja tanpa berani menatap Radit yang melihat nya dengan memburu.
"Iya Tuan, saya rasa kerja sama kita kali ini berjalan lancar. Saya juga akan memantau pemasaran produk ini di luar sana." Reyhan merasa senang, project nya kali ini bisa meledak dan memuaskan. Ia pasti di acungkan jempol oleh sang Papa.
Lain di gedung perusahaan yang di tingkati 20 lantai. Tuan Lan menatap ke luar dari balik jendela kaca kantor nya. "Rahayu... Aku sangat merindukanmu.." Lirih nya pelan.
Tak lama seseorang mengetuk pintu ruangan nya.
"Masuk." Jawab Tuan Lan menoleh.
Masuklah seorang asisten nya dan seorang pria. "Mr.Lan, ada orang yang ingin menemui anda." Bilang asisten Jo pada Lan.
"Hm, thank you. Kau boleh pergi"
Pria itu memeluk Tuan Lan seperti menumpahkan rindu nya. "Lama tidak bertemu Pa.." Ucap Kevin. "Ya Kevin, Papa sampai pangling melihatmu yang sekarang."
Ya, pria itu adalah Kevin, mantan kekasih Nania sekaligus pemilik PT.Sunrise Textile. Ia sudah di anggap seperti anak sendiri pada Lan dalam dunia Bisnis nya.
Kevin sedang dinas ke Amerika untuk membeli bahan dan menjalin kerjasama bareng Lan di Negeri paman Sam.
"Papa bisa saja, he he."
Mereka duduk di sebuah sofa dalam ruangan kerja Lan. Kevin terlihat lebih segar, aura nya bahkan tidak terlihat sama sekali jika dia sudah memiliki anak dan istri.
"Bagaimana kabar istri dan anakmu, Kevin?"
"Mereka baik-baik saja Pa. Ya,,, masih seperti biasa nya. Kabar Papa sendiri bagaimana?" Kedua nya bicara sangat akrab sekali. "Seperti yang kamu lihat, Papa baik-baik saja." Jawab Lan.
"Oh ya Pa, aku dengar perusahaan Max Lan menjalin kerja sama dengan Diamond Glow." Kevin penasaran sekali, karena ia tahu jika Nania bekerja di sana.
__ADS_1
"Ah itu,, ya perusahaan Max Lan memang bekerja sama dengan Diamond Glow, karena Papa lihat Diamond Glow bisa membawa nama perusahaan Papa ikut bersinar." Jawab Lan begitu yakin.
Kevin sekilas membayangkan masa lalu nya dengan Nania. "Aku dengar Diamond Glow juga punya anak perusahaan yang bergerak di berbagai macam bidang ya Pa?"
"Iya kamu benar, pemimpin Diamond Glow yang masih muda itu memang cerdas dan produktif sekali, bahkan Papa juga di ajak kerja sama untuk project baru di bidang properti nya." Lan merasa ada yang aneh dengan Kevin. Pria itu menjawab nya dengan mengangguk seolah paham.
"Memang nya ada apa Vin, kok Papa lihat kamu seperti nya tertarik sekali dengan perusahaan itu?"
"Ah, Papa bisa saja. Siapa yang tidak tertarik dengan perusahaan mereka. Semua orang ingin sekali bisa menjadi partner nya." Kilah Kevin, padahal ia hanya memikirkan Nania bukan perusahaan Radit.
Pria yang sering di sapa Kevin ini, memang sudah tidak pernah lagi mengganggu Nania, tapi sampai saat ini bayang-bayang Nania masih jelas teringat.
"Papa bisa ajak kamu bergabung dengan mereka, bagaimana kalau kita coba untuk kerja sama proyek baru dengan mereka. Papa yakin menaruh saham disana akan sangat melesat dan Boomm..." Lan memperagakan roket meluncur ke atas dengan tangan nya.
Kevin pun tertawa, ia menyetujui ide dari Lan, itu pasti akan menguntungkan perusahaan nya dan dia bisa bertemu lagi dengan Nania.
"Ide bagus itu Pa, aku setuju sekali."
"Baiklah, nanti kalau Papa sudah pulang ke Indonesia kita bicarakan lagi ya soal project nya." Kevin mengangguk.
Mereka masih meneruskan obrolan nya dengan panjang lebar karena sudah lama tidak bertemu.
Setelah selesai melakukan meeting, Dinan keluar bersama Reyhan yang menuntun nya. Karena kaki wanita itu masih terasa sakit dan belum sembuh.
Radit menaikan satu alis nya, ia pun menghampiri Dinan dan Reyhan. "Tuan Reyhan, seperti nya kaki Nona Dinan ini sedang sakit. Apa habis ada insiden yang menimpa nya?" Tanya nya dengan raut wajah yang menekan.
"Ah ini bukan apa-apa kok Tuan. Saya hanya cidera sedikit karena keteledoran saya di ruang kerja." Kilah Dinan mengalihkan pembicaraan.
"Begitu ya? Anda memang sangat profesional sekali Nona Dinan, masih sanggup datang meeting dengan keadaan kaki yang seperti ini." Radit seperti meledek Dinan.
"T-terima kasih Tuan, kalau gitu kami permisi dulu."
"Ah ya silahkan.." Radit tersenyum kecut.
"Mari Tuan Radit." Pamit Reyhan.
Reyhan sama sekali tidak merasa ada yang aneh, ia sama sekali tidak tahu apa-apa soal Dinan yang menyembunyikan sesuatu pada nya.
Kepergian Dinan dan Reyhan sudah menghilang dari hadapan Radit. Pria tampan itu menyebikkan bibir nya.
"Dasar wanita bermuka dua!" Gumam nya mengepalkan tangan juga mengetatkan rahang nya.
"Riyan, antar aku ke TKP sekarang!" Titah nya pada Riyan yang berada di belakang nya.
"Baik Tuan, mari saya antar."
Kedua nya berangkat menuju lokasi tempat di mana Nania kecelakaan. "Tuan, kita sudah sampai."
Radit turun menggunakan kacamata hitam yang membuat wajah nya semakin tampan. Banyak pasang mata yang melirik ke arah nya saat melintasi jalanan itu.
__ADS_1
"Jadi di sini Nana menabrak pohon karena hilang kendali. Jalanan nya cukup sempit, hanya untuk dua mobil saja saling berlawanan. Pantas saja Nana bisa lepas kendali." Gumam nya mencermati lokasi.
"Riyan, apa sudah dapat Cctv nya?"
"Dari tim kami belum menemukan sama sekali ada toko yang mempunyai Cctv yang mengarah kesini Tuan. Jadi cukup sulit untuk bisa mendapatkan gambar kejadian."
"Cari terus sampai kalian menemukan bukti nya!"
"Baik Tuan."
Sebenar nya mobil yang di kendarai Nania itu memiliki kamera pengawas di bagian dashboard mobil. Tapi Radit tidak pernah memasang di bagian belakang nya. Jadi ia tidak bisa menemukan apapun.
Radit terus berjalan mengitari jalanan tersebut, barang kali ia bisa menemukan titik terang dalam kejadian yang sudah berlalu ini.
Dari kejauhan ada sebuah mobil yang mengikuti mobil Radit sebelum tiba di TKP.
"Radit.. Sampai segitukah kamu mencintai wanita itu." Lirih nya sendu.
"Ada aku yang selalu menunggumu, kenapa kamu nggak pernah melirikku sedikit pun Radit." Ia benar-benar frustasi dan sedih. Fiona lalu memutar stir nya untuk meninggalkan Radit.
Ia memang mengikuti mobil Radit dari tadi. Fiona sangat ingin memiliki Radit. Ia tahu dari anak buah nya jika Nania di tabrak di lokasi itu, maka Fiona langsung ingin melihat nya dan ternyata Radit masih mengorek untuk mengetahui kejadian nya.
Fiona masih menyetir dalam keadaan marah, saat melintasi jalanan sepi ia hampir saja menabrak seorang wanita.
"Aaaaaah..."
Beruntung rem yang di injak Fiona dapat menghentikan mobil nya. Ia buru-buru turun untuk memastikan orang yang hampir saja ia tabrak.
"Aduh Bu, Ibu nih gimana sih?! Ibu kalau mau nyebrang lihat-lihat Bu!" Ketus Fiona memarahi wanita paruh baya yang masih jongkok dengan tubuh gemetar.
"M-maaf.. Sa-saya nggak sengaja." Yanti menjawab dengan gugup. Kaki nya terasa lemas sekali.
"Ck, ya sudah cepat minggir!"
Tidak ada rasa kasihan sama sekali pada Yanti, Fiona malah menyuruh nya minggir agar ia bisa jalan kembali. Yanti pun menepikan diri nya di pinggir jalan.
Nafas nya masih tidak beraturan, sedangkan Fiona sudah kembali menjalankan mobil nya. Tidak lama ada sebuah mobil yang ikut menepikan mobil nya. Pria tampan itu turun dan menghampiri Yanti.
"Ibu, Ibu nya Nania kan? Untuk apa Ibu ada di sini?"
Tegur Radit yang baru saja ingin pulang ke kantor, ia melihat Yanti di pinggir jalan, merasa tidak tega karena biar bagaimana pun Yanti adalah Ibu dari calon istri nya, ia pun berhenti sejenak.
"T-tuan.. Tuan ini yang menolong Nania waktu itu kan.." Yanti terkejut karena yang datang adalah Nania.
Semenjak kejadian di desa nya, ia memang tidak pernah bertemu lagi dengan Radit. Tapi Yanti sangat mengenali wajah Radit, dan dia juga tahu kalau Nania tinggal di apartemen nya.
"Iya, Ibu sedang apa di sini?" Radit masih menanyakan nya.
"Sa-sayaa..."
__ADS_1