Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Bab 29


__ADS_3

Gavin dan Zia menyambut kedatangan keluarga besar Gavin. Keduanya keluar rumah begitu 2 mobil terparkir di halaman depan.


Mama Ambar dan Papa Rudi terlihat turun lebih dulu sambil menggandeng cucu mereka. Anak - anak dari Revan, kakak Gavin.


Semua orang sudah keluar dari mobil, termasuk Airin dan suaminya, beserta anak mereka. Perut Airin terlihat semakin membesar menjelang kelahiran anak kedua mereka.


Melihat kedua saudara Gavin yang sudah di karuniai 2 orang anak, wajar jika Mama Ambar menginginkan Gavin segera memiliki anak.


Sebagai orang tua, tentu saja dia sedih karna salah satu anaknya tak kunjung di karuniai anak.


Mama Ambar mungkin bertindak seperti itu karna memikirkan kebahagiaan Gavin dan dirinya, tapi dia tidak sadar jika tindakannya salah dan menyakiti perasaan menantunya.


Mama Ambar menutup mata akan sakit hati seorang wanita yang selalu dipojokkan dan disalahkan, seolah - olah menjadi wanita yang tidak bisa memiliki seorang anak.


Zia menarik nafas dalam. Dadanya tiba - tiba sesak karna mengingat perlakuan buruk Mama mertuanya. Juga perlakuan keluarga Gavin yang selalu menatapnya tak suka akibat permasalah yang di luar kehendak manusia.


Mereka tidak berfikir jauh sebelum berkata. Hingga lisannya mampu menggores hati yang lunak dan mudah terluka.


Di beri keturunan atau tidak, semua itu atas kehendak Tuhan. Manusia tidak ikut andil meski mereka yang berproses.


"Mah, Pah,," Zia menyapa ramah kedua mertuanya dengan senyuman yang merekah. Dia bahagia karna sebentar lagi memberitahukan kehamilannya pada mereka. Zia berharap, kabar kehamilannya bisa mengembalikan sikap Mama mertuanya yang berubah dingin dan ketus padanya.


Papa Rudi membalas jabatan tangan Zia dengan seulas senyum. Lain halnya dengan Mama Ambar yang menjabat tangan sambil memalingkan pandangannya pada Gavin. Wajah datar Mama Ambar yang sempat di tunjukan untuk Zia, kini. berubah cerah ketika menatap Gavin.


Melihat perbedaan yang mencolok atas sikap Mama Ambara pada dirinya dan Gavin, Zia hanya bisa menarik nafas dalam. Mama Ambar seolah tidak menganggap keberadaannya.


Mungkin saat ini Mama Ambar masih bisa berlaku buruk padanya. Zia semakin tidak sabar untuk melihat reaksi dan perlakuan Mama Ambar setelah mengetahui kehamilannya.


"Tanteee,,,," Kedua anak Revan dan anak Airin, kompak menyapa Zia dan mendekat ke arahnya.


Senyum ceria seketika terbit di wajah Zia. Ketiga ponakannya itu mampu menutupi kekecewaan yang di rasakan oleh Zia akibat perlakuan Mama Ambar.


"Haii tampan, haii cantik,,," Zia memeluk mereka bergantian.


"Tante punya hadiah untuk kalian. Di dalam juga banyak makanan kesukaan kalian."


"Sana masuk,,," Kata Zia sambil menunjuk ke arah pintu yang terbuka lebar.


"Yeeaayyy,,,," Ketiganya bersorak kegirangan. Mereka langsung berlari masuk kedalam rumah. Bersamaan dengan itu, terdengar teriakan teguran dari orang tua mereka masing - masing.


"Tidak apa kak,," Ucap Zia pada Revan dan istrinya.


"Biarkan saja Rin,," Ujarnya lagi. Zia tersenyum samar pada Airin.


"Ayo masuk,,," Gavin mengajak mereka untuk masuk.


Ruang keluar terlihat penuh dengan kehadiran keluarga besar Gavin. Terlebih ketiga ponakan Gavin tengah sibuk membuka hadiah mereka masing-masing dengan duduk di atas karpet.


Zia dan Gavin membelikan banyak mainan untuk ketiga ponakannya, beserta cemilan kesukaan mereka.


"Ada apa mengundang kami untuk datang kemari.?" Mama Ambar membuka obrolan. Semua orang langsung menatap ke arah Zia dan Gavin setelah tadi sibuk memperhatikan anak - anak.


"Apa kamu sudah setuju dengan rencana Mama untuk menikah dengan Nindy.?"


Zia tertegun Mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Mama mertuanya.

__ADS_1


Senyum di bibir Zia seketika lenyap, bersamaan dengan rasa sesak di dadanya.


Zia tak menyangka jika Mama mertuanya bersikeras untuk menikahkan Gavin dengan Nindy.


Jika saat ini belum ada kehidupan di rahim Zia, mungkin rumah tangganya dengan Gavin akan berakhir dengan perceraian.


"Mah.!" Tegur Gavin tegas. Dia menatap Mamanya dengan tatapan tajam, tapi kemudian menoleh pada Zia dengan sorot mata teduh dan iba. Gavin ikut merasakan sesak yang dirasakan oleh Zia. Melihat perubahan raut wajah Zia dan matanya yang berkaca - kaca, Gavin tau kalau Zia sedang menahan sakit hati atas ucapan sang Mama.


"Aku sedang hamil.!" Seru Zia kemudian.


Semua orang terlihat tidak percaya mendengar pengakuan Zia tentang kehamilannya.


Terlebih Mama Ambar, dia sampai tertegun.


"Jika Mama bersikeras untuk menikahkan Mas Gavin dengan Nindy, tunggu setelah anak ini lahir dan surat cerai kami keluar."


Zia berbicara dengan lantang. Dia tidak peduli dengan siapa dia berhadapan saat ini.


Mama mertuanya memang sangat keterlaluan. Tega berbicara seperti itu di depan Zia.


"Zi,, kamu bicara apa." Gavin terlihat menyesali ucapan Zia yang membahas soal perceraian.


"Aku bicara sesuai keinginan Mama, Mas,," Sahut Zia cepat.


"Ka,,kamu beneran hamil.?" Suara Mama Ambar terbata. Zia hanya diam saja, terlihat malas menanggapinya.


"Ya, darah daging ku di rahim Zia."


"Jadi Gavin minta sama Mama, mulai detik ini jangan pernah lagi membahas soal pernikahan."


Tutur Gavin dengan nada kekesalan di dalamnya. Dia sebagai anaknya saja merasa geram atas tingkah orang tuanya. Lalu bagaimana dengan Zia.?


"Zia hamil.?" Papa Rudi terlihat bahagia mendengar kabar itu. Zia dan Gavin mengangguk bersamaan.


Gavin menyodorkan map yang sejak tadi ada di atas meja.


Mama Ambar segera mengambilnya. Melihat dan membaca isi map itu yang terdapat foto USG dan hasil pemeriksaan.


"Syukurlah,,," Ucap Mama Ambar dan Papa Rudi bersamaan. Keduanya terlihat bahagia dengan wajah yang berbinar.


Zia bisa melihat kebahagiaan di wajah kedua mertuanya. Tapi hatinya masih saja tidak terima saat mengingat perkataan dan perlakuan Mama Ambar padanya tadi.


"Maafkan Mama, Zi,,," Mama menatap Zia penuh sesal.


Setelah tau bahwa Zia hamil, dia baru menyadari kesalahannya yang sudah diluar batas.


"Aku tidak sepeti yang Mama pikirkan. Rahim ku baik - baik saja dan aku bisa hamil."


"Seandainya saja Mama tau bahwa kehamilan itu diluar kehendak manusia, mungkin Mama bisa lebih menghargai perjuangan kami selama ini."


Zia tidak menjawab permintaan maaf dari Mama mertuanya, tapi kembali menyadarkan Mama Ambar bahwa perbuatannya selama ini sangat keliru.


"Sekali lagi Mama minta maaf karna sudah menyakiti perasaan kamu."


Mama Ambar menundukkan kepalanya. Dia amat malu pada Zia. Menantu yang sejak dulu sangat baik padanya sampai rela merawatnya disaat sakit.

__ADS_1


"Ini untuk terakhir kalinya Mama mencampuri urusan rumah tanggaku." Tegur Gavin.


"Ke dapan, aku tidak mau mendengar Mama berkata buruk lagi pada Zia."


"Kehidupan anak setelah menikah, bukan lagi menjadi urusan orang tua."


"Mama tidak berhak ikut campur terlalu jauh."


Mama Ambar terus menunduk malu. Berulang kali dia meminta maaf atas kesalahannya.


Mama Ambar beruntung karna memiliki menantu sebaik Zia.


Wanita berparas cantik itu, berbesar hati memaafkan semua kesalahan mertuanya selama ini.


******


Keluarga besar Gavin telah meninggalkan rumah.


Mereka memutuskan pulang saat menjelang malam.


Zia berusaha keras menyingkirkan egonya. Dia memperlakukan mereka dengan baik seolah tidak pernah terjadi sesuatu di antara mereka.


Sikap baik Zia mampu menghidupkan suasana yang tadinya sempat canggung.


Bahkan Mama Ambar tidak berani menatap Zia saat sedang makan siang bersama. Tapi Zia yang lebih dulu mendekati Mama Ambar dan mencoba melupakan permasalah yang pernah terjadi.


"Aku beruntung memilikimu." Gavin tiba - tiba datang dan memeluk Zia dari belakang.


Zia menoleh, menatap Gavin dengan senyum manis.


"Terimakasih sudah memaafkan kesalahan Mama." Ucapnya bangga.


Gavin mengagumi kebesaran hati Zia yang mau memaafkan kesalahan orang tuanya.


"Mama orang yang telah melahirkan mu. Bagaimana bisa aku terus membencinya."


"Aku harap Mama tidak mengulangi kesalahannya lagi." Ucap Zia.


"Aku akan pastikan itu." Sahut Gavin. Dia yang akan memastikan kalau sang Mama tidak akan lagi mengusik rumah tangganya.


"Ayo masuk, sudah malam." Gavin menggiring Zia untuk masuk kedalam kamar.


Zia sudah terlalu lama berdiri di balkon sejak menunggu Gavin mandi.


"Kamu tidak menginginkannya mas.?" Tawar Zia dengan wajah menggoda.


Dia sangat paham kebutuhan suaminya. Rasanya tidak tega membiarkan Gavin menahan diri untuk tidak menyentuhnya.


"Jangan menggodaku Zia, aku akan menunggu sampai kandungan kamu cukup kuat." Sahut Gavin.


Zia tersenyum lebar. Dia bisa melihat kalau suaminya tidak sanggup menahan terlalu lama.


"Tapi dokter tidak melarang, asal kamu bisa mengontrolnya." Pancing Zia lagi.


Gavin terlihat menelan ludah. Raut wajahnya mengatakan iya, tapi kepalanya menggeleng.

__ADS_1


"Sebaiknya kita tidur." Ucap Gavin kemudian.


Dia tidak sanggup menahan kalau Zia terus menawarkan diri.


__ADS_2