Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Bab 28


__ADS_3

Siang itu Gavin mengundang keluarga besarnya untuk datang ke rumah. Gavin ingin mengumumkan kabar kehamilan Zia pada mereka. Terutama pada kedua orang tuanya yang akhir - akhir ini selalu menyakiti perasaan Zia dengan menyinggung soal kehamilan, hingga sampai pada menyuruh Zia untuk mengijinkan Gavin menikah lagi.


Gavin menyadari sikap keluarganya sangat keterlaluan. Mereka terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangganya yang seharusnya tidak disentuh sedikitpun oleh siapapun termasuk kedua orang tuanya.


Tugas mereka hanya mendukung, memberikan semangat dan meluruskan jika ada hal yang keliru.


Bukan menghakimi dan menuntut karna tak kunjung mendapatkan keturunan.


"Sudah Zi, kamu tidak perlu turun tangan." Ujar Gavin cemas. Dia menghampiri Zia yang ikut membatu pekerja rumah menyiapkan makanan untuk menyambut keluarga Gavin.


"Aku hanya melakukan pekerjaan ringan Mas, tidak usah khawatir." Zia hanya menoleh dan melempar senyum manisnya. Dia sama sekali tidak menghiraukan kecemasan Gavin.


Tangannya kembali memotong sayuran dengan lihai. Urusan memasak memang jagonya.


Zia tidak pernah gagal menghidangkan makanan lezat untuk Gavin.


"Ziii,,," Tegur Gavin dengan penekan. Dia tidak suka mendengar bantahan Zia. Wajahnya seketika berubah. Terlihat dingin dan datar.


Sadar jika suaminya marah karna ucapannya di bantah, Zia langsung menghentikan aktifitasnya.


"Maaf sayang,,," Ucap Zia lembut. Dia melepaskan apron dan menaruhnya.


"Tolong di lanjutin ya Mba,," Pinta Zia pada Mbak Lastri.


"Iya Bu,,,"


"Kemari,,," Gavin menggandeng tangan Zia. Membawanya keluar dari dapur.


"Aku sudah mengosongkan ruangan sebelah." Tutur Gavin antusias. Dia baru saja menyuruh pekerja rumah untuk mengosongkan ruangan di sebelah kamar mereka.


Gavin berencana untuk menjadikan kamar itu sebagai kamar anak mereka.


"Untuk apa Mas,,?" Zia sampai mengerutkan kening. Dia belum berfikir sejauh itu untuk menyiapkan kamar anak. Begitu tau dirinya hamil, Zia hanya fokus pada perasaan Gavin dan rumah tangganya yang terselamatkan karna kehadiran buah hati mereka. Zia juga fokus pada reaksi Gavin yang terlihat sangat bahagia.


"Aku ingin menjadikan ruangan itu untuk kamar Gavin junior,," Kata Gavin. Laki - laki itu begitu bangga dan haru saat mengucapkan 'Gavin Junior'.


Kehadiran Gavin junior begitu berarti untuknya di tengah tengah kondisi rumah tangga mereka yang sudah berada di ujung tanduk akibat campur tangan orang tuanya.


Kehamilan Zia adalah anugerah terbesar. Tidak pernah terlintas dalam benaknya jika dia akan hadir di waktu yang tepat.


Entah apa jadinya jika Zia belum hamil sampai saat ini, mungkin rumah tangganya akan terus di terpa permasalahan yang sama.


Mungkin saja Zia juga akan mundur perlahan jika Mama Ambar terus mendesak Gavin untuk menikah lagi.


"Ya ampun Mas, kamu sudah punya rencana sejauh itu.?" Tanya Zia haru.


Ini kehamilan pertamanya, Zia tau bagaimana perasaan Gavin. Wajar jika reaksinya sangat antusias dan sudah menyiapkan kamar untuk calon anak mereka di usia kehamilan Zia yang masih seumur jagung.


"Aku ingin menjadi ayah yang baik untuknya Zi. Bukankan dia akan bangga jika tau aku menyiapkan kamar untuknya sejak awal.?" Ucap Gavin. Matanya berbinar. Kebahagiaan seakan tak ada henti - hentinya di rasakan oleh Gavin.

__ADS_1


"Aku ingin kamu yang mendesign kamar itu. Kamu punya selera design yang luar biasa. Anak kita pasti akan nyaman menempati kamar itu."


Gavin terus berbicara. Terus membicarakan soal kamar dan calon anak mereka.


*****


"Kamu yakin.?" Mitha menyipitkan matanya. Dia menatap layar ponsel David dengan seksama. Memastikan jika itu adalah Gavin dan Zia.


Foto yang memperlihatkan Zia duduk di kursi roda dan Gavin yang ada di belakangnya tanpa sedang mendorong kursi roda itu.


Raut wajahnya keduanya di hiasi senyum yang merekah. Meski di ambil dari jarak yang lumayan jauh, namun senyum bahagia itu terlihat jelas.


Mitha terus melihat semua foto Zia dan Gavin satu persatu. Dengan latar belakang rumah sakit dan ada foto yang memperlihatkan ketika Zia dan Gavin Masuk kedalam ruangan obgyn, serta keluar dari sana dengan ekspresi bahagia.


"Apa aku pernah keliru mendapatkan informasi.?" David bertanya balik. Dia ingin mengingatkan Mitha kalau selama ini dirinya tidak pernah salah mendapatkan informasi. Apapun yang dia ingin ketahui, selalu bisa dia dapatkan dengan mudah karna uang dan kekuasaan.


"Ya, kamu tidak pernah keliru mendapatkan informasi tentang Zia. Tapi tutup mata setelah mendapatkan informasi tentang Arabella." Sahut Mitha menyindir.


Dia tau semua tentang kehidupan pribadi David, termasuk Ciara dan Arabella yang telah menjadi bagian dari hidup David sejak 4 tahun lalu.


"Aku menemuimu bukan untuk membahas wanita itu." David berbicara sinis. Dia tak pernah suka mendengar nama Arabella.


"Tetap cari informasi tentang Zia. Laporkan apa saja yang terjadi padanya." Pinta David.


Dia seakan tidak ingin menyerah untuk mendapatkan Zia. Masih sangat berharap jika suatu saat nanti akan ada celah dan kesempatan untuk bisa mendapatkannya.


Ternyata Mitha melupakan hal penting mengenai David. Laki - laki tampan itu sangat gigih jika ingin mendapatkan sesuatu. Tidak akan menyerah sebelum berada di genggamannya.


"Belum ada kata terlambat selama aku masih menginginkannya." Jawab David tegas.


Mitha menarik nafas dalam. Sepertinya tidak akan mudah untuk menyuruh David berhenti.


Mitha memang sempat mendukung David untuk mendapatkan Zia. Tapi pada saat itu keadaan rumah tangga Zia dalam abang kehancuran dan Mitha tidak tega melihat Zia yang terus tersakiti oleh sikap Gavin dan keluarganya.


Sekarang dia melihat sendiri kalau hubungan Zia dan Gavin sudah membaik, bahkan mereka akan segera dikaruniai seorang anak.


Bagaimana bisa Mitha membiarkan David merusak kebahagiaan mereka.


"Jangan gila Vid. Mereka sudah bahagia dan akan memiliki anak. Sebaiknya mundur saja,,"


"Biarkan Zia bahagia."


Mitha sedikit memohon, berharap David mau mendengarkan perkataannya.


"Aku hanya ingin mendapatkan informasi tentangnya, bukan ingin merebutnya secara paksa." Tutur David menjelaskan.


"Kehamilan Zia tidak menjamin hubungan mereka akan lama bukan.?"


"Aku percaya takdir." David mengulas senyum smirk.

__ADS_1


"Pastikan tetap memberi ku informasi." Pintanya. Dia beranjak dari duduknya dan bergegas pergi dari hadapan Mitha.


"Ya ampun.! Anak itu selalu saja menyusahkan." Geram Mitha.


Dia percaya kalau David akan memperlakukan Zia dengan baik jika mendapatkannya. Tapi saat ini situasinya sudah berubah. Sikap Gavin sudah kembali seperti dulu dan kini Zia tengah hamil.


Mitha tidak mungkin lagi mendukung David untuk mendapatkan Zia.


Mitha mengambil ponsel dari dalam tas. Dia langsung mencari kontak Zia dan menghubunginya.


3 kali melakukan panggilan, Zia baru mengangkat telfonnya.


"Hallo Zi,,," Sapa Mitha.


"Kamu baik - baik saja kan.?" Tanyanya sedikit cemas. Meski yakin jika Zia tengah hamil, tapi dia tetap cemas karna melihat Zia yang keluar dari ruangan menggunakan kursi roda.


"Ya hallo."


"Pertanyaanmu aneh sekali.?" Zia terdengar menahan tawa.


"Kamu seperti baru saja mendengar kabar buruk tentangku." Ujar Zia lagi.


"Ya ampun Zi, aku serius." Sahut Mitha.


"Ya,, ya,, kamu itu sahabat baikku, pasti bisa merasakan apa yang aku rasakan." Zia masih saja terdengar menahan tawa.


"Aku baik - baik saja, bahkan sangat baik."


"Kamu tau bagaimana hidupku selama 5 bulan terakhir. Bukankah itu menyedihkan." Kata Zia.


Mitha bisa mendengar suara Zia yang sedikit bergetar.


"Tapi rupanya di balik kesedihan yang aku rasakan selama ini, ada kebahagiaan besar yang sedang menanti."


"Aku diberi kesempatan merasakan kepedihan karna setelah ini aku akan kembali merasakan kebahagiaan yang tidak akan terputus."


"Aku hamil Mit,," Seru Zia. Kali ini Zia terdengar menangis. Mitha tau jika itu adalah tangis bahagia.


"Ada kehidupan baru dalam rahimku yang membuat hubungan ku dengan mas David akan bahagia seperti dulu." Tuturnya haru.


"Ya ampun Zi, aku ikut bahagia untuk kehamilan mu." Ucap Mitha tulus.


"Aku akan menemuimu nanti. Jaga kesehatan dan bayimu,,"


"Terimakasih banyak Mit,,"


Keduanya mengakhiri panggilan.


Mitha tersenyum bahagia sambil menatap ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2