
Malam hari ini Reyhan berniat keluar dari apartemen Devan. Ia berniat akan tinggal di apartemen nya sendiri, dan singgah di sana. Sampai surat perceraian yang ia gugat selesai.
"Kak, lo yakin mau tinggal di apartemen lo sendiri?" Tanya Devan sambil menuang air di gelas.
Mereka sedang mengadakan makan malam berdua saja di apartemen. "Iya Dev, gue bakal tinggal di apartemen gue sendiri saja. Lagian sayang juga kan ngga pernah di pakai." Jawab nya.
"Iya sih, tapi kalau pun lu di sini juga ngga apa-apa."
"Iya, gampang lah. Tapi gue lagi pingin tinggal sendiri dulu Dev." Reyhan menyuapkan nasi ke mulut nya. "Ya sudah Kak, jika perlu sesuatu, katakan saja. Jangan sungkan sama gue." Pinta Devano.
"Pasti, lo tenang saja."
Tidak lama setelah menyelesaikan makan malam. Reyhan langsung berangkat menggunakan mobil nya menuju apartemen yang dulu pernah ia beli.
Ia pun masuk ke dalam lift, dan menekan lantai 24. Sedangkan wanita paruh baya yang berada di dalam apartemen Reyhan itu tengah berdiam di balik selimut.
Yanti merasakan meriang di sekujur tubuh nya, badan nya lemas dan berbaring saja sejak tadi. Samar-samar ia mendengar seseorang menekan kode akses pintu apartemen nya.
Reyhan sudah menekan kode akses nya, namun gagal. Ia tidak membawa kartu akses, karena ini di luar dugaan dia. Pikir nya, ia hafal dengan kata sandi nya. Jadi tidak perlu mengambil kartu di rumah nya.
Dua kali ia menekan kode sandi itu, namun gagal terus. Yanti bangun dari tidur nya, ia keluar kamar dan mencari tahu kebenaran nya.
"Siapa yang menekan kunci sandi pintu nya? Apa Dinan lupa yah, sebaik nya aku buka kan saja."
Yanti bergegas membukakan pintu apartemen. Reyhan yang masih tidak percaya pun ia menelpon Dinan karena kesal wanita itu mengganti sandi apartemen nya.
Dinan yang di telepon merasa kesenangan, ia dengan cepat menerima panggilan dari Reyhan.
"Halo Mas, Mas kamu akhir nya telepon aku juga. Mas aku___"
"Sejak kapan kamu ganti kunci sandi apartemen aku. Sekarang juga katakan berapa sandi nya!!" Tegas Reyhan tidak main-main.
'Haduh gawat, di sana kan ada Ibu. Kenapa aku sampai lupa kalau Reyhan pasti akan ke apartemen nya. Bagaimana ini?' Batin Dinan ketakutan. Ia gelisah dan panik.
"Halo Dinan! Cepat katakan berapa sandi nya?!
Belum sempat Dinan menjawab, pintu apartemen itu di buka dari dalam.
Cekrekk...
"Dinan kamu___"
__ADS_1
Wanita paruh baya itu tidak dapat melanjutkan lagi kalimat nya, ia terkejut dengan pria yang berdiri di depan nya. Sosok yang tidak pernah ia jumpai langsung, hanya melihat dari foto. Kini berdiri tegak di depan nya.
"Halo Mas, aku... Aku nggak sengaja ganti sandi apartemen kamu. Kebetulan aku nggak ingat berapa kata sandi nya." Dinan berbohong, ia mengelak agar Reyhan tidak bisa masuk ke apartemen itu.
"Halo Mas.." Dinan bingung kenapa tidak ada jawaban.
Tut... Panggilan di matikan oleh Reyhan, ia memasukkan ponsel ke dalam saku celana nya. "Ibu ini siapa? Kenapa bisa ada di dalam?"
'Mati aku, bagaimana ini?!!' Yanti sangat bingung.
"A-anu Tuan, sa-saya.. Saya pembantu di sini." Hanya itu yang bisa Yanti katakan, dia tidak ingin Dinan marah pada nya karena mengaku sebagai Ibu nya.
"Pembantu?" Reyhan mengernyitkan kening nya.
"I-iya Tuan, saya baru bekerja di sini selama sebulan." Tidak bisa menghindar, tubuh Yanti yang masih meriang malah semakin gelisah di hadapan Reyhan.
"Tapi tidak ada yang tinggal di apartemen ini, Ibu jangan berbohong ya." Tanya Reyhan masih santai namun sangat tegas.
"Ti-tidak saya nggak berbohong Tuan, Nyonya Dinan yang memperkerjakan saya di sini." Jawab nya gugup.
'Kebohongan apa lagi yang kamu tutupi dari aku Dinan?! Tadi kamu bilang lupa kata sandi nya. Tapi kamu menaruh Ibu ini di dalam apartemen aku.' Batin Reyhan yang sudah tidak percaya lagi terhadap Dinan.
Di Negara lain yang memiliki perbedaan waktu lebih cepat 2 jam dari Indonesia. Nania sedang melakukan terapi berjalan di rumah sakit, di Korea.
"Nana, kalau kamu sudah merasa capek jangan di paksa. Sudahi saja." Tegur Radit.
Rasa nya ada sesuatu yang berbeda, setiap kali Radit menyebut nama nya dengan panggilan Nana, itu terasa panggilan khusus di hati nya.
"Iya Tuan, sebentar lagi."
Keringat sudah mulai menimbul di kening Nania, pria tampan itu mendekat dan mengelap kening nya dengan tangan kanan. Nania merasa ini sangat berlebihan.
"Em,,, itu- Tuan.. Saya bisa sendiri kok." Nania ikut mengelap kening nya sendiri. Ia pun tersenyum menampilkan deretan gigi putih nya.
"Sudah jangan di lanjutkan lagi, kelihatan nya kamu sudah lelah. Dokter, apa ini sudah cukup?" Tanya Radit pada Dokter.
"Ya Tuan, ini sudah cukup. Kaki Nania sudah boleh di pakai berjalan meskipun masih di bantu dengan tongkat." Jawab sang Dokter.
"Baiklah, terima kasih Dokter."
Nania kembali ke dalam kamar inap nya. Ia di bantu Radit turun dari kursi roda dan naik ke ranjang. "Terima kasih Tuan. Anda telah repot sekali membantu saya hari ini."
__ADS_1
"Tidak masalah. Sekarang kamu minum obat nya dulu. Habis ini langsung istirahat saja."
Pria itu menyodorkan obat yang sudah di siapkan untuk Nania. Gadis itu menerima dan meminum nya. "Ini air nya." Lagi-lagi Radit sangat telaten merawat Nania.
"Terima kasih Tuan."
"Hm, jika perlu sesuatu katakan saja, jangan sungkan. Aku akan tidur di sofa bed itu." Radit beralih ke sofa yang luas untuk merebahkan tubuh nya. Lumayan lelah juga menjaga Nania seharian ini.
Tidak-tidak, lebih tepat nya selama sepuluh hari lebih ia telah merawat Nania, dan tidak pernah meninggalkan nya.
"Tuan, apa anda lelah?"
"Hm.."
"Maaf ya Tuan, saya jadi merepotkan terus. Tuan mau dengar cerita tidak?" Tawar Nania. Pria itu pun penasaran. "Cerita apa?"
"Konon, di mana pun rumah sakit nya. Meskipun di bangsal VVIP sekaligus, mereka punya cerita misteri nya Tuan." Nania mulai bercerita.
Radit merasa bulu kuduk nya sudah merinding. Ia pun menelan saliva nya dengan berat. "Itu hanya cerita bohong. Jangan percaya." Ia pura-pura tidak takut.
"Dulu waktu saya menemani ayah saya di rumah sakit. Malam hari nya saya tidak bisa tidur Tuan, karena merasa ada yang memperhatikan saya."
"Sudah cukup,, aku tidak mau dengar. Aku sudah mengantuk." Pria itu pura-pura menguap agar Nania tidak melanjutkan cerita nya. Sejujur nya ia sudah mulai merinding.
Nania mengulum senyum telah mengerjai atasan nya. Tidak tahu saja jika Radit adalah calon suami nya saat ini.
"Ah baiklah Tuan, sebaik nya anda tidur. Selamat malam Tuan."
"Hmm, selamat malam. Kamu tidurlah juga."
Nania mengikuti perintah Radit, gadis itu menarik selimut dan memejamkan mata nya. Namun berbeda dengan pria yang berbaring di sofa.
Ia tidak dapat memejamkan mata nya. Melainkan manik mata nya melirik kesana dan kesini. Hawa di dalam kamar itu berubah menjadi dingin yang mencekam.
"Nana.. Apa kamu sudah tidur?"
Nania tidak menjawab nya, suara dengkuran halus sudah mulai terdengar. Menandakan jika Nania sudah tertidur nyenyak. Mungkin efek dari obat yang ia minum juga.
Radit mencoba memejamkan mata nya lagi, tapi tetap tidak bisa. Ia pun bangkit dan mendekati Nania. Ia naik ke ranjang rumah sakit yang cukup untuk dua orang itu.
Pria itu berbaring ke samping menghadap Nania. Lalu tidur sambil memandangi kekasih nya yang sudah terlelap. Begitu menenangkan hati nya yang tadi mulai gelisah, kini berubah menjadi hangat.
__ADS_1
"Selamat tidur calon istriku." Radit mengecup singkat pipi Nania. Lalu ikut tertidur di samping nya.