Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Cemburu Buta


__ADS_3

Nania menggerakkan mata nya membuka dan menutup beberapa kali saat merasa tubuh nya ada yang menimpa. Sulit sekali untuk bergerak, dan ia menyadari jika masih berada di dalam kamar Radit.


"Ya ampun, aku ketiduran hingga nggak sadar tidur di sini."


Ia melirik ke samping, melihat wajah tampan pria yang telah mengisi hati nya tengah tertidur dengan damai. Nania mengulum senyum melihat pemandangan indah di depan nya. Radit memeluk nya ketika tidur.


"Jika sedang tidur, terlihat lebih tampan, he he."


Pintu bel di pagi hari membuat Nania kembali khawatir, jika yang datang adalah mama nya Radit. Ia beranjak keluar kamar untuk melihat siapa yang datang. Nania menekan layar pad di dinding, menampilkan sosok yang ia kenal belakangan ini.


"Devan??" Gumam nya.


Gadis itu pun membukakan pintu apartemen.


"Devan, ada apa?"


"Maaf aku mengganggu waktumu di pagi hari. Aku cuma ingin mengembalikan kotak makan milikmu. Kebetulan aku sedang memasak untuk sarapan pagi ini, aku ingin kamu mencoba nya." Ucap Devan.


Pria itu mengembalikan kotak makan yang pernah Nania berikan bekal makan siang nya. Devan memperhatikan penampilan Nania yang masih memakai dress semalam.


"Hm, terima kasih ya Devan.. Tapi kamu jadi repot-repot memberikan sarapan ini."


"Tidak sama sekali kok." Balas Devan kala Nania menerima kotak makan itu.


"Kalau gitu aku langsung balik ya, jangan lupa di makan ya sarapan nya." Devan tersenyum dan pergi meninggalkan Nania yang membalas senyuman itu dengan kaku.


Nania menghela nafas nya dan menutup pintu apartemen.


"Seperti nya kekasihku sudah terang-terangan dekat dengan pria lain?"


Suara bariton yang bersumber dari belakang diri nya membuat Nania meremang.


"Ra-radit.. Kamu sudah bangun? I-itu aku bisa jelaskan." Nania merasa sangat tidak enak pada nya.


"Sudahlah, aku mau mandi dulu."


"Tapi Radit tadi itu___"


Perkataan Nania tidak di gubris sama sekali dengan Radit, pria itu dengan malas masuk kembali ke dalam kamar nya. Nania menggaruk kepala nya karena merasa keadaan ini begitu salah paham.


Berbeda dengan dua insan yang sehabis jadian, Riyan sudah stay di depan rumah Delisha. Ia sudah bilang akan mengantar jemput gadis nya selagi sempat. Sesuai janji, pagi ini Riyan akan berangkat kerja bersama Delisha.


Karena tempat kerja mereka yang sangat berselisih jauh, Riyan rela berangkat lebih pagi agar bisa mengantar kekasih nya. Sama hal nya dengan Delisha yang siap berangkat pagi, padahal waktu masuk kerja nya masih lama. Pukul 9 pagi ia biasa mulai bekerja.

__ADS_1


"Kamu sudah siap baby?"


"Sudah Kak." Raut wajah Delisha sudah merona di panggil Baby.


Penampilan Delisha pagi ini begitu beda, ia memakai dress selutut berwarna biru navy dan rambut yang di gulung ke atas. Pesona nya mampu memikat Riyan pagi hari.


"Ayo masuk."


Mereka masuk ke dalam mobil. "Sayang, kita kan sudah jadi sepasang kekasih. Masa kamu mau manggil aku dengan sebutan 'Kak' terus?" Riyan membuka percakapan.


"Emh, iya juga ya Kak. Lalu aku harus manggil Kak Riyan dengan sebutan apa?"


"Yaa... Apa saja, bisa Sayangku, Honey, Mas, Aa, asal jangan Abang saja ya. Nanti di kira nya aku tukang bakso lagi." Pria itu terkekeh.


Delisha senyum-senyum malu, baru kali ini ia merasakan jatuh cinta. Setelah sekian lama menunggu pria yang akan menjadi kekasih nya seperti pria-pria di dalam novel. Yang tampan, kaya dan berwibawa. Meskipun Riyan hanya seorang asisten, tapi ia Mahasiswa lulusan terbaik di Universitas ternama di Kota Malang. Ini cukup membuat Delisha klepek-klepek.


"He he, haduh.. Apa ya? Maaf Kak aku belum terbiasa." Jawab nya kaku.


"Ya sudah kamu boleh pikirkan dulu mau panggil aku apa, nanti malam saat pulang kerja. Aku jemput kamu, kamu sudah harus manggil yang berbeda, bukan Kak lagi. Okay?" Pinta Riyan dengan bijak.


"I-iya Kak."


"Oh ya Baby, itu kamu bawa apa?"


"Benarkah?" Delisha pun mengangguk.


"Terima kasih Baby.."


"Sama-sama Kak."


Nania hendak pergi berangkat kerja, ia sudah rapih dengan setelan kerja nya. Memakai celana bahan berwarna hitam, dan kemeja pendek cokelat muda, di lapisi blazer hitam yang hanya ia sangkutkan saja di bahu nya, tidak sepenuh nya Nania pakai.


"Radit kamu sudah rapih?"


"Hm.." Jawab nya masih cuek.


"Biar aku yang menyetir ya hari ini." Pinta Nania, ia sudah siap mengekor di belakang pria nya. "Tidak perlu, biar aku saja." Jawab nya dingin dan terus berjalan keluar apartemen.


Di dalam lift mereka juga biasa saja, tidak ada perbincangan. 'Seperti nya Radit masih salah paham dengan yang tadi, apa jangan-jangan dia cemburu ya?' Seru Nania dalam hati nya.


Radit melangkah keluar dari lift begitu saja mengabaikan Nania. Ia menuju mobil nya yang terparkir di basement. Karena langkah Radit yang panjang, Nania merasa ketinggalan langkah kekasih nya.


"Sayang tunggu..." Ucap Nania.

__ADS_1


Detik itu juga, langkah pria tampan bernama Radit langsung berhenti, ia membalik tubuh nya. "Tadi kamu panggil apa?" Tanya nya pada Nania yang berhenti di depan nya.


"Eeem.. Aku manggil apa?" Pura-pura tidak tahu.


Radit merasa kesal, ia langsung kembali berjalan memasuki mobil. "Sayang tunggu.." Nania sengaja kembali mengulang panggilan nya dengan manja.


Tangan Radit yang ingin menarik handle pintu mobil tidak jadi, ia menghampiri Nania dengan wajah dingin nya tetapi penuh damba.


"Bilang apa barusan?"


"Sayaaang.." Nania menyengir kuda.


Pria itu langsung mengulum senyum dan menarik tengkuk leher Nania. Ia mencium bibir manis milik kekasih nya yang selalu candu untuk nya.


"Emmpphhh..."


Radit terus melu-mat dengan penuh gairah, pagi ini ia sudah cemburu dengan kedatangan pria yang sering bertemu dengan Nania.


Cukup puas, pria itu melepaskan pagutan nya. Nania menatap Radit yang sedang menatap nya penuh cinta.


"Terus panggil aku seperti itu, jangan buat aku cemburu buta dengan pria yang berusaha mengejarmu." Ucap nya lembut tapi di akhir dengan nada kesal.


"Jadi kamu tadi cemburu sama Devan?"


"Ck, aku tidak ingin mendengar nama nya." Radit merajuk bak anak kecil. "He he he. Iya maaf sayang." Ujar Nania.


Pria itu mengulum senyum tertahan. "Sudahlah ayo berangkat, aku tidak ingin mood pagi ini rusak hanya karena pria itu. Kamu terlalu cantik pagi ini, aku tidak tahan jika harus mengabaikanmu terus."


Nania tersenyum bahagia, Radit merangkul nya untuk masuk ke dalam mobil.


Di sebuah apartemen, Yanti tengah membuka perban yang beberapa hari ini sudah membungkus kaki nya.


"Akhir nya.. Kaki aku bisa sembuh juga. Aku harus mengunjungi rumah sakit itu lagi, aku yakin dia adalah orang yang waktu itu." Ujar nya penuh keyakinan.


"Apa sebaik nya aku minta tolong sama Dinan saja ya?" Pikir nya lagi.


"Ah tidak-tidak.. Aku tidak ingin minta bantuan Dinan, kalau aku yang menghubungi nya duluan, dia pasti akan marah padaku. Sebaik nya aku cari tahu sendiri."


Yanti mencoba berdiri sendiri sambil memegang pinggiran sofa. Kaki kanan nya belum sepenuh nya nyaman untuk berjalan, karena masih dalam masa penyembuhan total.


Sebuah bayangan masa lalu nya melintas di benak Yanti, wanita paruh baya itu memegangi kepala nya yang terasa berat.


"Ck, aku harus minta pertanggung jawaban dari dia. Dia sudah membuat hidup keluargaku menderita dulu nya." Tegas Yanti penuh dendam dan amarah.

__ADS_1


__ADS_2