
Silau cahaya matahari memasuki celah kamar Radit dari jendela yang tidak tertutup rapat dengan gorden nya.
Nania lebih dulu menggeliatkan badan nya, ia merasa kepala nya sedikit pusing. Gadis itu memegangi kepala nya.
"Huuaaammmm...."
Dan ia mengerjapkan mata nya berkali-kali, terasa ada yang aneh di tubuh nya. Rasa nya ada yang membelit di tengah perut nya. Ada suara hembusan nafas juga dari arah kanan nya.
Gadis itu tersadar kala melihat langit-langit di kamar nya, ternyata ia bukan berada di kamar nya sendiri. Melainkan ini kamar Radit.
"Astaga.."
Ia melirik ke bawah perut nya dan ke samping, rasa nya ingin berteriak, tapi Nania membungkam mulut dengan tangan nya sendiri.
Pria tampan di sebelah nya masih terpejam, aura ketampanan nya sangat terpancar damai ketika sedang tidur. Nania bukan nya bangkit malah terus memperhatikan pria itu.
Ia bahkan menyentuh kening Radit, lalu menjulur ke hidung, terus ke bibir manis nya berwarna kemerahan itu, yang selalu mencuri ciuman Nania dengan paksa.
"Kalau sedang tidur seperti ini, dia terlihat seperti anak kecil yang manja. Bukan Tuan Radit yang pemaksa dan suka dingin di kantor. Hi hi hi."
Nania terkekeh sendiri menikmati pemandangan di depan nya. Ia kembali mencerna ingatan nya yang semalam. Tapi karena baju yang di pakai Nania masih lengkap, dan Radit masih memakai baju nya lengkap.
Ia tidak terlalu berpikir negatif, gadis itu segera bangkit menurunkan perlahan tangan kekar yang membelit tubuh nya. Perlahan ia turun mengendap-ngendap agar tidak membangunkan Radit.
Akhir nya Nania berhasil keluar dari kamar Tuan nya, ia masuk ke dalam kamar sambil memegangi dada nya.
"Ya Tuhan, kenapa sekarang aku malah jadi deg-deg an begini sih."
Nania mengatur ritme nafas nya, lalu ia segera bersih-bersih ke kamar mandi dan menyiapkan sarapan untuk diri nya juga Radit.
Radit mengerjapkan mata nya, ia melirik ke sebelah kiri, namun tidak menemukan Nania di sana. Kemudian pria itu bangkit, Radit tidak mau memikirkan kejadian semalam.
Diam-diam semalam Radit mencium bibir gadis itu lagi sebelum kedua nya tertidur. Sebelum masuk ke dalam kamar mandi nya, Radit tersenyum sendiri seperti orang yang sedang kasmaran.
Di pinggir jalan raya Delisha tengah mendorong motor nya yang kehabisan bensin, bagaimana bisa ia kehabisan bensin di pagi hari seperti ini. Saat diri nya tengah berangkat untuk bekerja.
"Sungguh apes sekali aku bisa kehabisan bensin pagi-pagi begini. Mana tidak ada yang jual ecer. Huaaa... Sampai pom bensin dong aku harus mendorong motorku" Keluh nya sambil mendorong motor.
Tidak lama sebuah mobil mewah tipe sedan warna hitam menepi di belakang motor Delisha. Pria di dalam mobil itu membunyikan klakson nya, hingga Delisha sedikit terkejut menengok ke belakang.
"Siapa sih! Kayak nggak ada jalan lain saja." Kesal nya memajukan bibir nya.
__ADS_1
Pria dengan setelan jas kantor nya turun dari mobil itu, ia menghampiri Delisha yang masih mendorong motor nya pelan.
"Tunggu!!"
Teriak pria itu membuat Delisha berhenti, "Loh, Kak Riyan." Ucap Delisha
Pria itu adalah Riyan, "Motor kamu kenapa?" Tanya Riyan.
"Emh, ini Kak. Motorku kehabisan bensin, he he. Aku tadi sedang buru-buru jadi tidak memperhatikan bensinku."
Delisha kelihatan malu di hadapan Riyan, ia jadi gugup dan salah tingkah.
"Oh gitu, biar aku bantu carikan bensin ya. Di depan lampu merah sana ada pom bensin. Kamu tunggu sini, nanti aku balik lagi."
Riyan tidak tega melihat wanita secantik Delisha mendorong motor nya di tepi jalan raya yang sedang ramai.
"Eh, nggak usah Kak. Nanti jadi ngerepotin. Nggak apa-apa kok, aku dorong motor nya saja sampai depan." Balas Delisha sambil menyengir.
Ia merasa tidak enak hati, "Sudah nggak apa-apa. Kamu tunggu di sini ya, jangan kemana-mana." Pinta Riyan, dan Delisha pun mengangguk tak mengerti, karena Riyan sudah masuk ke dalam mobil nya lagi.
"Tapi Kak___"
Akhir nya Delihsa menyetandari motor nya, dan ia duduk di pinggir trotoar tanpa melepas helm nya. Benar saja, tidak butuh waktu lama. Hanya lima belas menitan, Riyan sudah berputar kembali menepikan mobil nya. Ia turun membawa derigen kecil berisi bensin.
"Sorry ya agak lama, lumayan macet tadi pas putar balik nya." Ujar Riyan.
Delisha berdiri sambil menatap Riyan dengan gugup "I-iya Kak, nggak apa-apa kok. Ini juga aku jadi ngerepotin."
Lalu Riyan membuka derigen itu dan mengisikan nya ke dalam tengki bensin motor Delisha dengan hati-hati.
"Coba di nyalain motor nya. Sudah bisa belum?" Pinta Riyan setelah di rasa semua nya siap.
Motor Delisha sudah menyala kembali, jujur saja ia langsung senang, dengan ekspresi yang sumringah. "Makasih ya Kak Riyan.. Oh ya, bensin nya berapa Kak?"
Delisha berniat untuk mengganti uang bensin nya, tapi Riyan menolak keras, ia tulus membantu nya.
"Nggak usah lah, lain kali di cek lagi ya sebelum berpergian. Kalau gitu aku mau berangkat lagi." Ucap Riyan.
"I-iya Kak, tapi benar ini nggak di ganti Kak? Aku jadi tidak enak."
"Nggak apa-apa santai aja. Sudah ya, aku berangkat."
__ADS_1
"Iya Kak Riyan, hati-hati. Sekali lagi terima kasih, Kak."
Riyan tersenyum sambil masuk ke dalam mobil melanjutkan perjalanan nya untuk menuju kantor, Delisha pun kembali menjalankan motor nya dengan senyum-senyum buta di pagi hari.
Tiba di parkiran depan butik Delisha turun dari motor nya dan tak sengaja menabrak seorang wanita yang sedang sibuk menelpon sambil berjalan.
"Aduuhh!!"
Ringisan wanita itu terjadi kala Delisha menubruk nya tanpa sengaja hingga tas yang di genggam wanita berpakaian pink mencolok jatuh ke jalanan.
"Kamu tuh ya!! Kalau jalan pakai mata!" Tegur Fiona.
Delisha langsung meraih tas nya dan memberikan pada Fiona, "Maaf ya Mbak, saya nggak sengaja." Jawab Delisha.
"Mbak.. Mbak.. Memang nya saya mbak lo!! Iih nyebelin banget sih, sudah pergi sana!"
Fiona meraih tas nya dan mendorong Delisha untuk segera pergi dari hadapan nya. Fiona kembali melanjutkan menelpon nya sambil berjalan memasuki Butik mama nya.
Butik tempat Delisha bekerja memang milik tangan designer terkenal di Indonesia. Fiona merupakan anak dari pemilik butik tersebut. Tapi karena diri nya jarang muncul di butik, Delisha tidak mengetahui jika orang yang di tabrak barusan adalah anak dari bos nya.
Nania hendak berangkat ke kantor dengan setelan kemeja dan rok span nya seperti biasa. Namun rambut nya kali ini ia ikat ke atas lebih tinggi dari biasa nya. hingga tengkuk leher nya yang putih mulus itu terlihat.
"Uhukk...Uhuk..."
Tiba-tiba saja Radit yang melihat langsung terbatuk-batuk, ia sampai mengalihkan pandangan nya dari Sekertaris itu.
"Tuan, anda tidak apa-apa kan?"
"Hm."
Radit memijat tengkuk nya sendiri, menetralkan aliran aneh yang mengalir dalam tubuh nya. "Mau kemana?" Tanya nya.
"Saya berangkat kerja, Tuan." Pamit Nania.
"Mulai sekarang, kamu berangkat denganku." Jawab Radit sedikit kaku.
Gadis itu menautkan kedua alis nya, "Tapi Tuan, jika karyawan lain melihat nya, saya tidak enak." Nania merasa sungkan.
"Aku tidak menerima penolakan, ini kunci nya!"
Radit melempar remot kunci mobil nya pada Nania dan berjalan lebih dulu keluar dari apartemen. Dengan patuh, Nania hanya bisa mengekor mengikuti Radit di belakang nya.
__ADS_1