Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Rahasia Yang Terungkap


__ADS_3

Fiona masih benci mengingat kejadian, dimana ia telah tidur bersama dengan pria yang sangat tidak di sukai nya.


"Brengsekk!! Dasar pria culun, sekali culun tetap saja culun!! Aaargghh.." Fiona mengacak-ngacak alat make up yang ada di meja rias nya.


Meskipun malam itu bukan yang pertama untuk Fiona, tapi ia sangat tidak sudi pria bernama Dirga telah menjamah tubuh nya.


Di mana malam itu Fiona telah di bawa pergi dari Club menuju hotel bintang lima. Diri nya bahkan tidak sadar jika dia sudah lecehkan dengan Dirga. Sampai matahari terbit, Fiona baru sadar dan terkejut tengah berada di hotel bersama Dirga.


Tanpa pikir panjang, Fiona langsung bangun dari tempat tidur dan pulang menggunakan taksi, tak lupa ia memakai masker dan kacamata yang selalu ada di tas nya. Ia tidak ingin ada berita skandal tentang diri nya di media.


Sepanjang perjalanan ia terus mengumpat pria yang tega menikmati tubuh nya tanpa kesadaran dari Fiona.


"Awas saja kamu Dirga!!" Fiona mengacak-ngacak rambut nya di depan cermin besar.


Lan datang menjenguk Wati di rumah sakit. Pria itu di beri kabar jika Wati sudah di bolehkan pulang. Lan mengetuk pintu kamar inap dan masuk ke dalam.


"Selamat siang Bu Wati."


"Siang Pak, maaf Bapak siapa ya?"


Wati yang masih terbaring di rumah sakit merasa terkejut dengan pria di hadapan nya sekarang ini. Ia pura-pura tidak mengenali nya, padahal ia masih ingat persis kalau Lan adalah Ayah dari anak yang ia buang itu.


"Ah, saya Lan. Bu Wati kemarin tidak sengaja lewat di depan mobil saya. Tanpa sengaja akhir nya Ibu menjadi seperti ini. Sebagai bentuk tanggung jawab saya, semua akan saya urus sampai keadaan Bu Wati pulih dan normal kembali."


Dari mana Lan tahu nama nya, tentu saja dari identitas Wati yang di daftarkan di rumah sakit itu melalui KTP nya.


Wati bukan nya takut, malah merasa bersalah dengan keadaan. Lan sudah baik pada nya, pria itu mau mengobati dan membayar semua nya. Padahal ia yang salah karena keluar dari gang secara tiba-tiba ke jalan raya.


"Terima kasih Pak, anda sangat baik sekali. Saya minta maaf karena waktu itu telah lewat di depan mobil Bapak. Saya benar-benar tidak sengaja Pak." Jawab Wati.


"Tidak apa-apa, semua sudah terjadi. Apa Bu Wati sekarang sudah jauh lebih baik? Kaki dan tangan nya apa sudah bisa di gerakan?" Tanya Lan serius.


Tidak sanggup menahan semua beban yang selama ini menghantui hidup nya, ia merasa menjadi orang jahat karena rela di suruh pihak rumah sakit untuk membuang bayi itu. Wati menangis di hadapan Lan.


Lan menjadi bingung, mengapa wanita ini malah menangis di tanyakan keadaan nya.

__ADS_1


"Loh, Bu Wati kenapa menangis?"


Lan begitu baik kepada nya, bahkan ia menyelamatkan nyawa nya. Masih pantas kah ia menutupi sebuah rahasia besar selama ini dari nya.


"Tuan... Maafkan saya.. Hu hu hu" Isak Wati semakin menjadi. Ia bahkan tidak sanggup biacara.


"Loh, bu Wati ini kenapa? Kenapa menangis? Saya tidak apa-apa Bu." Meskipun Lan lebih tua dari Wati, pria itu tetap bersikap sopan dengan nya memanggil Wati dengan memakai 'Bu'.


"Tuan maafkan saya karena selama ini saya telah menyimpan dosa besar.." Ia masih terus menangis dan terbata-bata.


"Maksud bu Wati ini apa, dosa besar apa? Saya benar-benar tidak mengerti." Lan memegangi bahu Wati, ia masih bingung dengan keadaan Wati sekarang ini.


"Tuhan sudah baik selama ini menjaga saya, tapi saya sudah melakukan dosa besar. Tuhan sudah marah dengan saya, tapi Tuhan masih membiarkan saya hidup. Tuan menolong saya, meskipun saya sudah berbuat jahat pada anda. Saya malu pada Tuhan saya." Tangis Wati semakin menjadi.


"Memang Ibu ini sudah melakukan apa terhadap saya?" Lan masih bermonolog baik dengan Wati.


"Tuan maafkan saya, maafkan saya... Saya akan mengatakan yang sebenar nya. Jika Tuan ingin menghukum saya setelah ini, saya siap. Saya hanya di suruh saja Tuan."


"Ibu mau mengatakan nya atau tidak!" Lan jengkel karena Wati tidak mau langsung mengatakan kebenaran nya. Ia terus berputar-putar membuat Lan bingung.


"Se-sebenar nya anak Tuan.. Hiks,, anak Tuan masih hidup." Kalimat yang lolos membuat Wati semakin terisak. Ia sudah lega mengatakan hal yang berpuluhan tahun ia tutupi. Terungkap sudah rahasia nya selama ini.


"Tuan, istri anda bernama Bu Rahayu kan? Tuan dan istri nya pernah datang ke rumah sakit Xxx untuk melahirkan. Tapi karena istri Tuan tidak bisa di selamatkan, sebenar nya bayi Tuan masih hidup."


Jedaarrrrr!!!!! Bagaikan di sambar petir di siang bolong. Jantung Lan melemah, ia terduduk di kursi dekat ranjang. Bagaimana bisa selama ini ia tidak tahu jika anak nya masih hidup, rumah sakit yang tega menutupi rahasia sebesar ini. Dan berkata bahwa anak dan istri nya tidak bisa di selamatkan. Lan merasakan sakit yang luar biasa.


"Apa yang kamu katakan tadi itu benar? Anak saya masih hidup?!" Amarah Lan mulai bergejolak.


"I-iya Tuan, saat bayi anda ingin di masukan ke dalam peti. Bayi anda menangis, tapi Dokter Virza datang, dan menyuruh saya untuk membuang bayi Tuan. Karena kalau sampai Tuan tahu, Dokter Virza pasti akan di pecat dari rumah sakit milik orang tua nya. Karena telah memberikan pernyataan kematian palsu."


"Saya di paksa membawa bayi itu, karena saya telah di pecat dari rumah sakit. Saya tidak punya uang untuk membiayai bayi Tuan, bahkan saya di ancam jika tidak membuang bayi itu, saya akan di lenyapkan."


"Maka dari itu pikiran saya sudah kacau. Akhir nya saya memberikan bayi Tuan saat hujan-hujan pada seseorang."


"Saya sudah berdosa Tuan, saya salah. Tolong maafkan saya." Wati terus memohon, ia bahkan sudah bersimpuh di lutut Lan. Dengan kaki yang masih di gips.

__ADS_1


Tapi Lan bukan manusia yang kejam, ia tidak tega melihat wanita yang sudah berusia ini bersimpuh di hadapan nya.


"Bangunlah." Hanya itu yang keluar dari bibir Lan.


Ia tidak mampu untuk berkata-kata lagi, hati nya masih sakit. Tidak tahu harus senang atau sedih. Wati tidak mau bangkit. Lan langsung berdiri dan menjauh.


"Dimana anak saya sekarang?"


"A-anak Tuan saya berikan kepada Ibu-ibu yang kemarin mengejar saya hingga membuat saya seperti ini." Jawab Wati dengan gugup.


"Di mana orang itu?"


Wati menggeleng pelan, ia juga tidak tahu di mana Yanti berada. "Na-nama nya Yanti, Tuan. Dia pernah di rawat di rumah sakit umum Jakarta. Sa-saya bertemu dia di sana. Anak Tuan seorang wanita. Seperti nya anak yang menjenguk Yanti itu adalah anak Tuan." Jelas nya tanpa ragu. Ia menjelaskan dengan apa ada nya.


Rasa nya tidak sabar ingin menemui anak nya. Lan akan mencari nya sampai ketemu.


"Urusan kamu degan saya belum selesai, saya minta kamu tidak kabur. Saya sudah memiliki identitas latar belakang kamu. Jadi saya akan bisa menemukan kamu, kemana pun kamu pergi." Tegas Lan.


Lalu pria itu keluar dari kamar inap Wati. Sedangkan wanita paruh baya itu masih tersedu-sedu. Ia memang pantas mendapatkan ganjaran nya.


Yanti yang tidak bisa datang ke rumah sakit hari ini merasa menyesal. Karena ia mendadak meriang dan hanya bisa terbaring di kasur.


"Uhukk.. Uhuk.. Haduh, kenapa aku jadi meriang seperti ini. Padahal aku harus ke rumah sakit menemui wanita itu." Gumam Yanti.


Dengan cepat Dokter memeriksa Nania, ia memeriksa tekanan darah, dan detak jantung Nania. Benar saja, Nania telah sadar dari koma nya.


"Pasien sudah bangun dari koma nya." Ujar sang Dokter.


Radit senang bukan main. "Syukurlah.. Tapi kenapa dia belum membuka mata nya Dokter?"


"Ini masih tahap penyesuain, kita lihat satu jam ke depan ya. Biasa nya pasien akan tersadar dan bangun setelah ini." Begitulah pesan Dokter, Radit hanya bisa mengangguk. Ia terus menemani Nania dengan perasaan senang nya ketika Dokter sudah keluar dari ruangan.


"Nana... Ayo bangun sayang."


Tak lama gadis itu mengerjapkan mata nya, perlahan membuka kelopak mata nya.

__ADS_1


"Nana.. Sayang, kamu sudah bangun?" Radit sangat antusias menanti Nania mengatakan sesuatu.


"Kamu siapa?" Ucap Nania.


__ADS_2