
Disaat Tuhan memberikan cobaan terberat untuk kita, jangan pernah berfikir jika Tuhan tidak adil pada kita. Jangan sekalipun berprasangka buruk padanya. Dia maha tau apa yang terbaik untuk semua hambanya. Teruslah yakin bahwa Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang indah untuk kita. Percaya jika Tuhan sudah memberikan kesedihan dan kebahagiaan sesuai dengan porsinya.
Hidup bukan melulu tentang kebahagiaan, tapi juga tentang bagaimana kita mampu bertahan dalam keterpurukan.
Apa yang di alami oleh Zia dan Gavin hanyalah segelintir contoh dari cobaan yang diberikan oleh Tuhan untuk hambanya. Di luar sana masih banyak permasalahan yang mungkin jauh lebih berat dari apa yang Zia dan Gavin alami. Dan akan ada kebahagiaan yang menanti setelah badai menerpa.
"Selamat istri anda sedang hamil. Usia kandungannya jalan 5 minggu,,"
Zia dan Gavin terperangah mendengar ucapan dokter.
Tidak ada kalimat yang jauh lebih indah dari sebuah ucapan selamat atas kehamilan Zia yang sudah mereka nantikan selama ini. Ucapan itu bahkan mampu membuat Zia dan Gavin membisu dengan segala rasa yang bercampur jadi satu.
Ya, tidak ada kabar yang jauh lebih indah dari kabar kehamilan bagi setiap pasangan suami istri yang sudah lama menantikan kehadiran seorang anak.
Setelah keterpurukan yang mereka rasakan hingga merasa semua dunianya menghilang, kini kabar itu seakan mengembalikan semua yang pernah hilang dengan rasa bahagia berkali - kali lipat lebih banyak.
Air mata yang keluar dari pelupuk mata Zia maupun Gavin merupakan ungkapan kebahagiaan dari hati yang paling dalam. Kebahagiaan itu membuat keduanya tidak mampu berkata - kata. Mereka saling bergenggaman tangan dan saling menatap penuh haru. Tangis keduanya semakin pecah meski tanpa suara. Perlahan senyum di bibir keduanya semakin mengembang.
Mereka merasa bahwa ini adalah titik kebahagiaan terbesar dalam rumah tangganya.
Sebelah tangan Gavin terangkat, mengulur dengan gemetar untuk menghapus air mata Zia.
"Terima kasih karna sudah berjuang Zi,," Ujar Gavin dengan suara yang bergetar. Ucapan dari lubuk hatinya yang paling dalam untuk wanita luar biasa seperti Zia. Wanita paling istimewa yang pernah dia temui dalam hidupnya.
Dalam posisi berbaring, Zia memeluk Gavin yang duduk disisi bangsal. Tangis Zia pecah dalam pelukan laki - laki yang amat dia cintai itu. Laki - laki yang mau berjuang dengannya, laki - laki yang sudah mempertahankannya.
Kehamilannya sudah menyelamatkan rumah tangganya sudah berada di ujung tanduk karena rencana pernikahan Gavin dan Nindy.
Gavin melepaskan pelukannya, kemudian menghapus air mata Zia sambil terus menatapnya dengan perasaan haru dan bahagia.
"Kita harus memberitahukan kabar bahagia ini pada mama secepatnya." Ujar Gavin. Zia mengangguk cepat.
"Apa mama akan membatalkan pernikahan kamu dan Nindy setelah tau aku hamil.?"
Gavin terlihat kaget mendengar pertanyaan Zia. Dia tidak tau dari mana Zia mengetahui rencana pernikahan itu.
"Zi kamu,,,,
__ADS_1
"Aku sudah tau semuanya mas. Mama sendiri yang memberitahuku." Raut wajah Zia masih saja dirundung kekecewaan setiap membahas masalah rumah tangganya. Namun kali ini dia bisa bernafas lega, setidaknya pernikahan itu akan gagal dengan hadirnya Gavin junior di dalam rahimnya.
"Maafkan aku Zi, aku tidak bermaksud menyembunyikan semua itu dari kamu. Karena sampai saat ini aku tidak pernah menyetujui rencana mama."
Gavin memang tidak mau memberi tahu Zia, dia tidak ingin membuat Zia terluka karena mendengar kabar pernikahannya dengan Nindy. Lagipula pernikahan itu tidak akan pernah terjadi karena dia tidak menyetujuinya, jadi Gavin merasa tidak perlu memberitahu Zia.
"Tidak apa mas, aku tau."
Meski sedikit kecewa, namun Zia mencoba untuk mengerti.
Zia langsung menengok pada dokter yang sejak tadi berdiam diri melihatnya dan Gavin menangis.
Wanita itu tersenyum malu pada dokter yang baru saja memeriksanya itu.
"Maaf dok, jadi menonton drama." Ucap Zia dengan senyum malu. Dokter itu hanya tersenyum ramah. Sepertinya dia sudah memahami situasi yang terjadi pada sepasang suami istri itu. Dan dia juga sudah biasa melihat pemandangan haru seperti itu.
Reaksi yang wajar terjadi bagi sepasang istri saat mendengar kabar kehamilan. Terlebih bagi pasangan yang sudah menantikan kehadiran seorang anak selama bertahun - tahun.
"Tidak masalah."
Gavin terlihat antusias, dia yang banyak bertanya mengenai kehamilan muda. Juga menanyakan makanan apa saja yang tidak baik di konsumsi oleh ibu hamil, serta bertanya apa saja yang tidak boleh di lakukan oleh Zia.
Gavin tidak bisa menyembunyikan raut bahagianya, senyumnya terus mengembang dengan mata yang berbinar. Melihat kebahagiaan Gavin, tentu saja Zia merasa sangat bersyukur dan merasa sudah bisa memberikan kebahagiaan yang selama ini diinginkan oleh Gavin.
Selama 1 jam lebih mereka berada di ruangan itu. Gavin seolah enggan melewatkan kesempatan untuk bertanya pada dokter agar nantinya bisa menjaga kehamilan Zia dengan baik.
Ini kehamilan pertama bagi Zia, Gavin tidak mau mengambil resiko pada kehamilan pertama Zia. Tentu saja dia ingin kandungan Zia baik - baik saja dan lancar sampai melahirkan.
Saat akan keluar dari ruangan, Gavin membawa Zia menggunakan kursi roda. Dia memaksa pada perawat untuk menyediakan kursi roda. Meski kondisi Zia sehat dan memungkinkan untuk jalan, namun Gavin tidak mau Zia kelelahan. Berlebihan memang, tapi itu salah satu bentuk kekhawatiran Gavin dan cara Gavin untuk menjaga kehamilan Zia agar baik - baik saja.
"Kamu berlebihan mas. Perawat dan dokter itu mengulum senyum melihat tingkah kamu,,," Ujar Zia. Dia mendongakkan kepalanya agar bisa menatap Gavin yang sedang mendorong kursi roda.
"Kenapa harus peduli dengan reaksi orang lain Zi.? Ini demi kebaikan kamu dan calon anak kita,," Gavin bicara dengan lembut, menatap Zia penuh cinta.
Sebelah tangannya mengusap rambut Zia sembari melemparkan senyum yang terlihat sangat menenangkan. Siapa yang tidak akan membeku diperlakukan dan ditatap seperti itu.?
Meski sudah 6 tahun bersama Gavin, Zia masih saja meleleh setiap kali Gavin memperlakukannya dengan manis.
__ADS_1
"Ya, aku mengerti mas." Pada akhirnya Zia tidak lagi memberikan protes pada Gavin. Dia sangat paham kekhawatiran Gavin pada kandungannya.
"Kamu ingin anak pertama perempuan atau laki - laki mas.?" Zia terlihat antusias menanyakan hal itu pada Gavin.
"Aku tidak mempermasalahkan jenis kelamin Zi." Gavin tersenyum manis, tangannya mengacak gemas pucuk kepala Zia karena melihat ekspresi Zia yang sangat antusias.
"Perempuan atau laki - laki sama saja, dia akan menjadi sumber kebahagiaan kita dan akan membuat suasana rumah lebih hidup dengan tangis dan tawanya,," Gavin berbicara sembari membayangkan hal indah itu yang selama ini dia nantikan.
Rasanya akan sangat bahagia setalah anak mereka terlahir ke dunia. Gavin terlihat tidak sabar menantikan momen indah dan berharga itu.
"Aku senang kamu tidak mempermasalahkannya mas." Zia terlihat lega. Setidaknya Gavin tidak membebaninya masalah jenis kelamin anak mereka.
"Tapi apa kamu tidak punya keinginan untuk jenis kelamin anak pertama kita.?" Lagi - lagi Zia mengajukan pertanyaan. Dia hanya ingin tau keinginan Gavin yang mungkin tidak berani di sampaikan padanya.
Melihat interaksi Gavin dan keponakannya, Zia merasa Gavin lebih cenderung menyukai anak laki - laki.
Gavin tersenyum penuh arti, meski dia enggan membahas perihal jenis kelamin karena takut membuat Zia terbebani, tapi sepertinya dia harus menjawab pertanyaan Zia. Wanita itu terlihat sangat antusias ingin mengetahui jawabannya.
"Aku hanya ingin anak kita memiliki sifat seperti kamu Zi. Tidak menuruni sifat ku yang buruk ini,," Gavin terlihat menyesali sifat buruknya pada Zia selama beberapa bulan kebelakang. Sifat tidak sabarnya yang pada akhirnya membuatnya bersikap acuh dan dingin pada Zia.
Zia langsung memegang tangan Gavin, menatapnya dengan pandangan mata yang teduh.
"Kamu tidak buruk mas. Sejauh ini kamu tetap yang terbaik di mataku. Berhenti berfikir seperti itu, karna aku tidak pernah menganggap kamu buruk." Ujar Zia tulus. Selama ini dia memang tidak pernah berfikir kalau Gavin memiliki sifat yang buruk, meski Gavin pernah acuh dan dingin padanya, Zia hanya menganggap itu sebagai bentuk kekecewaan Gavin saja.
Ini yang Gavin suka dari Zia. Wanita itu memiliki hati seperti malaikat.
"Terima kasih Zi, aku janji tidak akan mengecewakan kamu lagi." Gavin berhenti sejenak, dia menunduk untuk mengecup pucuk kepala Zia.
Sementara itu tak jauh dari sana, seseorang tengah mengikuti mereka. Gavin dan Zia tidak menyadari jika sejak keluar dari rumah sudah di ikuti oleh seseorang.
Seorang laki - laki berpakaian tertutup itu sedang menghubungi seseorang lewat telfon. Dia terus berbicara sambil terus menatap ke arah Zia dan Gavin.
Laki - laki itu tampak sedang melaporkan apa yang baru saja dia lihat selama mengikuti Zia dan Gavin.
...****...
Maaf baru up lagi, othornya kehabisan ideš¤£
__ADS_1