Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Penyelamat Tampan


__ADS_3

Masih dengan bersitatap yang tajam, pria itu nampak sekali marah dengan Sekertaris nya.


"Seharus nya pada saat itu, aku tidak pernah mengeluarkanmu dari jurang!!" Ucap nya dengan sangat menekan, menahan emosi yang meluap.


"Harus nya saat itu aku tidak usah datang ke rumah si tua bangka untuk menyelamatkanmu!!" Ucap nya lagi dengan getir.


Tubuh gadis yang bahu nya di cengkeram kuat itu sudah gemetar, air mata nya jatuh dari kantung mata yang sudah tidak bisa membendung nya.


"T-tuan.." Lirih Nania.


"Apa?!! Dan sekarang kamu nyata nya jadi seorang yang pemberani dan ingin menantangku, Iya?!!" Tanya Radit marah.


"Aaah... Tuan lepaskan, ini sakit sekali." Pinta Nania meringis.


Pria itu tetap menyekal kedua bahu Nania. Nafas nya sudah saling menderu tidak karuan, ruangan di sana mendadak menjadi suasana yang mencekam.


"Tuan ini kenapa sih, selalu seenak nya saja pada saya. Hiks...Hiks.." Jujur Nania pada Radit.


Kemudian tangan kekar itu tiba-tiba mengendurkan cengkeraman nya. Ada rasa yang berdesir aneh di hati nya saat melihat wanita di hadapan nya menangis.


"Cih, kemana nyalimu yang tadi membentakku? Sekarang malah menangis."


Lalu Radit melepaskan cekalan nya dan meninggalkan Nania di tempat. Ia tidak tega jika melihat wanita menangis, jadi lebih baik ia pergi ke kamar nya. Karena kalau tidak, mungkin Radit akan terlena.


Gadis itu menghapus air mata nya, ia memegangi bahu nya yang masih terasa nyeri. Nania terngiang dengan ucapan Radit yang barusan ia keluhkan. Jika andai saja dia tidak menolong diri nya. Itu semua membuat gemetar di tubuh Nania berubah menjadi rasa lemas, hingga ia terjatuh duduk di sofa dan menangis lagi.


"Apa yang harus aku lakukan..Hiks... Aku sudah tidak sanggup lagi. Ayah.. Kenapa tidak ajak saja aku bersamamu." Ucapnya menangis tersedu-sedu.


Pagi hari nya, Riyan sudah berada di apartemen. Ia disuruh Radit untuk menjemput nya. Karena pria itu merasa tidak mood menyetir hari ini. Sekertaris nya sudah menawarkan diri untuk menyetirkan nya. Tapi Radit tiba-tiba menjadi cuek dan dingin, bahkan tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut nya.


"Tuan, apa anda mau berangkat sekarang?"


Riyan bertanya karena melihat Radit sudah rapih. "Hm, ayo kita berangkat." Ajak Radit.


Nania berdiri bersama mereka kala ia juga sudah rapi ingin berangkat ke kantor nya. "Nania, kamu juga ikut pergi bersama kami kan?" Tanya Riyan.


"Siapa yang menyuruhmu menanyakan nya?! Dia bisa berangkat sendiri!" Tegur Radit dengan nada dingin nya.


Mau tidak mau Riyan mengikuti semua perintah Tuan nya. Ia memberi isyarat pada Nania untuk tetap semangat. Tapi dalam hati Riyan merasa aneh, tumben sekali Radit mengacuhkan Nania seperti itu.


'Apa mereka sedang bertengkar ya..' Batin Riyan penasaran.


"Sudah tidak apa-apa Riyan, pergilah. Jangan biarkan dia menunggu." Pinta Nania menyuruh sang asisten itu pergi menyusul Radit yang sudah lebih dulu keluar.

__ADS_1


Nania ingin pergi menggunakan bus saja, ia menunggu di halte bus dekat apartemen nya. Ketika sedang menunggu, sebuah mobil mewah yang terlihat sangat gagah berwarna hitam berhenti di depan nya.


"Nania..." Tegur Devan dari dalam mobil.


Gadis itu merunduk melihat siapa yang memanggil nya. "Devan.. Ada apa?" Balas nya.


"Masuklah, biar aku antar kamu." Ajak Devan, Nania terdiam masih menimang tawaran nya. Ia memang sudah ketinggalan bus. Kedatangan Devan untuk nya bak penyelamat dalam kesempatan yang ia punya. Ia tidak perlu menunggu bus selanjut nya lagi.


"Ayo Nania.. Tenang saja, aku bukan orang jahat kok." Bilang nya sambil tersenyum.


Pagi-pagi begini Nania sudah di suguhkan sebuah pangeran penyelamat yang sangat tampan. "Iya, baiklah.." Akhirnya Nania masuk ke dalam mobil itu.


"Kamu mau kemana?" Tanya nya sambil melajukan mobil nya saat di rasa Nania sudah memasang seatbelt nya.


"Aku mau berangkat bekerja."


"Dimana tempat kerjamu?"


"Aku bekerja di Diamond Glow." Mendengar gadis itu mengucapkan sebuah perusahaan yang tidak asing lagi di dengar orang. Devan pun mengangguk.


"Baiklah aku antar kamu kesana." Jawab nya dengan senyum.


"Terima kasih karena sudah mengantarku." Nania membalas senyum Devan.


Mobil Devan berhenti tepat di depan pintu masuk kantor perusahaan. Nania turun setelah mengucapkan terima kasih lagi pada Devan.


"Terima kasih ya." Kata Nania dari luar mobil. Devan pun mengangguk, lalu mobil nya kembali jalan dan keluar dari gedung perusahaan Radit.


Selang waktu itu juga, mobil Radit datang berhenti di depan tempat Nania turun. Seorang petugas membukakan pintu mobil nya.


"Selamat pagi Tuan.." Sapa petugas itu.


Tapi pria itu tidak menjawab sama sekali, ia melenggang pergi. Riyan kembali melajukan mobil nya menuju basement. Ketika ia sampai di depan pintu lift yang akan tertutup. Dengan sigap tangan nya menekan tombol, hingga pintu lift tidak jadi tertutup.


Nania yang ada di dalam pintu lift khusus merasa kaget dengan kehadiran Tuan nya. Ia kira Radit sudah sampai lebih dulu. Nyata nya ia malah berpapasan sekarang.


"Silahkan Tuan.." Ucap Nania mendunduk. Ia kemudian mundur selangkah ke belakang.


Lift khusus yang memang di gunakan para petinggi, termasuk Riyan dan Nania yang boleh menggunakan lift itu.


Hanya ada mereka berdua saja sekarang, tapi pria tampan berahang tegas itu masih diam dan terlihat acuh pada Nania.


Pasal nya Radit sempat melihat Nania turun dari mobil mewah, yang Radit sempat lihat jika yang menyetir adalah seorang pria.

__ADS_1


Kejadian semalam saja masih membuat diri nya kesal, tambah lagi pagi ini Nania malah terpergok di mata nya seperti tuduhan Radit semalam.


Setelah pintu lift terbuka ia langsung keluar dan berjalan acuh ke ruangan nya. Selang beberapa menit Nania masuk ke dalam ruangan nya.


Ia memberi berkas yang di butuh kan meeting pagi ini. "Tuan, ini berkas yang anda butuh kan untuk meeting pagi ini." Gadis itu memberikan sebuah map.


Radit menggapai nya tanpa menoleh ke arah Nania. "Hm." Hanya itu yang keluar dari bibir Radit.


"Apa ada yang bisa saya bantu lagi Tuan?"


Nania biasa nya di suruh membuatkan kopi pagi hari, tapi jika Radit meminta nya saja. Barang kali Radit ingin minum kopi pagi ini.


"No."


Jawaban singkat itu lagi yang keluar dari mulut nya. Nania menghela nafas nya sejenak pelan. "Baik Tuan, saya permisi dulu." Lalu ia keluar dari ruangan Radit.


Selepas pintu tertutup Radit mendecih kesal melihat kepergian Nania.


"Cih, bahkan dia terlihat biasa saja. Malah seperti menikmati peran nya! Menjijikan." Gumam Radit menggerutki Nania.


Pagi ini mereka mengadakan meeting dengan perusahaan Max Lan Group. Perusahaan yang menjalin kerja sama dengan Radit akan memulai meeting nya.


Seorang pria dan wanita duduk bersebelahan di ruangan meeting. Tak lama Radit memasuki ruangan itu bersama Riyan dan juga Nania.


"Selamat pagi Tuan Radit." Sapa Revan.


"Ya pagi." Jawab Radit.


"Saya Revan yang akan menggantikan Tuan Lan disini, beliau sedang pergi ke Amerika untuk menjalankan bisnis baru nya. Semoga anda bisa mengerti dan saya tetap akan membangun kerja sama yang baik dengan Tuan Radit." Ujar Revan dengan ramah.


"Tidak masalah, Tuan Revan. Kita masih tetap melanjutkan project ini." Jawab nya.


Namun lain dengan Nania yang dari tadi terlihat aneh di ruangan itu. Bibir nya kelu, dan mata nya tak henti menatap seorang wanita yang duduk berhadapan dengan nya di meja meeting itu.


'Kak Dinan.. Kenapa bisa Kakak ada disini.. Di hadapanku sekarang. Setelah Kakak tega pergi meninggalkan Ayah dan Ibu, tapi disini Kakak nampak baik-baik saja.. Kak Dinan, apa kamu juga sudah tidak mengenaliku lagi sebagai adikmu..' Batin Nania terus berbicara tanpa henti selama meeting.


Sedangkan Dinan wanita yang di tatap itu merasa biasa saja. Bahkan terlihat anggun duduk di samping Revan menemani suami nya meeting.


Dinan memang ikut bekerja di perusahaan Max Lan yang sekarang suami nya sendiri telah memimpin perusahaan itu. Membuat wanita cantik berusia 28 tahun ini merasa bahagai dengan apa yang dia punya.


"Baiklah, saya rasa untuk design produk yang akan kita luncurkan dua bulan lagi, sudah selesai. Maka arti nya anda juga menyetujui jika produksi kita bisa di mulai besok hari. Bagaimana Tuan Revan?" Tanya Radit.


"Saya setuju, baiklah besok kita mulai untuk produksi produk terbaru dari DNA Salmon." Balas Revan.

__ADS_1


Semua nya pun mengangguk tanda menyetujui dan dinyatakan meeting telah selesai. Nania masih duduk di tempat nya.


__ADS_2