Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Sudah Hentikan!


__ADS_3

Dinan menghampiri suami nya yang masih duduk sambil menenggak wine dari tangan nya.


"Kemana Tuan Radit dan Sekertaris nya?" Tanya Dinan.


"Mereka sudah pulang, kata nya ada urusan mendadak." Balas Revan. Dinan nampak sekali kesal di tempat. Rencana yang sudah ia susun gagal.


'Baiklah kali ini kamu bisa lolos, tapi lihat nanti kejutan apa yang akan aku berikan pada mu, Nania.'


Dinan tersenyum konyol di sebelah Revan sambil meminum soft drinks nya. "Sayang kita pulang saja yuk." Ajak Dinan.


"Tapi aku masih mau minum, kamu temani saja dulu aku ya." Pinta Revan mencium pipi Dinan.


"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya."


"Iya sayang, dua puluh menit lagi."


"Okay." Balas Dinan.


Revan mempunyai paras yang tampan, hidung yang mancung, berkulit putih, dan manik mata yang berwarna kecokelatan. Itu membuat Dinan dulu sangat ingin memiliki nya. Karena ia memang mencintai Revan, di tambah lagi Revan adalah keluarga dari konglomerat.


Nania dan Radit masuk ke dalam apartemen. Kedua nya duduk di sofa ruang tengah, pria itu membuka jas yang menempel di tubuh atletis nya. Hanya tersisa kaos trutleneck warna hitam saja yang melekat di badan Radit.


Gadis itu merasa canggung, dia bingung harus berbuat apa, "Tuan, saya ke kamar dulu ya." Pamit Nania, kemudian beranjak dari sofa.


"Tunggu!! Siapa yang menyuruhmu pergi, aku belum menghukummu." Ucap nya dengan dingin.


"Sa-ya mau ganti pakaian dulu Tuan." Pinta nya ragu.


"Okay, aku izinkan, dan cepatlah kembali." Pria itu berkata sambil berdiri menuju ke kamar nya juga.


Sekertaris nya yang melihat atasan nya pergi langsung menyelonong masuk ke kamar nya. Ini kesempatan nya untuk ganti baju, karena baju yang ia pakai barusan sungguh tidak nyaman jika melekat terlalu lama di tubuh nya.


Nania bercermin di depan kaca rias yang ada di ruang ganti pakaian nya. Ia menyentuh pipi nya yang masih terlihat kemerahan.


"Pantas saja Tuan Radit menanyakan ini, pipiku memang sedikit merah dan lebam." Ucap nya dari pantulan cermin.


"Sshhh.."


Nania meringis kala ia menekan bekas tamparan itu. "Kak Dinan jahat sekali. Dia tega menamparku.."


Tidak mau terlalu lama berganti baju, Nania segera keluar dengan kaos oversize nya warna putih dan celana training warna merah maroon. Ia menggulung rambut nya ke atas.


Tampaklah leher jenjang nya yang putih, yang selalu ia tutupi saat bekerja, dan tidak pernah menggulung rambut nya ke atas.


"Ehemm..."


Radit berdehem mendapati Sekertaris nya yang celingak-celinguk mencari diri nya. Pria itu berdiri di dekat meja mini bar dalam dapur bersih nya.


"Tuan anda di sana."

__ADS_1


Nania lalu menghampiri pria itu, pikiran nya masih kacau, ia bahkan tidak mengerti apa maksud dari perkataan Dinan di toilet tadi. Ingin rasa nya melupakan sejenak apa yang ada di pikiran nya.


"Tuan, anda punya wine kah?" Tanya gadis itu tiba-tiba.


Radit yang sedang menenggak air putih pun tersedak. "Uhukk..Uhukk.."


"Pelan-pelan Tuan minum nya." Ujar gadis itu meringis melihat pria di depan nya terbatuk-batuk.


"Kamu tadi bilang apa? Wine?" Gadis itu pun mengangguk. "Iya Tuan."


Seketika Radit tertawa lepas, "Hia.. Aku ingin menghukummu, tapi bukan dengan minum wine juga Nania." Celoteh nya dengan menatap ke arah Nania penuh tanya.


'Yang ada itu malah membuat aku sengsara nanti nya' Batin Radit tertahan.


"Bolehkah saya minum itu lagi Tuan? Saya ingin mencoba nya sekali lagi." Kilah Nania, tidak mau jujur alasan nya pada Radit.


"Kenapa tadi di club kamu tidak mau aku tawarkan minum, kenapa baru di sini kamu menginginkan nya?" Tanya Radit masih heran.


"Aku baru menginginkan nya sekarang, Tuan." Balas nya polos.


"Ah, aku mengerti. Kamu pasti ingin menggodaku kan?"


Dengan percaya diri nya Radit mengatakan itu, "Terserah Tuan saja ingin berkata apa, tapi adakah minuman nya Tuan?" Tanya Nania lagi tetap bersikukuh ingin minum.


"Ada, ambilah di ruangan samping kamarku, mana saja kamu pilih!" Ujar pria itu lalu membawa dua gelas berkaki yang ia ambil dari dapur lalu membawa nya ke sofa di ruang tengah.


Nania sendiri langsung berjalan memasuki ruangan yang letak nya di samping kamar Radit. Ia menggeser pintu berlapis kayu, dan mulut nya seketika menganga.


Gadis itu kagum dengan rak lemari yang mewah khusus di desain untuk menaruh botol-botol wine bermerk dan mahal milik Radit.


"Aku pilih yang mana ya? Aku bahkan tidak tahu macam-macam dari mereka semua."


Nania menggaruk tengkuk nya karena bingung. Lalu ia mengambil sebotol wine di sisi kiri nya, dan membawa nya keluar.


"Kamu yakin ingin minum ini lagi?" Tanya Radit saat gadis itu sudah duduk di sofa.


"Iya Tuan, izinkan saya minum malam ini." Balas nya tersenyum.


"Lalu hukumanmu?"


"Tuan bisa menghukum saya besok, kali ini biarkan saya menikmati minuman ini, Tuan. Please..."


Nania menunjukan poppy eyes nya bak anak kecil yang memohon untuk di belikan es krim.


"Haiiss.. Ada apa denganmu, baiklah.. Okay, kita minum saja malam ini." Ucap Radit mengalah. Lagi-lagi ia sering mengalah pada Sekertaris nya. Ini bukan seorang Radit lagi kalau sampai di lihat Riyan.


"Iya Tuan."


Gadis itu kegirangan, ia lalu duduk di bawah sofa yang berlapis karpet mahal dari Turki milik Radit.

__ADS_1


"Kenapa duduk di bawah?" Pria itu heran.


"Nggak apa-apa Tuan, saya lagi ingin duduk di bawah saja." Balas nya sambil menyengir.


Akhir nya Radit membuka botol wine yang Nania ambil dari ruangan tadi, ia menuangkan di gelas nya dan di gelas Nania.


"Jika tidak bisa mengimbangi, jangan minum lagi. Atau nanti kamu malah merepotkanku. Paham!!"


Serka Radit sebelum mengizinkan gadis itu menenggak minuman nya. "Baik Tuan." Balas nya tersenyum.


Nania meraih gelas itu dan menenggak nya langsung habis dalam gelas pertama nya. "Cih, aku tidak yakin kali ini wanita sepertimu, tidak bisa minum." Ejek Radit yang melihat Nania langsung menuangkan kembali wine ke dalam gelas nya. Kini pria itu juga sudah ikutan duduk di bawah.


Tatapan nya beralih ke leher jenjang Nania, ia baru menyadari kalau Sekertaris nya itu memang cantik, putih, dan mulus. Ketika Nania menatap nya, Radit langsung berpura-pura menenggak wine di tangan nya.


"Aarrghh.. Rasa nya aneh, tapi ini melegakan sekali." Ujar Nania sambil memejamkan mata nya.


Baru dua gelas ia menenggak minuman itu, rasa pusing di kepala nya sudah mengusai diri nya. Ia menggaruk-garuk rambut nya, lalu meraih gelas ketiga nya.


"Yakin, masih mau di lanjutkan?" Tanya Radit mencegah nya.


Dia saja baru meminum dua gelas, tapi Nania sudah mau menghabis kan tiga gelas. "Tuan, biarkan saja saya minum ini. Sa-ya tidak merasakan apa-apa." Racau nya mulai tidak jelas.


Radit membiarkan nya minum untuk gelas ketiga nya. Gadis itu tiba-tiba menunduk dan menangis.


"Apa aku ini buruk sekali Tuan?" Tanya nya menoleh.


Pria itu menoleh sambil berdecih, "Cih, baru segini kamu sudah mabuk. Sudah hentikan!" Pinta nya melarang Nania yang ingin minum lagi.


"Tuan, anda itu tampan. Tapi kenapa anda itu bawel sekali, suka seenak nya saja, dan suka bersikap dingin bagaikan kulkas pintu dua." Celoteh nya menyentuh pipi Radit dengan jari telunjuk nya.


Mendapatkan Nania yang sudah mabuk, pria itu hanya terkekeh melihat tingkah konyol Sekertaris nya. "Ha ha ha. Lalu kenapa kalau aku memang begitu?" Radit meraih tangan Nania dan menahan nya yang dekat pada tubuh nya.


Tatapan Nania sudah tidak bisa fokus, ia sering kali membuyarkan tatapan nya yang terasa bergoyang menatap seluruh ruangan, dan tubuh nya yang seakan melayang-layang di udara.


"Ck, aku sangat ingin membalasmu Tuan. Tapi apa daya.. A-ku ha-nya seorang bawahan, yang tidak punya apa-apa." Jawab Nania tanpa sadar mengucapkan nya. Radit menatap wajah cantik Sekertaris nya yang sudah merah merona.


"Ada apa denganmu sebenar nya? Kenapa kamu ingin minum Nania." Gumam Radit pada Nania di samping nya yang sudah bergerak tidak jelas.


Radit pun kembali menenggak minuman nya lagi.


"Aku tidak akan membiarkanmu men-cam-puri hidupku, Kak." Racau Nania lagi tiada henti. Pria itu mengangkat satu alis nya. Ia membiarkan Sekertaris nya meracau tidak jelas.


"Tamparanmu tidak ada apa-apa nya da-ri sakit ha-ti yang aku rasa-kan selama ini." Nania mengucapkan nya dengan terbata-bata.


Radit terus mendengarkan apa yang Nania katakan. Ia masih bingung dengan kalimat yang terus di ucapkan gadis itu.


"Ck, rasa nya aku ingin menghukummu malam ini.".


Decak Radit merasa gemas dengan tingkah Nania. Kepala Radit juga mulai merasa berat. Dengan segera ia menggendong Nania ke dalam kamar.

__ADS_1


Tapi bukan nya ke kamar Nania, malah Radit membawa nya ke kamar diri nya sendiri. Di baringkan nya Nania di atas ranjang nya.


Karena merasa sudah tidak tahan dengan kepala nya yang sudah berat, Radit ikut merebahkan diri nya di samping Nania. Gadis itu masih menggeliat tidak jelas, tapi mata nya sudah terpejam, akibat dia yang tidak bisa minum.


__ADS_2