Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Negeri Gingseng


__ADS_3

Pagi nya Radit sudah mengurus keberangkatan diri nya dan juga Nania untuk terbang ke Negeri Gingseng.


Karena di sana Nania akan mendapatkan perawatan intensif dan juga Dokter ahli bedah saraf terbaik.


"Halo Riyan, aku akan pergi ke Korea pagi ini dengan Nania. Tolong, kamu urus kantor sampai aku pulang ya. Oh ya, jika Delisha bisa membantu urusan kantor. Urus saja dia untuk bekerja di Diamond Glow sesuai keahlian nya."


Pria itu berpamitan lewat sambungan telepon dengan Riyan. Ia akan menyerahkan semua tugas nya di Indonesia pada Riyan sebagai tangan kanan nya.


"Baik Tuan. Saya akan melaksanakan semua yang Tuan minta. Safe Flight, Tuan.. Semoga ada perkembangan untuk Nania."


"Ya, thanks Yan. Ya sudah, aku berangkat dulu."


Tut.. Sambungan telepon terputus. Pria yang bernama Raditya itu langsung bergegas pergi dengan mobil ambulance menuju bandara internasional.


Di sana sudah di sediakan sebuah pesawat khusus untuk penerbangan mereka. Di lengkapi dengan alat medis dan juga beberapa Dokter yang akan menemani mereka selama penerbangan ke Korea Selatan.


"Ma, Radit berangkat dulu yaa.. Mama doakan yang terbaik untuk Nania ya." Ia pamit dengan Mona sebelum masuk mobil. Sandi sudah lebih dulu pulang karena harus mengurus meeting penting di kantor nya.


"Iya sayang, kamu hati-hati ya di sana. Selalu kabari Mama. Kalau sudah sampai kamu juga kabari Mama ya."


"Iya Ma."


Untuk perpisahan mereka, Radit memeluk sang Mama dan masuk ke dalam mobil ambulance.


Riyan menghampiri Delisha yang sedang berkutat di dapur. "Kamu masak apa Baby?"


"Eh Mas.. Kamu sudah bangun?" Tanya gadis itu yang masih sibuk dengan teflon di atas kompor induksi.


"Hmm, hari ini Nania sama Tuan Radit pergi ke Korea. Mereka akan melakukan pengobatan di sana. Nania pasti akan segera sembuh." Ucap Riyan mendekap Delisha dari belakang.


Delisha sejenak terdiam, ia bingung harus bagaimana, dalam hati ia merasa senang Nania akan segera mendapatkan pengobatan terbaik. Tapi di sisi lain ia juga merasa sedih, harus di tinggalkan sahabat nya ke Korea.


"Iya Mas.. Semoga ini memang jalan yang tepat untuk kesembuhan Nania. Kak Radit pria yang baik, Nania beruntung mendapatkan nya." Jawab nya dengan senyum namun mata nya tak bisa di bohongi. Ia masih merasa sedih.


"Hmm, itu nama nya jodoh sayang." Riyan mengecup kening kekasih nya.


Aroma gosong pun sedikit tercium kala kedua nya masih mengobrol sedari tadi.


"Baby,,, itu telur nya___"


"Aduh Mas... Telur aku gosong. Huaa..."

__ADS_1


Delisha dengan cepat menekan tombol off di kompor dan mengangkat telur gosong nya. Wajah nya berubah cemberut meratapi masakan nya yang sudah gosong.


Riyan menyunggingkan senyum, sambil menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal. "He he, nggak apa-apa kok Baby. Sini biar aku yang masak yaa.."


Pria itu mengambil alih, posisi nya bertukaran dengan Delisha. "Loh, memang nya Mas bisa masak?"


"Bisa dong." Jawab nya yakin.


"Mas mau masak apa?"


"Sudah kamu tunggu saja di meja makan sana. Biar aku yang masak untuk sarapan kita."


Delisha pun mengangguk, ia duduk di kursi makan sambil melihat kekasih nya memasak dengan cekatan.


Dari cara ia memegang pisau, memotong daun bawang, cabai, bawang merah, dan bawang putih. Semua terasa memukau di mata Delisha.


Riyan sesekali menatap ke arah Delisha dan tersenyum. Tak lama masakan nya sudah jadi. Pria itu membawa dua piring nasi goreng ke meja makan.


"Taraaaaaa.... Sudah jadi. Nasi goreng special ala Chef Riyan." Ia terkekeh memuji masakan nya sendiri.


"Hmm... Harum banget Mas."


"Ya sudah, kita langsung cobain saja." Pria itu duduk di hadapan Delisha.


"Bisa saja kamu Baby, masakan kamu juga enak. Semua itu nggak ada yang instant sayang, butuh proses. Kamu nanti juga akan jago masak." Jawab Riyan menyemangati kekasih nya.


Fiona menghubungi Dinan, tapi tidak juga di angkat. Ia pun merasa jengkel, sebenar nya Fiona ingin tahu apa yang sudah Dinan lakukan terhadap Nania.


"Si-al.. Kenapa juga nomor nya pakai nggak aktif segala."


"Munn!!!!"


Mun segera datang menghampiri Fiona di meja makan. "Iya Nona, ada apa?"


"Lama banget sih! Mun, siang ini apa ada jadwalku?" Mun mengingat kembali jadwal yang di miliki Fiona sebagai Model. "Siang ini nggak ada Nona. Anda ada pemotretan pagi ini saja."


"Bagus,, siang nanti antar aku ke perusahaan nya Dinan."


"Baik Nona."


"Dinan.. Dinan.. Mau bertindak di luar perjanjian kita kok tidak bilang padaku, cih!" Fiona berdecih kesal dengan tingkah Fiona yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar.

__ADS_1


Reyhan keluar dari kamar tamu, ternyata Devan sudah menyiapkan sarapan untuk nya berdua. "Pagi Kak.. Ayo sarapan dulu Kak." Ajak Devan.


Kedua nya duduk di ruang makan, Reyhan sudah terlihat rapi dengan setelan kantor nya. Pria itu selalu membawa pakaian cadangan di mobil nya, jadi sewaktu-waktu perlu, ia tidak akan bingung.


"Ini semua lo yang masak?"


"Iya dong Kak, gue kan mandiri." Bangga Devan depan Kakak nya.


"Cih, mandiri sih iya.. Itu efek kelamaan jomblo tahu nggak." Ejek Reyhan pada Adik nya. Devan hanya bisa terkekeh.


"Kak, sebenar nya lo kenapa sih?"


Reyhan menyeruput kopi yang ada di hadapan nya. "Dinan minum pil pencegah kehamilan Dev, maka nya gue marah banget." Ujar Reyhan tanpa sungkan lagi untuk cerita.


"Hah? Serius lo Kak, terus Papa tahu nggak?"


"Nggak Dev, Papa belum tahu soal ini. Gue nggak akan biarin Papa tahu dulu, kalau sampai Papa tahu, gue nggak bisa bayangin sih, rasa kecewa nya Papa sama gue dan Dinan." Jelas Reyhan tak habis pikir. Selama ini Lan sangat mengharapkan kehadiran sang cucu.


"Saran gue Kak, coba lo bicarain lagi sama Kakak Ipar. Biar gimana pun, ini masalah serius Kak. Gue juga khawatir kalau Papa sampai tahu duluan, sebelum lo selesain masalah ini sama Kakak Ipar." Saran Devan sebagai anggota keluarga.


"Iya Dev, tapi gue masih kesal sama Dinan."


"Ya untuk soal ini, gue nggak berani ikut campur Kak. Tapi menurut gue ini sudah kelewatan Kak."


Kedua nya sarapan sambil mengobrol tanpa ada rasa sungkan, terlihat sekali Devan dan Reyhan adalah saudara yang rukun. Mereka saling support jika salah satu nya terlibat masalah.


"Gue lagi nggak mau bahas ini dulu Dev, biar pikiran gue tenang dulu."


"Iya Kak, ya sudah.. Lo kalau butuh sesuatu atau bantuan gue, lo bilang saja ya Kak. Gue pasti siap buat lo." Tawar Devan dengan percaya diri.


"Iya, thanks ya Dev."


Memakan waktu sekitar tujuh jam lama nya, pesawat yang membawa Nania dan Radit lending di bandar udara internasional Incheon.


Karena mereka menggunakan pesawat khusus untuk membawa Nania, jadi tidak ada transit selama penerbangan. Radit segera memindahkan Nania ke dalam ambulance lagi.


Mereka segera menuju ke rumah sakit Xxx yang sudah Radit siapkan. Begitu sampai Nania langsung di larikan ke ruangan khusus VVIP bersama Radit yang tak lepas menemani nya.


"Halo Dokter, senang bertemu dengan anda lagi." Sapa Radit dengan bersalaman.


"Selamat datang Tuan Radit, sesuai yang anda minta. Kami akan melakukan tugas kami dengan baik, untuk menyembuhkan pasien. Tuan jangan khawatir. Saya akan segera menangani Nania."

__ADS_1


Dokter itu pamit masuk ke dalam ruangan Nania untuk memeriksa keadaan pasien sebelum tindakan lanjut, dan Radit hanya bisa menunggu di luar.


__ADS_2